NovelToon NovelToon
Ganteng Tapi Aneh

Ganteng Tapi Aneh

Status: tamat
Genre:Teen Angst / Romansa / Chicklit / Tamat
Popularitas:56.4k
Nilai: 5
Nama Author: Najwa Camelia

Bermodal paras cantik dan tubuh yang indah. Gendhis, bukan nama aslinya. Bertahan hidup dengan bekerja sebagai koki di sebuah hotel bintang lima. Namun, sesuatu hal yang tak terduga terjadi padanya, hingga Gendhis bertekad untuk mengambil pekerjaan sampingan sebagai "teman kencan semalam" tamu-tamu VIP hotel Pacifik.


Narendra Arjuna Guinandra, pengusaha di bidang perhotelan dan pariwisata yang terobsesi untuk menyewa jasa Gendhis. Berapa pun budget yang dia keluarkan, dia tidak perduli. Asalkan gadis itu tetap berada dalam genggaman dan menuruti segala perintahnya.


Sebuah fakta terungkap, membuat Narendra terperosok semakin jauh ke dalam dendam dan kebencian atas kejadian yang tidak pernah dilakukan oleh Gendhis. Hingga gadis itu harus berjuang untuk sebuah kepercayaan yang menyakinkan hati seorang Narendra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Najwa Camelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cemburu

Happy reading..

Narendra mengetukkan jarinya di atas meja, menunggu jawaban dari sang informan yang ditugaskan untuk mengawasi Gendhis.

Namun hingga tiga puluh menit dia menunggu, tapi tidak kunjung juga informasi dari orang suruhannya itu. Tangannya mengepal kuat, lalu memijat keningnya. Narendra tidak mengerti mengapa tiba-tiba perasan konyol dan aneh itu bersarang di hatinya.

CEMBURU!!

Tidak! Tidak mungkin dirinya cemburu pada ja_lang kecil itu! Apalagi jatuh cinta! Misinya adalah membalaskan dendam kakak perempuannya, tapi dia juga tidak bisa memungkiri nya karena jelas-jelas yang merenggut kesucian gadis itu adalah dirinya. Atau kah gadis itu menjual tubuhnya demi pengobatan Ibunya? Tapi Narendra belum mengetahui jelas tentang informasi tentang wanita itu! Tak tahan dengan perdebatan di kepalanya, Narendra memukulkan kepalan tangannya di atas meja kerjanya.

BRAKK

Di saat itu, bersamaan dengan sang tangan kanannya masuk ke dalam ruangan.

"Ada masalah, Bos?" tanya Yudistira menelisik pada wajah Bosnya.

"Tidak ada," sahut singkat Narendra.

"Jangan bilang ada masalah dengan hati, Bos?" celutuk Yudistira yang sudah bisa menebak pikiran Bosnya itu.

Yudistira sudah hafal betul dengan kelakuan Bosnya, karena setiap hari mereka selalu bersama. Ada Narendra, berarti di sampingnya juga ada Yudistira.

***

Sementara di tempat lain, setelah melalui drama yang penuh dengan ketegangan antara dirinya dan Tuan mudanya. Gendhis akhirnya berhasil meminta ijin untuk menengok Ibunya. Dikarenakan hari ini, Ibunya diperbolehkan untuk pulang ke rumah setelah beberapa minggu di rawat di Premier Hospital.

Ketika sampai di parkiran rumah sakit, Gendhis segera turun dari mobil yang mengantarkannya.

Gendhis tersenyum. 'Aman! Ternyata Tuan Gapian tidak menyuruh bodyguard itu untuk mengawasi ku lagi!' gumamnya.

Kemudian, dia mengayunkan kembali langkahnya dengan pasti menuju kamar rawat Ibunya dengan wajah yang berseri-seri. Hatinya sangat bahagia bisa kembali jumpa dengan wanita yang sudah melahirkannya itu. Sudah beberapa hari dia tidak bisa menemui sang Ibu, gara-gara kerewelan sang Tuan Gapian.

Pintu terbuka. "Assalamu'alaikum," salam Gendhis berbarengan dengan jemari lentiknya mendorong pintu yang bercat warna coklat tua itu.

Manik coklat nya langsung tertuju pada wanita paruh baya yang duduk di atas branka menyandarkan punggungnya di kepala ranjang yang berbahan besi.

Gendhis menyeret langkahnya mendekat ke arah sang Ibu. "Maafkan Naya, Bu," kata Gendhis sambil mencium punggung tangan sang Ibu dengan takzim.

