NovelToon NovelToon
Perjodohan Yang Tak Terduga

Perjodohan Yang Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Poligami / Aliansi Pernikahan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Falco Kaiseradler

Bercerita tentang seorang pemuda yang bekerja di sebuah kantor dan dijodohkan oleh bos pemilik perusahaan dengan putri dari bos tersebut. Tapi.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Falco Kaiseradler, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hanya Sebuah Insiden Kecil

Pada hari Minggu siang, suasana rumah terasa tenang. Fadli yang berniat mengajak salah satu istrinya berbelanja, melangkah menuju kamar Tasha. Tanpa berpikir panjang dan lupa mengetuk pintu terlebih dahulu, ia memutar gagang pintu dan masuk.

“Tasha, apa kamu mau aku mengantarkan kamu untuk berbelanja kebutuhan rumah nanti?” tanya Fadli saat melangkah masuk ke dalam kamar.

Namun, kata-katanya terhenti seketika. Tanpa ia sadari, Tasha ternyata baru saja selesai mandi. Gadis itu berdiri di tengah kamar, handuknya sudah terlepas, dan ia baru saja hendak menjangkau pakaiannya di atas kasur.

Jadi, ketika Fadli memasuki kamar, ia secara tidak sengaja melihat tubuh kecil Tasha tanpa sehelai benang pun yang menutupinya.

Waktu seakan berhenti. Tasha langsung mematung, tubuhnya kaku, wajah dan seluruh badannya seketika memerah padam hingga ke telinga. Ia tidak tahu harus berbuat apa, otaknya seolah berhenti bekerja, bahkan ia sama sekali tidak terpikir untuk segera menutupi tubuhnya dengan handuk atau selimut. Jantungnya berdetak dengan sangat kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya.

Sementara itu, wajah Fadli juga langsung memerah hebat karena kaget dan malu. Namun, ia masih bisa bereaksi lebih cepat. Dengan gerakan kilat, ia langsung membalikkan badan, mundur keluar, dan menutup pintu kamar itu rapat-rapat.

“Maaf! Aku tidak tahu kalau kamu sedang ganti baju!” seru Fadli dengan napas memburu dari balik pintu yang sudah tertutup.

Setelah Fadli keluar, kaki Tasha terasa sangat lemas hingga ia langsung terduduk di lantai karpet kamarnya. Seluruh badannya masih terasa panas karena rasa malu yang luar biasa.

Namun, saat ia sudah bisa mengatur detak jantungnya dan mulai sedikit tenang setelah memakai pakaiannya, ia teringat pada perkataan Fadli barusan.

“Huh? Maaf? Kok Mas Fadli minta maaf sih?” pikir Tasha dengan bingung, alisnya berkerut.

“Kan aku juga istrinya Mas Fadli, jadi seharusnya tidak masalah dong kalau Mas melihatku telanjang. Itu kan juga hak dia,” lanjut Tasha berpikir dalam hati, dan pemikiran itu justru membuat wajahnya kembali memerah, kali ini bukan hanya karena malu, tapi juga karena perasaan aneh yang menjalar di hatinya.

“Mikir apaan sih aku ini? Dasar!” Tasha menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk menghilangkan lamunan liarnya.

Setelah menenangkan diri, Tasha kemudian turun ke lantai bawah untuk menemui Fadli yang sudah menunggunya di ruang tamu dengan canggung. Tanpa banyak bicara, mereka berdua kemudian langsung pergi menuju mobil untuk berbelanja kebutuhan harian rumah.

Di dalam mobil selama perjalanan, suasana terasa sangat canggung dan hening. Keduanya masih mengingat kejadian barusan dengan jelas, dan rona merah di wajah mereka belum sepenuhnya hilang.

Apalagi situasi mendukung kecanggungan itu karena mereka hanya berdua di dalam mobil. Visha, Misha, Masha, dan Sasha kali ini tidak ikut. Misha, Masha, dan Sasha sedang pergi bermain ke rumah teman sekolah mereka, sementara Visha sedang asyik berenang di kolam belakang rumah sehingga ia meminta Fadli dan Tasha saja yang pergi belanja.

“Sekali lagi maaf ya, Tasha. Aku benar-benar ceroboh. Seharusnya aku mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk,” kata Fadli kembali meminta maaf untuk memecah keheningan, matanya tetap fokus ke jalan raya.

