NovelToon NovelToon
A DEAL WITH COLD PROFESSOR

A DEAL WITH COLD PROFESSOR

Status: tamat
Genre:Dosen / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Romansa / Nikah Kontrak / Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:13.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mikaelach09

Namanya Sekar Senjani Paramitha-gadis berparas lembut yang tengah menapaki tahun terakhir kuliahnya di sebuah universitas ternama di ibu kota. Namun, menjelang akhir perjalanannya, hidup justru berbalik arah. Sang ayah terjerat mabuk dan judi, meninggalkan luka yang tak kasatmata, sementara sang ibu yang rapuh harus berbaring di rumah sakit akibat hipertensi yang kian memburuk.

Di tengah hari-hari yang penuh sesak dan nyaris tanpa cahaya, hadir seorang lelaki dengan tatapan teduh sekaligus menyimpan misteri-Althaf Arsakha Dirgantara. Ia menawarkan sebuah kesepakatan pernikahan: pernikahan tanpa cinta, hanya ikatan di atas kertas, namun dengan konsekuensi yang tidak bisa Senja bayangkan.

Kegundahan pun menyeruak di hati Senja. Sebab lelaki itu bukan hanya orang asing... melainkan dosennya sendiri.

Akankah Senja menerima tawaran pernikahan yang bisa menyelamatkan keluarganya, meski harus mempertaruhkan masa depannya sendiri? Atau menolak, dan menyaksikan hidupnya runtuh perlahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB EMPAT BELAS

Aku menatap mata Althaf beberapa detik, sebelum akhirnya memasang tawa renyah—palsu tentunya. “Yaelah, Lay. Mana mungkin cincin gue sama kayak punya Pak Althaf. Cincinnya beliau pasti berlian asli dari Tiffany & Co. Lah gue? Cuma cincin murah dari Tanah Abang.”

Layla langsung ngakak sambil menepuk meja. “Hahaha, bener juga! Mana mungkin lo couple-an sama Pak Althaf. Bisa-bisa istrinya ngamuk, kan Pak?”

Aku menelan ludah pelan. Dari sudut mataku, aku bisa melihat Revan menatapku tajam penuh curiga. Sedangkan Althaf? Ia malah tersenyum tipis, tenang sekali. Seolah nggak ada yang perlu ia sembunyikan.

“Cemburu itu wajar,” jawab Althaf kalem. “Kalau seorang istri nggak cemburu, justru itu yang aneh.”

Layla langsung nyamber dengan gaya bercandanya. “Kalau saya sih, Pak, jadi istri Bapak, udah ngekorin ke mana-mana. Bapak ganteng banget. Pasti banyak lebah yang mau nempel sama Bapak.”

Aku hampir tersedak. Revan spontan memelototi Layla. “Layla, mulut Lo bisa di rem nggak sih.”

Layla langsung nyengir kecut. “Hehe, bercanda doang, Van.”

Althaf menegakkan tubuhnya, menatap Layla dengan ekspresi yang sulit ditebak. “Ada saja kamu Layla, memangnya saya madu sampai banyak lebah mau hinggap,”

Layla nyengir lagi. “Hmm… iya sih, soalnya Bapak manis banget. Manisnya ngalahin madu.”

“Layla!” bisikku sambil menendang kakinya di bawah meja.

“Aduh! Sakit, Sen!” Layla meringis, melotot balik ke arahku.

Aku pura-pura fokus ke laptop. “Diam aja deh, Lay.”

Revan menghela napas keras, jelas udah muak. “Kalau kalian nggak serius ngerjain tugas, gue mending cabut aja sekarang. Dari tadi isinya bercandaan nggak jelas.” Tatapannya menusuk langsung ke arah Althaf. Nampak ada rona tak suka yang tidak di tutupi oleh Revan.

Althaf menoleh perlahan, menatap Revan balik. “Santai saja, Revan. Tugas tetap bisa selesai meskipun kita sambil bercanda. Kamu terlalu tegang.”

Revan mendengus, wajahnya mengeras. “Bercanda ada tempatnya, Pak. Apalagi Bapak dosen. Bukannya bikin suasana lebih produktif, malah bikin ribet.”

