"Setiap orang memiliki alasannya sendiri mengenai bagaimana ia harus bersikap. Jadi, tugas kita bukanlah untuk membenci ataupun bertanya mengapa? tapi kita wajib menghargainya"
.
Aisyah Raina Abdullah, gadis cantik yang memilih menutup dirinya, demi untuk menjaga marwah pribadinya juga keluarganya.
Semakin jauh ia melangkah, semakin banyak ia mengenal sifat. Ada yang murah senyum, ada pula yang dingin layaknya es.
Saat itu juga, Raina menemukan sosok pria yang sangat berbeda baginya, namanya Malik Fajar Admajaya. Akrab di sapa Fajar, ia adalah laki-laki yang memiliki sifat sedingin es.
Ia juga sangat membenci sosok wanita, kecuali sang Ibunda. Selama ini ia tak mau perduli dan tersenyum pada wanita manapun, kalaupun ia memiliki seorang 'wanita' itu hanyalah permainan baginya.
.
Kemudian, dua anak manusia yang berbeda karakter itu dipersatukan dalam mahligai cinta yang halal.
Walaupun pasti banyak rintangan yang akan menghadang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tris riyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Untuk Pertama Kalinya
Raina Pov
Setelah sampai di rumah, aku langsung masuk menuju kamar kak Fajar, eh.. maksudku yang sekarang sudah menjadi kamar kami.
Perlahan aku memasukinya, namun setelah melihat seluruh pakaianku yang tergeletak di atas sofa, aku kemudian berjalan dengan cepat dan memulai membereskannya.
“Ok.. secuil lemari untuk meletakkan pakaianku pun dia tak mengizinkan. Aku juga yang salah, tanpa izin darinya aku langsung menaruh bajuku didalam lemari. Jadi.. ini lah risikonya,” aku bermonolog dengan diriku sendiri sembari merapihkan seluruh pakaianku untuk kumasukkan kembali kedalam koper.
...*****...
Malam telah tiba, sebagai tanda maafku kepada kak Fajar aku mencoba untuk memasak menu makan malam khusus untuknya.
Walaupun sebenarnya aku belum mengetahui makanan kesukaan dari Kak Fajar, jadi aku memutuskan untuk memasak makanan yang biasa Umi buatkan ketika Abiku sedang tak enak hati, aku harap Kak Fajar seperi Abi jika sedang marah.
Setelah aku selesai menyiapkan makan malam di meja, aku kemudian memutuskan menunggu Kak Fajar di balkon kamar kami.
Kulihat arloji ditanganku, waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB malam, namun aku belum juga melihat kedatangan kak Fajar, ataupun mendapatkan kabar darinya.
“Eh.. sebentar, aku belum save nomor Kak Fajar, lalu bagaimana mungkin aku mendapatkan kabar darinya,” cicitku pelan dan sedikit terkekeh karena kekonyolanku ini.
Ketika aku berada di atas balkon ini, aku memandang sungguh luas dan indahnya bumi yang Allah bentangkan untuk kita syukuri sebagai hamba-Nya. Apalagi malam ini tepat bulan purnama, bulan yang dengan keindahannya menghiasi malam indah kami.
Ketika aku memandangnya, seakan aku mampu melihat, sang bulan yang sedang tersenyum padaku dan mengatakan, “Kamu pasti bisa Raina, lihatlah.. walaupun siang aku menghilang, dan mungkin tak ada yang mengharapkan kehadiranku. Namun, ketika malam yang penuh kedamaian tiba, aku menjadi hal yang paling disukai oleh banyak anak manusia.”
Seolah itu seperti diriku yang saat ini tengah berjuang untuk melihat senyuman Kak Fajar kembali.
Aku tersenyum, perlahan aku mencoba menghirup nafasku dalam-dalam, kuhayati setiap deru udara yang seakan membuai mataku yang tengah terpejam.
Kuhayati, melodi nyanyian yang jangkrik senandungkan. Aku terbuai, oleh suasana romantis yang Sang Illahi Rabbi suguhkan.
Tak mampu rasanya hati ini menampik, bahwa aku hanyalah seorang hamba yang tiada apa-apa bila tak mampu berjuang, hanya karena sebuah penolakan.
Bukankah setiap perjuangan akan ada muara indah untuk tempat kita berlabuh? Bukankah disetiap perjalanan, akan ada rintangan dan tantangan yang pasti menghadang?
Jadi.. apa gunanya kita mengeluh, dan.. apa gunanya kita meratapi setiap proses yang membuat hati kita terluka.
