Siena yang jatuh cinta pada kakak angkatnya! waw...., kok bisa?
Bisa dong! Bagaimana tidak, Vino seorang pria mapan, ganteng nggak ketulungan, bikin para gadis siap mengantri untuk jadi pacarnya meskipun dia sudah punya seorang pacar tentunya. lalu bagaimana nasib Siena Ya? apa dia akan dapatkan cinta Vino, sang kakak angkat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang dengan Reza
Siena pulang diantar oleh Reza. Dari balik tirai rumahnya, Vino mengintip interaksi mereka dengan cermat. Ia melihat Reza turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Siena. Keduanya tertawa bersama, terlihat sangat akrab.
Vino mengamati bagaimana Reza menyapa Siena dengan ramah, kemudian mereka berbicara sebentar di depan pintu. Tawa Siena menggema lembut, membuat Vino merasa sedikit terusik. Ada sesuatu dalam cara mereka berinteraksi yang membuatnya merasa kesal.
Reza akhirnya berpamitan, melambaikan tangan sebelum kembali ke mobilnya. Siena masuk ke dalam rumah, senyumnya masih tersisa di wajahnya. Vino menarik napas dalam, berusaha menenangkan perasaannya sebelum memutuskan untuk menemui Siena dan memastikan semuanya baik-baik saja.Setelah Siena masuk, ia terkejut melihat Vino yang sudah menunggunya di ruang tamu. Vino berdiri dengan tangan bersilang di depan dada, ekspresi serius terpancar di wajahnya.
"kak Vino, kenapa kakak di sini?" tanyanya sembari melirik ke arah luar dan memastikan mobil Reza sudah benar-benar pergi.
"Siena, kenapa kamu pulang terlambat?" tanya Vino dengan nada yang cemas, tetapi tetap tenang.
Siena sedikit terkejut dengan nada suara Vino yang terdengar dingin, tidak seperti biasanya saat bicara dengannya. "Oh, itu kak Vino. Aku pulang terlambat karena ada tugas kelompok yang harus diselesaikan."
"Sampai selarut ini? Dengan Reza?" tanya Vino dengan kening yang berkerut.
"Oh itu, tadi kak Reza kebetulan nggak sibuk dan menawariku untuk mengantar pulang," jawabnya sambil meletakkan tasnya di sofa.
"Kamu bisa di jemput pak Mun kan? Kenapa pak Mun malah di suruh pulang?" tanya Vino mengintimidasi.
Siena tidak suka dengan cara Vino bertanya, ia kembali menoleh pada Vino dengan tatapan kesal, "Kak Vino, Siena ini sudah besar. Jangan perlakukan Siena seperti anak kecil terus, ini itu harus di atur kayak gini. Siena punya kehidupan sendiri."
Siena kembali menyambar tasnya dengan kesal dan berlalu meninggalkan Vino begitu saja, ia menaiki tanggal dan menuju ke kamarnya, menutup pintu kamarnya dengan kasar hingga menimbulkan suara keras.
Vino masih terdiam di tempatnya, ia merasa bersalah dengan sikapnya sendiri.
Vino menghela napas panjang, merasa kecewa dengan ucapan Siena. meskipun begitu ia tetap tidak bisa marah pada adiknya itu.
Setelah beberapa saat, Vino menghampiri kamar Siena dan mengetuk lembut pintunya.
"Sen, makan malam yuk. Maafkan kakak ya, yuk kita makan malam. Nanti sakit loh kalau nggak makan dulu."
"Siena sudah makan malam, kakak makan malam sendiri aja." teriak Siena dari dalam kamar bahkan tidak berniat membuka pintu kamarnya.
"baiklah,"
Vino pun mengurungkan niatnya untuk makan malam, meskipun sedari siang ia belum makan tapi rasa laparnya tiba-tiba hilang.
"Tuan muda, bagaimana makan malamnya?" tanya pelayan yang menghampiri vino yang malah memilih duduk di ruang keluarga tanpa melakukan apapun.
"Bibi simpan saja, saya belum lapar."
"Baik tuan muda." ucap pelayan sembari menatap cemas pada Vino. Kepala pelayan itu tahu jika vino belum memakan apapun sedari siang.
Siang tadi vino sengaja pulang awal karena ingin bertemu dengan Siena tapi ternyata Siena malah pulang terlambat, bahkan larut. Perasaan cemasnya menjadi saat sopir pribadi Siena malam pulang lebih dulu Karena Siena ada acara dengan temannya san akan pulang diantar temanya.
Cukup lama ia di sana, hingga Vino memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. Ia menatap jam dinding sudah jam sebelas malam, ia mondar-mandir dengan pikiran yang kalut. Sudah beberapa hari ini Siena tidak datang ke kamarnya. Biasanya, adik perempuannya selalu manja dan memintanya menemani tidur karena tidak bisa tidur sendiri, tetapi belakangan ini Siena bahkan tidak mengganggunya saat ia bekerja.
Vino merenung, merasa ada sesuatu yang berbeda. Ia merindukan kehadiran Siena yang biasanya ceria dan manja padanya. Perubahan ini membuatnya semakin cemas, terutama setelah Siena dekat dengan Reza.
