JIKA TIDAK TERTARIK, AUTHOR MOHON DENGAN SANGAT UNTUK TIDAK MEMBACANYA.
SILAHKAN SKIP SEJAK SAAT INI JUGA, KARENA AUTHOR TAK MEMAKSA KALIAN BACA.
TAPI JIKA KALIAN MENIKMATI ISI DARI CERITA INI, AUTHOR SANGAT BAHAGIA.
Pendaratan darurat membuat Daniel terpaksa menikahi seorang gadis.
Padahal niat hati masih ingin menanti cinta pertamanya, yang menghilang tanpa jejak.
Tabir misteri yang telah lama terkunci rapat, mulai terbuka perlahan, dan satu demi satu teka-teki mulai terpecahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
#15
Daniel keluar dari mini market dengan 2 cup kopi serta beberapa snack di tangannya, ia sengaja izin ke mini market dengan alasan membeli kopi serta snack untuk teman di perjalanan, padahal ia sedang menahan gemuruh aneh di dadanya, akibat pelukan Mila beberapa menit yang lalu.
Tanpa sadar Daniel menyunggingkan senyum bahagia, ternyata sesederhana itulah membuat Mila bahagia, ia hanya perlu dibelikan makanan manis atau traveling tipis-tipis, ‘Ah … dasar wanita.’ Gumam Daniel seorang diri.
Mungkinkah ini tanda-tanda ia mulai memiliki rasa? apakah boleh secepat ini? semudah inikah melupakan Naya yang sekian lama bertahta? berdosa kah jika ia berpindah ke lain hati, walau sebelumnya ia sama sekali tak berniat melakukannya? anehnya semesta seakan sedang mendukung perasaannya saat ini.
Namun seyum bahagia itu lenyap ketika tanpa sengaja netra nya menatap beberapa Pria sedang membawa paksa seorang gadis masuk kedalam mobil mereka, dari gaun yang wanita itu kenakan tiba tiba Daniel merasakan perasaan tak enak, “Sh11t !!” Umpatnya, ia bahkan melempar kopi dan snack yang ia beli di minimarket beberapa saat yang lalu, kemudian berlari kencang ke arah mobilnya berada.
Benar saja, setibanya di tempat, pintu mobil dalam keadaan terbuka, bahkan ada sedikit kerusakan, sepertinya orang orang itu sengaja merusak pintu mobil, agar bisa memaksa Mila keluar.
Brak !!!
Daniel kembali ke kursi kemudi, ia menghubungi para pengawalnya, tak menyangka bahwa akan ada kejadian semacam ini, pantas saja Mama Miran melarangnya membawa Mila, ternyata kekhawatirannya benar terjadi, tapi kali ini para pria itu salah memilih lawan, tak akan ia biarkan begundal begundal itu lepas dari tangannya.
Setelah mengirimkan sinyal gawat darurat melalui aplikasi pribadi para agen yag selama ini mengawalnya, Daniel memacu kencang mobilnya, walau tidak secara detail tapi ia masih ingat warna serta bentuk mobil yang dipakai oleh orang orang yang menculik Mila beberapa saat yang lalu. Namun Daniel juga ingat, kemarin Papa Dika sempat memberinya link agar bisa melacak sinyal alat pelack yang sudah terpasang di gelang yang Mila pakai sehari-hari, semuanya Daniel lakukan sembari mengarahkan kemudi mengejar mobil yang membawa Mila, untungnya ini masih di Tol, jadi bisa dipastikan lajur mereka satu arah.
Sinyal GPS mulai bekerja, menampakkan titik merah yang terus bergerak sejajar dengan arah mobil Daniel, itu artinya mobil yang membawa Mila masih terus bergerak. Mobil mengarak keluar dari lajur Tol, daniel terus mengikuti arah mobil tersebut, senja mulai menuju gelap, membuat suasana sekitar semakin sunyi, sepertinya ini adalah jalur antar kota yang belum padat penduduk, pantas saja mereka memilih jalur ini, karena jarang ada mobil melintas, bahkan cenderung sepi.
Rasa panik dan ketakutan membuat Daniel menginjak pedal gas semakin dalam, disaat yang sama ponselnya berdering, “Cepatlah !!” jawab Daniel ketika tahu yang menghubunginya adalah, salah seorang pengawalnya.
“Baik Tuan, kami sudah menerima sinyal yang anda kirimkan, bisakah anda bertahan beberapa saat sebelum kami tiba?”
“Itu sudah pasti, tapi aku tetap membutuhkan kalian untuk berjaga jaga dari situasi tak menguntungkan.”
