NovelToon NovelToon
DUDUK BERDUA

DUDUK BERDUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama / Teen
Popularitas:610
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

"Gue gak akan pergi," jawab Angga akhirnya. Suaranya tegas. Pasti. Tidak ada keraguan. "Itu cuma mimpi. Gue di sini. Nyata. Dan gue gak kemana-mana."

Adea menghela napas lega. Matanya yang tadinya tegang mulai mengendur.

"Janji?"

"Janji."

"Sumpah?"

Angga tersenyum kecil. "Sumpah pake kucing."

Adea menoleh ke bawah. Cumi sedang duduk manis di samping kursinya, menatap bolak-balik antara Angga dan Adea.

"Cumi jadi saksinya," ucap Angga.

"Meong," sahut Cumi, seolah mengiyakan.

Emang boleh sahabat jadi cinta? Emang boleh sahabat tapi tinggal se atap? Emang boleh manja-manjaan ke 'sahabat'..... Emang boleh~

Ikut cerita dua anomali ini yaaa~~~~

Intip dikit gpp lahhh~ kalo betah ya tinggal, kalo nggk ya skip ajaaaa~~~~~

Happy Reading ^^

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Seoul Lee

Sore itu. Rumah mereka.

Adea duduk bersila di sofa ruang tengah. Lampu ruangan belum dinyalakan, hanya cahaya jingga dari jendela yang menembus tirai tipis. Di pangkuannya, Cumi meringkuk sempurna seperti bola bulu abu-abu, mendengkur halus setiap kali jemari Adea mengelus punggungnya.

"Cumi," bisik Adea pelan. "Menurut kamu, Angga sayang gak sama aku?"

Cumi tidak menjawab. Kucing itu hanya memejamkan mata, menikmati elusan.

"Dia bilang keberadaan aku cukup. Tapi... apa iya? Apa gak seharusnya aku kasih lebih?"

Meong. Cumi mengangkat kepalanya sebentar, menatap Adea dengan mata kuningnya yang sayu, lalu kembali merebahkan diri.

"Kamu mah gak ngerti," Adea tertawa kecil. "Kamu cuma kepikiran makan dan tidur."

Ia menghela napas. Matanya menatap pintu. Menunggu.

Angga pergi setengah jam yang lalu. Katanya ada teman lama yang tersesat di bundaran dekat kampus. Adea tidak bertanya siapa. Ia hanya bilang "hati-hati" dan Angga menjawab "iya" seperti biasa.

Tapi setengah jam terasa lama.

Terutama setelah hari ini. Setelah ia menangis di bangku taman. Setelah Angga memeluknya dan mengatakan semua hal yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan.

"Keberadaan lu di rumah itu... lebih dari cukup."

Adea menggigit bibir bawahnya.

Dasar Angga. Bikin bingung.

 

Suara motor.

Kawasaki Ninja hitam itu terdengar dari kejauhan. Suara khasnya yang menggelegar pelan semakin mendekat, lalu berhenti tepat di depan pagar rumah.

Adea tersenyum.

Cumi yang ada di pangkuannya tiba-tiba mengangkat kepala. Telinganya tegak. Matanya membelalak ke arah pintu.

"Iya, Cum. Ayah udah pulang," ucap Adea sambil mengelus kepala kucing itu.

Tapi Cumi tidak berlari menyambut seperti biasanya. Kucing itu malah melompat dari pangkuan Adea dan duduk manis di lantai dekat pintu, ekornya melingkar di kaki, matanya menatap pintu dengan ekspresi penasaran berat.

"Kenapa sih lo, Cum?"

Adea tidak sempat bertanya lebih lanjut karena pintu terbuka.

Angga masuk.

Tapi ia tidak sendiri.

 

Di belakang Angga, seorang pria melangkah masuk ke ruang tamu.

Tinggi. Mungkin sama seperti Angga, atau sedikit lebih rendah. Rambutnya ungu..bukan ungu tua, tapi ungu muda yang terlihat seperti kelopak bunga lavender di musim semi. Wajahnya... Adea belum pernah melihat wajah secantik itu di dunia nyata.

