Aluna Maharani adalah gadis sederhana dengan hati yang terlalu tulus untuk dunia yang kejam. Hidupnya berubah dalam satu keputusan yang bahkan bukan miliknya—saat ayahnya memintanya menikah dengan Zayn demi sebuah alasan yang tidak pernah benar-benar ia pahami.
Ia menurut.
Bukan karena cinta, tetapi karena kepercayaan.
Namun di balik pernikahan itu, Aluna tidak pernah tahu bahwa semuanya hanyalah kesepakatan—sebuah ikatan tanpa perasaan yang memiliki batas waktu.
Lebih menyakitkan lagi, ia juga tidak tahu bahwa pria yang kini menjadi suaminya… telah lebih dulu memiliki seseorang.
Di rumah keluarga Devandra, Aluna bukanlah istri.
Ia hanya tamu yang tidak diinginkan.
Dingin, tekanan, dan tatapan merendahkan menjadi bagian dari hari-harinya. Namun di balik semua itu, Aluna tetap bertahan—dengan luka yang ia sembunyikan, dan rasa penasaran yang perlahan membawanya pada rahasia besar yang seharusnya tidak pernah ia ketahui
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amarah Yang Meledak
POV Zayn
Pagi itu terasa berbeda.
Bukan karena cahaya matahari yang masuk melalui jendela mobil, bukan pula karena jalanan yang tampak lebih lengang dari biasanya.
Namun karena
Keheningan.
Zayn duduk di kursi kemudi, kedua tangannya menggenggam setir dengan tenang. Tatapannya lurus ke depan, fokus pada jalan.
Di sampingnya
Aluna.
Gadis itu diam.
Terlalu diam.
Tidak ada percakapan ringan seperti biasanya. Tidak ada celotehan polos yang kadang membuat Zayn mengernyit atau sekadar menghela napas.
Hanya
Canggung.
Zayn melirik sekilas.
Aluna menatap keluar jendela, matanya kosong, seolah pikirannya masih tertinggal di tempat lain.
Dan Zayn tahu
Malam tadi… mengubah sesuatu.
Bukan hanya keadaan.
Tapi juga
Perasaan.
Ia menghela napas pelan.
Namun tidak berkata apa pun.
Karena ia sendiri belum mengerti… harus memulai dari mana.
Mobil akhirnya memasuki halaman rumah Devandra.
Bangunan megah itu berdiri seperti bias—kokoh, angkuh, dan seolah tidak pernah berubah.
Namun hari ini
Ada sesuatu yang terasa berbeda.
Beberapa pelayan terlihat berdiri di luar.
Wajah mereka tegang.
Seolah sedang menunggu sesuatu.
Atau
Seseorang.
Zayn langsung mengerti.
Ia mematikan mesin mobil.
Tangannya sempat berhenti di setir.
Satu detik.
Dua detik.
“Masuklah,” ucapnya akhirnya singkat.
Aluna mengangguk pelan.
Namun jelas ia juga merasakan ketegangan yang sama.
Pintu rumah terbuka.
Dan dalam hitungan detik
Suara itu terdengar.
“ZAYN!”
Teriakan.
Keras.
Penuh emosi.
Zayn baru saja melangkah masuk ketika sesuatu melayang ke arahnya.
Brak!
Sebuah majalah jatuh tepat di depan kakinya.
Zayn menunduk.
Tatapannya langsung menangkap gambar di halaman depan.
Dirinya.
Dan Aluna.
Berdiri berdekatan di acara gala dinner.
Judulnya mencolok.
Provokatif.
Narasi tentang kedekatan.
Isu perceraian.
Wanita baru.
Sial.
“APA INI?!”
Zayn mengangkat wajah.
Selena berdiri tidak jauh dari mereka.
Wajahnya merah.
Matanya dipenuhi amarah.
Beberapa barang di ruangan tampak berserakan vas pecah, dekorasi jatuh, bahkan meja kecil terlihat bergeser dari tempatnya.
Ia benar-benar mengamuk.
“Kamu tidak bisa dihubungi!” teriak Selena.
“Ponselmu mati! Dan aku harus tahu dari MEDIA tentang semua ini?!”
Zayn tidak langsung menjawab.
Ia berdiri tegap.
Tatapannya tetap tenang.
Namun sebelum ia sempat berbicara
Selena sudah melihat Aluna.
Dan semuanya berubah.
“KAMU!”
