NovelToon NovelToon
The Invincible Hero : Reincarnation

The Invincible Hero : Reincarnation

Status: tamat
Genre:Fantasi / Petualangan / Isekai / Barat / Tamat
Popularitas:220.9k
Nilai: 4.7
Nama Author: Arya Atmareja

"Akan ku gunakan kekuatanku untuk melindungi orang-orang. Meskipun aku harus meminjam kekuatan dari iblis sekalipun."



Bercerita tentang seorang yang menjalani reinkarnasi disebuah dunia fantasi dimana sihir, legenda, dan mahluk mitologi adalah sebuah hal yang biasa ditemui sehari-hari.

Dengan harapan menjalani kehidupan yang aman dan nyaman, ia menjalani hari sebagai pahlawan tanpa tanding, seseorang yang "tak terkalahkan".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Atmareja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#15 Ibu kota | Cinta | Naga

Sudahlah, aku merasa ini takdirku, dicintai dua gadis rasanya bukanlah masalah besar. Aku bisa menikahi mereka berdua. Ya, para bangsawan melakukan hal itu disini. Jadi aku rasa itu tidak apa-apa. Aku yakin perjalanan kisah harem ku akan baik-baik saja.

***

Pagi hari di dermaga pelabuhan kota Beach Shore

Kota Beachshore adalah sebuah kota pelabuhan di sebelah barat kota Kaov, sebuah pelabuhan kecil tempat kami akan memulai petualangan pertama kami.

Dengan mengenakan pakaian yang mengenakan tudung,kami sedikit menyembunyikan identitas kami.

Sebuah kapal sudah dipersiapkan sebelumnya hingga kami tak kesulitan mencari kapal untuk kesana.

Setelah memastikan semuanya siap kami berangkat bersama kru kapal. Meskipun ini kapal kecil tapi masih cukup besar menurutku.

Pulau naga terletak di sebelah barat benua Waymoore. Termasuk kedalam daerah kekuasaan kerajaan Rhoaria. Namun karena disana ada naga yang tinggal, pulau ini tak berpenghuni. Bahkan nelayan enggan untuk sekedar mendekat.

Setelah perjalanan hampir tengah hari, sebuah pulau tampak di kejauhan. Jangkar diturunkan, kami menaiki sekoci untuk mencapai pulau. Rasanya sedikit menakutkan menaiki sekoci sekecil ini.

Kami pun sampai di pulau naga.

Aaahh aku bersyukur bisa sampai dengan selamat.

"Pertama-tama kita harus menuju puncak gunung itu. Disanalah naga itu berada."

Cordelia mendongak ke arah gunung.

"Baiklah, ayo kita jalan sebelum malam tiba!"

Aku mengambil inisiatif memimpin.

Cordelia mengangguk.

Kami terus merangsek ke dalam hutan. Sejauh ini tidak ada monster apapun. Akupun mengaktifkan Sena.

"Tuan, sudah lama anda tidak memanggil saya."

"Begitulah, keadaan cukup tenang baru-baru ini."

"Begitu, saya mengerti."

"Sena bisa kau cari dimana posisi naga itu!?"

"Akan saya cari tuan, harap menunggu!"

Tak lama sebuah tampilan radar muncul di benakku, terus mendeteksi keberadaan monster. Tak ada satupun monster disini. Pulau ini begitu tenang. Mungkin karena ada naga disini, jadi monster-monster kecil enggan mendekat.

Ketemu. Sebuah ikon naga muncul di layar.

"Naga telah ditemukan tuan."

"Berikan penunjuk arah!"

"Baik."

Kemudian dengan arahan dari Sena, kami menyusuri hutan menuju arah naga tersebut.

"Milo, bagai mana kau bisa yakin jika arahnya kesini?"

"Eemmm,,aku memiliki sihir deteksi, dengan begitu aku bisa tahu arah maupun jumlah Monster."

"Oohhh sihir yang hebat."

"Ehh,,, apakah kau tidak mempelajarinya?"

"Tidak, aku tidak mempelajarinya, tidak ada sihir seperti itu sebelumnya."

Akh kaget. Padahal ini adalah dunia sihir dimana hewan mitologi dan sihir dianggap biasa.

"Apakah karena kemampuan sihir ini juga waktu itu kau bisa tepat waktu memblok serangan ayahku?"