Kulit putih bersih. Mata sipit yang teduh dan hangat. Hidung mancung. Bibir merah alami yang melengkung membentuk senyum. Senyum yang sangat indah, seperti cahaya bulan di tengah malam. Rahangnya tegas, tapi ada kelembutan di setiap sudut wajahnya.

Dia tampak seperti keluar dari drama Korea.

Tidak.

Dia tampak lebih dari itu.

Kim Seokjin. Adea langsung ingat. Seokjin BTS pas era rambut ungu.

Pria itu tersenyum ke arah Adea.

Senyum yang membuat ruangan terasa lebih terang. Senyum yang membuat Adea lupa bahwa ia sedang duduk bersila di sofa dengan baju rumah yang lusuh.

"Annyeonghaseyo," sapa pria itu dengan aksen Korea yang kental, sedikit bercampur logat Lombok yang aneh tapi menggemaskan. "Kamu pasti Adea. Angga cerita banyak tentang kamu."

Adea tidak bisa berkata apa-apa. Mulutnya terbuka sedikit, matanya membelalak, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa gugup di depan seorang pria yang bukan Angga.

"Halo..." suara Adea pelan, hampir berbisik.

Pria itu tertawa kecil. Suaranya dalam dan hangat.

"Aku Seoul Lee. Teman Angga dari Korea. Tapi ibuku asli Lombok, jadi aku bisa bahasa Indonesia. Sedikit." Ia menjepit jari telunjuk dan ibu jarinya, menunjukkan sedikit.

"Seoul... kayak ibukota Korea?" Adea akhirnya menemukan suaranya.

"Iya. Orangtuaku suka ibukota, jadi dinamain Seoul." Pria itu tersenyum lagi. "Tapi panggil Seoul aja. Atau... Oppa."

Ia mengedipkan mata.

Adea merasakan pipinya memanas.

 

"Udah, jangan ngegombal di ruang tamu."

Suara Angga memotong. Pria itu melangkah maju dan tanpa aba-aba merangkul pundak Adea.

Bukan rangkulan biasa. Rangkulan posesif. Tangannya yang besar melingkar di bahu gadis itu, menariknya ke samping tubuhnya. Kepala Adea hanya sampai bahu Angga, dan dari posisi itu, ia bisa merasakan getaran di dada pria itu.

Dia cemburu? pikir Adea.

Atau hanya ingin menunjukkan sesuatu?

Seoul Lee mengamati adegan di depannya dengan mata menyipit. Tapi bukan curiga. Matanya justru berbinar seperti melihat anak kucing yang lucu.

"Ah," ucap Seoul panjang. "Jadi ini yang kamu maksud, Angga."

"Diem."

"Aku belum bilang apa-apa."

"Diem aja."

Seoul tertawa. Ia mengangkat kedua tangan seperti menyerah. "Oke, oke. Bos."

Lalu ia menunduk sedikit ke arah Adea, masih dengan senyum indahnya.

"Adea, aku akan menginap di sini seminggu. Sampai aku nemu tempat tinggal baru. Kamu gak keberatan kan?"

Adea menggeleng cepat. Terlalu cepat.

"Gak keberatan! Gak sama sekali! Silakan, silakan!"

Angga menghela napas. Tangannya di pundak Adea menekan sedikit. Hanya sedikit, tapi cukup untuk membuat Adea sadar.

"Dia gak usah ditanggapin serius," ucap Angga. "Dia emang rese dari sononya."

"Aku dengar itu, teman," sahut Seoul dari balik bahu Angga.

 

Seoul Lee membawa satu koper besar berwarna silver dan satu tas ransel hitam yang penuh gantungan kunci. Ada boneka kecil, ada bendera Korea, ada foto Polaroid yang sudah lusuh.

Ia berjalan mengitari ruang tamu seperti sedang inspeksi.

"Rumahnya bagus," komentarnya. "Minimalis. Rapi. Aesthetic. Ini pasti hasil kerja Adea, bukan Angga."

Adea tersenyum bangga. "Iya, aku yang rawat taneman dan bersihin rumah."

"Taneman?" Seoul menoleh ke jendela, melihat bunga-bunga di halaman. "Cantik. Kamu pasti orang yang sabar."

"Gak juga sih... kadang suka emosi."

"Tapi kamu sabar sama Angga. Itu yang penting."

