Aurora Monique Ragnhild Nicandro, gadis berusia dua puluh delapan tahun yang ingin mempunyai anak, tapi dia tidak mau menikah.
Apakah yang akan dilakukan oleh Aurora.??
Apa dia akan mengadopsi seorang anak, atau memilih akan melakukan donor sp3rma.??
Ide gila tiba-tiba muncul dari dalam otaknya, ketika takdir mempertemukannya dengan seorang laki-laki yang bernama Enzo.
Mau tahu, apa yang akan di lakukan Aurora kepada Enzo.??
Dan bagaimana reaksi dari Enzo, ketika tahu jika Aurora hanya memanfaatkannya saja demi mendapatkan anak darinya.
Yuk, simak kisah mereka berdua di novel saya yang ke sekian, maaf jika nanti banyak typo🤗😉.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maria_azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEDEKATAN DICKIE - AURORA
Mau tidak mau, walau terpaksa, akhirnya Dickie pun membelikan juga lingerie sesuai ukuran yang Aurora minta.
Walau Aurora cuma minta lingerie saja, tapi Dickie tahu jika Aurora butuh pakaian ganti, akhirnya, dia pun membelikan beberapa pasang pakaian untuk Aurora yang ukurannya dia kira-kira saja.
Jangan lupakan, jika Dickie juga membelikan pem64lut untuk Aurora, dari berbagai merek dan ukuran.
Cukup malu ketika Dickie sang Dokter kandungan yang tampan dan mapan, harus membeli kebutuhan pokok milik wanita, tapi tidak tahukah Dickie, jika para kaum hawa justru merasa senang dan ingin mempunyai pasangan sepertinya yang mau membeli itu semua.
" Untuk istrinya ya Tuan?? ," kata salah satu pengunjung super market kepada Dickie.
" Iya Nyonya ," jawab Dickie dengan ramah.
" Waaah, beruntung ya yang jadi istri Tuan, Tuan sampai mau membelikan pem64lut untuknya ," puji dari wanita tersebut.
" Nyonya bisa saja, saya permisi dulu ya Nyonya ," jawab Dickie kepada wanita itu.
Akhirnya, setelah menahan perasaan campur aduk, Dickie pun sampai juga di rumah mewahnya.
Sesampainya di rumah mewahnya, dia masuk sambil mencari Aurora, namun tidak ada jawaban sama sekali.
" Di mana Aurora?? ," tanya Dickie pada dirinya sendiri.
" Ra,?? Aurora?? ," panggil dari Dickie lagi.
Dickie mencoba mencari ke ruang Keluarga, dan ketemu juga akhirnya, jika Aurora sedang tidur meringkuk di sofa yang ada di situ sambil memegangi perutnya.
" Astaga Aurora, kamu kenapa?? ," tanya Dickie kepada Aurora.
" Dickie, perutku sakit sekali ," jawab Aurora sambil merintih kesakitan.
Di rumah sakit, Dickie memang di tugaskan untuk merawat Aurora, walau bukan dia yang tadi bertugas mengkuret Aurora, tetap saja pekerjaan memeriksa pasien seperti Aurora, bagi Dickie sudah hal biasa dan bukan hal yang tabu lagi baginya.
Dickie yang mendengar perkataan dari Aurora, dan wajah Aurora pun juga terlihat cukup pucat, dia langsung saja menyuruh Aurora untuk tidur terlentang.
Setelah itu, Dickie lalu membuka celana yang di pakai oleh Aurora, hingga memperlihatkan bagian tersensitif milik Aurora.
" Maaf Aurora, tolong bukalah sedikit lebar kaki kamu ," kata Dickie kepada Aurora.
Aurora langsung saja membuka ke dua kakinya dengan sangat lebar sekali, supaya mempermudah Dickie memeriksa miliknya.
" Tunggu sebentar Aurora, aku mau cuci tangan dulu, sekalian mengambil peralatan tugasku ," kata Dickie kepada Aurora.
Aurora hanya diam, sedangkan Dickie segera mengambil peralatan Dokternya dan juga kotak P3K miliknya.
Dickie yang sudah mengambil yang dia butuhkan, dia langsung saja segera memeriksa Aurora.
" Maaf Aurora, akan aku lihat sebentar milik kamu ini ," kata Dickie sambil melihat surga dunia milik Aurora.
Walau malu, Aurora tetap menahannya sekuat hati, ketika miliknya di buka seperti itu oleh Dickie menggunakan jari-jari tangannya.
Dickie melihat jika ada perdarahan ringan di v491n4nya Aurora, dan itu adalah hal yang wajar bagi wanita yang baru saja melakukan kuret.
Setelah Dickie bersihkan darah yang ke luar itu, dia lalu membantu Aurora untuk memakai celananya kembali, dan Dickie juga memberikan obat untuk menghentikan perdarahannya Aurora.
" Akan aku ambilkan minum sebentar ," kata Dickie sambil berlalu menuju ke arah dapur.
Dickie yang sudah mengambil air minum, dia lalu membantu Aurora untuk meminum obat pereda rasa nyeri dan perdarahan yang dialaminya.
Setelah meminum obatnya, Dickie membantu Aurora untuk pindah ke dalam kamar tamu.
