Hidup Dara runtuh dalam satu hari.
Pekerjaannya hilang tanpa peringatan. Perusahaan tempatnya kerja kini terancam bangkrut dan harus mem-PHK semua karyawannya termasuk Dara. Kini Dara merasa hidupnya runtuh, karena disaat yang sama Ibunya sedang di rawat di rumah sakit dan butuh biaya yang sangat besar. Di titik terendahnya, Dara hanya punya dua pilihan: bertahan atau menyerah.
Kini Takdir membawanya ke sebuah perusahaan besar, di sana ia menjadi sekretaris pribadi seorang CEO dingin, perfeksionis, dan penuh rahasia.
Pria itu setelah di khianati mantan istrinya tidak lagi percaya pada cinta. Namun sejak kehadiran Dara, sekretaris baru yang berani, tulus, dan penuh tekad, kini hatinya mulai goyah.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34 : Gosip mulai tersebar
Aldi berdiri dengan napas memburu, tangannya masih mengepal kuat. Matanya merah oleh amarah yang belum mereda sedikit pun. Sedangkan Alexander tetap duduk di kursinya. Darah tipis mengalir dari sudut bibirnya.
"Lo sama Sabrina nggak ada bedanya!"
Bentakan Aldi membuat beberapa pelanggan kembali menoleh.
"Kalian berdua nggak punya hati!"
Alexander tidak menjawab dan justru sikap tenang itu membuat Aldi semakin ingin menghajarnya. Pria itu melangkah maju, tangannya kembali terangkat. Siap menghantam wajah Alexander untuk kedua kalinya.
Namun, tepat sebelum tinjunya melayang. Aldi berhenti, tangannya bergetar di udara. Napasnya memburu, rahangnya mengeras, lalu perlahan ia menurunkan tangannya sendiri.
Bugh.
Tinju itu menghantam meja, bukan wajah Alexander.
"Aarrghhh!"
Aldi mengacak rambutnya frustrasi. Karena seberapa marah pun dirinya, Alexander tetap sahabatnya. Sahabat yang sudah dikenalnya bertahun-tahun. Dan itu justru membuat semuanya terasa lebih menyakitkan.
Aldi menatap Alexander dengan tatapan kecewa. Tatapan yang jauh lebih menusuk daripada pukulan tadi.
"Gue kecewa sama lo."
Alexander hanya menundukkan pandangan sesaat. Kemudian berkata pelan. "Ya gue tahu."
Aldi tertawa hambar. "Lo bahkan nggak berusaha ngebela diri."
"Nggak ada yang perlu dibela."
Jawaban itu membuat Aldi memejamkan mata, seolah kesabarannya habis sedikit demi sedikit.
Lalu Alexander mengusap darah di sudut bibirnya. "Maafin gue, Aldi."
Deg.
Aldi membeku, karena selama ia mengenal Alexander... pria itu hampir tidak pernah meminta maaf.
"Lo nggak perlu minta maaf ke gue." Suara Aldi terdengar berat. "Lo harus minta maaf ke Dara kalau sampai nyakitin dia."
Alexander tidak menjawab.
"Kalau lo emang serius sama ucapan lo..." Aldi menarik napas panjang. "Pastiin lo nggak bikin hidupnya hancur."
Setelah mengatakan itu, Aldi berbalik. Tanpa menunggu jawaban, tanpa menoleh lagi. Langkahnya menghilang keluar dari cafe. Meninggalkan Alexander sendirian, cafe kembali perlahan tenang.
Para pelanggan yang tadi memperhatikan mulai kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Alexander masih duduk di kursinya... sendiri. Tangannya menyentuh sudut bibir yang berdarah, perih.
Tapi entah kenapa, rasa sakit itu terasa jauh lebih ringan dibandingkan isi kepalanya saat ini. Ia menatap kopi yang sudah dingin.
Kemudian menghela napas panjang. "Memang pantas..." Suara itu hampir tidak terdengar. "Kalau dia mukul gue." Lalu ia menyandarkan tubuh ke kursi, memejamkan mata beberapa detik.
Tanpa Alexander sadari, dari kejauhan ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Pria muda yang duduk di dekat jendela sejak tadi.bAwalnya ia hanya penasaran karena keributan kecil yang terjadi.
Namun semakin lama, matanya semakin berbinar. Terutama setelah mengenali siapa orang yang baru saja dipukul itu. Alexander Wiratama Dirgantara CEO yang sangat sukses dan suami dari model terkenal yang bernama Sabrina Larasati.
Pria itu langsung menyeringai. "Wah..." Ia segera mengambil ponselnya. "Ini menarik."
Jarinya bergerak cepat. "Kabar bulan ini bakal panas."
Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tidak tahu siapa yang benar atau salah. Namun baginya, keributan yang melibatkan nama besar selalu memiliki nilai.
Beberapa saat kemudian pria itu berdiri, lalu pergi meninggalkan cafe. Dengan senyum yang tidak pernah hilang dari wajahnya.
Sepuluh menit kemudian.
Alexander akhirnya berdiri, tagihan sudah dibayar. Kopi hanya tersisa setengah dan bibirnya masih sedikit berdarah. Ia berjalan keluar cafe, malam Jakarta terasa lebih dingin dari biasanya.