"Begitulah, aku merasakan ada seseorang bergerak dengan kecepatan tinggi menuju ke arahmu. Aku Pikir ini pasti bahaya."

"Untung saja kau tidak membunuhnya waktu itu, ayahku memang payah."

Kami tertawa bersama.

Malam sudah menjelang, dan kami baru setengah jalan. Kami pun memutuskan untuk mendirikan kemah.

"Rasanya tidak apa-apa jika kita mendirikan kemah disini."

Cordelia mengangguk.

Kemah sudah didirikan, api unggun kecil sebagai pelengkap telah kami nyalakan. Beberapa makanan bekal sudah kami makan untuk menjaga stamina kami.

"Mungkin seperti inikah rasanya bulan madu yah Milo?"

Jlebbb,,, sebuah pertanyaan yang sulit ku jawab. Aku mengacuhkan pertanyaannya.

"Hei miloo,,"

Ucapannya terdengar manja. Mode binal nya mulai aktif.

"Apakah kau tidak pernah menginginkanku?"

Apa-apaan pertanyaan ini?

Seperti biasa, dia mendekatkan tubuhnya padaku, menempelkan dua bulatan besar itu di tanganku. Sebuah sensasi yang menggoda. Maafkan aku Windy, malam ini aku mungkin akan kehilangan keperjakaanku.

"Milooo,,,jawablah! Apakah kau tidak pernah menginginkanku?"

"Umm, bukan seperti itu."

"Lalu?"

"Bukankah aneh jika aku harus menikahi guruku sendiri?"

"Yaaa memang seperti itu aturan bagi seorang imam wanita. Dan juga, aku pernah menceritakannya padamu kan, tentang aku yang melihatmu di dalam mimpi? Jika kau bermasalah dengan itu, kita bisa membatalkan hubungan guru dan murid ini."

"Apakah bisa seperti itu?"

"Tentu saja."

Sedikit harapan muncul di benakku. Aku merenung sejenak.

"Apakah kau benar-benar mencintaiku? Rasanya aneh, kau melihatku di dalam mimpimu. Tapi aku tak pernah melihatmu."

"Apakah untuk mencintaimu butuh sebuah alasan?"

"Tidak tidak, aku hanya,,,"

Aku tak kuasa meneruskan kata-kata.

"Apakah aku belum cukup membuktikan apa-apa? Aku tahu aku lebih tua darimu, tapi kau sudah cukup umur untuk menikah denganku. Apakah kau masalah dengan perbedaan umur kita?"

"Sebenarnya tidak, tidak sama sekali. Aku sangat menghargai perasaanmu."

"Lantas kenapa kau begitu dingin padaku? Bahkan di tempat seperti ini, kau tidak melakukan apapun padaku."

Ehhh,,, apa ini? Apakah aku akan kehilangan kesucianku malam ini?

Cordelia terlihat sedikit frustasi. Lagi-lagi aku merasakan cairan hangat mengalir di pundakku, Cordelia menangis.

"Anu, Cordelia, aku memang menyukaimu, kau terlihat sangat cantik, aku menyukainya. Tetapi apakah kau tidak masalah jika aku memiliki dua orang istri. Kau tahu aku memiliki windy bukan?"

"Tidak, aku tidak apa-apa, selama aku bisa bersama denganmu aku bisa menerima keadaan seperti apapun. Aku ingin kau mengakuiku sebagai milikmu."

Ucapannya itu di akhiri dengan sebuah kecupan di pipiku, aku semakin merasakan panas dari dalam diriku.

Aku menatap matanya, mata kami bertemu. Perlahan wajah kami mendekat, sebuah ciuman menegaskan hubungan kami. Kami pun terbawa indahnya nyanyian cinta. Hingga, pagi menyingsing membangunkan kami yang tertidur dalam keadaan sama-sama tanpa busana. Ya, kami telah mencapai tangga kedewasaan.

Mataku terbuka, ketika ku melihat wajah Cordelia begitu dekat dengan wajahku, wajahnya yang tertidur terlihat sangat cantik. Dan ketika sinar matahari menyinari pipinya, kecantikannya semakin nyata.

Satu kecupan kecil aku sampaikan di keningnya.

