"Jangan pakai namaku untuk karakter mati tragis, Elodie!"
Peringatan Blair diabaikan. Ia justru terbangun sebagai Charlotte Lauren Blair, istri durhaka dan ibu kejam dalam novel sahabatnya. Di naskah asli, ia akan mati mengenaskan dikhianati selingkuhannya, Andreas.
Misi Blair hanya satu: Batalkan Kematian!
Namun, rencananya terhambat oleh suaminya, Ralph Liam Alexander. CEO dingin yang ditakuti dunia itu selalu menatapnya tajam. Tapi tunggu... kenapa Blair bisa mendengar suara hati suaminya yang sangat berisik?
Liam (Dingin): "Jangan harap kau bisa bercerai dariku!"
Suara Hati Liam (Bucin): [Tolong jangan pergi... Aku mencintaimu sampai mau gila. Satu langkah kau menjauh, aku akan mengurungmu di kamar selamanya!]
Ternyata, sang "Monster" adalah simp kelas berat yang takut kehilangan dirinya! Bisakah Blair mengubah alur tragis ini, meluluhkan hati putranya yang membencinya, dan bertahan dari obsesi gila sang suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Akhir dari Sebuah Parasit
"Jadi, kau pikir aku akan membiarkanmu keluar dari ruangan ini dengan kepala tegak, Andreas?"
Suaraku memotong udara yang pengap di dalam ruang kerja Liam di Alexander Group. Dingin, tajam, dan penuh otoritas. Aku berdiri di samping meja mahoni besar milik Liam, melipat tangan di dada dengan keanggunan seorang permaisuri yang sedang menghakimi pengkhianat.
Di depanku, Bradly Andreas tampak hancur. Kemejanya kusut, matanya merah, dan napasnya memburu. Ia datang menyerbu ke kantor Liam pagi-pagi buta, mengabaikan resepsionis dan sistem keamanan yang sengaja kami "longgarkan" sedikit agar dia bisa masuk ke dalam jebakan.
"Blair, kau tidak bisa melakukan ini padaku!" teriak Andreas, suaranya parau karena putus asa. "Rekening itu... itu tabungan masa depanku! Kau tidak punya hak membekukannya!"
Liam, yang duduk di kursi kebesarannya, hanya menyesap kopi hitamnya dengan tenang. Matanya yang hitam pekat menatap Andreas seolah-olah pria itu hanyalah serangga yang mengganggu pemandangan.
[Melihatnya memohon seperti itu... kenapa rasanya sangat memuaskan? Istriku benar-benar iblis yang cantik. Dia melacak aliran dana itu hanya dalam semalam. Siapa pun kau yang ada di dalam tubuh Blair, aku bersumpah akan menyembahmu jika kau terus bersikap se-badass ini.]
Aku menahan senyum tipis mendengar batin Liam. Aku melangkah maju, mendekati Andreas hingga ia mundur dan menabrak pintu jati yang tertutup rapat.
"Masa depan?" aku tertawa hambar. "Masa depanmu adalah di balik jeruji besi, Andreas. Kau mentransfer dana Alexander Group ke rekening atas nama Elodie Lunara melalui bank lepas pantai. Itu bukan 'tabungan', itu adalah pencucian uang dan penggelapan jabatan."
"Aku melakukannya untukmu, Blair! Kau yang memintanya dulu!" Andreas mencoba meraih tanganku, namun Liam berdiri dengan kecepatan kilat, mencengkeram pergelangan tangan Andreas hingga terdengar bunyi krak yang menyakitkan.
"Jangan. Sentuh. Istriku," desis Liam. Suaranya rendah, namun mengandung ancaman kematian yang nyata.
[Berani-beraninya dia menyentuh kulit suci itu dengan tangan kotornya! Aku ingin mematahkan setiap jarinya sekarang juga. Tenang, Liam... jangan terlihat seperti monster di depan Blair. Tapi... ah, aku benar-benar ingin membunuhnya!]
"Liam, lepaskan dia," ucapku tenang. "Dia tidak layak mendapatkan tenagamu."
Liam melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat Andreas jatuh tersungkur di karpet mahal itu.
"Dengarkan aku baik-baik, Andreas," aku berjongkok di depannya, menatap matanya yang penuh ketakutan. "Elodie sudah meninggalkanmu. Begitu aku membekukan rekening itu, dia langsung terbang ke luar negeri dengan sisa uang yang bisa dia ambil. Kau hanyalah tumbal dari ceritanya sendiri."
Andreas tertegun, wajahnya pucat pasi. "Tidak... Elodie mencintaiku. Dia tidak mungkin—"
"Dia seorang penulis, Andreas. Dia tahu kapan harus membuang karakter yang sudah tidak berguna," aku berdiri kembali, merapikan blazerku. "Dan sekarang, karaktermu sudah tamat."
Pintu ruang kerja terbuka. Dua petugas kepolisian masuk dengan surat perintah penangkapan yang sudah ditandatangani. Axelle berdiri di ambang pintu, memegang laptopnya dengan wajah dingin—persis seperti Liam versi muda.
"Ini data lengkapnya, Pak Polisi," ucap Axelle sambil menyerahkan sebuah flashdisk. "Semua jejak digital transaksi ilegalnya sudah saya rangkum di sana."
Andreas menatap Axelle dengan nanar. "Kau... anak sialan!"
"Bawa dia pergi," perintah Liam tanpa emosi.
Saat Andreas diseret keluar sambil berteriak histeris, ruangan itu kembali sunyi. Aku menghela napas panjang, merasakan beban berat yang selama ini menekan pundak 'Blair yang asli' perlahan terangkat.
Liam berjalan mendekatiku, melingkarkan tangannya di pinggangku dan menarikku ke dalam pelukan yang protektif.
"Sudah selesai?" bisik Liam di telingaku.
[Dia gemetar... dia pasti sangat lelah. Aku ingin membawanya pulang dan membiarkannya tidur di pelukanku sepanjang hari. Terima kasih, Blair. Terima kasih sudah membersihkan sampah ini dari hidup kita.]
"Hampir selesai," sahutku sambil menyandarkan kepala di bahunya. "Masih ada satu penulis yang harus aku pastikan tidak akan pernah memegang pena lagi."
Axelle mendekati kami, wajahnya yang kaku kini menunjukkan sedikit kelegaan. "Ma... apa sekarang kita bisa makan siang bersama? Aku lapar."
Aku tersenyum lebar, meraih tangan Axelle dan menggenggamnya. "Tentu saja, Sayang. Hari ini, kita makan di tempat paling mahal yang bisa dibeli oleh kartu kredit Papamu."
Liam tertawa—tawa yang tulus dan lepas. "Gunakan sesukamu, Sayang. Seluruh Alexander Group adalah milikmu."
[Dan hatiku juga milikmu. Selamanya.]
Kami berjalan keluar dari kantor itu sebagai satu unit yang tak terpisahkan. Parasit itu mungkin sudah hilang, tapi aku tahu, Elodie masih ada di luar sana, merencanakan bab terakhirnya. Dan aku... aku siap menulis ulang akhirannya dengan tanganku sendiri.
semoga bisa menghibur semuanya...
mending kalian berdua pergi biar Liam nyesek/Right Bah!/