Novel ini menceritakan kisah perjalanan cinta seorang perempuan yang bernama Syajia, nama panggilanya Jia.
Seorang perempuan yang sangat sederhana ini mampu menarik perhatian seorang laki-laki dari anak ketua yayasan di kampusnya dan seorang pemilik kafe tempat ia bekerja.
Tentu keduanya mempunyai cara tersendiri untuk bisa mendapatkan Jia. Namun Jia sudah terlanjur menaruh hatinya pada anak ketua yayasan itu.
Sayangnya perjalanan cinta tidak selalu lurus dan mulus. Banyak sekali lika-liku bahkan jalan yang sangat curam dalam kisah cinta Jia.
Apakah Jia mampu melewati Kisah Perjalanan Cinta nya? Dan siapakah yang akan mendapatkan Jia seutuhnya? Ikuti terus kisahnya di dalam novel ini yang mampu membawamu terjun kedalam Kisah Perjalanan Cinta Syajia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Geamul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertentang Dengan Sahabat
Jia menghampiri Pak Wijaya di ruangannya. Ia bermaksud untuk memberitahu keadaan dan keberadaan Al sekarang, agar Pak Wijaya tidak merasa khawatir lagi.
Jia pun meminta maaf karena belum bisa membujuknya untuk pulang, karena Al masih ingin menenangkan dirinya.
“Terimakasih ya, kamu sudah berusaha mencari Al. Saya harap kamu bisa jaga Al di luar sana ya!?”
“Bapak tenang saja ya, saya yakin Al pasti baik-baik saja,” sahut Jia menenangkan Pak Wijaya.
Jia pun pamit untuk pergi ke kelas. Saat keluar dari ruangan, Nana menghampiri Jia dan mengajaknya pergi ke kantin.
“Kamu habis dari ruangan Pak Wijaya, Ji?” tanya Nana menggandeng tangan Jia.
“Iya Na, aku udah bilang ke Pak Wijaya tentang keadaan Al.”
“Oh iya, gimana kedaan dia sekarang?”
Sesampainya di kantin, Jia pun menceritakan semua yang terjadi tentang Al dan keluarganya. Nana dan Jia merasa kasihan dengan Al, dibalik sikapnya itu, ada masalah yang sangat membuat dirinya bisa seperti ini.
***
Saat di kelas, Bima menghampiri Jia dengan rasa bersalah. Dia berusaha untuk meminta maaf pada Jia, Bima sudah sangat menyesal dengan sikap yang telah dia lakukan. Dan setelah kejadian itu, Jia selalu mendiamkan Bima.
“Ji, tolong jangan diemin aku kayak gini. Aku minta maaf kalau aku udah bikin kamu kecewa,” ucap Bima.
Jia tak langsung merespon Bima, yang ai lakukan hanya terdiam dan mengalihkannya dengan menulis. Tapi, dalam hati kecil Jia, ia tak tega pada Bima karena bersikap seperti ini. Akhirnya, Jia pun merespon Bima.
“Kamu jangan lakuin itu lagi ya! Dan, kamu gak perlu minta maaf sama aku. Kamu harus minta maaf sama diri kamu sendiri, karena itu lebih penting,” ucap Jia.
“Iya Ji, aku janji. Jadi, kamu udah gak marah kan?”
Jia hanya mengangguk dan tersenyum. sebenarnya, Jia tak marah pada Bima. Hanya saja, ia tak suka melihat orang yang selalu berantem. Dan sekarang Jia sangat menghargai Bima, karena dia sudah menyadari dan menyesali atas perbuatan yang dilakukannya itu.
“Jadi, aku boleh kan antar kamu lagi ke tempat kerja?”
“Hm gimana nanti ya.”
“Lho, kenapa?”
“Aku suka pulang bareng sama Al.”
Bima terperanjat, ‘Kenapa harus dia lagi sih yang selalu ngerebut kebahagiaan gue? ' batin Bima. Bima sangat merasa kesal dengan jawaban Jia, dia pun tidak bisa melarang Jia untuk pergi dengan Al dan memaksa Jia untuk pergi dengannya. Karena Jia bukan siapa-siapanya sekarang, tapi Bima berharap dia bisa mendapatkan Jia.
“Oh, baiklah,” wajah Bima berubah menjadi murung.
“Maaf ya, nanti kapan-kapan aku usahain bareng kamu lagi ya,” Jia coba menghibur Bima.
Bima hanya mengangguk dan tersenyum dengan wajah kesal. Bima pun pergi dengan wajah kecewa. Bima terus memikirkan perkataan Jia, dia sangat semakin benci dengan Al. Lagi-lagi, dirinya telah menuduh Al dengan selalu merebut orang yang Bima sayang.
Bima langsung menghampiri Al dan segera menegurnya. Bima memukul meja Al, dan Al pun terkejut.
“Ada apa?” tanya Al terkejut.
Bima langsung terduduk disamping kursi Al, “Lo belum puas?”
“Maksudnya?”
Bima tersenyum sinis, “Lo belum puas ngerebut kebahagiaan gue?”
“Gue benar-benar gak ngerti apa yang lo bilang,” Al masih kebingungan.