Aah,,aku yang hidup menjadi seorang neet, tak akan pernah mengalami hal ini. Aku sungguh bersyukur bisa bereinkarnasi ke dunia ini. Dan bertemu orang-orang yang menyayangiku adalah hal yang terindah yang pernah kurasakan.

"Selamat pagi sayang."

Eehhh kenapa ada sayang di belakangnya?

"Selamat pagi"

Tanpa ku sadari aku terus memandangi wajah cantik Cordelia hingga tak menyadari kalau dia sudah bangun.

Wajah Cordelia memerah. Itu terlihat menambah kecantikannya.

Cordelia menutup wajahnya dengan selimut.

Ehhh kenapa apakah dia malu?

"Anuu,,,."

Plakkk,,,tangannya menyambar pipiku.

Awww sakit,

Kenapa dia malu-malu, bukankah dia lebih tua dariku? Di dunia ini, kami sudah dianggap dewasa ketika menginjak usia 13 tahun. Pada usia itu, kau bisa menikah, mendaftar pada serikat ataupun hal-hal lainnya yang membutuhkan batasan usia minimal.

Dia yang berusia 18 tahun,seharusnya tak perlu malu-malu kepadaku yang berusia lebih muda.

Setelah menamparku untuk kesekian kalinya.

"Milo mesum!!"

Haahhh??? Bukankah kau yang memulai? Bukankah kau yang selalu memberikan umpan??? Dasar, kau lah yang sebenarnya mesum.

Aku tersenyum kecut mendengarnya.

Lalu, dengan mendekatkan tubuhnya padaku, sebuah kata-kata yang tak pernah aku pikir akan dia ucapkan untuk saat ini.

"Apakah menginginkannya lagi?"

Dengan wajah memerah dan sedikit tertunduk dia menyerangku.

Sebuah tawaran menggiurkan.

"Tida, tidak, kita harus segera bergerak. Kita juga harus segera sarapan."

"Baiklah."

Dia bangun dari tempatnya, tanpa memperdulikan tubuhnya yang tak terbungkus sehelai kain pun dia menuju ke arah sungai yang tak terlalu jauh dari tempat kami berkemah.

Mataku dibutakan pemandangan indah ini, aku menelan ludah.

Setelah membersihkan tubuh kami, kami memulai sarapan kami. Cordelia mengambil roti dari persediaan kami, dan menyodorkannya padaku.

"Sayang, makanlah!"

Dengan tersenyum puas dia menyodorkannya padaku.

***

Kami melanjutkan perjalananku.

Dengan aku memimpin di depan, kami melanjutkan perjalanan.

Kami pun tiba di kaki gunung. Sepertinya kami harus mendaki.

Kami mulai mencari jalan untuk pendakian ketika kami tiba-tiba menemukan sebuah goa.

"Ayo kita masuk!"

Cordelia menjawab dengan mengangguk.

Di dalam, goa ini sangat gelap. Hingga aku perlu mengeluarkan sihir api ku. Aku mengeluarkan ifrit dan menyuruhnya berjalan di depan kami.

"Ternyata roh suci bisa digunakan seperti ini."

Cordelia menghela nafas.

Kami terus melanjutkan perjalanan kami semakin jauh kedalam goa. Hingga kami menemukan sebuah dinding di depan kami. Itu adalah sebuah dinding berukir yang sepertinya mirip sebuah pintu.

"Apakah ini pintu?"

"Sepertinya begitu."

"Tunggu, disini ada semacam tulisan."

Aku menunjuk pada barisan huruf kuno yang tak ku mengerti.

"Ini adalah pintu masuk ke penjara pedang sakti. Siapapun yang dipilih pedang yang ada di dalam ruangan,dia bisa menggunakan pedang tersebut sesuka hatinya. Namun untuk memiliki pedang tersebut kau harus membuktikan diri. Kembalilah jika kau tidak ingin mati."

"Eehhh,,,Kau bisa membacanya Cordelia?"

"Yaaa, ini adalah bahasa kuno, kami mempelajarinya di akademi sihir. Untuk menjadi seorang imam, kau harus menguasai berbagai bahasa kuno."

Aku menoleh kearah Cordelia.

"Lalu adakah disana dijelaskan bagaimana caranya kita masuk?"

"Sebentar, akan ku cari tahu."

