Menjadi pembantu bukanlah rencana awal Sukma mencari pekerjaan. Setidaknya dengan bekal ijazahnya yang hanya tamat SMA.
Dia berharap bisa bekerja menjadi buruh pabrik, atau karyawan swasta. Himpitan ekonomi memaksa dirinya untuk segera mendapatkan pekerjaan.
Hingga akhirnya seseorang menawarkan pekerjaan sebagai asisten rumah tangga. Tanpa pikir panjang Sukma menerima tawaran kerja yang cukup jauh dari kampung halamannya.
Gimana ya kelanjutan hidup Sukma Ajeng sebagai Asisten Majikan Bulenya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ninaammar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Syarat
"Saya mau Tuan berikan Saya uang lima puluh juta. Atau Saya akan buat laporan ke kantor polisi. Jika Tuan sudah melakukan pelecehan pada Saya." desak Sukma memberi tuntutan pada majikannya.
Richard meletakkan majalah di tangannya, melepaskan kaca mata, yang membingkai indah wajahnya. Pria itu tersenyum mendapati wajah Sukma yang nampak berapi-api.
"I agree to give you fifty million but, on one condition." ucap Richard. Sukma melirik kearah Herman, memintanya menerjemahkan apa yang tuannya katakan.
"Sukma, Tuan setuju memberikan uang 50 juta tapi dengan satu syarat." kata Herman, mengartikan kedalam bahasa yang Sukma mengerti.
"Syarat? Syarat apa? Saya sudah dirugikan. Bukankan uang 50 juta itu hal kecil bagi, Tuan." Pria itu tersenyum tipis menatap Sukma. Seperti menangkap seekor kelinci, yang harus membutuhkan keahlian khusus.
"Are you asking for compensation or want to blackmail me." Sukma berjalan mendekati tuannya. Entah apa yang membuatnya berani mendekati tuannya itu. Mengangkat tangan kanannya keudara, untuk menampar pipi Richard.
Dengan gesit Richard menangkap tangan kecil Sukma. Yang akan mendarat di pipi mulusnya, Richard Menatap netra gadis di hadapannya. Mata bulat, dengan bola mata yang hitam pekat. Menyiratkan ada banyak hal yang tersimpan di dalam sana. Dan itu hanya dia saja yang tahu, matanya mulai berkaca-kaca dan mengembun.
Titik bulir bening itu akhirnya tumpah di kedua pipinya yang putih bersih. Harus Richard akui, wajah ayu gadis pribumi memang nampak menarik dimatanya. Sukma segera menarik telapak tangannya, yang berada dalam genggaman tangan tuannya.
Gadis itu mengusap kedua pipinya yang basah, lari menjauhi tubuh Richard yang masih berdiri menatap kepergiannya. Hingga tidak lagi terlihat oleh pandangannya.
"Herman, katakanlah sesutu! Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Richard mencoba mencari tahu. Sebab Richard yakin ada sesuatu yang dia sembunyikan. Dan itu bukan karena kejadian sore tadi, Richard telah menciumnya.
"Sepertinya dia memiliki masalah keluarga. Setelah kemarin ibunya menghubunginya, Tuan." jawab Herman apa adanya. Setelah kemarin Sukma sempat bercerita, untuk meminjam uang padanya.
Di kamar Sukma justru menangis, merutuki kebodohannya. Dia pikir caranya tadi cukup pintar dan menguntungkan. Tapi perkiraannya salah, tuannya justru meminta syarat darinya. Dia sendiri tidak tahu, syarat apa yang nanti akan tuannya minta untuk dia penuhi.
Sukma takut jika tuannya minta syarat yang tidak mungkin dia penuhi. Bisa saja tuannya itu minta ditemani tidur, layaknya pekerjaan seorang wanita malam.
Gadis itu masih saja berpikir keras, tentang syarat apa yang tuannya minta. Belum tentu yang dia takuti itu benar.
"Lalu apa kira-kira syarat yang orang bule itu minta?" gumam Sukma menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sukma berpikir sebaiknya dia, menanyakan langsung pada tuannya itu. Dan berniat menemui Richard dikamarnya, tapi sialnya.
Kaki Sukma tersandung karpet lantai, dia hampir saja terjatuh terpelanting ke lantai. Beruntung Richard ada disana, secepatnya pria itu menangkap tubuh Sukma tepat berada dalam dekapannya.
Mata itu kembali saling beradu pandang. Tatapan saling mengagumi, yang tidak bisa mereka ungkapkan sebatas kata. Sebuah rasa yang saling bertolak belakang, yang belum terbentuk secara utuh. Sebentuk kepingan hati yang masih mencari separuh dari belahan hatinya.
"Tuan, mobilnya sudah siap," panggilan Heman mengejutkan keduanya. Richard melepaskan tubuh Sukma, yang sejak tadi berada dalam pelukannya.
"Are you oke?" tanya Richard canggung. Begitu juga dengan Sukma, wajahnya bersemu merah. Mendapati Herman ada disana.