Nada suaranya tajam.
Menusuk.
Aluna refleks mundur satu langkah.
Namun itu tidak cukup.
“Kamu pikir kamu siapa?!”
Selena melangkah cepat.
Tatapannya penuh kebencian.
“Berani-beraninya kamu masih datang ke rumah ini setelah semua yang kamu lakukan!”
“Selena, cukup.”
Suara Zayn tegas.
Namun
Tidak cukup cepat.
Selena sudah berada di depan Aluna.
“Perempuan murahan!” makinya tanpa ragu.
Zayn menegang.
Dan dalam satu gerakan—
Selena menyambar rambut Aluna.
“Selena—!”
Namun semuanya terjadi terlalu cepat.
Rambut Aluna ditarik
Dengan paksa.
“Lepaskan aku—!” suara Aluna terdengar panik.
"kamu pengacau,biar ku beri pelajar kamu"Selena menarik Aluna menuju arah kolam
Zayn langsung bergerak.
Namun jarak
Dan keterkejutan
Membuatnya terlambat satu detik.
Satu detik yang cukup untuk
Byur!
Suara air pecah.
Zayn membeku.
Tubuh Aluna sudah tercebur ke dalam kolam.
Air memercik ke segala arah.
Gaun yang ia kenakan langsung basah.
Rambutnya menempel di wajahnya.
Untuk sesaat
Semua terasa hening.
Zayn tidak bergerak.
Tidak karena ia tidak mau
Tapi karena ia… terkejut.
Apa yang baru saja terjadi
Melampaui batas.
“Selena, apa yang kamu lakukan?!”
Suara Zayn berubah.
Lebih keras.
Lebih tajam dari sebelumnya.
Selena terengah.
Masih dipenuhi emosi.
“perempuan murahan itu pantas mendapatkannya!” balasnya tanpa ragu.
Namun Zayn tidak lagi mendengarnya.
Tatapannya sudah beralih.
Ke kolam.
Aluna.
Gadis itu berusaha bangkit.
Air menetes dari wajahnya.
Matanya terbuka
Namun jelas
Ia syok.
Zayn langsung melangkah.
Cepat.
Tanpa ragu.
Ia turun ke pinggir kolam, meraih tangan Aluna dan menariknya keluar.
“Aluna…”
Suaranya lebih rendah sekarang.
Namun penuh tekanan.
Aluna tidak langsung menjawab.
Tubuhnya sedikit gemetar.
Entah karena dingin
Atau karena sesuatu yang lebih dalam.
Zayn menggenggam bahunya.
Memastikan ia berdiri dengan benar.
“Lihat aku,” ucapnya.
Aluna perlahan mengangkat wajah.
Matanya
Masih kosong
"kamu baik baik saja"tanya Zayn
Dan saat itu
Zayn merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Bukan marah.
Bukan kesal.
Tapi
Penyesalan.
Ia seharusnya mencegah ini.
Lebih cepat.
Lebih tegas.
Namun ia terlambat.
Zayn menoleh.
Tatapannya langsung berubah dingin.
Tajam.
“Cukup, Selena.”
Nada itu
Tidak memberi ruang untuk bantahan.
Namun untuk pertama kalinya
Bukan hanya Selena yang harus berhenti.
Zayn juga menyadari
Jika ia tidak segera mengambil sikap
Semua ini…
Akan semakin hancur.
Air masih menetes dari tubuh Aluna.
Gaunnya basah kuyup, menempel di kulitnya, membuatnya tampak semakin rapuh dari sebelumnya. Rambutnya yang biasanya terurai rapi kini berantakan, menutupi sebagian wajahnya yang pucat.
Zayn tidak berpikir dua kali.
“Bawa dia ke kamar,” perintahnya tegas kepada salah satu pelayan.
Suaranya rendah, tetapi tidak terbantahkan.
“Segera. Siapkan pakaian kering.”
Pelayan itu mengangguk cepat.
“Iya, Tuan.”
Aluna tidak banyak bicara.
Ia hanya diam saat pelayan membantunya berdiri lebih stabil, lalu perlahan membawanya masuk ke dalam rumah.
Zayn memperhatikan.
Sampai sosok itu benar-benar menjauh dari jangkauan.
Dari jangkauan
Selena.
Baru setelah itu
Zayn berbalik.
Selena masih berdiri di sana.
Dada naik turun. Napas tidak teratur. Tatapannya masih menyala dengan amarah yang belum padam.