“Tidak perlu meminta maaf terus, Mas. Mas enggak salah kok,” jawab Tasha dengan suara lembut, mencoba terdengar santai.

“Tapi aku tidak sengaja melihat tubuh kamu... dalam keadaan seperti itu,” kata Fadli dengan wajah yang kembali memanas.

“Ya terus kenapa kalau Mas lihat?” tanya Tasha dengan nada bingung yang polos.

“Tasha kan juga istri sah Mas, jadi kalaupun Mas melihat tubuh telanjang Tasha, bahkan menyentuh Tasha, itu tidak masalah, kan?” jawab Tasha dengan logika sederhananya.

“Tapi kan kita sudah punya kesepakatan untuk menunggu,” kata Fadli mengingatkan.

“Tasha tahu soal kesepakatan itu, tapi kan tetap saja statusnya sah. Kalau Mas lihat tubuh Tasha, tidak akan ada orang yang mempermasalahkan karena Tasha memang milik Mas,” jelas Tasha dengan lugas.

“Tasha enggak suka kalau Mas meminta maaf hanya untuk hal kecil dan wajar seperti ini. Rasanya seperti Mas menganggap Tasha orang asing,” lanjut Tasha sambil menatap Fadli.

“Baiklah, baiklah. Aku mengerti. Terima kasih kalau begitu,” jawab Fadli sambil tersenyum.

“Terima kasih untuk apa?” tanya Tasha dengan bingung.

Fadli hanya tersenyum kecil penuh arti ke arah Tasha tanpa menjawab. Tasha yang perlahan menyadari maksud 'terima kasih' itu—terima kasih karena sudah boleh melihat—langsung kembali memerah wajahnya dan menunduk malu sambil memainkan ujung bajunya.

“Sama-sama,” cicit Tasha pelan.

Tidak lama kemudian, mereka sampai di pusat perbelanjaan. Fadli mengambil troli dan mereka mulai menyusuri lorong-lorong rak untuk mencari barang-barang keperluan sehari-hari.

“Oke, jadi kita cari apa dulu nih?” tanya Fadli ke Tasha yang memegang catatan belanja.

“Bumbu dapur, perlengkapan mandi, deterjen, dan beberapa persediaan minuman serta makanan ringan buat stok di kulkas,” jawab Tasha sambil membaca daftar di ponselnya.

Saat mereka sedang melewati salah satu rak di dekat kasir, mata Tasha tertuju pada sebuah kotak kecil dengan bungkusan menarik bertuliskan rasa cokelat yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

Karena penasaran dan mengira itu adalah permen atau cokelat jenis baru, Tasha dengan santai mengambil dan memasukkan bungkus tersebut ke dalam keranjang belanjaan tanpa tahu kalau bungkusan tersebut sebenarnya adalah alat kontrasepsi alias kondom.

Untungnya, Fadli yang berjalan di sebelahnya menyadari benda itu. Matanya membelalak dan dengan gerakan cepat ia langsung mengambil kembali bungkus itu dari keranjang.

“Tasha, kenapa kamu mau membeli ini?” tanya Fadli dengan nada kaget namun pelan.

“Kenapa memangnya? Tasha belum pernah nyoba cokelat merk itu sebelumnya, jadi Tasha penasaran pengen coba rasanya, hehe,” jawab Tasha dengan polos, masih belum menyadari benda apa yang ia pegang.

Fadli menepuk jidatnya pelan, lalu mendekatkan wajahnya.

“Ini bukan cokelat buat dimakan, Tasha. Ini kondom,” bisik Fadli pelan ke telinga Tasha agar tidak didengar pengunjung lain.

Setelah mendengar bisikan itu, wajah Tasha langsung memerah padam, bahkan lebih merah dari tomat matang. Ia menatap bungkusan itu dengan horor.

“Kok tulisannya rasa cokelat?” tanya Tasha dengan bingung bercampur malu yang luar biasa.

“Aku juga enggak tahu detailnya, tapi setahuku memang ada yang rasa-rasa lain juga seperti stroberi atau pisang,” jawab Fadli yang sama bingungnya menjelaskan hal itu pada gadis 14 tahun itu.

