NovelToon NovelToon
Pak Jadikan Aku Pacarmu

Pak Jadikan Aku Pacarmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Onimaru Rascall

Clara Rubiana, 25 tahun, putri bungsu pemilik Darmawan Group, mulai bekerja di perusahaan ayahnya demi mencari pengalaman. Di sana, ia jatuh hati pada Tony Bagaskara, direktur operasional yang kharismatik dan selalu terlihat sempurna. Sebaliknya, Clara membenci Doni Permana, direktur pemasaran yang sering berselisih dengan Tony dan dianggap arogan. Namun seiring waktu, Clara mulai melihat sisi asli Tony yang manipulatif dan penuh ambisi gelap. Kekecewaan itu menghancurkan perasaannya. Di tengah keterpurukan, Doni justru hadir dengan ketulusan, keberanian, dan kepedulian yang tak pernah Clara sadari sebelumnya. Perlahan, kebencian berubah menjadi rasa nyaman, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Onimaru Rascall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 35

Sore itu suasana di rumah Doni cukup tenang. Matahari mulai turun perlahan, meninggalkan cahaya jingga yang menyelimuti halaman rumah sederhana itu. Dari dalam kamar, suara tawa Clara dan Desti terdengar samar. Keduanya sedang mengobrol sambil memainkan ponsel, berusaha melupakan kejadian buruk yang beberapa hari terakhir membuat semuanya kacau. Hidup memang lucu. Baru sebentar merasa aman, masalah lain sudah antre di depan pintu seperti pelanggan diskon minyak goreng.

Tiba-tiba suara mobil berhenti terdengar dari depan rumah.

Ibunya Doni yang sedang menyapu ruang tamu langsung menghentikan kegiatannya. Beliau mengernyit heran karena tidak biasanya ada tamu datang sore-sore seperti itu. Apalagi mobil yang berhenti tampak mewah dan asing.

Beliau perlahan berjalan ke teras.

Begitu pintu dibuka, dua pria berdiri tegap di depan rumah. Salah satunya bertubuh tinggi besar dengan wajah serius. Sementara pria di sampingnya tampak lebih tenang namun tetap berwibawa.

Ibunya Doni tampak sedikit gugup.

“Maaf… cari siapa ya?” tanyanya hati-hati.

Pria bertubuh tinggi itu sedikit menundukkan kepala dengan sopan.

“Sore, Bu. Saya Riyadi,” ucapnya tenang. “Dan ini Pak Haris.”

Pak Haris ikut mengangguk hormat.

“Kami diutus Pak Agung untuk menjemput Nona Clara.”

Mendengar nama Clara disebut, wajah ibunya Doni langsung berubah kaget.

“Menjemput Clara?”

“Iya, Bu,” jawab Pak Haris. “Pak Agung meminta Clara pulang sementara waktu.”

Ibunya Doni tampak bingung. “Memangnya ada apa?”

Pak Riyadi menarik napas pelan sebelum menjelaskan.

“Tony sampai sekarang belum ditemukan. Nomornya tidak aktif dan dia tidak datang ke perusahaan. Pak Agung khawatir dia melakukan tindakan nekat lagi.”

Mendengar penjelasan itu, ibunya Doni langsung mengerti. Wajah beliau berubah cemas. Bagaimanapun, kejadian Clara hampir diculik memang bukan masalah kecil.

“Silakan masuk dulu,” ucap beliau cepat.

Kedua pria itu masuk ke ruang tamu dengan sikap sopan dan tenang. Aura keduanya benar-benar seperti pengawal profesional. Jenis orang yang sekali melotot saja bisa membuat maling pensiun dini.

Ibunya Doni segera berjalan menuju kamar Desti.

“Clara… Desti… keluar sebentar.”

Di dalam kamar, Clara menoleh bingung.

“Ada apa, Tante?”

“Katanya ada yang menjemput kamu.”

Clara dan Desti saling berpandangan heran sebelum akhirnya keluar bersama.

Begitu melihat dua pria di ruang tamu, Clara langsung mengenali mereka.

“Pak Riyadi… Pak Haris…”

Pak Riyadi berdiri.

“Nona Clara, kami diminta Pak Agung menjemput Anda pulang.”

Clara tampak sedikit terdiam.

“Sekarang?”

Pak Haris mengangguk pelan.