“Jangan pernah lakukan itu lagi.”
Suara Zayn dingin.
Tegas.
Tidak ada emosi berlebihan justru itu yang membuatnya terdengar lebih berbahaya.
Selena tertawa kecil.
Namun tidak ada sedikit pun kehangatan di sana.
“Kenapa?” balasnya tajam. “Kamu sekarang melindunginya?”
Zayn tidak menjawab.
Namun tatapannya tidak berubah.
“Menarik,” lanjut Selena, berjalan mendekat perlahan. “Semalam kamu tidak bisa dihubungi. Ponselmu mati. Media penuh dengan foto kalian berdua…”
Ia berhenti tepat di depan Zayn.
Menatapnya dalam.
“Dan sekarang kamu pulang… membawa dia dengan tatapan berbeda ”
Hening.
“Jangan bilang padaku…” suara Selena menurun, tetapi justru terasa lebih tajam,
“kamu sudah menyentuhnya.”
Rahang Zayn mengeras.
Selena tersenyum.
Senyum yang lebih mirip ancaman.
“Kamu sudah menyentuhnya, bukan?”
Zayn tidak menjawab.
Namun
Diamnya sudah cukup.
Tatapan Selena berubah.
Lebih liar.
Lebih tidak terkendali.
“Gila…” bisiknya pelan. “Kamu benar-benar melakukannya.”ucap Selena memukul mukul dada zayn
“Cukup, Selena.”
Kali ini suara Zayn sedikit naik.
Namun Selena tidak berhenti.
“Aku istrimu!” teriaknya. “Dan kamu,,,—”
“Selena.”
Satu kata.
Memotong.
Namun wanita itu sudah terlalu jauh.
“Kamu bahkan tidak pernah menatapku selembut itu” ia berhenti sejenak, napasnya terputus, emosinya melonjak, “tapi dengan dia? Dengan gadis kampung itu?”
Zayn mengalihkan pandangan sesaat.
Bukan karena tidak mampu menghadapi.
Tapi karena
Ia tahu.
Ini bukan lagi percakapan rasional.
Selena tidak sedang berpikir jernih.
Dan Zayn—
Mengenal kondisi itu.
Ia pernah melihatnya.
Beberapa kali.
Saat emosi Selena berada di titik paling tidak stabil.
Saat logika tidak lagi berfungsi.
NPD.
Istilah yang selama ini hanya menjadi catatan medis
Kini berdiri nyata di hadapannya.
Jika ia terus melanjutkan
Ia tahu apa yang akan terjadi.
Ia bisa kehilangan kendali.
Dan itu
Adalah hal terakhir yang ia inginkan.
Zayn menarik napas panjang.
Dalam.
Lalu menghembuskannya perlahan.
“Pembicaraan ini tidak akan membawa kita ke mana-mana selena”
Nada suaranya kembali datar.
Terkontrol.
Selena tertawa sinis.
“Ya. Tentu saja. Karena kamu tidak punya jawaban.”
Zayn tidak membalas.
Ia hanya menatapnya sejenak.
Lalu
Melangkah pergi.
“Zayn!”
Teriakan itu menggema di belakangnya.
Namun ia tidak berhenti.
“Jangan berani-berani pergi saat aku bicara denganmu!”
Langkahnya tetap berlanjut.
Tenang.
Pasti.
Bukan karena ia kalah.
Tapi karena ia memilih
Untuk tidak melanjutkan.
Ia tahu
Selena membutuhkan waktu.
Dan saat ini
Apa pun yang ia katakan hanya akan memperburuk keadaan.
Lebih baik
Memberi jarak.
Daripada membiarkan semuanya meledak lebih besar.
Namun di dalam dirinya
Zayn merasakan sesuatu yang tidak nyaman.
Bukan hanya karena Selena.
Tapi karena
Aluna.
Gadis itu baru saja mengalami sesuatu yang seharusnya tidak terjadi.
Di rumah ini.
Di bawah tanggung jawabnya.
Zayn mempercepat langkah.
Pikirannya kini hanya tertuju pada satu hal
Aluna.
Karena untuk pertama kalinya
Ia menyadari
Ia tidak hanya harus mengendalikan situasi.
Tapi juga
Menjaga seseorang yang kini berada di tengah badai yang ia ciptakan sendiri.
Kamu Tim Aluna atau Selena???
komentar ya ❤️