Tak perlu melanjutkan obrolan, Daniel langsung mematikan panggilannya, jarak mobilnya semakin mendekati kelap kelip titik merah di layar ponselnya, benar saja, dari kejauhan ia melihat ada mobil melaju dengan kecepatan tinggi, bisa di pastikan itu adalah mobil yang membawa Mila, tapi sepertinya bukan hanya 1 mobil, melainkan ada 2 mobil, sepenting apa membawa Mila hingga memerlukan 2 mobil hanya untuk menculik seorang gadis.
Tapi Daniel mengabaikan pertanyaan tersebut, ia kembali menambah kecepatan mobil nya, padahal ia sudah melaju diatas 200 km/jam. “Tunggu aku Mila, aku tak akan membiarkan mereka menyakitimu,” gumam Daniel.
Jalanan yang benar-benar sepi membuat pengejaran Daniel menjadi mudah, ia melaju melewati mobil yang membawa Mila, untungnya sopir dari mobil tersebut tak mencurigai nya, setelah mencapai jarak aman, Daniel menginjak rem, kemudian mengubah haluannya. Dengan lincah ia memutar kemudi hingga mobil berbalik arah, kemudian kembali menginjak pedal gas tapi dengan yakin melaju kencang di lajur berlawanan, membuat sopir di hadapannya kalang kabut, bahkan nyaris membanting Stir jika Daniel terlambat menginjak rem.
Ketiga mobil berhenti dengan posisi tak beraturan, Daniel sengaja menghentikan mobilnya secara horizontal, agar kedua mobil tersebut tak melarikan diri.
“Ban*sat … keluar kamu!!” kata makian tersebut keluar dari mulut sopir yang marah akibat ulah Daniel yang membuat mereka hampir celaka.
Daniel masih mengabaikan panggilan tersebut, bukan takut, tapi mengulur waktu hingga para pengawalnya tiba.
Sementara para preman di luar semakin liar, mereka bahkan beberapa kali menggebrak body mobil, kaca, bahkan kini sudah duduk di kap depan mobil milik Daniel. setelah cukup mengulur waktu selama beberapa menit, Daniel pun melepas safety belt nya, ia melakukan peregangan pada tangan dan lehernya, sudah lama tidak berkelahi, semoga ia bisa menghajar habis para preman yang berani menculik calon istrinya.
Dengan santai, Daniel keluar dari mobil nya, dari tempat ia berdiri, ia melihat Mila ada di dalam mobil dengan tangan terikat, serta lakban menutup mulutnya, Daniel bisa melihat ketakutan di wajah gadis itu, bahkan kini merasa bersalah karena tadi tidak sekalian mengajaknya ke minimarket.
“Jadi ini yang berani menghalangi jalan kita.” Pria bertubuh tambun itu maju selangkah, kemudian mendorong pundak Daniel dengan kasar.
“Sebaiknya jangan mengganggu pekerjaan kami, jika kamu masih ingin berumur panjang,” bisik pria itu ketika tubuh Daniel terjepit diantara tubuhnya dan body mobil.
“Justru kalian yang mengganggu privasi ku,” Jawab Daniel, ia masih menahan diri demi membaca situasi, padahal tangannya sudah terkepal ingin segera menghajar kawanan preman tersebut.
“Mengganggu? kapan kami mengganggumu?”
“Bukan aku yang kalian ganggu, tapi calon istriku.”
“Hahahaha … “ orang orang itu tertawa lepas, “Memang kami peduli, kami diperintahkan untuk membawa gadis itu, siapapun kamu, kami tak peduli.”
“Kalu begitu, mari kita lihat, apakah badjingan seperti kalian layak membawa gadis itu.”
Bugh !!!
Tanpa aba-aba Daniel melayangkan tinjunya ke rahang pria bertubuh tambun tersebut. segera sesudahnya dua orang maju menghadapi Daniel. “Sudah kah? hanya dua orang yang maju?” tantang Daniel.
“Banyak bac*t …” serangan berikutnya dari pihak lawan, bahkan bertubi tubi menghantam dagu dan pipi Daniel.
Daniel meraba sudut bibirnya yang mulai terasa perih bercampur asin, sejak sibuk dengan pekerjaan, sudah lama ia tak berlatih apalagi berkelahi.
Daniel membuang ludah ke arah samping, rasanya sudah cukup ia merelakan wajah tampannya menjadi sasaran, kini saatnya ia membalas nya berlipat lipat.
Mata birunya mulai tajam mengawasi daerah sekitarnya, kedua tangan dan kakinya sudah siap dengan kuda-kuda, serangan pertama berhasil ia tangkis dengan baik, bahkan tendangan pertamanya membuat lawannya terjungkal ke belakang.