Tugasku sekarang adalah tetap bertahan dalam setiap perjuangan. Jika bukan saat ini, mungkin esok ataupun nanti, ia akan menerima hubungan kami.
Yah... aku hanya tinggal menunggu waktu itu tiba, waktu dimana dirinya tidak lagi menghunuskan tatapannya yang tajam padaku. Waktu.. dimana dirinya sudi untuk menatapku dan memperhatikan setiap gerakan bibirku ketika berbicara padanya. – salam cinta dariku sang pejuang hati.
Tanpa kusadari, hari telah menunjukkan pukul 22.00 WIB malam. Itu artinya, tubuhku tak mampu lagi untuk menolak permintaan agar aku merebahkannya di sebuah tempat yang nyaman.
Perlahan aku mundur, dan aku melihat sofa yang sama yang kemarin juga ku pakai ketika menunggu kepulangannya.
Aku yang sudah dalam posisi terduduk di sofa, masih mencoba dengan keras untuk menunggu kedatangannya yang tak pasti, dengan menyibukkan diri membaca sebuah novel kesukaanku, novel karya Bunda Asma Nadia.
Sebenarnya, aku juga memiliki cita-cita menjadi seorang penulis hebat yang mampu menciptakan goresan-goresan tinta hitam dalam setiap lembaran kertas, seperti Bunda Asma nadia.
Yah.. sangking sukanya aku dengan karya yang beliau tuliskan, aku sampai memanggilnya Bunda. Hehe.. receh bukan? Tentu saja, aku bukan seorang sastrawan ataupun kuliah di jurusan bahasa, lalu apakah aku mungkin bisa seperti Asma Nadia?
Tapi.. aku, kamu dan kita semua harus selalu percaya, bahwa Allah pasti memberikan jalan-Nya, selagi kita mau berusaha.
Setelah beberapa saat, aku sudah terlelap dan tak mengingat apa yang terjadi.
Namun secara tiba-tiba tubuhku rasanya terangkat, kemudian karena kaget, aku langsung memberontak dan meminta seseorang yang menggendongku untuk segera menurunkanku.
Namun, secara tak terduga sebuah kejadian buruk yang membuat tubuhku rasanya remuk terjadi juga.
Brukkk...
Seseorang yang tanpa permisi dan izin dari ku, yang tiba-tiba ketika aku memberontak untuk turun, dengan ekspresi wajah yang datar dan tampak tak berdosa dirinya menjatuhkanku.
Sakit pasti, rasanya tulang belakangku remuk bertubi-tubi.
“Bandel sih.. pagi tadi, gue udah suruh lo jangan tidur di sofa,” ucap Kak Fajar masih dengan wajah tanpa ekspresinya.
Dia makhluk hidup bukan sih? Setelah membuat tubuhku sakit, eh.. tanpa ucapan maaf dia malah menyalahkanku. Sepertinya aku mulai paham, Kak Fajar adalah manusia yang tidak memiliki kata maaf didalam kamus besar pribadinya. – batinku sambil melihat kak Fajar dengan seksama.
Aku masih mengamati bagian wajahnya yang mana, yang membuatnya tak memiliki ekspresi sedikitpun untuk mengungkapkan rasa bersalahnya.
“Udah.. gak perlu nengokin sampai segitunya, kenapa gak tidur dikasur?” ucapnya yang membuatku tersentak dari pengamatanku.
Emm.. tadi, niatnya mau nunggu kak Fajar, biar bisa makan malam bareng untuk pertama kalinya – batinku untuk menjawab kak Fajar, karena jika aku mengatakannya secara langsung, pasti setelah mendengarkan jawabanku ia langsung menghunuskan tatapan tajamnya padaku.
“Emm.. kak Fajar tadi pagi hanya mengatakan jangan menunggu dan jangan tidur di sofa, bukan menyuruh tidur di kasur,” jawabku pelan dan polos, aku masih takut jika berbicara dengan nada biasa padanya.
Kemudian masih dengan posisi yang tidak melihat kerahku, ia membuka suaranya lagi, “Ok.. kalau gitu, kita buat batas untuk kasur ini, lo sebelah kiri dan gue sebelah kanan.”
Kali ini kak Fajar tampak sibuk membereskan bantal-bantal yang ada dan meletakkannya sebagai pembatas tempat tidur kami.
“Saya di sofa saja Kak, supaya tidak mengganggu tidur Kak Fajar,” kataku sedikit ragu, tapi aku harus jujur.
Kak Fajar sepertinya memiliki kebiasaan tidur yang buruk, seperti kuda, tidak tenang dan banyak tingkah. Dia juga cukup banyak memakan tempat seperti tadi malam, dan aku hanya tidak mau jika nanti aku terjatuh untuk kedua kalinya ketika tidur.