Aku bisa merasakan hawa panas di udara. Tatapan mereka berdua saling beradu, seolah meja kafetaria itu jadi ring tinju tak kasat mata.

Layla menatap ke arahku lalu ke arah Revan, lalu buru-buru pura-pura sibuk membolak-balik catatan. Jelas dia ikut tegang.

Suasana itu pecah saat Reihan tiba-tiba datang. Ia mencondongkan tubuh, membisikkan sesuatu di telinga Althaf. Wajah Althaf berubah serius.

“Sepertinya saya harus pamit dulu,” katanya sambil menutup iPad. Ia berdiri dengan tenang, merapikan jasnya. “Ada urusan yang harus saya selesaikan. Dan… makanan di meja ini, biar saya yang bayar.”

Layla langsung bersorak kecil. “Wah, makasih banyak, Pak! Udah Ganteng, dermawan lagi. Perfect banget deh!”

Revan langsung menyikutnya, kesal. “Layla.”

“Hehe, iya-iya… sorry ” Layla meringis.

Aku hanya terdiam, menunduk, menyembunyikan wajahku di balik rambut. Tapi sebelum benar-benar pergi, Althaf menoleh sekilas padaku. Tatapannya singkat… tapi dalam. Tatapan yang membuat jantungku semakin kacau.

***

Sore itu, setelah tugas kelompok selesai dengan Revan dan Layla, aku akhirnya melajukan motor tuaku menuju rumah keluarga Dirgantara. Tadi Oma Althaf sempat meneleponku, suaranya hangat tapi penuh wibawa, meminta aku mampir. Entah kenapa, permintaan itu membuatku tak bisa menolak.

Rumah keluarga Dirgantara berdiri megah di ujung jalan perumahan elite. Arsitekturnya jelas bergaya Eropa klasik—pilar-pilar putih menjulang tinggi, jendela besar dengan lengkung elegan, dan halaman depan yang luas dengan air mancur kecil di tengah. Pepohonan rindang di sekelilingnya membuat suasana terasa teduh, seakan rumah itu berada di dunianya sendiri.

Aku berhenti di depan pagar besi hitam yang tinggi, menyadari betapa kontrasnya motor bututku dengan mobil-mobil mewah yang terparkir di garasi: sedan hitam mengilap, SUV putih, bahkan sebuah mobil sport merah yang entah harganya berapa.

“Ya Tuhan…” gumamku lirih, menelan ludah. Rasanya aku seperti tamu asing yang salah alamat.

Seorang satpam menghampiri, menunduk sopan. “Selamat sore. Mbak Senjani, ya? Bu Dyah sudah menunggu di dalam.”

Aku hanya mengangguk cepat, mencoba tersenyum, meski jantungku berdebar kencang. Satpam itu kemudian membuka gerbang, dan aku perlahan masuk dengan motorku, berusaha tidak merasa terlalu kecil di tengah kemewahan yang menelanku bulat-bulat.

Rumah keluarga Dirgantara bukan sekadar besar—ia lebih mirip sebuah istana kecil. Begitu melewati gerbang besi hitam yang tinggi dengan ukiran bermotif klasik, jalan masuknya berupa paving batu alam yang panjang, lurus, dan teduh oleh deretan pohon trembesi di kiri-kanannya. Jalan itu mengantar langsung ke halaman depan yang luas.

Di sisi kiri halaman, ada taman bunga dengan mawar merah, lily putih, dan anggrek yang tertata rapi. Sisi kanan dipenuhi tanaman hias mahal, bonsai, bahkan ada kolam ikan koi berair jernih yang memantulkan cahaya sore. Tepat di tengah, air mancur bergaya Eropa berdiri gagah, patung kuda putih dengan air yang jatuh lembut ke kolam bundarnya.

Rumah utama menjulang dengan fasad putih gading, jendela-jendela besar berbingkai kayu cokelat tua, serta balkon dengan pagar besi berornamen klasik. Atapnya tinggi dengan genteng hitam berkilau, dan di puncaknya berdiri jam antik besar, seolah menandai bahwa waktu di rumah ini berjalan dengan keanggunannya sendiri.

