Hati Lilian hancur seketika setelah sang suami, "Alen" kembali dari dinas di luar kota membawa seorang perempuan hamil bersama nya.
"Siapa wanita itu mas? Kenapa kau membawanya pulang ke rumah kita?"
Tiga tahun pernikahan Lilian tidak memiliki anak, karena itu ia memiliki untuk mengabdi sebagai menantu, ipar serta istri yang baik di keluarga "Bayron" ia tidak pernah membocorkan tentang siapa dirinya dan siapa keluarganya, sehingga mereka semua menganggap Lilian sebagai yatim piatu yang tunduk dan patuh.
"Dia istri asisten ku, sesuatu terjadi di luar kota, asisten ku meninggal karena menyelamatkan ku dan sekarang istrinya hanya punya aku dan keluarga ini untuk melanjutkan hidup, atas wasiat asisiteku dia meminta ku untuk menjaga anak dan istrinya,"
Dilanda keputusan suami yang begitu menyakitkan, akan kah Lilian tetap bertahan? Apalagi setelah kedatangan wanita itu, Alen selalu mengabaikan nya.
Penasaran? Ayo baca kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Benar saja, tak lama setelah sang mata-mata yang saat ini sudah berubah menjadi sopir pribadi nya Lilian mengatakan kalau sebentar lagi mereka akan sampai, kini mereka benar-benar sudah sampai.
"Dimas" nama panggilan ini mungkin lebih cocok di sebut untuk sang mata-mata, karna tidak mungkin selamanya kita akan menyebut atau memanggil nya dengan kata sang mata-mata.
"Nona, kita sudah sampai," ucap Dimas yang saat ini memberhentikan mobilnya tepat di depan gerbang mansion.
"Kau tidak masuk ke dalam?" tanya Lilian yang sedikit bingung dengan Dimas, karena dia hanya mengantarkan Lilian sampai ke depan gerbang saja.
"Maaf nona, aku masih punya tugas lain dari tuan besar, jadi aku tidak bisa menemanimu masuk ke dalam," ucap Dimas lagi.
"Baiklah, aku paham," jawab Lilian yang kemudian beranjak turun dari mobil.
Setelah membantu Lilian menurunkan koper dari bagasi, Dimas pun tancap gas dan menghilang dari sana bersama mobil nya, entah tugas apa lagi yang dia kemban.
Setelah kepergian Dimas, Lilian sendiri malah bingung harus mulai dari mana, selama lima menit ia hanya menatap gerbang besar itu sambil memegang gagang koper dengan erat, ada rasa gelisah di hatinya, terutama rasa malu yang sangat besar untuk menghadapi kakak dan juga papa.
"Dulu aku menentang keluarga ku hanya demi seorang laki-laki, tapi sekarang aku malah kembali lagi ke sini, kecerobohan yang sudah aku perbuat membuat diriku sendiri merasa tidak pantas menjadi bagian dari keluarga ini," batin Lilian.
Namun di saat ia memikirkan semua itu, pintu gerbang pun terbuka secara tiba-tiba, Lilian sedikit kaget karena dia belum sempat mengetuk untuk meminta penjaga membuka nya.
Semakin besar bukaan pintu gerbang tersebut, semakin besar pula debaran di dada Lilian.
Sosok pria paruh baya yang sudah selama tiga tahun tidak ia temui kini berdiri tegak di hadapannya sambil menatap Lilian dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"P-papa," lirih Lilian dengan mata berkaca-kaca.
Wajah tua yang sudah semakin keriput itu kini melukis kan senyum puas yang tampak lega. Papa Ardan tidak mengatakan sepatah kata pun, dia hanya merentangkan kedua tangannya menunggu Lilian berlari kedalam pelukannya.
"Papa!" jerit Lilian yang sebenarnya sangat merindukan sang papa, ia segera berlari dan menghambur kedalam pelukan orang tua itu.
Rasa sedih, menyesal dan rasa-rasa lainya kini bercampur menjadi satu membuat Lilian menangis sampai terisak.
"Maafkan aku ma," lirih nya sambil menahan tangis.
"Sudahlah, papa sudah tau semuanya dari Dimas, jangan banyak bicara, lupakan semuanya, papa sudah lama memaafkan mu, sudah hampir pagi ayo masuk dan istirahat," bujuk sang papa sambil membalas pelukan sang putri.