“Cukup sudah main-mainnya Daniel, jika kamu tak ingin wajah tampanmu babak belur di hari pernikahan, maka bangkit dan kalahkan mereka semua,” Monolognya pada diri sendiri.
Daniel kembali melayangkan pukulan, tak peduli siapapun yang mendekat ke arah nya ia hajar dengan tinjunya, jika tak mampu, maka tendangannya yang melayang, rupanya cukup menyenangkan juga menghajar orang, ia bahkan tak pernah terlibat perkelahian kala remaja, siapa sangku justru berkelahi menjelang hari pernikahannya.
Pertarungan tak seimbang terus berlangsung, dua kubu sama-sama belum terlihat pemenangnya, secara kasat mata Daniel diprediksi kalah, namun bukan Daniel namanya jika kalah tanpa melakukan perlawanan.
Seperti kata Danesh, “maju dulu, menang atau kalah itu perkara belakangan.”
Prinsip itulah yang Daniel pegang saat ini, lelaki sejati tak akan menyerah begitu saja.
Adrenalinnya semakin terpacu, seiring dengan laju nafas yang naik turun tak beraturan, agaknya lawan Daniel mulai menyadari bahwa pria yang menjadi lawan mereka kali ini bukan orang sembarangan, untuk itulah mereka mulai memperhitungkan serangan, karena beberapa teman mereka sudah tumbang terkapar tak berdaya, karena Daniel membantingnya dengan kekuatan penuh.
Rasanya sebahagia ini ternyata, pantas saja Aunty Emira menyukai gerakan tersebut.
Tepat di saat Daniel mulai kehabisan tenaga, bala bantuan tiba, sepasukan pria datang membantu Daniel, hingga membuat perkelahian berlangsung seimbang.
Merasa mulai leluasa bergerak, Daniel berlari menghampiri Mobil yang menyekap Mila.
Daniel membuka tali yang mengikat kedua kaki dan tangan Mila, lagi-lagi Mila memeluknya, bahkan Daniel merasakan sekujur tubuh Mila gemetar ketakutan, “Aku takut sekali, aku pikir malam ini adalah …”
Kalimat Mila terhenti, karena Daniel meletakkan jari telunjuknya di bibir gadis itu, “selama ragaku masih bernafas, tak akan kubiarkan orang-orang jahat itu menyentuhmu.”
Mila kembali menangis keras, seperti anak kecil yang ketakutan, Daniel membimbing Mila keluar dari mobil.
Tapi …
“Awaaass !!!”
Brak!!!
.
.
Bugh
Bugh
Prang
Suara samsak dan besi saling bersahutan, seiring dengan kuatnya pukulan yang menghantamnya. Tubuh dan rambutnya pun basah bersimbah keringat, namun seseorang yang melihat pemandangan tersebut dari layar monitor, merasa bahwa pria berkeringat itu terlihat semakin tampan sekaligus sexy.
“Kamu akan menjadi milikku Nick…” Gumam Carissa seorang diri.
Tumbuh besar tanpa saudara dan minim teman, hingga suatu hari seorang anak laki-laki datang, anak itu terlihat pendiam, kurus, berpakaian sederhana dan tak banyak bicara, usianya tak jauh beda dengan Carissa, dialah Nick. Menurut Paman Jonas, Nick berasal dari panti asuhan, selain itu di tempat asalnya Nick pun penyendiri dan jarang bersosialisasi.
Nick dan Carissa, dua anak penyendiri, kesepian, tanpa teman di tengah keramaian, hingga jalinan takdir mempertemukan mereka.
Hari-hari berlalu, Carissa merasa prihatin karena sehari-hati melihat Nick di pekerjakan di antara orang orang suruhan Papanya. Menyapu, membersihkan ruang latihan, bahkan membeli rok*ok dan minuman beralkohol.
Nick kecil yang malang, menjalaninya begitu saja, kepala kecilnya didoktrin, dipaksa dengan kasar untuk memahami, bahwa ia tak lebih tak kurang hanya seorang mesin pesuruh. Hari-harinya sepi dan sunyi di tengah keramaian, hingga Carissa mulai hadir mewarnai dunianya yang hitam putih, membawa sejumput bahagia di tengah sedih, serta menawarkan pertemanan bukan permintaan untuk dilayani layaknya anak majikan.
Biasanya, Cinta pertama seorang gadis adalah sang Papa, tapi bagi Carissa, Nick adalah segala yang ia butuhkan termasuk ... Cinta.
eehh tapi jangan² pamannya Mila /Naya itu Profesor Hardiman ya Papahnya Clarissa lagi setelah mendapatkan semua harta Ortunya Mila/Naya dia di buang waktu kecil dan Lupa semuanya.🤔