Mobil hitamnya sudah menunggu di depan. Sopir yang melihat kondisi wajahnya langsung terkejut.
"Tuan!"
"Tidak apa-apa."
"Tapi bibir Anda..."
"Jalankan mobilnya."
Sopir langsung diam. "Baik, Tuan."
Mobil pun melaju meninggalkan cafe, sepanjang perjalanan. Alexander tidak membuka tablet, ia hanya duduk diam. Menatap lampu-lampu kota yang bergerak di balik jendela. Dan entah kenapa, pikirannya terus kembali pada satu orang... Dara.
***
Keesokan paginya...
Matahari bahkan belum sepenuhnya tinggi ketika sebuah berita sudah menyebar ke berbagai portal hiburan, akun gosip, hingga siaran televisi pagi.
Foto Alexander yang sedang mengusap darah di sudut bibirnya di depan cafe tersebar luas. Di foto lain, terlihat Aldi berdiri dengan wajah marah.
Judul-judulnya bahkan lebih parah.
"CEO Alexander Dirgantara Baku Hantam Dengan Sahabat Sendiri! Diduga merebut kekasih sahabatnya "
"Rumah Tangga Alexander Dirgantara dan Sabrina Larasati diambang Perceraian Karena Orang Ketiga?"
"Alexander Siap Tinggalkan Sabrina Demi Wanita Lain?"
Narasi yang beredar semakin liar karena tidak ada satu pun orang yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Dan tentu saja, tidak ada satu pun berita yang membahas perselingkuhan Sabrina.
Di Mansion Alexander, kamar utama masih gelap. Alexander masih tertidur di atas ranjang besar itu setelah malam yang nyaris tanpa istirahat. Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Bzzttt... Bzzttt... Bzzttt...
Ponselnya bergetar tanpa henti di atas nakas.
Alexander mengernyit, kelopak matanya terbuka perlahan. Panggilan itu terus masuk, Alexander meraih ponselnya dengan wajah masih mengantuk.
Lalu melihat nama yang muncul di layar. Mommy... Alexander langsung duduk. Panggilan itu segera diangkat.
"Mom."
Belum sempat ia berkata apa-apa lagi, suara Ibu Sandra langsung terdengar dari seberang.
"Alexander!" Nada suaranya terdengar kesal.
Alexander mengusap wajahnya pelan. "Ya."
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Alexander mengernyit. "Apa maksud Mommy?"
"Jangan pura-pura tidak tahu!" Suara Ibu Sandra semakin meninggi. "Kenapa kamu berkelahi dengan Aldi!"
Alexander langsung terdiam beberapa detik. Jadi sudah menyebar, cepat sekali.
Ibu Sandra melanjutkan sebelum ia sempat menjawab. "Dan apa maksud berita-berita ini? Mereka menulis kau merebut kekasih sahabatmu sendiri! Mereka menulis kau akan menceraikan Sabrina demi perempuan lain! Dan Mereka juga menulis Aldi memukulmu karena perempuan itu!"
Rahang Alexander mengeras sedikit, ia tidak peduli jika dirinya dihina. Tapi nama Dara yang mulai diseret-seret membuat suasana hatinya langsung memburuk.
"Mom."
Ibu Sandra menarik napas panjang. Kemudian berkata dengan nada yang jauh lebih rendah. "Apa yang mereka tulis itu benar?"
"Tidak." Jawaban Alexander langsung keluar, tanpa ragu sedikit pun.
Ibu Sandra terdiam beberapa saat. "Lalu kenapa kalian berkelahi?"
Alexander bersandar ke kepala ranjang. "Itu urusanku dan Aldi."
"Alexander."
"Aku akan menyelesaikannya."
Ibu Sandra menghela napas panjang, kemudian suaranya berubah lebih kesal. "Yang membuat Mommy marah bukan beritanya."
Alexander mengangkat alis. "Lalu?"
"Karena berita ini menguntungkan Sabrina."
Beberapa detik tidak ada yang berbicara. Ibu Sandra melanjutkan. "Semua orang sekarang menganggap kau yang selingkuh. Semua orang menganggap kau meninggalkan Sabrina demi perempuan lain. Tidak ada satu pun yang membahas bahwa Sabrina lah yang lebih dulu mengkhianatimu."
Tatapan Alexander berubah dingin, karena ibunya benar. Narasi publik sudah terbentuk. Alexander menjadi pria yang berselingkuh. Sabrina menjadi istri yang tersakiti, dan Dara... bisa saja berubah menjadi wanita perebut suami orang.
Padahal kenyataannya justru sebaliknya. "Mommy sudah lihat komentar-komentarnya." Suara Ibu Sandra terdengar semakin kesal. "Banyak yang membela Sabrina, banyak yang mengutukmu. Bahkan ada yang mulai mencari identitas perempuan yang mereka sebut sebagai orang ketiga."
Deg.
Tatapan Alexander langsung berubah tajam. "Itu yang tidak boleh terjadi."
"Mommy tahu." Suara Ibu Sandra terdengar serius sekarang.
"Kalau identitas gadis itu sampai tersebar hidupnya akan hancur."
Alexander tidak menjawab, namun jemarinya perlahan mengepal. Kini yang ada di pikirannya bukan nama perusahaan, bukan reputasinya, melainkan satu orang yaitu Dara.