Riyanti Aryani adalah seorang gadis dari keluarga berada. Ia terpaksa jauh dari keluarganya lantaran ingin memenuhi cita-citanya. Sebelum tinggal di Surabaya, Riyanti atau lebih akrab dipanggil Riri itu sebelumnya kuliah di salah satu universitas di Malang. Setelah lulus, Riri diterima kerja di Surabaya. Ia ngekos di salah satu tempat kos yang cukup elit. Sebenarnya orang tuanya bisa saja membeliksnnya rumah di Surabaya, namun mereka khawatir Riri akan semakin betah di sana dan akan lupa pulang ke Lombok. Namun siapa sangka Riri bertemu dengan jodohnya di sana.
Sultan Ahmed Alfahrezi, anak sulung dari pasangan Windi dan Javier. Kegabutannya menjadi seorang driver ojek membuat dirinya akhirnya bertemu dengan jodohnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah sakit lagi
Daripada ia bingung sendirian, Sultan akhirnya memutuskan untuk pergi ke rumah anak jalanan. Ia pun pamit kepada umminya.
"Abang berangkat dulu, ummi."
"Iya, hati-hati."
"Iya, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Sultan melakukan sepeda motornya dengan kecepatan sedang.
Sekitar 15 menit kemudian ia sampai. Nampak lukman sedang menyapu lantai.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam. Abang, tumben pagi banget?"
"Huh... lagi nggak mood ngojek."
"Kenapa, kok tumben?"
"Nggak tahu, pikiran lagi mumet."
"Wah wah wah.... abang ini apa yang dimumeti? Uang banyak, hidup enak, apa mungkin benar kata orang tua abang kalau abang ini butuh pendamping."
Saat mereka tengah asik mengobrol, tiba-tiba Doni berlari tergesa-gesa memanggil Lukman.
"Bang Lukman bang Lukman... " Nafasnya tersenggal-senggal....
"Eh ada Om Sultan. "
"Doni, kamu kenapa?"
"Om, bang... tolongin Aini... dia ditabrak orang barusan."
"Astaghfirullah.... di mana?"
"Itu di dekat rel."
Lukman dan Sultan pun segera menghampirinya.
Saat sampai di lokasi, ibu Aini sedang menangis meraung-raung melihat keadaan anaknya yang tidak sadarkan diri karena terdapat luka di kepalanya. Ibu Aini menutup luka yang berdarah itu dengan kain yang disobek dari bajunya. Aini menjadi korban tabrak lari. Sayangnya tidak ada saksi saat kejadian. Dan di tempat pun tidak ada CCTV yang memantau. Tanpa berpikir panjang, Sultan meminta Lukman untuk mencegah taksi yang lewat. Sultan menggendong Aini masuk ke dalam taksi.
"Ayo bu cepat masuk juga. Kita bawa Aini ke rumah sakit!"
Ibu Aini dan Lukman ikut juga ke rumah sakit. Di perjalanan menuju rumah sakit, ibu Aini masih menangis, namun Sultan memintanya untuk tenang dan berdo'a.
Beberapa, saat kemudian mereka sampai di RS AL. Sultan langsung menggendong Aini masuk ke IGD.
"Suster! Tolong!"
"Kenapa ini, pak?"
"Kecelakaan."
Perawat pun segera melakukan tindakan. Sedangkan perawat lainnya memanggil dokter. Dokter melakukan pertolongan pertama, namun Aini belum juga sadar. Untuk memastikan, dokter langsung membawa Aini ke ruang radiologi untuk rontgen. Ibu Aini tak berhenti berdo'a untuk anaknya.
"Tenang ya, bu. Aini pasti baik-baik saja." Sultan menenangkannya.
Tidak lama kemudian, Aini keluar dari ruangan tersebut dan langsung dibawa ke ruang nicu untuk mendapatkan penanganan yang lebih intensif.
"Ya Allah... selamatkan anakku."
"Bu, Aini sudah ditangani dengan tepat. Semoga tidak ada hal yang serius. Ibu jangan putus berdo'a."
"Iya, pak."
Beberapa menit kemudian, dokter datang membawa hasil rontgen. Ternyata Aini mengalami gegar otak ringan. Menurut dokter tidak perlu dilakukan operasi. Diperkirakan Aini akan sadar dalam beberapa jam lagi. Hanya saja Aini harus dirawat di nicu sampai keadaannya pulih.
"Alhamdulillah, terima kasih dok."
"Iya, sama-sama."
Ibu Aini kembali murung mengingat biaya rumah sakit yang harus ia tanggung. Sedangkan dirinya dan suaminya hanya seorang pemulung. Sampai saat ini suaminya tidak tahu kalau anaknya sedang berada di rumah sakit.
"Pak, bagaimana dengan biayanya?"
"Ibu tidak perlu khawatir, semuanya akan ditanggung saya." Sahut Sultan.
