NovelToon NovelToon
Assassin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan

Assassin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Sabrina Maureen mati sebagai pembunuh bayaran.

Dia bangun… sebagai wanita hamil yang sedang sekarat.

Di dalam tubuh Sabrina Tanjung, pewaris konglomerat yang disekap kakaknya sendiri, dia tidak diberi waktu untuk memahami takdir barunya.

Bayinya lahir di lantai dingin. Darah mengalir. Dan kematian menunggu di depan pintu.

Tapi mereka lupa satu hal.

Dia bukan korban.

Dengan bayi di pelukannya, Sabrina melarikan diri dari neraka, hanya untuk jatuh ke tangan Adrianus Halim, sang taipan, pewaris imperium bisnis yang dingin, manipulatif, dan terbiasa mengendalikan segalanya.

Termasuk dirinya.

Adrian mengurungnya dalam pernikahan paksa.

Kakaknya menginginkan kematiannya.

Dan sindikat yang dulu ia layani… kini memburunya.

Semuanya terhubung.
Berkolaborasi untuk menghancurkannya.

Dunia mengira Sabrina akan tunduk.

Mereka salah.

Karena wanita ini pernah membunuh untuk bertahan hidup...

dan sekarang, dia punya alasan untuk menjadi lebih kejam.

Membunuh… atau kehilangan anaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Lemah Tapi Tidak Mati

Langkah sepatu bot penjaga menjauh. Sabrina keluar dari tangki, cairan merah pekat menetes di kakinya.

Turun dari ketinggian satu meter memicu siksaan baru. Tulang panggulnya serasa retak terbelah dua. Ujung jari kakinya menyentuh lantai ubin yang membeku.

Ia bersandar pada dinding keramik berlumut, mengatur napas putus-putus. Gumpalan darah kembali luruh membasahi paha dalamnya.

"Lo udah nemu mayatnya belum?" Suara Haryo menggema dari ruang depan. Pria itu menyalakan radio komunikasi genggam.

Terdengar gemerisik statis. "Belum, Yo. Gelap banget tebing bawah sini. Anginnya kencang." Suara pria kedua menyahut dari seberang radio.

"Kania bisa ngamuk kalau kita balik tangan kosong, tolol. Cari terus sampai lo nemu bangkainya."

"Gue kedinginan di sini! Lo enak duduk di dalam!"

"Gue jaga markas, bego. Siapa tahu ada anak buah Halim yang nyium bau kita." Haryo memutus kontak sepihak. Bunyi decit per ranjang tua kembali terdengar.

Sabrina menekan bibirnya ke puncak kepala bayi di dadanya. Anak ini luar biasa diam. Insting bertahan hidup sang bayi sejalan dengan ibunya.

Udara dingin membekukan ujung hidung mungil itu, tapi panas tubuh Sabrina terus mengalir menjaga detak jantungnya tetap stabil.

"Bagus," bisik Sabrina nyaris tanpa desibel. "Terus diam seperti ini."

Mata pembunuhnya beradaptasi sempurna dengan gulita. Ruang ganti di sebelah kamar mandi ini terhubung langsung dengan area penyimpanan perkakas. Sabrina menyeret kaki kanannya yang kebas.

Tangannya meraba dinding kotor sebagai tumpuan utama. Otot perutnya menolak diajak kompromi. Rasa ngilu bekas robekan persalinan menusuk saraf pusat setiap kali pinggulnya bergeser.

"Haryo, ada sinyal telepon masuk dari Nyonya." Radio itu kembali berbunyi bising.

"Sambungin cepet." Nada bicara Haryo berubah mendadak panik.

"Halo? Kalian berdua becus kerja nggak sih?" Suara melengking khas Kania Tanjung menembus speaker kotor. Nada suaranya penuh kepanikan dan ancaman.

"Sabar, Nyonya. Target lari ke jurang belakang. Pendarahan hebat. Mustahil dia selamat dari cuaca gunung malam ini."