"Ketemu, ini dia. 'jika kau bisa menggunakan sihir bumi kau bisa membuka pintu ini. Bukalah!' begitulah katanya."

"Baiklah kalau begitu."

Aku menyentuh permukaan tanah, aku berkonsentrasi untuk mendorong pintu kembali ke bawah tanah. Perlu beberapa saat hingga akhirnya sedikit demi sedikit pintunya bergerak. Lalu, aku memusatkan seluruh kekuatanku dan pintunya pun akhirnya terbuka.

Kami bergegas masuk. Kami memasuki sebuah ruangan besar. Disana terlihat beragam tulang belulang berserakan, ada segunung emas permata di sudut lain. Sementara, diatas gundukan emas tersebut seekor naga tertidur pulas melingkarkan ekornya.

Aku berpikir tentang bagaimana cara mengalahkan naga tersebut dengan seefektif mungkin.

"Milo apakah kau punya cara untuk mengalahkan nya?"

"Sedang ku pikirkan."

"Begitu."

Aku mengangguk. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu, hawa membunuh yang sangat kental. Sang naga terbangun.

"Awasss!!!"

Aku merangkul tubuh Cordelia, mendorongnya dengan kecepatan super kedaerah yang lebih aman.

"Uuhh hampir saja."

"Terima kasih sayang."

"Umm."

Aku mengangguk.

Sang naga mulai memasang pose bertarung mendongakkan kepalanya kemudian menghembuskan nafas api dari mulutnya.

Aku segera memanggil Sena.

"Sena, aktifkan semua skill pertahanan!"

"Laksanakan! Sihir pertahanan diaktifkan."

Untunglah, hampir saja. Aku mengusap keringat dingin di keningku.

Sementara itu sang naga terus menerus menyerang kami dengan hembusan nafas apinya. Namun tentu saja skill pertahanan ku membuat kami berdua baik-baik saja.

beberapa skill pertahanan diaktifkan bersamaan.

Sepertinya sang naga mulai kesal melihat kami yang baik-baik saja dengan nafas naganya. Kemudian dia menggerakan sayapnya dan perlahan terbang menyerang kami.

Cakarnya berkelebat diantara kami, lalu sebuah sapuan angin menerpa kami.

"Sial ini mirip seperti sihir wind cutter milik ku."

Jika saja kami tidak terlindungi skill ultimate Shield, mungkin saja tubuh kami telah tercabik-cabik oleh kekuatan angin dari sang naga.

"Kalau begini terus, mungkin perisainya akan rusak."

"Kita harus mundur!"

Cordelia memintaku untuk mundur.

"Tidak, ini bukan apa-apa. Aku masih punya jurus andalan aku bisa mengalahkannya."

Aku menatap wajah Cordelia.

Dia menghela nafas, kemudian mengangguk.

"Soul chain!"

Aku memanggil skill soul chain. Skill ini menjadikan target musuh terlilit rantai yang tak bisa putus.

Beberapa rantai berwarna hitam muncul dari dalam tanah. Melilit tangan, kaki mulut dan tubuh sang naga. Dia berontak namun rantai nya semakin kuat dan menyeret tubuh sang naga ke jatuh ke tanah.

Aku tersenyum puas.

"Sekarang untuk serangan akhir. Ignition!"

Aku memanggil sihir api. Api berkobar yang muncul dari lingkaran sihir di tanah di bawah tubuh sang naga segera membakarnya. Sang naga berjuang untuk melepaskan diri sementara sang api terus berkobar. Sang naga terlihat terpingkal-pingkal dalam nyala api.

"Batalkan! snowstorm!"

Sang naga api kemudian di serang dengan badai es tepat setelah aku membatalkan Ignition. Sang naga menjadi sebongkah batu es besar.

Kemudian dengan cepat aku bergerak ke depan menuju sang naga yang telah menjadi patung es. Tanpa ragu aku mendaratkan tinjuku dan kemudian potongan-potongan es kecil beterbangan. Sebagian berwarna merah karena darah sang naga.

"Kau berhasil sayang!"

"Ini tak sesulit yang terlihat, hehehe."

Lalu sebuah kecupan mendarat di pipiku sebagai ucapan selamat.

Tiba-tiba sebuah cahaya muncul, sebuah kristal. Ini adalah kristal yang diminta ketua serikat.