“Gak usah pura-pura gak tahu deh. Jangan sampai, lo mengusik gue lagi, camkan itu!” Bima menatap berang Al, dan Al masih tidak mengerti apa yang dikatakan Bima. Al pun berusaha mengenyahkan perkataan Bima, walaupun perkataan Bima sangat membuatnya resah.
“Dasar si kepala batu. Kenapa sih sampai sekarang dia gak mau dengarin penjelasan gue tentang semua kebenarannya. Dan sekarang, masalah apa lagi yang bikin dia semakin marah kayak gitu?” gerutu Al.
Sebenarnya, Al tidak pernah bisa marah pada Bima, karena ia sudah anggap Bima sebagai sodaranya sendiri. Tapi, dengan sikapnya yang sekarang. Al malah merasa terbawa emosi, karena sampai sekarang ia tak diberi kesempatan untuk menjelaskan semuanya pada Bima.
***
Di kantin, saat Jia dan Bima sedang makan berdua dan Nana tidak ikut makan karena dia sedang ke perpustakaan untuk mencari buku. Mereka pun dihampiri oleh Al yang sedang tergesa-gesa.
“Jia, ikut gue bentar yuk!” Al memegang tangan Jia.
“Mau ngapain lo?” sambar Bima sembari melepaskan genggaman Al dari tangan Jia.
“Gue mau ngobrol sama Jia.”
“Lo gak liat apa dia lagi makan sama gue?”
“Tapi gue mau ngobrol penting.”
“Ini juga penting, kalau dia sakit gimana?”
“Lo kenapa sih, gak suka banget liat gue sama Jia? oh atau jangan-jangan lo suka lagi sama Jia?” tebak Al yang membuat Bima terpaku.
Bima mulai terpancing dengan perkataan Al, hatinya pun memanas dan tak tahan lagi untuk menahannya. Bima mulai mengepalkan tangannya, namun amarahnya sedikit menurun saat melihat ke arah Jia.
Bima berpikir untuk mengungkapkan semuanya, Dia pun berdiri dari tempat duduknya lalu memandang tajan Al.
“Iya, gue suka sama Jia. Jadi, lo gak usah dekat-dekat lagi sama dia,” ucap Bima dengan lantang dan jelas.
Al pun tercekat, ia hanya bisa tersenyum tak percaya. Dan ternyata ini adalah alasan kenapa Bima semakin benci padanya. Harusnya ia mengetahuinya dari awal, bahwa Bima juga menyukai orang yang ia suka. Hatinya pecah bertubi-tubi, Al pun meninggalkan Bima dan Jia.
Al berlari menelusuri jalanan siang hari, ia terus berlari tanpa tahu arah tujuan. Matahari siang itu mampu membakar hati dan pikirannya. Suara Bima pun tak lepas dari benaknya, suaranya terus terngiang-ngiang dengan begitu jelas. ‘Kenapa hal ini terjadi lagi?’ batinnya.
Al sudah terlanjur menaruh perasaan pada Jia, orang yang mampu membuat kehidupannya kembali menemukan jalan. Dan sekarang, perasaan itu harus ia matikan kembali dengan sangat terpaksa.
Bukannya ia tak menyukai Jia lagi. Tapi, ia tak mau membuat masalah yang baru dengan Bima. Masalahnya yang dulu pun, tidak pernah terselesaikan. Sekarang, ia benar-benar tersesat kembali.
Langkahnya pun terhenti di kafe tempat Jia bekerja. Al pun memasuki kafe itu karena hari masih siang, jadi pikirnya Jia belum masuk kerja hari ini. Ia pun mengistirahatkan dirinya sejenak.
Di kantin.
“Bim, kok kamu ngomonng kayak gitu sih?” Jia merasa kesal dengan Bima.
“Aku bisa jelasin Ji,” sahut Bima merasa bersalah. Jia pun menggelengkan kepalanya dan merasa sangat kecewa, lalu pergi meninggalkan Bima dan tak mendengarkan penjelasan Bima.
Saat sedang istirahat, Al malah tertidur di kafe singgah hingga malam tiba. Saat ia terbangun, dipunggungnya terlihat jaket berwarna pink sehingga badannya terasa hangat. Al pun perlahan membuka mata dan menganggkat badannya.
Al merasakan ada seorang perempuan berada di hadapannya. “Kamu udah bangun?” saura lembut itu mengingatkan Al pada Jia, tapi Al tak dapat mengiranya karena ia tahu bahwa Jia sedang bersama Bima di kampus.
Dengan mata setengah membuka, Al pun mengosok-gosokkan matanya dan semakin terlihat jelas seseorang yang berada di depannya. Al terperenyak saat melihat jelas wajah Jia di depannya.
“Jia? lo lagi ngapain disini?”
“Aku? Lagi kerja,” jawab Jia kebingungan. Dan Al pun semakin bingung dengan jawaban Jia, ai menoleh ke arah jendela yang terlihat suasana luar sudah gelap.
“Jam berapa sekarang?” tanya Al pada Jia.
Jia pun melirik jam tangannya, “Jam 7 malam.”
Lalu Al pun memasang wajah melamun.
“Mba Tia bilang, kamu disini dari tadi siang,” sambung Jia.