"Gue nggak bayar lo pakai asumsi! Gue butuh mayatnya! Adrian Halim mulai curiga Sabrina nggak ada di rumah sakit jiwa."

"Kami pasti temukan mayatnya, Nyonya."

"Bawa kepala bayinya juga! Kalau Adrian lihat anak itu, seluruh aset keluarga Tanjung bakal dia caplok pakai alasan hak asuh. Habisi malam ini juga atau gue yang bakal cincang kalian!"

Sambungan terputus.

Sabrina menyeringai dingin dalam gelap. Kania, saudara angkatnya itu, sedang menggali kuburannya sendiri. Manipulasi picisan macam itu tidak akan mempan melawan monster yang sesungguhnya.

"Bibi Kania cerewet sekali," gumam Sabrina lirih ke arah bayinya. Tangan kirinya membelai pipi bayi yang terbungkus beludru. "Ibu bakal jahit mulutnya rapat-rapat nanti."

Ia tiba di sudut gudang perkakas. Tangannya meraba permukaan rak kayu reyot. Matanya menangkap pantulan cahaya bulan pada benda logam di sudut bawah rak.

Gulungan kawat berkarat sepanjang lima meter. Tumpukan paku tebal. Dan satu botol plastik besar berlabel pembersih lantai industri. Cairan kimia korosif tinggi berbau amonia pekat.

Bibir Sabrina menyunggingkan senyum mematikan.

"Gue harus cek pintu depan," gerutu Haryo dari kamar depan, terdengar suara langkah berat bergeser menjauhi ranjang. "Pintu jebol begini bikin angin masuk semua."

Ini celah waktunya.

Sabrina meraih botol amonia itu menggunakan tangan kanannya. Tutup plastiknya ia putar paksa menggunakan gigi. Bau bahan kimia tajam langsung membakar rongga hidungnya. Cairan licin dan panas. Sempurna.

Ia menuangkan setengah isi botol itu ke lantai keramik tepat di mulut lorong sempit yang menghubungkan gudang dengan ruang depan. Cairan itu menyebar cepat, menciptakan lapisan bening mematikan di atas keramik licin.

Tangan kanannya beralih meraih gulungan kawat berkarat. Ia menggigit ujungnya, lalu mengikatkannya pada paku beton yang menonjol di pangkal dinding. Tarik kawat itu menyeberang sejajar mata kaki. Ikat kuat pada kaki rak perkakas di sisi seberang.

Jebakan tersandung paling primitif namun paling efektif di area gelap gulita.

"Darah sialan ini bikin lantai lengket." Langkah Haryo mulai kembali ke arah lorong. Pria itu menggerutu panjang pendek.

Sabrina memungut tiga paku besi berkarat berukuran sepuluh sentimeter. Ia merangkak mundur, menempatkan paku-paku itu dalam posisi berdiri bertumpu pada celah retakan ubin, tepat di area pendaratan jika seseorang tersandung kawatnya.

"Tunggu di sini sebentar," bisik Sabrina pada bayinya. Ia memposisikan buntalan kain beludru itu dengan aman di dalam ember plastik kosong di sudut tergelap.

Jarak dari lorong ke ember hanya dua langkah. Cukup dekat untuk dijaga, cukup aman dari jangkauan cipratan darah musuh.

"Bocah, perhatikan baik-baik," desis Sabrina. Ia mencabut pecahan kaca cermin tajam dari balik branya. "Ini pelajaran pertamamu."

"Woi! Lo nemu sesuatu nggak di bawah sana?" Teriak Haryo memanggil temannya dari ambang pintu depan.

"Kosong! Gelap banget, Yo!"

"Gue ambil senter cadangan di gudang dulu. Senter gue baterainya mati ini!" Langkah sepatu bot raksasa itu memutar arah. Menuju lorong sempit tempat Sabrina menunggu.

Detak jantung Sabrina menurun drastis. Mode predator aktif seutuhnya. Rasa sakit di panggulnya menguap digantikan oleh lonjakan adrenalin murni.