Apakah Siena sudah cukup bisa untuk mandiri?
Vino akhirnya memutuskan untuk mendatangi kamar Siena. Ia mengetuk pintu dengan lembut. "Siena, kamu masih bangun?"
Terdengar suara langkah ringan di dalam kamar sebelum pintu terbuka. Siena tampak terkejut melihat Vino di sana. "Kak Vino? Ada apa lagi?"
Vino tersenyum lembut. "Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja."
"Siena baik-baik saja." jawab Siena dingin, tampak sekali jika Siena masih sangat kesal dengan Vino.
"Baiklah, selamat malam Siena. Semoga mimpi indah." ucap Vino.
"hmm," jawab Siena dingin.
Vino pun akhirnya meninggalkan kamar Siena dengan perasaan kecewa, semalam vino tidak bisa tidur karena terus memikirkan Siena, selain itu perutnya juga terasa lapar karena menahan lapar seharian.
***
Pagi ini saat Siena bangun, ia merasa tenggorokannya begitu kering. Ia pun memutuskan untuk pergi ke dapur. Di dapur, ia berpapasan dengan kepala pelayan yang menyapanya dengan ramah.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona Siena?" tanya kepala pelayan dengan sopan.
Siena menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lemah. "Tidak, terima kasih. Aku hanya ingin mengambil air minum."
Saat Siena hendak pergi, kepala pelayan kembali menghentikan langkahnya. "Nona Siena, ada sesuatu yang perlu Anda ketahui," kata kepala pelayan dengan nada hati-hati.
Siena berbalik, merasa penasaran. "Ada apa?"
"Tuan muda Vino tidak makan sedari siang kemarin. Dia menunggu Anda, tetapi Anda tidak datang," ujar kepala pelayan dengan lembut.
Perasaan bersalah langsung muncul di hati Siena. Ia menunduk, merasa sedih karena membuat Vino menunggu tanpa hingga larut dengan perut kosong. "Aku tidak tahu... , benarkah seperti itu? Aku jadi merasa bersalah."
Kepala pelayan tersenyum lembut. "Tidak apa-apa, Nona Siena. Tuan muda Vino sangat mengerti. Namun, mungkin ada baiknya jika Anda berbicara dengan beliau."
Siena mengangguk, merasa perlu memperbaiki kesalahannya. "Terima kasih sudah memberitahuku. Aku akan bicara dengan kak Vino."
Setelah mengisi gelas dengan air minum, Siena segera menuju kamar Vino. Sesampainya di sana, ia mengetuk pintu dengan hati-hati. "kak Vino, apakah kamu sudah bangun?"
Vino membuka pintu dan tersenyum ketika melihat Siena. "Pagi, Siena. Baru saja selesai mandi, ada apa? Apa kamu perlu bantuan?" tanya Vino dan kali ini tidak sedingin semalam.
Siena menatap Vino dengan perasaan bersalah. "Aku mendengar dari kepala pelayan bahwa kakak tidak makan sejak siang kemarin karena menungguku. Maafkan aku, kak Vino. Kakak pasti menahan lapar semalaman gara-gara Siena."
Vino menggeleng sambil tersenyum. "Tidak apa-apa, Siena. Lagi pula kakak juga masih sehat kan sampai pagi ini meskipun tidak makan."
"Kakak....," Siena langsung memeluk Vino.
"Jangan khawatir, kakak tidak pa pa." ucap vino sembari mengusap lembut puncak kepala Siena.
Siena tersenyum lega. "Terima kasih, kak Vino. Bagaimana kalau kita segara sarapan ? Aku akan membuatkan nasi goreng spesial untuk kakak."
Vino mengangguk, senang dengan usulan itu. "Itu ide bagus, Siena. Kakak akan bantu."
"Nggak perlu kak, kakak pakek baju dulu. Kasihan tuh para pelayan ntar kalau lihat roti sobek kakak pada pengen meluk." ucap Siena dengan becanda.
"Siena....,"
"Siena masak dulu," ucap Siena sambil berlari meninggalkan kakaknya. Benar saja saat ini Vino hanya memakai handuk yang di lilitkan di atas pinggang dengan tubuh atasnya yang terbuka. Aroma sabun masih menyengat di tubuhnya, tampak beberapa bagian kulitnya juga masih basah oleh air.
Setalah Siena selesai memasak, Siena kembali memanggil Vino dan mereka berdua pun menuju ruang makan, siap menikmati sarapan bersama dan memperbaiki momen yang terlewatkan. Perasaan Siena menjadi lebih ringan, sementara Vino merasa senang bisa menghabiskan waktu dengan adik perempuannya.
Bersambung
Happy reading
bahaya loh klw mengeluarkan racun dengan cara di hisab..bisa bisa berpindah racun nya lewat mulut...👍😁
sekedar info 🙏😁
Syarat yg diberikan papa wijaya jika vino lolos dr ujian diberikan papa wijaya akan segera menikahi siena...
Vino tipe tidak menyerah pekerja keras pasti tantangan yg diberikan tuan wijaya terwujud,,,
Tantangan yg diberikan tuan wijaya bs mewujudkannya tetep semangat siena sll mendukungmu....