Aku menduga Kak Fajar akan senang dengan keputusanku, karena ia tidak perlu repot-repot berbagi tempat denganku.
Namun dugaanku itu semuanya salah, Kak Fajar malah menarik tanganku yang membuatku terjatuh di kasur dan menimpa tubuhnya.
Untuk pertama kalinya aku sangat dekat dengan dirinya, manik mataku dan matanya saling beradu, juga hidungku yang masih tertutup cadar menyentuh hidung mancung kak Fajar. Untuk beberapa detik ini, kami hanya terdiam masih dengan posisi yang sama.
Aku memperhatikan matanya, kali ini ia tampak berbeda, sorot mata yang biasanya menatapku dengan tajam seolah kali ini tidak, ia tampak seperti pria yang tengah berjuang untuk keluar dari sesuatu yang membuatnya terjebak dalam luka yang dalam selama ini.
Apa yang terjadi pada ku? dan kak Fajar.. mengapa dia menatap dalam mataku? bukankah selama ini dia benci menatapku? namun, kali ini? - batinku.
Kemudian dari arah luar kamar kami, ada seseorang yang mengetuk pintu, dan mengucapkan salam.
Aku yang tersadar kemudian bangkit dan menjauh dari tubuh kak Fajar. Jantungku rasanya tidak karuan dan tidak tenang kali ini. Sementara Kak Fajar, ia langsung pergi membuka pintu.
Ternyata mbok Asihlah yang mengetuk pintu.
“Maaf mengganggu waktu tidurnya Den Fajar,” dengan anggukan Kak Fajar mengiyakan ucapan maaf dari Mbok Asih.
“Emm.. tadi Non Raina menyiapkan makanan dan masih belum disimpan, Mbok mau tanya apa non Raina masih mau makan?” kata mbok Asih.
Belum sempat aku menjawab mbok Asih, Kak Fajar langsung meminta Mbok Asih untuk kembali lagi tidur di kamarnya.
Kemudian ia, membalikkan badannya kearahku. Sekarang giliranku yang mencoba berpura-pura tak tahu apa-apa, aku memilih untuk merapihkan kembali kasur yang berantakan karena tadi aku dan kak Fajar terjatuh.
“Nggak lapar?” tanya kak Fajar singkat, yang kujawab dengan gelengan kepala.
Aku tahu saat ini, kak Fajar berdiri tepat di belakangku.
Tapi.. hal konyol malah terjadi, ketika aku menjawab tidak lapar, malah perutku berkata lain. Tanpa aba-aba dariku ia berbunyi, tentu saja ini membuatku semakin salah tingkah.
Sedangkan ekspresi kak Fajar? aku tak tahu, mungkin dirinya masih setia dengan wajah datarnya. Aku tak peduli, yang kupedulikan adalah bagaimana caraku menetralkan jantungku yang berdetak tak karuan.
“Gue juga belum makan, ayo.. daripada sia-sia makanannya. Bukannya itu makanan buat gue juga..”
Ini perasaanku saja atau benar kak Fajar mengajakku untuk makan bersamanya? Bahkan dengan nada yang selembut itu? – batinku, karena untuk pertama kalinya lagi kak Fajar berbicara seperti itu padaku.
“Gue tunggu di bawah,” ucapnya lagi yang langsung pergi dan tak memperdulikan jawabanku.
Aku semakin tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, ditambah lagi perasaan yang aneh yang tiba-tiba muncul ketika menatap manik matanya tadi. Bahkan yang biasanya aku berani melihatnya, kali ini aku seperti kehilangan keberanian itu.
...-----♡●♡-----...
Alhamdulillah Up lagi😁
Ceritanya makin gimana menurut teman-teman?🤔, boleh tulis di kolom komentar yah😀
jangan ragu, karena siapapun kita kita adalah saudara, jika tidak satu daerah setidaknya satu negara Indonesia🇮🇩
.
Oh iya, pokoknya terimaakaasiihhh banyak-banyak author ucapin untuk teman-teman yang sudah sudi untuk mampir di lapak sederhana Raina dan Fajar ini yah👫
Jangan lupa tekan jempolnya🖒tulis komentarnya😀 dan berikan votenya✔ yah..
Jazakillah Khair 💖
semangat terus ya thor...
tetap semangat untuk karya selanjutnya .... love you full....😍😍😍
semangat ya....
aku udah baca sampai sini....
lanjut terooos....💪💪💪💪💪💪
di tunggu kelanjutan nya 👍👍❤❤❤
salam hangat dari Zahra Anak Yang Tak Berdosa