Hai ini karya terbaru saya, dukung saya dengan meninggalkan komentar like dan ikuti agar saya lebih semangat membuat cerita tentang hubungan Sashi yang panas dan penuh konflik.
Terimakasih ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lakuna Amerta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15, Pertemuan Sashi dan Agatha
“Yaudah ya, aku pulang dulu.” Kata Sashi pada keluarga barunya, sambil Ia gandeng tangan Rio.
“Kalo ini beneran pulang ke Tangerang Mbak?” Tanya Kika.
“Iya Ka. Besok pagi aku mau langsung otw ke Tangerang abis Mas Rio berangkat kerja.”
“Oke hati-hati ya sayang.” Ujar Bu Isabel sambil mengelus bahunya. Dia tersenyum karena kali ini benar-benar Sashi harus pulang.
Semua mengantar kepulangan Sashi dan Rio. Mereka berdua juga bersalaman kepada Nenek, Bu Isabel dan adik-adiknya.
Sashi dan Rio pun berlalu, di dalam mobil Sashi lalu menurunkan sandaran kursinya. Ia agak lebih capek hari ini daripada kemarin. Karena Sashi sore ini berkebun dengan adiknya dan menuruti keinginan adik-adiknya. Menggantikan posisi ayahnya yang punya kebiasan menghabiskan waktu bersama anak-anaknya setiap hari.
“Kayaknya kamu hari ini capek banget sayang.” Tanya Rio sambil mengelus-elus pipi kekasihnya itu.
“Iya sayang. Seharian ini aku banyak kegiatan. Aku berkebun sama Luna, melukis sama Nino, bahkan menghabiskan waktu dengan skincare an bareng Kika.” Tutur Sashi.
“Wow padat banget acaramu, malah lebih sibuk dari aku yang hari ini banyak kerjaan.” Ujar Rio. “Tapi untungnya selesai sebelum jam 10 jadi aku bisa jemput kamu nggak kemaleman.”
“Ah kasian sayangku yang keren ini. Nanti aku pijit ya,”
“Oh dengan senang hati. Terima Kasih sayangku.”
[Suara ponsel berdering]
“Punyamu sayang?” Tanya Sashi. Rio lalu mengecek ternyata teman kantornya. “Oh Kino yang telepon, nanti aku telepon balik aja lagi nyetir.”
Sashi meraihnya, “Ah mana aku aja yang angkat sayang. Dah lama nggak ketemu Kino.
“Halo bro…” Sapa Sashi.
“Lho…lho… Siapa nih? Sashi bukan.”
“Emang siapa lagi kalo bukan aku? Kak Rio ada bawa cewek lain selain aku.” Gurau Sashi sambil melirik Rio, Rio hanya meringis.
“Ya enggak lah. Mana berani dia menyelingkuhi wanita se perfect kamu Sas..Sas.” Ungkap Kino yang ternyata di dekatnya ada Agatha yang sekaligus membuat Ia sedikit sakit hati.
“Ah nggak usah peres kamu.”
“Enggak lah woy! Bodoh Rio kalo ninggalin kamu buat wanita lain. Ha..ha..ha.”
“Iya deh iya percaya, ngapain nih telepon.”
“Eh sini dong. Mumpung di Bandung Sas.”
“Lho kalian lagi nongkrong?” Sashi kegirangan dan memberi kode ke pacarnya yang sedang menyetir.
“Yoi. Ku share loct ya!”
“Oke sip.” Dan mereka mematikan telepon lalu Sashi membuka pesan dari Kino untuk memperlihatkan lokasi yang dikirim Kino.
“Serius sayang, katanya kamu capek.” Tanya Rio memastikan pacarnya yang tadi terlihat lelah namun sekarang sangat bersemangat.
“Nggak papa lah sayang! Kan mumpung aku disini. Yuk nyusulin Kino yuk sayang, aku juga udah lama nggak kumpul sama anak-anak” Rengek Sashi.
Rio pun tidak punya pilihan lain, Ia menuruti maunya kekasihnya yang mungkin sudah rindu dengan teman-temannya. Teman-teman Sashi adalah tim Rio, beberapa tim Rio memang sudah lama bersama dengannya. Makanya Sashi juga dekat dengan mereka.
Rio melajukan mobilnya sedikit kencang. Dia menuju lokasi yang tidak jauh dari mereka. Dan sesampainya di cafe yang cukup nyaman untuk nongkrong itu, Rio memarkirkan mobilnya.
“Hai guys!” Sapa Sashi dari kejauhan.