Seoul tersenyum. Adea tersenyum balik.

Dan dari dapur, Angga yang sedang membuka-buka kulkas sambil memasak, melirik ke arah ruang tamu dengan mata sinis.

Seoul Lee sudah duduk di sofa, bersila santai, sambil sesekali mengelus Cumi yang tiba-tiba melompat ke pangkuannya. Kucing abu-abu gembul itu mendengkur keras, menggesekkan kepalanya ke tangan Seoul.

"Cumi juga langsung suka," ucap Adea heran. "Biasanya dia butuh waktu lama buat nerima orang baru."

"Aku punya bakat dengan kucing," jawab Seoul sambil mengelus perut Cumi. "Mereka tahu aku baik."

Angga dari dapur menyahut tanpa menoleh. "Atau mereka tahu lu bawa ikan asin di saku."

"Itu juga." Seoul tertawa. Ia memang mengeluarkan sebungkus ikan asin kecil dari saku jaketnya dan memberikannya pada Cumi. Kucing itu langsung lahap.

Adea tertawa. Rumah terasa lebih hidup malam ini.

 

Malam harinya.

Meja makan penuh dengan masakan Angga. Ayam geprek, tempe goreng, lalapan, dan sambal terasi buatan sendiri. Tiga piring, tiga gelas, tiga pasang mata.

Tapi yang bicara hanya dua orang.

Seoul Lee mengobrol dengan Adea sepanjang makan malam.

"Jadi kamu kuliah kedokteran?" tanya Seoul sambil mengambil ayam geprek.

"Iya. Meskipun kadang nyesel pas ujian."

"Jangan nyesel. Dokter itu mulia. Kakekku dokter. Dia bilang, jadi dokter itu bukan soal uang, tapi soal nyawa."

Adea mengangguk. "Kakekmu bijak."

"Dia bijak tapi pelit. Uang jajanku dikurangin pas aku bilang mau jadi seniman."

"Kamu seniman?"

"Musisi. Aku main gitar dan nyanyi. Di Korea aku sempat jadi trainee di agensi besar, tapi..." ia mengangkat bahu. "Gak cocok. Sekarang aku freelance. Kadang bikin lagu, kadang jadi model lepas. Dan sekarang aku mau coba peruntungan di Lombok."

"Wah, keren banget!" mata Adea berbinar. "Aku suka musik! Aku dulu pernah ikut paduan suara waktu SMA."

"Serius? Coba nyanyi."

"Gak bisa! Di sini ada Angga, malu!"

"Angga teman. Gak apa-apa."

"TAPI-"

"Nyanyiin aja lagu yang kamu suka. Aku gak gigit."

Adea akhirnya bernyanyi pelan, lagu Indonesia lawas yang liriknya tentang rindu. Suaranya kecil, sedikit fals di beberapa nada, tapi jujur dan hangat.

Seoul menyimak dengan senyum. Jarinya mengetuk meja mengikuti irama.

Dan di ujung meja, Angga mengunyah ayam gepreknya dengan ekspresi datar. Tapi matanya... matanya sesekali melirik ke arah Seoul.

Lirikan sinis.

Lirikan "lu jangan coba-coba" yang tidak dikatakan dengan kata-kata.

Seoul menangkap satu lirikan itu. Ia membalas dengan senyum tipis dan alis terangkat seperti berkata "santai, bro."

Angga memotong pandangan. Ia mengambil sambal terasi dan menyendokkan ke piring Adea tanpa diminta.

"Makan tuh," ucapnya.

"Makasih," jawab Adea sambil terus mengobrol dengan Seoul.

 

Setelah makan malam, Angga membereskan meja. Adea membantu. Seoul ikut membantu meski nyatanya ia hanya memindahkan piring dari meja ke wastafel dengan gaya yang sangat lambat dan estetik.

"Kamu gak usah bantu," ucap Angga.

"Aku mau bantu."

"Kamu cuma jadi penghalang."

"Kamu kasar banget sama tamu."

"Kamu bukan tamu. Kamu anak hilang yang tersesat di bundaran."

Seoul tertawa keras. "Tersesatnya sengaja. Aku kangen sama masakanmu."