Begitu aku memarkir motor tuaku di pojokan, kontras langsung terasa—motor kecilku tampak “kecil hati” di samping deretan mobil mewah.

Saat aku menaiki tiga anak tangga menuju teras, suasana rumah semakin membuatku kagum sekaligus ciut. Terasnya luas, lantai marmernya dingin berkilau, dan di kedua sisinya terdapat pot bunga keramik tinggi berisi tanaman lavender. Lampu gantung klasik berwarna emas bergoyang pelan ditiup angin sore.

Pintu utamanya besar, terbuat dari kayu jati dengan ukiran flora yang rumit. Saat dibuka oleh seorang asisten rumah tangga, aroma lembut bunga segar bercampur wangi kayu menguar, menyambutku masuk.

Begitu sampai di teras, seorang perempuan paruh baya—mungkin asisten rumah tangga—langsung menyambutku. “Silakan, Mbak Senjani. Ibu ada di ruang tamu.”

Aku melepas helm, merapikan rambut yang acak-acakan karena angin jalanan, lalu mengikuti langkahnya.

Begitu melewati pintu kayu besar yang dipenuhi ukiran, aku langsung dibuat terpana. Ruang tamu itu luas, lantainya marmer putih yang berkilau, lampu kristal menggantung di tengah langit-langit tinggi. Lukisan-lukisan klasik memenuhi dinding, sementara sofa panjang berwarna krem tertata rapi mengelilingi meja kaca. Aroma lembut bunga segar dari vas kristal di sudut ruangan memenuhi udara.

Dan di sana, duduk seorang wanita tua dengan rambut perak yang ditata rapi, mengenakan  gaun rumahan  elegan berwarna hijau zamrud. Wajahnya teduh, namun sorot matanya penuh wibawa. Dialah Oma Althaf.

“Senjani, kemari nak,” panggilnya dengan suara hangat tapi berkarisma.

Aku segera menunduk sopan. “Selamat sore, Oma. Maaf kalau saya datang terlmbat.”

Oma tersenyum kecil, matanya menatapku penuh selidik. “Tak perlu minta maaf. Kamu datang saja sudah membuat Oma senang. Duduklah di sini, menemaniku.”

Aku duduk perlahan di sofa, berusaha tidak membuat suara berlebihan. Jantungku masih berdegup kencang, terutama saat melihat foto-foto keluarga Dirgantara yang berjajar di dinding—Althaf kecil dalam seragam sekolah, foto keluarga formal, bahkan ada potret besar seorang pria dewasa yang wajahnya sekilas mirip Althaf.

Aku menelan ludah. Rasa gugup dan penasaran bercampur jadi satu. Apa yang sebenarnya Oma inginkan dariku sore ini?

Oma menatapku lama, seolah menimbang-nimbang kata sebelum akhirnya bicara. Suaranya pelan, tapi setiap kata terasa menancap dalam.

“Bagaimana kabarmu, Senjani?” tanya Oma lembut sambil menggenggam tanganku.

“Alhamdulillah baik, Oma. Kalau Oma sendiri gimana? Sehat-sehat kan?” aku balas dengan senyum kecil, mencoba terdengar ceria.

“Syukurlah.” Oma mengangguk pelan. “Oma juga sehat. Tapi Oma lebih tenang lagi kalau tahu kamu bahagia. Jadi… bagaimana pernikahanmu dengan Althaf? Apa dia memperlakukanmu dengan baik?”

Pertanyaan itu membuat nafasku tercekat sejenak. Aku menunduk, menatap jemari yang saling bertaut di pangkuanku. Bibirku mencoba melengkung membentuk senyum, tapi aku tahu itu terasa kaku.

“Mas Althaf baik kok sama Senja, Oma…” jawabku akhirnya, dengan suara yang terdengar lebih lirih dari seharusnya.

Mata Oma meneliti wajahku dalam-dalam, seolah mencoba membaca setiap gerakan kecil ekspresiku. Senyumnya masih lembut, tapi sorot matanya menyimpan sesuatu yang lain—curiga, sekaligus cemas.

“Benarkah?” tanyanya pelan, seakan ingin memastikan.