Wanita paruh baya itu, mengusap pucuk kepala putri satu-satunya, kedua bola matanya sudah berkaca-kaca. Sudah beberapa hari tidak bertemu dengan Naya, rasanya separuh jiwanya hilang. "Harusnya Ibu yang meminta maaf padamu, Naya. Karena penyakit Ibu, kamu harus bekerja keras untuk membiayai pengobatan Ibu di sini," suara Ibu tercekat.

"Ibu nggak usah berkata seperti itu, Naya ikhlas lillahita'ala. Naya hanya ingin Ibu segera sembuh dan kita bisa berkumpul kembali," ucap Gendhis sambil memeluk tubuh ringkih sang Ibu, yang sudah tidak dipasang alat-alat medis lagi.

Hampir lebih lima belas menit menikmati drama tangis-tangisan Putri dan Ibunya. Tiba-tiba dari arah pintu kamar mandi Andini berjalan menghampiri sahabatnya itu.

"Ehemm," deheman Andini mengagetkan Gendhis yang seketika memutar kepalanya dan menyipitkan mata. "Ohh, ada suara tapi tak ada wujudnya," seru Gendhis meringis. Kebiasaan bercanda yang dilontarkan ketika mereka berkumpul.

"Woii.. Ada ini ada! Wujudnya berdiri di belakang mu, Naruto!" Andini menempelkan bibir nya tepat di telinga Gendhis.

"Pecah gendang telinga aku, kimvriit!" pekik Gendhis, seraya mengusap-usap telinganya.

Wanita paruh baya yang melihat kedekatan dua anak manusia yang sudah seperti saudara itu pun ikutan terkekeh bahagia.

Meskipun Gendhis tidak bisa menjaga Ibunya setiap hari, tapi Andini dan Rico selalu mengunjungi sang Ibu, menggantikan posisinya yang memiliki keterbatasan waktu karena keterikatan kesepakatan dengan sang Tuannya.

Andini merangkul pundak Gendhis dan berbisik di indera pendengaran nya. "Heemm, sudah nyaman ya kerja sama Tuan Narendra, sampai-sampai lupa sama sahabatnya ini," Andini menaik turunkan alisnya.

Senyuman manis melengkung jelas dari bibir Gendhis. Dia memperlihatkan keadaannya sebaik mungkin di balik senyum terukir indah di wajahnya. Gendhis tidak ingin sahabat dan juga Ibunya mengetahui keadaan yang sebenarnya di tempat kerjanya saat ini. Dia ingin menyimpannya rapat-rapat dan tak ingin membaginya dengan siapa pun tentang kegelisahan dan kegundahan hatinya saat ini. Dia harus bisa memperlihatkan bahwa dirinya baik-baik saja.

Tapi sebagai sahabat yang sudah lama mengenal sifat dan sikap Gendhis, perempuan yang berdiri berdampingan dengan Gendhis itu, tidak mudah dikecohkan dengan senyuman yang ditampilkan oleh sahabatnya itu. "Jangan bilang kamu disiksa di sana!" suara Andini terdengar sangat pelan, tapi penuh penekanan.

Gendhis hanya menggelengkan kepalanya. Ia tak berkata sepatah kata pun pada Andini yang terus mendesaknya.

Sang Ibu yang memperhatikan gerak-gerik keduanya, akhirnya membuka suara. "Sebenarnya ada apa kali?" tanya Ibu penuh selidik karena hatinya dipenuhi rasa penasaran dengan apa yang sedang dibicarakan kedua wanita yang seumuran itu.

Sambil menoleh ke arah wanita paruh baya yang sedari tadi memperhatikan mereka. Andini dan Gendhis bicara bersamaan, "Rahasia anak muda, Ibu," kekeh keduanya.

"Kebiasaan kalian berdua, kalau sudah berkumpul pasti yang dibahas hanya cowok," sahut Ibu Naya, seraya menggelengkan kepala. "Makanya cepat nikah, biar nggak cuma tebar pesona," canda sang Ibu, yang langsung disambut gelegar tawa oleh Andini dan Gendhis.

"Iya, ini, Bu. Katanya Naya mau dilamar cowoknya," seloroh Andini yang mendapatkan sebuah jitakan mesra dari jari jemari Gendhis yang seketika menari di dahi Andini.

"Ehh, mulut dijaga ya! Kamu kali yang mau nikah muda!" sewot Gendhis yang dibuatnya seolah-olah tak terima dengan ucapan Andini, agar Ibunya tidak terlalu banyak bertanya tentang apa yang sedang mereka bicarakan.

"Ya sudah sana, kalian ngobrol dulu yang enak, biar Ibu nggak bisa mendengar rahasia anak muda," ujar Ibu Naya dengan senyuman yang tersungging di kedua sudut bibirnya.

