NovelToon NovelToon
SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA

SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:25.8k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Siham tahu suaminya tidak pernah mencintainya. Dia tahu ada nama wanita lain yang masih bertahta di hati Dewangga. Namun, menemukan kotak berisi sajak-sajak cinta Dewangga untuk masa lalunya adalah luka yang tak bisa lagi ia toleransi. Siham memutuskan untuk pergi, tapi tidak dengan tangan kosong. Dia meninggalkan satu sajak luka setiap harinya sebagai 'hadiah' perpisahan. Saat Dewangga akhirnya mulai merasa kehilangan, Siham sudah menjadi puisi yang tak sanggup lagi ia baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA

​Akhir pekan yang seharusnya tenang berubah menjadi neraka saat Siham melangkahkan kakinya melewati pintu depan. Aroma rumah yang biasanya netral kini tercium seperti amarah yang membusuk. Belum sempat Siham meletakkan tasnya, sebuah suara dentuman keras menghantam dinding di sampingnya.

​Prang!

​Sebuah vas bunga kristal mahal hancur berkeping-keping, serpihannya berhamburan hingga ke ujung sepatu Siham. Siham terpaku, namun ia tidak berteriak. Ia mendongak dan melihat Dewangga berdiri di tengah ruang tamu dengan napas memburu. Rambutnya yang biasanya tersisir rapi kini berantakan, kemejanya kusut, dan matanya merah padam penuh dengan kilatan murka yang belum pernah Siham lihat selama lima tahun ini.

​"DARI MANA KAMU?!" suara Dewangga menggelegar, bergetar karena emosi yang meluap. "Ponsel mati, tidak ada kabar, menghilang seperti ditelan bumi saat ada urusan keluarga yang sangat penting! Kamu pikir kau siapa, Siham?!"

​Siham tetap berdiri tegak, meski jantungnya berdegup kencang. "Aku di rumah Ayah, Mas. Aku butuh ketenangan."

​"KETENANGAN?!" Dewangga tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar sangat mengerikan. Ia menyambar sebuah asbak kaca berat dari atas meja kopi dan melemparnya dengan membabi buta ke arah Siham.

​Siham tidak sempat menghindar sepenuhnya. Asbak itu menghantam pinggiran lengan atasnya sebelum akhirnya jatuh hancur ke lantai. Rasa panas dan perih langsung menjalar. Siham meringis pelan, ia melirik lengannya. Darah segar mulai merembes keluar, memerahkan manset baju berwarna krem yang ia kenakan. Cairan merah itu menetes, jatuh satu demi satu ke atas lantai marmer yang dingin.

​Dewangga diam mematung melihat darah itu. Ada jeda sesaat di mana amarahnya tertahan oleh keterkejutan atas perbuatannya sendiri. Namun, kesombongannya jauh lebih besar daripada rasa bersalahnya. Ia hanya menatap dingin tangan Siham yang terluka.

​Bibik, asisten rumah tangga mereka, berlari keluar dari dapur dengan wajah pucat pasi. Ia menutup mulutnya dengan tangan saat melihat pemandangan di ruang tamu: barang-barang pecah berantakan, dan nyonyanya berdarah. "Ya Allah, Non Siham! Tuan!"

​Siham mengatur napasnya, mencoba menguasai rasa sakit yang berdenyut di lengannya. Ia menoleh ke arah Bibik dengan tatapan yang sangat tenang ketenangan yang justru terasa janggal di tengah kekacauan itu.

​"Bik," suara Siham lembut namun tegas. "Tolong bereskan semua pecahan ini. Jangan sampai ada yang tersisa. Aku tidak mau kaki siapapun terluka karena sampah ini."

​"Tapi Non, tangan Non..." Bibik gemetar.

​"Bereskan saja, Bik. Aku baik-baik saja," potong Siham.

​Siham mengabaikan Dewangga yang masih berdiri seperti patung. Ia melangkah melewati suaminya, menaiki tangga dengan kepala tegak meski rasa perih di lengannya semakin menjadi. Namun, Dewangga tidak membiarkannya pergi begitu saja. Pria itu segera mengikuti Siham ke dalam kamar, menutup pintu dengan bantingan yang sangat keras hingga bingkai foto di dinding bergetar.

​"Jangan berlagak seperti korban, Siham!" bentak Dewangga di dalam kamar. "Kamu yang memulai ini! Kamu sengaja mematikan ponsel agar aku terlihat seperti orang bodoh di depan pengacara semalam! Kamu pikir kamu sudah hebat karena sekarang memegang kendali atas penulis sialan itu?"

​Siham tidak menjawab. Ia duduk di pinggir ranjang, membuka laci meja rias, dan mengeluarkan kotak P3K. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mulai membersihkan lukanya dengan alkohol. Ia tidak merintih saat cairan bening itu menyentuh luka robeknya.

​"Jawab aku!" Dewangga berdiri di hadapannya, menutupi cahaya lampu.

​Siham mendongak, menatap mata Dewangga dengan tajam. "Aku bertemu dengan Aksara Renjana, Mas. Seperti yang aku katakan di kantor, dia butuh aku. Dia sedang menulis bagian yang paling sulit dalam hidupnya: bagian tentang kehancuran seorang istri."

​Dewangga mendengus, ia berkacak pinggang sembari berjalan mondar-mandir.