Aku buru-buru mengangguk, berusaha menahan degup jantungku yang mendadak kacau. “I-iya, Oma. Benar.”

Namun jauh di dalam hati, aku tahu kebohonganku begitu rapuh. Dan sepertinya, Oma pun menyadarinya.

“Senjani… kamu pasti sering merasa Althaf itu kaku, dingin, seperti tak bisa disentuh,” katanya, jemarinya yang keriput meremas pelan tanganku. “Tapi itu bukan sifat aslinya. Itu hasil dari luka yang terlalu dalam.”

Aku terdiam, menunggu kelanjutan ceritanya.

“Waktu kecil, Althaf anak yang ceria sekali. Manjanya bukan main. Kalau papa pulang kerja, dia selalu lari sambil teriak-teriak, dan kalau mamanya pergi sebentar saja, dia sudah panik. Dia anak tunggal, jadi kasih sayang orang tuanya seluruhnya tercurah padanya.”

Oma menarik napas panjang. Matanya sayu, seakan sedang menatap bayangan kecil Althaf yang dulu.

“Tapi semua itu berubah drastis ketika dia kelas satu SMP. Malam itu… papa dan mamanya meninggal dalam kecelakaan mobil. Dunia Althaf runtuh seketika. Dari anak manja yang selalu bergantung pada orang tua, tiba-tiba dia benar-benar sendirian.”

Aku refleks menutup mulut dengan jemari. Dada terasa sesak membayangkan bocah berusia dua belas tahun harus menelan kenyataan pahit seperti itu.

“Sejak saat itu, dia menutup dirinya. Jarang bicara, jarang tertawa. Dia berusaha keras terlihat kuat di depan Oma, padahal setiap malam aku sering mendengar tangisnya dari balik pintu kamarnya. Tapi dia tidak pernah mau menangis di hadapan orang lain.”

Suaranya bergetar. Aku bisa melihat kilatan air di mata Oma, meski beliau mencoba tersenyum.

“Anak itu… belajar terlalu cepat untuk jadi dewasa. Dia menekan semua emosinya, menyimpan rapat-rapat luka itu. Hingga tumbuhlah sifat dingin dan kaku yang sekarang kamu lihat.”

Aku menunduk, berusaha menahan rasa perih di dada. Jadi itu alasannya… kenapa Althaf sering terlihat tak tersentuh.

“Althaf bukan tidak punya hati, Senjani,” lanjut Oma, suaranya lebih lembut. “Dia hanya takut… takut kalau terlalu dekat dengan seseorang, dia akan kehilangan lagi. Karena itulah dia menjaga jarak dengan banyak orang.”

Aku menggigit bibir. Mendadak aku ingin sekali menemui Althaf saat kecil—memeluknya, menenangkan tangisnya, dan berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Oma menatapku serius, tapi tatapannya tetap penuh kasih. “Itu sebabnya, Oma bersyukur pernikahanmu dengan Althaf terjadi, meski caranya tidak biasa. Mungkin… kamulah orang yang bisa membuat Althaf percaya lagi, bahwa hidup ini masih bisa hangat.”

Aku tercekat. Ada sesuatu yang mengalir di dadaku, campuran antara simpati, perasaan bersalah, dan juga… ketakutan.

Aku hanya bisa menggenggam jemari Oma lebih erat, mencoba menyembunyikan gemuruh yang bergejolak di dalam diriku.

1
🤧
lovyu.. ❤️
🤧
tidak ada pelakor disini.. 🌚
🤧
lagi 🌚
🤧
jangan ada konflik lagi 🥺
🤧
jangan ada konflik lagi ya 🥺
🤧
apdet banyak2 🦖
🤧
semoga ga ada perselingkuhan
🤧: kalo ada.. aku cabut 😑
total 1 replies
Mochimo
Lanjutttt kakkk, makin seruuu..
Ria Ismail
Nextttt kak
Ria Ismail
Wawww menikah juga akhirnya
Ria Ismail
Sepertinya seruu
Roxy-chan gacha club uwu
Thor, aku hampir kehabisan kesabaran nih, kapan update lagi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!