“Pak Agung khawatir dengan keselamatan Anda. Tony belum ditemukan sampai sekarang.”

Desti langsung tampak kesal saat mendengar nama Tony.

“Orang itu benar-benar bikin masalah terus.”

Clara hanya menunduk pelan. Jujur saja, ia masih merasa nyaman tinggal di rumah Doni untuk sementara waktu. Suasana di sana hangat dan tenang. Tidak terlalu menekan seperti rumah besar milik keluarganya.

Namun ia juga tahu ayahnya pasti sangat khawatir.

“Ayah menyuruhku pulang ya…” gumam Clara lirih.

Pak Riyadi mengangguk hormat.

“Beliau sangat mengkhawatirkan Anda.”

Ibunya Doni memegang pundak Clara dengan lembut.

“Pulanglah dulu, Nak. Biar orang tuamu tenang.”

Clara akhirnya mengangguk pelan.

“Baik…”

Desti langsung memeluk Clara dengan wajah sedih.

“Kalau ada apa-apa langsung telepon aku.”

Clara tersenyum kecil.

“Iya.”

Setelah itu Clara berjalan mengambil tasnya. Ia hanya membawa beberapa barang penting karena memang awalnya tidak berniat tinggal lama.

Saat keluar kembali, Clara menatap Pak Haris.

“Pak… boleh mampir ke kontrakanku dulu? Aku mau ambil beberapa barang.”

Namun Pak Haris menggeleng pelan.

“Besok saja, Nona. Kami yang akan membereskannya.”

Clara tampak ragu.

“Tapi—”

“Pak Agung meminta Anda langsung pulang,” potong Pak Riyadi lembut namun tegas. “Untuk sementara lebih aman begitu.”

Clara akhirnya mengalah.

“Baiklah…”

Ia lalu berpamitan kepada ibunya Doni.

“Terima kasih banyak, Tante… sudah merawat Clara.”

Ibunya Doni tersenyum hangat sambil menggenggam tangan Clara.

“Kamu jangan sungkan. Tante malah senang ada teman ngobrol di rumah.”

Clara tersenyum kecil sebelum menoleh pada Desti.

“Jaga diri baik-baik.”

“Kamu juga.”

Setelah itu Clara berjalan keluar bersama kedua pria tersebut.

Sebelum masuk mobil, Clara sempat menoleh ke arah rumah Doni. Desti dan ibunya Doni berdiri di teras sambil melambaikan tangan.

Clara ikut melambaikan tangan pelan.

Tak lama kemudian mobil hitam itu perlahan meninggalkan rumah Doni.

Di sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil cukup sunyi.

Clara duduk diam sambil memandangi jalanan dari jendela. Pikirannya bercampur aduk. Ia tahu ayahnya pasti sangat marah setelah mendengar semua yang terjadi.

Manusia memang aneh. Saat jatuh cinta bisa bilang rela mati demi seseorang. Tapi saat ditolak malah berubah jadi ancaman berjalan. Evolusi emosional yang luar biasa memalukan.

Tak lama kemudian mobil memasuki halaman rumah besar milik keluarga Clara.

Begitu mobil berhenti, pintu rumah langsung terbuka.

Ibunya Clara keluar dengan wajah panik dan cemas. Bahkan belum sempat Clara turun sepenuhnya, wanita itu langsung memeluk putrinya erat.

“Ya Tuhan… Clara…”

Clara sedikit terkejut.

“Ibu…”

Ibunya memegang wajah Clara dengan tangan gemetar.

“Kamu tidak apa-apa? Masih sakit? Bagian mana yang sakit?”

Clara tersenyum kecil berusaha menenangkan ibunya.

“Aku tidak apa-apa, Bu. Sudah jauh lebih baik.”

Namun ibunya tetap terlihat khawatir.

“Ibu dengar kamu dipukul…”

Clara menunduk pelan.

“Sedikit saja.”

Wajah ibunya langsung berubah sedih.

“Anak ibu diperlakukan seperti itu…”

Clara segera memegang tangan ibunya.

“Benar-benar tidak parah. Ibunya Doni juga merawatku dengan baik.”

Mendengar itu, ibunya Clara tampak sedikit lega.

“Syukurlah masih ada orang baik yang membantu kamu.”

Clara mengangguk kecil.

“Iya…”

Mereka kemudian masuk ke dalam rumah.