Disana ada teman-teman dan beberapa orang baru yang ikut bergabung, mereka semua karyawan di kantor Rio. Semua yang ada disana seketika melihat Sashi dengan dress panjang tanpa lengan namun tertutup dengan blazer putih, dan tidak lupa dengan sepatu haknya yang talinya melilit kakinya.
“Duh semakin memancar aja sinarmu Sas,” celetuk seorang temannya yang lain.
“Nggak kayak berduka ya.” Imbuh teman yang lainnya.
Sashi tertawa kecil mendengar ucapan teman-temannya, dia duduk berhadapan persis dengan Agatha yang terlihat sedikit redup karena pesona Sashi. Rio masih sibuk memesan minuman dan makanan untuk Sashi di meja pemesanan depan. Mata Sashi tertuju ke Agatha.
“Ini Agatha ya? Makasih ya kamu dah care sama aku.” Senyum ramah Sashi menyungging. Sashi memang anak yang ramah dan humble, makanya banyak yang menyukainya.
“Iya sama-sama Mbak.” Jawab Agatha dengan senyuman juga.
Sashi langsung mengobrol dengan teman-teman disana, semua orang tertuju padanya. Bahkan karyawan baru Rio juga tertuju pada Sashi. Semua mengabaikan Agatha, dia pun memilih mainan ponselnya.
Sesekali Agatha diajak ngobrol dengan laki-laki di sampingnya. Dan saat Agatha mengobrol dan terlihat intens dengan temannya, Rio tiba membawa pesanan Sashi. Rio melihat itu agak cemburu, namun saat itu ada Sashi jadi ia harus mengendalikan diri.
“Ini sayang.” Ucap Rio sambil menaruh makanan dan minuman yang Ia pesan untuk kekasihnya. “Aku pesen 1 makanan aja, kalo kamu udah makan biar bisa berdua.”
“Yah sayang. Aku udah makan, tapi nggak papa lah buat berdua ya.”
Rio mengangguk dan duduk di samping Sashi, Rio memasang lengannya untuk sandaran Sashi. Rio menatap serius Agatha yang asyik ngobrol dengan laki-laki lain.
“Kita dah lama nggak dugem bareng ya.” Ujar Kino.
“Kalian sih nggak ke Tangerang.” Sambil Ia makan sesuap, ada bekas di pinggir bibirnya dan di usap Rio.
“Kalo makan nggak pake ngobrol sayang,” Sambil Rio usap dengan mesra dan membuat Agatha makin kepanasan.
“Ah…Kalian mesra juga ya. Pak Rio kelihatan keren kalo lagi bucin.” ledek salah seorangnya.
“Iya iya dunia milik kalian berdua, kita semua ngontrak.” Imbuh Kino. Dan yang lain ikut tertawa.
Selesai makan Sashi dan Rio melanjutkan ngobrolnya dengan teman-temannya. Sesekali Rio memeluk, mengelus-elus tangan. Sesekali juga Sashi bersandar dan mengelus paha kekasihnya. Kejadian itu membuat Agatha kalang kabut, disitu nampak Rio sangat mencintai Sashi. Bahkan dari semua sentuhannya penuh cinta.
“Eh aku pulang duluan ya, kalo malem susah nyari ojol.” Ujar Agatha yang sontak berdiri.
Teman di sampingnya menahannya, “Udah nanti balik sama aku, aku anterin. Nongkrong aja dulu bentar.”
“Iya lagi, ngapain buru-buru Tha. Kan kita belum ngobrol lho.”
Agatha kembali duduk, dia mengurungkan niatnya untuk pulang. Dia sudah kepanasan dari tadi melihat orang yang ia cintai malah mesra-mesraan dengan wanita lain. Namun dia juga tidak enak dengan yang lainnya untuk pulang duluan.
Rio sama sekali tidak peduli dengan Agatha, dia terlihat cuek dan asing dengan Agatha. Entah triknya atau bagaimana, namun Rio juga sedikit cemburu karena tadi melihat Agatha mengobrol manja dengan temannya.
“Eh aku keluar bentar ya, mau ngrokok.” Ujar Agatha.
“Lho nggak boleh ngrokok ya disini?” Tanya Sashi.
“Iya Sas, sorry kita milih ruangan ber-AC karena lagi gerah seharian tadi Bandung tu.” Jawab temannya.
“Ow.” Sashi manggut-manggut dan mengambil tasnya. “Ngrokok sama aku yuk Tha. Aku juga mau ngrokok seharian nggak ngrokok mulut kecut.”
Sashi berdiri dan mengajak Agatha untuk keluar. Agatha pun mengikuti Sashi, dan yang lain tidak memperdulikan. Bahkan Rio tidak masalah akan hal itu. Sedari tadi dia yang terlihat tenang dan santai mendapati 2 kekasihnya bersama.