Jangan lupa follow Ig noer_azzura16 for visualnya ya.
Diandra menjadi sugar baby seorang pria dingin selama tiga tahun lebih ketika dia berada di luar negeri. Selain nama dan nomor ponselnya, Diandra sama sekali tidak tahu apapun tentang pria itu.
Namun, tiba-tiba ayahnya menyuruhnya kembali, setelah mengasingkannya selama 7 tahun, ketika adik tirinya akan bertunangan.
Diandra yang memang punya dendam pada ayahnya dan keluarga baru ayahnya itu. Memutuskan kembali, ada dendam yang harus dia tuntaskan.
Namun, siapa sangka. Jika tunangan sang adik tiri, ternyata adalah seseorang yang mengenal Diandra luar dan dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15- MCI 15
"Selamat malam, dan selamat datang..."
Pembawa acara sudah membuka acara ulang tahun perusahaan itu. Semua tampak ada disana, bahkan Genelia dan kedua orang tuanya juga terus menempel pada Siska.
Sementara Diandra memilih berada di samping Max. Dan itu semakin membuat Raez emosi.
"Dalam kesempatan yang berbahagia ini, kami juga akan mengumumkan sebuah kabar bahagia. Pertunangan antara adik saya Raezwell Dave Mahendra dengan wanita cantik pilihan ibu saya, wanita yang punya reputasi sangat baik di kalangan kita, Genelia Kusuma!"
Prok prok prok
Genelia mengangkat dagunya, ketika dia menoleh ke arah Diandra.
'Memangnya kenapa kalau kamu datang dan mencuri perhatian. Tetap aku yang akan menjadi pusat perhatian!' batinnya.
Diandra juga ikut bertepuk tangan. Dia sangat bisa mengartikan apa yang dikatakan oleh Genelia lewat tatapan matanya. Ejekan dan sindiran itu, merendahkan dan meremehkan.
'Cih, kenapa sombong sekali. Ibumu sengaja menyingkirkan aku ke luar, makanya kamu bisa dapat reputasi itu. Jika tidak, bahkan tidak akan ada yang tahu kalau kamu anak keluarga Kusuma. Ibumu yang tidak tahu diri itu, anak pungut yang telah merebut segalanya dari ibuku. Aku yang akan pastikan dia kehilangan segalanya!' batin Diandra tak kalah tajam menatap Genelia.
Max yang sudah mulai bosan dengan acara itu, menarik tangan Diandra pergi dari ballroom.
"Kamu bosan kan?" tanya Max yang membawa Diandra ke kolam renang.
Mereka berjalan ke pinggir kolam renang yang ada di hotel itu.
"Tidak juga!" kata Diandra.
"Di, maafkan apa yang dikatakan pamanku saat di restoran itu ya. Paman itu sebenarnya orangnya baik. Aku sudah jelaskan padanya siapa kamu, kamu sama sekali tidak seperti apa yang dia pikirkan!"
"Kenapa aku harus perduli pada apa yang dia pikirkan? Max, aku menjadi temanmu bukan karena siapa keluargamu, tapi karena kamu memang sangat baik..."
Diandra menjeda ucapannya, ketika perlahan Max meraih tangan Diandra dengan sangat lembut. Bahkan tatapan Max, agak malu-malu ketika mencoba menatap mata Diandra.
"Di, aku sudah katakan ini beberapa kali padamu! Di... aku ingin lebih dari sekedar teman. Bisakah kita...!"
"Apa yang kalian lakukan disini?"
Suara itu membuat Diandra refleks menarik tangannya dari Max.
Keduanya menoleh ke arah sumber suara. Dimana Raez berdiri dengan tatapan tajam ke arah Diandra.
"Paman, paman membuat Diandra terkejut..."
"Kembali ke ballroom!"
"Paman!"
"Kembali ke ballroom, Maxwell Kendrick Mahendra!" Suara Raez meninggi 2 setengah oktaf.
Max mendengus kesal, dia sungguh tak paham kenapa pamannya masih terus bersikap seperti itu pada Diandra. Padahal dia sudah jelaskan, Diandra bukan wanita materialistis yang suka memanfaatkan pria seperti apa yang di pikirkan pamannya.
"Diandra...!"
"Jika kamu tidak masuk sekarang, aku tidak bisa pastikan wanita itu tidak akan kenapa-kenapa!" gertak Raez kembali menyela Max.
"Paman, Diandra akan takut. Paman jangan bicara seperti itu!"
"Masuk!" bentak Raez.
Diandra yang belum pernah melihat Raez semarah itu menjadi khawatir. Diandra menepuk lengan Max perlahan.