Baru beberapa menit Clara duduk di ruang tamu, suara mobil lain terdengar dari luar.

Tak lama kemudian Pak Agung masuk dengan langkah cepat.

Begitu melihat Clara duduk di sofa, wajah pria itu langsung berubah lega bercampur emosi.

“Clara!”

Beliau langsung menghampiri putrinya dan memeluknya erat.

Clara sampai sedikit terkejut karena ayahnya jarang menunjukkan kepanikan seperti itu secara terang-terangan.

“Ayah…”

Pak Agung membelai kepala Clara perlahan.

“Kamu benar-benar membuat Ayah khawatir.”

Clara tersenyum kecil.

“Maaf…”

Pak Agung menatap wajah putrinya dengan penuh perhatian.

“Masih sakit?”

“Sudah baikan.”

Namun raut wajah Pak Agung tetap sulit tenang.

Pria itu kemudian duduk di samping Clara sambil mengepalkan tangannya pelan.

“Ayah akan menemukan Tony secepatnya.”

Nada suaranya terdengar dingin dan penuh tekanan.

Clara langsung tahu ayahnya benar-benar marah.

“Ayah…”

“Dia berani menyentuh kamu,” ucap Pak Agung dengan rahang mengeras. “Ayah bahkan tidak pernah memukul kamu.”

Clara terdiam.

“Ayah tidak akan membiarkan ini.”

Ibunya Clara yang berdiri di dekat sana langsung menghela napas pelan. Ia tahu suaminya benar-benar murka.

Pak Agung menatap lurus ke depan dengan sorot tajam.

“Kalau perlu Ayah sendiri yang mencari dia.”

Clara langsung memegang lengan ayahnya.

“Ayah jangan terlalu emosi.”

“Bagaimana Ayah bisa tenang?” balas Pak Agung cepat. “Putri Ayah dipukul orang!”

Clara sedikit tersenyum kecil meski hatinya hangat melihat perhatian ayahnya.

“Aku baik-baik saja.”

Namun Pak Agung malah terlihat semakin kesal.

Suasana langsung hening sesaat.

Clara tahu ayahnya bukan hanya marah. Pria itu juga merasa bersalah karena gagal melindunginya.

Clara lalu bersandar pelan di bahu ayahnya.

“Ayah jangan terlalu banyak pikiran nanti sakit.”

Pak Agung menatap putrinya cukup lama sebelum menghela napas berat.

“Kamu masih sempat memikirkan kesehatan Ayah.”

“Tentu saja,” jawab Clara pelan.

Wajah Pak Agung akhirnya sedikit melunak.

Ia kembali mengusap kepala Clara seperti saat Clara masih kecil.

Ibunya Clara kemudian ikut duduk di samping mereka.

“Sudah cukup bicara soal itu dulu,” ucap beliau lembut. “Clara perlu istirahat.”

“Aku benar-benar sudah baikan, Bu,” protes Clara kecil.

“Kamu tetap harus banyak istirahat.”

Clara menghela napas pelan.

“Aku malah bosan kalau di rumah terus.”

Ibunya langsung menatap tajam.

“Jangan pikir kerja dulu.”

“Tapi aku sudah sehat.”

Pak Agung langsung ikut bicara.

“Untuk sementara kamu di rumah saja.”

Clara langsung mengerucutkan bibir pelan.

“Ayah juga…”

“Kamu baru saja hampir diculik,” balas Pak Agung tegas. “Dan orang yang melakukannya masih berkeliaran.”

Clara tidak bisa membantah lagi.

Ibunya Clara tersenyum tipis melihat putrinya akhirnya diam.

“Besok ibu akan buat makanan kesukaanmu.”

Mendengar itu Clara langsung sedikit ceria.

“Yang benar?”

Ibunya tertawa kecil.

“Iya.”

Pak Agung akhirnya ikut tersenyum tipis meski sorot matanya masih menyimpan kemarahan.

Di dalam pikirannya hanya ada satu hal.

Tony harus ditemukan.

Dan kali ini, Pak Agung tidak akan tinggal diam lagi. Dunia kadang memang penuh orang yang tidak tahu batas. Lalu mereka kaget ketika akhirnya berhadapan dengan ayah yang putrinya disakiti. Evolusi manusia benar-benar gagal di bagian insting bertahan hidup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!