"Jadi ini kristal nya?"

Cordelia mengangguk menjawab pertanyaan ku.

"Lantas dimana pedang suci itu?"

"Entahlah, aku tidak melihat apapun."

Tiba-tiba saja, sebuah ruangan terbuka. Kami saling memandang dan mengangguk lalu menuju pintu masuk ruangan tersebut.

***

Di dalam ruangan.

Disana terdapat banyak sekali pedang tertancap di berbagai tempat, dinding, lantai serta atap. Kami terus menjelajahi isi ruangan.

"Banyak sekali pedangnya"

Cordelia takjub.

"Cobalah kau ambil salah satu!"

"Baiklah, akan ku coba."

Cordelia mengambil salah satu gagang pedang dan berusaha untuk menariknya sekuat tenaga. Beberapa kali ia mencoba namun tidak membutuhkan hasil.

"Aku tak kuat lagi, pedangnya tak bisa ku ambil.."

Cordelia sepertinya telah menyerah.

"Apakah karena aku yang mengalahkan naga tersebut, jadi hanya aku yang bisa memilikinya?"

"Itu sangat mungkin. Sekarang cobalah ambil satu!"

Aku mengangguk tanda mengerti.

Tiba-tiba aku mendengar suara di kepalaku.

"Akhirnya datang juga, panggilah aku, maka aku akan datang padamu!"

"Cordelia, apakah kau mendengarnya?"

Cordelia menggelengkan kepalanya.

"Sepertinya hanya aku yang bisa mendengar nya."

Aku terdiam sejenak, memikirkan kata-kata yang ku dengar tadi. Hingga aku sampai pada satu kesimpulan.

1
coco
sungguh kau sangat naif sekali Milo, seharusnya kau sudah bisa bersikap dewasa karna kau sudah mengingat masa lalu mu sebelum reinkarnasi,hahahahah saya sungguh kasihan sekali sama si windy dia menjaga cintanya udah sang MC tapi si MC nya labih hahahahha,mau sangat naif milo
coco
kasian sama si windy,dia yg udah nemenin si MC dari kecil dan dia juga yg duluan tunangan sama si MC ,tapi malah dapet bekas,mcnya udah ngga perjaka hahahahah sangat lucu kali,Windy yg cinta pertama nya ngga dapet apa apa hahahahha,kasian sekali kau Windy di tinggal sama tunangannya,tapi tunangannya malah enak enak kan sama kekasih baru nya hahahaaha
Pendekar New
ternyata mc'nya tolol n o'on..maklum d dunia sebelumnya mc'nya cupu...
Ajan
puas
Habib Joseph
Thor please jangan sama aurelia !
Anomyus
[ Balik lagi yuk, baca karya Author !
Bagi yg suka novel fantasi & romance mampir yuk,,,,
“That Time One Summoned Class In The Another World”
PREMIS:
Mengenai dunia paralel. Mc dibenci oleh Heroine, tapi si Heroine lama-kelamaan suka sama Mc. ]
Raysonic Lans™
selalu
~Fallen•Heart~
terlalu pintar sangat pintar Keren
~Fallen•Heart~
knp Langsung Di skip pagi
~Fallen•Heart~
dah ketebak plotnya pasti Tu cewe jadi istrinya juga
*"_Yinzi06_"*
adeknya mna cok?
Jeffri Hornbill
dah lah malas bacanya poligami Mulu... alasan terpaksalah apalah...
Jeffri Hornbill
ntar.... ini kan dia udah tau kekuatan nya unlimited dan pemikiran nya juga orang dewasa... kenapa masih bego.
Nurul
nyonya apakah anda termasuk shotacon
Nurul
lagi ngambek pasti dia
Nurul
ayahnya Milo terlalu melankolis🤣🤣
Adryan Famz
hahahaha ini yg gua suka kekuatan tanpa batas lanjutkan tor cerita mu membuat darah ku mendidih
Asrianto Anto
kok lama ya upnya, semangat terus thor
Ace: sorri nih mas bro, ane bner2 stuck nih,bdah coba nulis lgi tapi feel nya gk dapet, tapi ini udah mulai kangen lagi nih buat nulis 😊
total 1 replies
Asrianto Anto
lanjut thor
abhank ajha
MC terlalu lemah terhadap perempuan di atur2 trus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!