Angga menghela napas. Tapi ia tersenyum kecil, senyum yang menandakan bahwa meskipun rese, Seoul Lee adalah teman lamanya. Teman yang ia kenal sejak pertukaran mahasiswa di Korea dua tahun lalu.

"Seminggu, ya?" tanya Angga.

"Seminggu. Janji."

"Kalo lebih, lu cari kontrakan sendiri."

"Baik, baik, bos."

 

Malam semakin larut.

Adea sudah berganti piyama. Kali ini piyama motif bintang-bintang, lebih sopan dari biasanya. Ia duduk di ruang tamu bersama Seoul. Cumi rebahan di antara mereka berdua, berguling-guling minta elusan.

Angga masih di dapur, mencuci piring sambil sesekali melirik ke arah ruang tamu.

Seoul bercerita tentang kehidupannya di Korea. Tentang Seoul, kota yang dinamis tapi sepi. Tentang menjadi trainee yang harus berdiet ketat dan latihan menari sampai jam 2 pagi. Tentang keluarganya yang setengah Korea setengah Lombok, dan bagaimana ia selalu merasa asing di kedua tempat.

Adea mendengarkan dengan saksama. Matanya tidak lepas dari wajah Seoul.

"Kamu pasti kesepian di sana," ucap Adea pelan.

Seoul tersenyum. "Kadang. Tapi sekarang aku di sini. Di rumah yang hangat. Dengan orang-orang yang baik."

Ia menatap Adea. Bukan tatapan menggoda. Tapi tatapan tulus.

"Angga beruntung punya kamu, Adea."

"Aku?" Adea tertawa kecil. "Aku yang beruntung punya dia."

"Kalian berdua sama-sama beruntung." Seoul mengelus Cumi yang sudah tidur di pangkuannya. "Jangan sia-siakan, ya."

Adea tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.

 

Jam 11 malam.

Angga keluar dari dapur dengan handuk kecil di bahu. Keringat di dahinya belum kering. Ia menatap Seoul yang masih duduk santai di sofa.

"Lu tidur di kamar gue," ucap Angga.

"Kamu di mana?"

"Di sofa."

"Gak enak."

"Lu tamu."

"Tapi-"

"Seoul." Angga menatapnya tajam. "Lu tidur di kamar gue. Titik."

Seoul mengangkat tangan. "Oke, oke."

Ia berdiri, membungkuk sedikit ke arah Adea. "Selamat malam, Adea. Sampai jumpa besok pagi."

"Selamat malam, Seoul. Selamat tidur."

Seoul tersenyum sekali lagi, senyum yang membuat ruangan terasa lebih hangat. Lalu ia berjalan menuju kamar Angga dengan koper silver-nya.

Angga masih berdiri di ruang tamu. Ia menatap Adea.

"Lu juga tidur," ucapnya.

"Belum ngantuk."

"Udah malem."

"Tapi-"

"Adea."

"Iyee~"

Adea berdiri. Ia mengambil Cumi yang masih tidur dari sofa dan menggendongnya seperti bayi. Kucing itu tidak protes. Ia hanya mendengkur dalam tidurnya.

Sebelum berjalan ke kamar, Adea berhenti di samping Angga.

"Angga."

"Hmm."

"Temen lu... baik banget ya."

Angga menoleh. Matanya menyipit.

"Dia ganteng juga."

"Adea."

"Iya?"

"Tidur."

Adea tertawa kecil. "Cemburu?"

"Gak."

"Bohong."

"Adea."

"Iya iya. Selamat malam, Angga."

Adea berjalan ke kamarnya, masih dengan senyum di wajah. Cumi di gendongannya terbangun sebentar, mengeong pelan, lalu tidur lagi.

Angga berdiri di ruang tamu sendirian.

Ia menatap pintu kamar Adea yang tertutup. Tidak rapat, sedikit terbuka, seperti biasa. Lalu ia menatap pintu kamarnya sendiri, di mana Seoul Lee sekarang tidur di kasurnya.

"Seminggu," gumamnya. "Seminggu doang."

Ia merebahkan diri di sofa, menarik selimut tipis ke dadanya, dan memejamkan mata.

Tapi tidurnya tidak nyenyak.

Ada terlalu banyak pikiran.

 

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!