Ia menempelkan punggungnya rata pada dinding lembap tepat di balik bayangan rak kayu. Langkah Haryo semakin dekat. Bau kretek dan keringat busuk menginvasi penciuman.

"Lampu sialan, gudang busuk," makinya menendang kaleng kosong di lantai.

Haryo memasuki mulut lorong.

Sret. Ujung sepatu botnya menabrak kawat baja berkarat yang terentang tegang di ketinggian mata kaki.

"Eh, bangsat!"

Keseimbangan pria bertubuh gempal itu hilang seketika. Tubuh bagian atasnya terlempar ke depan menembus kegelapan. Kakinya refleks melangkah maju mencari tumpuan untuk menahan jatuh.

Telapak sepatu botnya menginjak lapisan amonia pembersih lantai yang super licin.

Gaya gesek nol. Haryo meluncur jatuh dengan momentum penuh. Wajah dan dadanya menghantam ubin berbau pesing dengan kecepatan tinggi.

CRAK!

Paku beton berkarat sepanjang sepuluh sentimeter yang Sabrina dirikan tegak di retakan ubin menembus lurus masuk tepat di bawah dagu Haryo. Menembus jaringan otot trakea, merobek pita suaranya dalam satu hantaman gravitasi brutal.

Pria itu bahkan tidak sempat berteriak. Hanya suara gurgle basah udara bercampur darah yang membanjiri tenggorokannya. Tubuhnya menggelepar hebat seperti ikan kehabisan air. Tangannya mencakar lantai keramik mencari pegangan.

Sabrina melangkah pelan keluar dari bayangan. Tidak ada sedikit pun belas kasihan di sorot matanya. Ujung kaki telanjangnya yang berlumur darah menginjak punggung tangan Haryo yang mencoba mencabut paku dari lehernya.

"Tugasmu bukan menunggu aku mati," bisik Sabrina dingin, suaranya sedatar es kutub. Ia membungkuk, menatap lurus mata preman yang membelalak dipenuhi teror murni itu.

Pecahan kaca di tangan kanannya berkilat menyantap sisa cahaya bulan.

"Tugasmu adalah mati menggantikanku."

Tangan kanannya mengayun bebas. Pecahan kaca tajam itu menyayat presisi memutus urat nadi karotis Haryo di leher samping. Darah hitam menyembur deras melukis dinding kotor gudang.

Getaran tubuh Haryo perlahan melemah, lalu berhenti total.

Sabrina berdiri tegak. Mengelap cipratan darah hangat di wajahnya menggunakan punggung tangan.

"Bagus," ucapnya menatap mayat di bawah kakinya.

1
Lini Krisnawati
saya suka cerita nya bagus
Titi Liana
menarik
Rina Yulianti
tegang banget
Fatacea
keren ih si ibu, lanjutttt Bu.... ❤️❤️❤️❤️❤️❤️
gina altira
Balaskan dendam Sabrina, ayo Mauren bikin gila tuh Kania.
gina altira
Sabar Sabrina,, mundur dulu bikin taktik biar Adrian yg besar kepala itu lengah.
gina altira
dua predator beradu
gina altira
Adrian kejam banget,,
gina altira
brutal
Fatacea
Lanjut
gina altira
ngilu,, udah lahiran tuh tenaga pasti habis. ini malah harus berjuang menyelamatkan nyawa
gina altira
hadeuh jd inget waktu lahiran 🤭
Fatimah n Najwan
keren lanjutin yuk bisa yuk
Fatimah n Najwan
nah iya gitu, pinter ni bocil
Fatimah n Najwan
dih bocil diem Bae ngapa. kaga ngerti pisanlagi tegang ini🤣
Fatimah n Najwan
makin ngilu, mana sambil makan w bacanya 👍👍👍👍
CACASTAR
hadir, Thor
UaOneS
brojol juga 👍👍👍👍👍😍
UaOneS
👍👍👍👍👍
Fatimah n Najwan
naluri nya muncul💪💪💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!