***
"Aldo, demam, Yah. Panasnya tidak turun-turun sejak kemarin." Ranti memberitahu kondisi Aldo yang suhu tubuhnya semakin panas.
"Apa Aldo sudah minum obat penurun panasnya, Bu?" tanya Kohar sedikit panik.
"Obatnya sudah Aldo minum, Yah. Sekarang sudah tidak ada obat lagi yang harus Aldo minum.'' Kohar semakin panik. Melihat kondisi Aldo yang menggigil karena suhu badannya yang panas tinggi.
"Kita harus bawa Aldo ke rumah sakit sekarang, Yah. Ibu takut terjadi sesuatu pada Aldo. Jika rumah ini memang harus terjual. Tidak ada yang bisa kita lakukan lagi selain cara itu." Kohar terpaksa menyetujui permintaan istrinya. Mau tidak mau dia harus merelakan harta satu-satunya untuk mereka jual pada makelar tanah.
Sinta melihat Ranti, dan Kohar membawa tas dengan menggendong Aldo masuk kedalam angkutan umum. Sinta segera mengejar mereka yang hendak masuk kedalam mobil.
"Hey, tunggu! Kalian mau kabur, kalian mengingkari janji yang sudah kalian sanggupi?" Sinta menegur Kohar, dan istrinya yang ingin membawa Aldo ke rumah sakit.
"Bu Sinta, anak kami demam tinggi. Saya harus bawa Aldo ke rumah sakit. Saya akan berikan uang itu tapi nanti." ujar Kohar masuk ke dalam angkutan.
Di rumah sakit, Ranti begitu lega setelah Aldo mendapatkan perawatan. Demamnya tidak setinggi sebelum mereka membawanya ke rumah sakit.
"Kenapa ibu masih sedih? Bukankah Aldo sudah ditangani dokter." tanya Kohar melihat wajah istrinya gusar.
"Setelah ini kita akan tinggal dimana, Yah. Sinta, dan Juan sama-sama orang licik. Mereka menggunakan kelemahan kita. Untuk memperdaya orang seperti kita." ucap Ranti menangis bersandar di bahu suaminya.
"Sabar, Bu. Sebesar apapun usaha kita, jika Tuhan belum berkendak memberikan pertolongannya. Itu artinya Tuhan meminta kita berdo' a dan berusaha lebih lagi. Sampai Tuhan benar-benar mengulurkan rahmatnya pada kita." isak tangis Ranti semakin terdengar dalam. Hatinya kembali menghangat, setelah ucapan bijak suaminya. Sebagai penguat langkahnya menjalani semua yang terjadi. Dan menjadikannya sebuah pembelajaran hidup, dan tidak menganggapnya sebagai ujian yang memberatkan pundaknya.
''Mba Ajeng, Aldo kangen!" lirih Aldo dalam mimpinya. Ranti dan Kohar segera mendekati brankar dimana Aldo terbaring lemah.
"Aldo, ini ibu sama, ayah, Nak.'' kata Ranti menggenggam tangan putranya.
"Ibu, ayah. Mba Ajeng janji mau belikan mobil, sama robot remot buat Aldo." pinta Aldo yamg turut menagih janji yamg Sukma janjikan untuk adiknya.
"Iya, sayang. Mba Ajeng disana masih mengusahakan untuk dapatkan uangnya. Aldo harus sembuh dulu, nanti kita telpon Mba Ajeng. Sekarang Aldo istirahat dulu, minum obatnya biar Aldo cepat sembuh." pesan Ranti membujuk Aldo. Mencoba membuat Aldo lebih mengerti.
Apakah nanti nya Richard akan tetap menjadi suami Sukma atau Sukma akan meninggalkan Richard, jika janin dalam kandungan Sukma dikeluarkan secara paksa karena kejahatan Belekan.
I only love you forever, to my beloved wife, whatever happens, don't leave my life honey.
An empty street, an empty house
A hole inside my heart
I'm all alone, the rooms are getting smaller
I wonder how, I wonder why
I wonder where they are
The days we had, the songs we sang together, oh, yeah
And oh my love, I'm holding on forever
Reaching for the love that seems so far
So, I say a little prayer
And hope my dreams will take me there
Where the skies are blue
To see you once again, my love
Overseas, from coast to coast
To find a place I love the most
Where the fields are green
To see you once again, my love
I try to read, I go to work
I'm laughing with my friends
But I can't stop to keep myself from thinking, oh, no
I wonder how, I wonder why
I wonder where they are
The days we had, the songs we sang together, oh, yeah
And oh my love, I'm holding on forever
Reaching for the love that seems so far
So, I say a little prayer
And hope my dreams will take me there
Where the skies are blue
To see you once again, my love
Overseas, from coast to coast
To find a place I love the most
Where the fields are green
To see you once again
To hold you in my arms
To promise you my love
To tell you from the heart
You're all I'm thinkin' of
I'm reaching for the love that seems so far
so, I say a little prayer
And hope my dreams will take me there
Where the skies are blue
To see you once again, my love
Overseas, from coast to coast.