"Masuk saja, aku yakin pamanmu hanya akan mengomeli aku. Tidak masalah, aku sudah banyak mendengar kata-kata buruk orang padaku. Masuklah, aku akan baik-baik saja!"
Max belum yakin, tapi Diandra kembali meyakinkannya.
"Tidak apa-apa, kamu kenal pamanmu kan? dia tidak pernah memukul wanita kan? masuklah!" kata Diandra lagi.
Max melangkah dengan ragu. Dari jarak ke pintu masuk itu saja, Max menoleh hampir 5 kali. Tapi pada akhirnya Max meninggalkan tempat itu.
Diandra masih bersikap sangat santai. Dia merasa tidak melakukan kesalahan apapun. Sementara Raez mempercepat langkahnya menghampiri Diandra, lalu menarik pergelangan tangan Diandra mengikutinya.
"Mau kemana?" tanya Diandra terkejut.
Sayangnya Raez sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda, kalau dia akan menjawab pertanyaan Diandra itu.
Mereka bahkan melewati jalan menuju ke arah ballroom. Arah pandangan Diandra terus tertuju ke arah itu.
"Raez...."
Brakk
Diandra meringis menahan sakit. Raez mendorongnya masuk ke dalam lift. Dan lengan kirinya sampai membentur dinding lift itu.
Diandra menoleh, tatapan Raez padanya sungguh mengerikan.
Pria itu menekan angka 17. Diandra menjauh dari pria itu. Auranya benar-benar bisa membuat oksigen dalam tubuh terkuras perlahan.
Diandra merasa bulu kuduknya berdiri semua, makin angka yang ada di panel mendekati angka 17, detak jantung Diandra makin kencang.
'Dia mengerikan sekali, apa yang membuatnya sangat marah begitu. Apa karena aku datang ke sini? tapi dia tidak akan melemparkan aku dari lantai 17 kan? itu tunggu sekali, bisa tak berbentuk, aku bahkan belum balas dendam...'
Ting
Ketika Diandra sedang bergelut dengan pikirannya sendiri. Pintu lift terbuka, dan pria itu kembali menarik tangan Diandra.
Diandra sungguh kepayahan mengikuti langkah Raez. Pria itu kakinya panjang sekali, Diandra bahkan harus setengah berlari agar tidak sampai jatuh.
Belum lagi dia pakai high heels, belum lagi gaunnya menjuntai panjang. Dia benar-benar kerepotan.
Hingga Raez berhenti di depan salah satu pintu. Dia menekan kata sandi dan pintu kamar president suite itu terbuka.
Diandra seperti melayang ketika Raez lagi-lagi menariknya dengan kuat, lalu mendorongnya ke atas sofa.
Brukk
"Ya ampun, kamu ini kenapa sih?"
Diandra mau marah, tapi begitu dia menatap pria di depannya. Pria itu sudah lebih dulu mencengkeram rahangnya.
"Tidak sadar apa kesalahanmu?" tanya Raez dengan tatapan seperti busur.
Diandra sampai tertegun diam, bahkan dengan tatapan itu, Diandra merasa sudah tertusukk begitu dalam. Sampai gak bisa bicara.
"Bicara!" pekik Raez sedikit menekan rahang Diandra.
"Lepaskan aku! apa salahku? kamu ini kenapa?" Diandra mencoba menepis tangan Raez, tapi itu sangatlah tidak mudah.
Raez menarik tangannya. Diandra memegang kedua pipinya.
Tapi dia kembali dibuat terkejut, Raez membuka sabuk yang dia pakai di pinggangnya. Ikat pinggang itu dibuka begitu cepat. Diandra sudah ketakutan.
'Dia tidak akan memukulku kan...'
Raez menarik paksa dia tangan Diandra dan mengikatnya dengan ikat pinggang yang Raez lepas itu.
"Kenapa kamu mengikatku..."
"Pertama, aku sudah bilang padaku untuk tidak datang, bukan?" sela Raez.
Diandra tersentak, ketika pria itu mengarahkan kedua tangan Diandra lurus di atas kepalanya.
"Ayahku yang minta aku ikut..."
Brekk
"Raez!" pekik Diandra ketika Raez merobek gaunnya.
"Kedua, aku sudah bilang padamu! jauhi Max. Aku sudah peringatkan kamu, terima konsekuensinya sekarang!"
"Emmpppptt!"
***
Bersambung...
Ternyata Raez sudah tau jika Diandra berbohong soal hamil palsu.. 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ucapan Diandra bikin ngakak.. Raez lagi esmosi, bisa² nya di ngelece..🤣🤣🤣🤣🤣
Takdir mereka di tangan author, aku mah pasrah aja bacanya 🤣