" Istirahatlah malam ini di sini, akan aku siapkan makanan untuk kamu, tadi aku sudah membelinya di luar ," kata Dickie kepada Aurora.
" Dickie ," panggil Aurora.
" Iya ," jawab Dickie.
" Terimakasih atas bantuan kamu ," kata Aurora kepada Dickie.
" Sama-sama, tunggu sebentar ," jawab Dickie.
Aurora hanya mengangguk saja, dan Dickie berlalu ke luar dari dalam kamar untuk mengambilkan makanan yang tadi sudah dibelinya.
" Apakah kamu bisa makan sendiri Aurora?? ," tanya Dickie kepada Aurora.
" Bisa, terimakasih ," jawab Aurora sambil berusaha duduk dari rebahannya.
Dickie yang melihat, dia langsung membantu Aurora yang ingin duduk.
" Kenapa kamu selalu berterimakasih kepadaku Aurora, aku cuma membantu seseorang yang memang membutuhkan bantuanku ," kata Dickie sambil duduk di sebelah ranjang.
Mereka lalu menikmati makanan mereka sambil berbincang santai.
" Aku tidak percaya dengan yang namanya laki-laki Dickie, bahkan kepada Ayahku sendiri, karena setiap laki-laki yang aku kenal, mereka semua selalu mempunyai pikiran busuk, tapi hanya satu laki-laki yang sangat aku segani dan cukup dekat denganku ," cerita Aurora sambil menikmati makanannya.
" Siapa laki-laki yang beruntung itu Aurora?? ," tanya Dickie sambil menjadi pendengar yang baik.
" Ayah dari sahabatku, dia sudah menyayangiku sama seperti anaknya sendiri, terlebih lagi semenjak Mamaku meninggal sepuluh tahun yang lalu, ke dua orang tua dari sahabatku itulah yang sudah merawatku ," jawab Aurora sambil menunduk untuk menyembunyikan kesedihannya.
Dickie bisa melihat, semakin mengenal Aurora, ada banyak luka di matanya, namun Dickie tidak berani banyak bertanya, karena mereka baru saja saling kenal.
" Emm, jika boleh tahu di mana Ayah kandung kamu Aurora, apakah dia sudah meninggal juga sama seperti Mama kamu?? ," tanya Dickie dengan sangat hati-hati sekali, takut menyinggung perasaannya Aurora.
" Bagiku dia sudah meninggal sejak aku masih kecil Dickie, karena dia tega meninggalkanku dan Mama, hingga kami harus pindah ke desa, sebab dia memilih selingkuhannya yang seorang janda kaya ," jawab jujur dari Aurora.
" Apakah kamu tidak mempunyai saudara Aurora?? ," tanya Dickie lagi.
" Tidak, aku anak tunggal ," jawab Aurora.
" Lalu, selama ini semenjak Mama kamu meninggal, kamu bekerja di mana untuk menghidupi keseharian kamu?? ," tanya Dickie untuk kesekian kali.
" Aku mempunyai tanah kosong di belakang rumah, di tanah itu aku tanami sayuran dan buah-buahan, sayur dan buah-buahan itu aku petik beberapa hari sekali untuk ku jual di pasar, dan hasilnya cukup untuk memenuhi kebutuhanku ," jawab Aurora.
" Untuk menambah penghasilan, aku juga masih mempunyai domba peninggalan dari Mamaku dulu, yang dia beli dari uang tabungannya, domba itu aku rawat, aku gembala di padang rumput, supaya sehat dan bisa beranak pinak, begitu terus kegiatanku sampai sekarang ," kata Aurora lagi.
Ada rasa bangga, dan tidak menyangka, jika gadis yang terlihat lemah di matanya, ternyata seorang gadis tangguh yang melewati hidup sebatang kara, tanpa mau menerima belas kasih dari orang lain.
" Aku salut denganmu Aurora, kamu bisa setegar dan setabah ini menjalani hidup sendirian, sedangkan aku,?? yang masih hidup berkecukupan, tapi sudah seperti orang gila ketika di tinggal pergi selama-lamanya dari Keluargaku ," kata Dickie kepada Aurora.
" Jangan memujiku Dickie, karena sejujurnya aku sudah tidak sanggup menjalani hidup yang sangat berat ini, tapi bagaimanapun juga aku harus tetap menjalaninya dan melanjutkan hidupku ," kata Aurora.
Dickie yang sudah menahan rasa penasaran yang cukup mendalam sejak di rumah sakit tadi, tentang apa hubungannya dengan Enzo, akhirnya Dickie juga memberanikan diri untuk bertanya kepada Aurora tentang masalah itu.
Dan Aurora yang mendapatkan pertanyaan seputar Enzo, dia langsung menghentikan mengunyahnya sambil menatap lekat ke arah Dickie.
" Jika kamu tidak mau bercerita tidak apa-apa Aurora, maafkan aku yang sudah terlalu ingin tahu siapa kamu ," kata Dickie merasa tidak nyaman di tatap seperti itu oleh Aurora.
Aurora tidak banyak berbicara, dia masih menatap Dickie dengan tatapan yang emm entahlah, bahkan Dickie sendiri tidak bisa mengartikan arti tatapan Aurora kepadanya.
...✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️...
...***TBC***...