"Ya Allah, ini benar pak?"
"Iya, bu. Ibu tidak perlu memikirkan masalah biaya. Fokus saja pada kesembuhan Aini."
"Terima kasih banyak, Pak."
Karena terharu, Ibu Aini meraih tangan Sultan dan hendak menciumnya, namun Sultan langsung menolak dengan halus. Karena seharusnya ia yang mencium tangan ibu Aini.
Akhirnya, Lukman dan Sultan pamit. Lukman berjanji akan memberi tahu bapaknya Aini kalau Aini sedang di rumah sakit. Bahkan nanti Lukman yang akan mengantarkannya ke rumah sakit atas permintaan Sultan.
Saat turun dari lantai ruang nicu, Sultan baru ingat sesuatu.
"Riri... " Batinnya.
"Bang, kok bengong?"
"Em... itu, nggak pa-pa. Luk, kamu bisa pulang duluan saja?"
"Memang abang mau ke mana? Em itu, ada temanku yang sakit dirawat di sini. Aku mau menjenguknya."
"Abang nggak mau ditemani?"
"Ah nggak perlu. "
"Ya sudah, kalau gitu aku naik ojek online saja."
"Iya, hati-hati."
Lukman pun turun ke lantai dasar. Sedangkan Sultan naik ke lantai 4.
"Eh tapi aku nggak bawa apa-apa. Terus nanti aku bilangnya gimana? Duh, kok malah jadi ragu gini." Gumam Sultan.
Ia baru saja keluar dari lift, dan hendak masuk kembali. Namun seseorang memanggilnya.
"Bang... bang Ahmed!"
Sultan pun menoleh.
Ternyata yang memanggilnya adalah Fira. Fira menghampirinya.
"Hei bang.. "
"Eh iya, mbak... "
"Abang kok balik lagi, mau ke mana?"
"Em itu, saya tadi habis bawa anak kecelakaan korban tabrak lari. Niatnya mau mampir jenguk mbak Riri."
"Wah abang ini kayaknya pantes jadi duta penyelamat. Dari kemarin selamatin orang terus."
Sultan hanya mengulum senyum.
"Eh iya, katanya mau jenguk Riri. Ayo masuk! Kebetulan aku juga baru sampai."
"Tapi saya nggak bawa oleh-oleh mbak."
"Nggak usah lah. Ini aku juga nggak bawa, hehe... "
Bagai mendapatkan angin segar, Sultan pun mengikuti Fira dari belakang.
Tok tok tok
Pintu pun terbuka. Sisi yang membukanya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam. Eh kak Fira... ayo masuk."
"Apa kabar, si?"
Fira memeluk Sisi.
"Baik kak, alhamdulillah."
"Ayo bang, masuk." Ajak Fira.
"Ini siapa, kak?"
"Ini orang yang selamatin Riri dan bawa Riri ke rumah sakit. Namanya bang Ahmed."
Sisi pun menyapa dengan menganggukkan kepala. Dan Sultan membalasnya.
"Riri, ini ada bang Ahmed." Ujar Fira.
Saat ini Riri sedang makan siang disuapin sang mama. Riri sudah minta untuk makan sendiri namun mama memaksa ingin menyuapinya. Mendengan nama bang Ahmed, Riri langsung tersedak.
"Uhuk uhuk... "
"Ehem ehem... pelan dong, Ri." Ujar sang mama sambil menyodorkan segelas air putih.
Riri pun langsung meminumnya.
Tanpa sengaja tatapan mata Riri dan Sultan bertemu. Riri tiba-tiba saja merasa canggung.
"Tante apa kabar?" Sapa Fira.
"Alhamdulillah sehat, tante sehat kan? "
"Iya alhamdulillah."
Mama Riri pun berdiri memeluk Fira. Setelah melepas pelukannya Mama Riri menyapa Sultan.
"Ini... "
"Selamat siang, bu. Saya Ahmed." Ujar Sultan sambil mencium punggung tangan mama Riri.
"Tante, bang Ahmad ini yang bawa Riri ke rumah sakit."
"MasyaAllah, terima kasih ya nak Ahmed."
"Sama-sama, bu."
"Silahkan duduk!"
Mama Riri menyuruh Ahmed duduk di kursi samping brangkar Riri. Fira berdiri di samping brangkar Riri. Sedangkan dirinya duduk di sofa bersama Sisi.
Sultan menunduk sambil memainkan jari-jarinya.
"Ehem, bang Ahmed. Tadi katanya mau jenguk Riri. Kok malah diam saja?" Tegur Fira, sambil melirik Riri.
Sultan langsung mendongak dan mengulum senyum. Tiba-tiba saja ia juga merasa canggung.
"Bagaimana keadaannya, mbak?"
"Sudah membaik, bang. "
"Alhamdulillah.... "
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maaf ya kak, acara othor padat di bulan ini sampai awal april.
udah pada GK sabar