“Mas pernah pakai?” kali ini Tasha bertanya dengan tatapan menyelidik yang serius.

“Enggak lah! Aku pacar saja enggak pernah punya seumur hidup, dan setelah menikah dengan kalian kan kita belum pernah melakukan... itu,” jawab Fadli cepat, membela diri. Jawaban itu langsung membuat Tasha bernapas lega.

“Ya lagian kalaupun Mas mau bercinta dengan kami nanti, ga perlu pakai kondom juga kali. Kita kan sudah nikah, ngapain ditahan-tahan biar enggak hamil?” kata Tasha dengan suara yang sedikit terlalu keras, melupakan kalau mereka sedang berada di tempat umum.

Untungnya, kebetulan sekali lorong itu sedang sepi dan tidak ada orang yang lewat di dekat mereka. Fadli langsung menghela napas panjang, merasa jantungnya mau copot.

“Tasha, tolong jangan bahas hal begitu di sini, nanti ada yang dengar,” Fadli mengingatkan Tasha dengan wajah panik.

“Ah! Maaf Mas, Tasha lupa,” jawab Tasha sambil menutup mulutnya dan menundukkan kepala karena malu.

Setelah insiden kecil itu, mereka bergegas menyelesaikan belanjaan dan membayar di kasir, lalu langsung pulang ke rumah.

Ketika mereka sampai di rumah, kebetulan sekali Visha, Misha, Masha, dan Sasha sudah kembali dan sedang berkumpul santai di ruang bermain. Melihat kedatangan Fadli dan Tasha, mereka langsung sigap membantu membawa barang belanjaan dari bagasi mobil ke dapur.

Saat mereka sedang sibuk menata barang belanjaan ke dalam lemari dan kulkas, Tasha yang masih takjub dengan penemuannya tadi langsung memberitahu saudari-saudarinya tentang fakta baru mengenai kondom.

“Huh? Mbak Tasha serius kondom ada rasanya kayak permen?” tanya Misha dengan mata terbelalak kaget.

“Iya serius! Aku tadi hampir beli satu kotak karena aku kira itu permen rasa cokelat baru,” jawab Tasha antusias.

“Emangnya dari bungkusnya enggak kelihatan kalau itu kondom?” tanya Masha penasaran.

“Enggak sama sekali, bungkusnya beneran kayak bungkus permen gitu, warna-warni,” jawab Tasha meyakinkan.

Sasha yang penasaran langsung mengeluarkan ponselnya. “Wih, iya loh! Ini Sasha cari di internet, beneran ada yang rasa stroberi, anggur, macam-macam!” seru Sasha takjub melihat layar ponselnya.

“Udah, udah, kalian ini ngapain malah bahas kondom sih pas lagi beres-beres,” potong Visha mencoba menghentikan topik pembicaraan yang mulai melenceng itu.

“Lagian emangnya kalian mau pakai kondom kalau nanti pas bercinta sama Mas Fadli?” tanya Visha memancing.

“Ya enggak lah! Kan udah nikah, ngapain pakai gituan. Enggak enak,” jawab adik-adik Visha serempak sambil menggelengkan kepala mereka kuat-kuat.

“Yaudah, kalau gitu enggak penting lah mau ada rasanya kek, ada aromanya kek, bahkan kalau ada tekstur gerigi-geriginya juga kan enggak bakal kita pakai,” kata Visha dengan nada sok dewasa.

Seketika hening. Tasha, Misha, Masha, dan Sasha menatap kakak tertua mereka dengan tatapan curiga.

“Kok Mbak Visha tahu kalau ada jenis yang ada geriginya?” tanya Tasha dengan nada penuh selidik sambil menyipitkan mata.

Visha tersentak, menyadari kalau ia baru saja kelepasan bicara. Wajahnya sedikit memerah. Ia tidak menjawab pertanyaan itu dan pura-pura sibuk menyusun kaleng minuman ke dalam kulkas, mengalihkan perhatian.

Sementara itu, Fadli yang mendengar seluruh percakapan vulgar nan polos itu dari sudut dapur hanya bisa pura-pura tidak dengar. Ia memilih menyibukkan diri menata sabun cuci piring, sama sekali tidak berani menoleh atau ikut campur dalam diskusi dadakan para istrinya itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!