"Lagi-lagi penulis itu! Kamu mengabaikan suamimu hanya demi orang yang menjual drama murahan? Kamu benar-benar sudah tidak waras, Siham. Kamu sudah kehilangan akal sehat karena terlalu banyak bergaul dengan penderitaan fiktif."

​"Fiktif?" Siham tersenyum getir sembari melilitkan perban di lengannya. "Mas, darah yang mengalir di lenganku ini bukan fiksi. Asbak yang kamu lempar tadi bukan imajinasi. Pecahan kaca di bawah sana adalah realita. Jika kamu bilang ini semua fiktif, maka kamu memang sudah buta."

​Siham berdiri, kini posisinya sejajar dengan Dewangga. "Aksara Renjana memberitahuku satu hal kemarin. Dia bilang, pria yang suka menghancurkan barang sebenarnya adalah pria yang sedang ketakutan. Kamu takut, kan, Mas? Kamu takut kehilangan kendali atas diriku?"

​Dewangga terdiam, wajahnya mengeras.

​"Aku mematikan ponsel karena aku ingin tahu, apakah kamu mencariku karena cemas, atau kamu mencariku karena butuh saat ada urusan bisnismu. Dan jawabannya sudah jelas dari asbak yang melayang tadi," lanjut Siham dengan suara yang sangat dingin.

​Siham mengambil tas kerjanya dan meletakkannya di atas meja. "Sekarang, biarkan aku istirahat. Aku harus mengedit naskah terbaru Aksara Renjana. Judulnya 'Belati di Meja Makan'. Kurasa kejadian hari ini akan menjadi pembuka bab yang sangat sempurna."

​Dewangga menatap istrinya dengan perasaan yang campur aduk marah, benci, dan untuk pertama kalinya, ada sedikit rasa ngeri. Ia melihat Siham yang sekarang bukan lagi "Siham si penurut". Wanita di hadapannya adalah seorang editor yang sedang menyusun rencana pembalasan dengan sangat rapi.

​Dewangga keluar dari kamar tanpa kata lagi, namun kali ini langkahnya tidak seangkuh biasanya. Sementara itu, di dalam kamar, Siham kembali duduk. Ia menyentuh perban di lengannya.

​"Terima kasih untuk luka ini, Mas," batin Siham sembari membuka laptopnya.

"Kamu baru saja memberiku satu bab gratis yang akan membuat bukuku menjadi best-seller dunia. Dan darah ini... akan menjadi tinta paling mahal yang pernah kau bayar."

​Malam itu, di tengah rasa perih, Siham tidak berhenti menulis. Setiap denyut di lengannya ia ubah menjadi kata-kata yang mematikan.

1
Maya Lara Faderik
cerita yang memilukan penuh luka tak dapat dibayangkan kalau didunia nyata,kalau ia pun Kalian dijodohkan Dewangga jangan lah membenci siham , memarahi nya juga siham hanya dituntut oleh kedua orang tua kalian lagipun mantan mu yang mengkhinat meninggalkan dirimu tapi kenapa harus siham tempat kau melempias kemarahan dan kebencian,lelaki yang teregois,angkuh dan tersombong didunia novel ...adakah aku patut bersyukur itu hanya mimpi untuk menyedarkan Dewangga...tapi hatiku masih sakit kerana menangis terisak2 ,... hidung ku tersumbat banyak mengeluarkan air mata...Thor..karyamu sangat membuat ku terbawa perasaan ..terrrbaik thorr...
Maya Lara Faderik: Amin 🙏🙏🙏
total 4 replies
sukensri hardiati
sukaa....nggak nyangka klo dewangga cuma mimpi...tak kira ceritanya mengulang waktu....yaaah...efeknya sama sih...ngadih dewangga kesempatan buat memperbaiki semuanya ....
sukensri hardiati
aduuuh....tamatnya jangan begini laah....
sukensri hardiati
semoga bapak siham juga selamat....sehat sampai punya cucu
Sherly Neovita
🥰
Erna Nurwahyu
😭😭😭😭😭jahat banget sih Thor ini mata sampe bengkak karna nangis terus part ini😭😭😭😭
Erna Nurwahyu
aku nangis terus part ini😭😭😭😭
Mas Nunah
aku nangis nangis baca novel ini
Ainun Nasir
ya Ampun kaget banget pas di akhir ada tulisan tamat
blcak areng: Maaf Kak🙏
total 1 replies
Charlie Si Pendiam
kok tamat sih Thor, sudah melow berat🤭
blcak areng: Maaf ya kak 🙏
total 1 replies
Uthie
Apakah Judul itu kelanjutannya????
Uthie: Yaaaa..😢😢😢
total 2 replies
Uthie
Yaaa...koq Tamat aja 😢😢😢😢
Bunga
sedih banget/Sob/
Uthie
Semoga masih ada kesempatan untuk kalian hidup bahagia yaaa.... not Sad Ending 👍👍👍
Uthie
💞💞💞💞
Haryati Atie
thoor ini ga ada cerita unboxing kli ya , ku kira cerita bakal bede sma mimpi dewangga .
Uthie
Masihkah mereka dapat bersatu dan mengubah takdir 😢
Uthie
Semoga di kesempatan kali ini, mereka bisa bersama selamanya 😢
Uthie
Nexxxttt.... lagiiii
Uthie
syukurlah...bisa kembali bersama merubah kejadian tragis di masa depan 👍👍😥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!