"Terimakasih, Ibu selalu pengertian pada para gadis yang memuja cowok tampan," Andini menghampiri wanita paruh baya yang duduk di atas brankar, lalu mendaratkan ciumannya di pipi kanan dan kiri.

Lalu, segera menarik tangan Gendhis keluar dari kamar rawat sang Ibu.

Kini mereka duduk di kursi yang terbuat dari bahan besi di depan kamar rawat Ibu Naya. Kemudian Andini bersedekap dengan tatapan intens pada sahabatnya itu.

Seolah menjadi terdakwa yang sedang dihakimi, Gendhis tidak terlihat takut dengan tatapan mengintimidasi Andini, malah dia membalas tatapan sahabatnya itu dengan kerlingan sebelah matanya. "Senyum Pak Boneng, Ting," kekeh Gendhis sambil mengusap kasar wajah Andini.

"Dewi Nayaka... Edaaann!" pekik Andini dengan berkacak pinggang.

"Mau apa, hah! Tak terima! Sini maju!" tantang Gendhis dengan menyenggol lengan kiri Andini yang terhuyung hampir terjengkang. Untung saja dengan cepat Gendhis menangkap tubuh Andini.

"Hahaha..," tawa keduanya memenuhi ruangan yang sepi pengunjung.

🍁🍁🍁🍁

1
☠ᵏᵋᶜᶟ𝕾wᷤαͧηᷠ¢ᖱ'D⃤ ̐🍒⃞⃟🦅
bagus critanya
s7
Lanyap hehehe Bu Tri 🤭😁
NJ♥️🔒
Keren kontraknya
✿⃝ᵀᴬᶠ♥︎єrͷa
di kasih tau masih perawan tapi ga percaya juga nah tau kan sekarang ghendis masih perawan
✿⃝ᵀᴬᶠ♥︎єrͷa
keknya bukan balas dendam deh Narendra sama ghendis tapi itu mah murni suka sama ghendis cuma pake topeng balas dendam aja padahal mah 🤭🤭🤭awiiieeeeww
✿⃝ᵀᴬᶠ♥︎єrͷa
kenapa harus marah liat ghendis sama laki laki lain kan g ada hubungan juga,,🤭🤭 alamat hukuman ghendis tambah panjang ini mah
✿⃝ᵀᴬᶠ♥︎єrͷa
cieee yg lagi nyaman memeluk seorang ghendis ,,awas ah nanti keterusan
✿⃝ᵀᴬᶠ♥︎єrͷa
wah bisa bahaya tu naya,pas datang telat tuannya lagi marah pula aduh apa yg akan terjadi sama Naya
✿⃝ᵀᴬᶠ♥︎єrͷa
waw kontrak 2M gimana ngitung nya tuh 🤭
✿⃝ᵀᴬᶠ♥︎єrͷa
hah ko bisa 🤔🤔🤔dari mana masuknya kek jelangkung aja 🤭
✿⃝ᵀᴬᶠ♥︎єrͷa
hadeuhh dasar buaya ada aja alasan untuk mengelak dari tuduhan 😔
✿⃝ᵀᴬᶠ♥︎єrͷa
sebenernya itu pertolongan dari othor untuk kamu supaya kamu terjaga keasliannya hingga othor datangkan langsung yg pantas oven buat sosisnya c heru😂🤣🤣🤣
✿⃝ᵀᴬᶠ♥︎єrͷa
duh itu ukuran sosisnya,bikin traveloka 🤭🤭🤭
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
sehat sehat ibunya nayaka ....
dan semoga nayaka berbahagia dengan ...... tuan gapian . yesss 😍
Elisabeth Ratna Susanti
top 👍
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
semangat dan salut buat perempuan perempuan yang sedang berjuang dalam kerasnya hidup tanpa harus merendaahkan diri
ganbatte, nay 💪💪💪
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
ehhh jangan salah, nay ....
di novel aja ada judulnya tuh
CINTA DAN DENDAM
atau
CINTA DI ANTARA DENDAM
atau
MENIKAH KARENA DENDAM

awalnya mah dendam, nay.... eehhhh ujung ujung nya duit ...ehhh salah 😅
ujung ujungnya cinta lahhh
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
ga ada yang ga mungkin dalam cinta , nay ....
kaya miskin
cantik jelek
....... bukanlah suatu patokan akan hadirnya cinta dan kemana cinta akan bermuara .

jadi .... jangan pesimis, nay ..... 💪😁
🤍: 😂😂🙈 walaupun terlambat datangna cinta ntuu akak sus 🏃🏃
total 1 replies
Elisabeth Ratna Susanti
suka 😍
Elisabeth Ratna Susanti
like 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!