Tiga puluh menit kemudian,
Setelah melepas haru dan juga rindu mereka berdua pun memutuskan untuk masuk ke dalam mansion, saat pintu utama mansion terbuka, seluruh pelayan yang berjejer rapi memberi salam hormat kepada Lilian.
"Selamat datang kembali nona Lilian," ucap mereka sambil sedikit membungkuk hormat.
"Lilian adalah anak perempuan ku satu-satunya, kini dia sudah kembali, kalian harus menjaga dan merawatnya dengan baik," instruksi papa Ardan.
"Siap tuan besar," jawab mereka serempak.
"Pa, tidak perlu seperti ini," ucap Lilian sedikit canggung karena sudah lama tidak di perlakukan layaknya seorang nona dari keluarga kaya.
"Karena sudah kembali, jangan banyak membantah, lupakan kebiasaan mu itu yang sudah lama tingal di keluarga miskin, ini sudah malam sebaiknya kau kembali ke kamar dan istirahat, besok kita akan bertemu lagi di meja makan," ucap sang papa lagi sambil memegang pundak Lilian.
"Tapi pa, aku masih sangat merindukan mu," rengek Lilian yang merasa tidak ingin berpisah dari papa nya.
"Mulai sekarang kau akan selalu ada di keluarga ini, kita akan selalu bertemu, lihat lah tubuh kurus kering mu ini, kau harus istirahat," bujuk papa Ardan.
"Tapi aku belum bertemu kak Karen," ucap Lilian sambil mengerutkan keningnya.
Sang papa terdiam, para pelayan yang mendengar itu juga saling pandang satu sama lain.
"Masih ada waktu besok, kau, antarkan nona ke kamar," ucap papa Ardan menunjuk salah satu pelayan untuk mendampingi Lilian kembali ke kamar nya.
"Tapi pa," ujar Lilian lagi.
Sang papa menggeleng dan kemudian berlalu pergi menuju kamar nya yang ada di lantai bawah, sudah setua itu dia tidak ingin menaiki tangga atau lift untuk aktifitas apapun kecuali sangat penting.
"Nona, sudah larut sekali, ayo," sang pelayan mengambil alih koper Lilian dan kemudian membawanya pergi.
Lilian yang melihat itu mau tidak mau harus mengikutinya, namun ada satu yang membuat Lilian merasa sedikit nyaman, di dalam mansion tidak ada satupun yang berubah, semuanya masih sama seperti dulu tidak ada yang berbeda sedikitpun.
Mereka memasuki lift untuk menuju lantai atas dimana kamar Lilian berada.
"Selamat istirahat nona, kalau begitu aku permisi," ucap sang pelayan yang kemudian berlalu pergi setelah mengantar Lilian tepat di depan pintu kamar tersebut.
Lilian kembali menarik nafas panjang dan kemudian dengan sedikit gemetar tangan nya memegang gagang pintu kamar tersebut lalu mendorong nya, ternyata bukan hanya bagian luar ruangan, kamar nya pun masih sama seperti sebelumnya, tidak ada yang berubah, meskipun tidak di huni tapi kamar tersebut sangat bersih, pelayan membersihkan nya setiap satu Minggu sekali meskipun tidak kotor.
"Papa dan kakak benar-benar tidak mengubah apapun," lirih Lilian sambil berjalan menelusuri kamar tersebut dan melihat sekeliling.
Karena gerah dan lelah, ia pun segera meletakan koper di sudut lemari, mengambil handuk lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk segera mandi dan setelah itu istirahat.
Sementara itu di kamar Karen.
Karen tau kalau sang adik telah tiba di mansion, tapi sepertinya dia sama sekali tidak berniat untuk menemui Lilian, seperti biasa, dia hanya duduk dan bersandar di kepala ranjang king size nya sambil bermain ponsel, wajah nya datar, tidak ada yang bisa menebak sifat dan apa yang sedang dia pikirkan saat itu.
Namun tak lama kemudian pintu kamar nya di ketuk dari luar oleh seseorang.
Tok... Tok... Tok...
"Siapa?" ucap nya dengan suara pelan.
Seorang pelayan membuka pintu setelah mendengar jawaban dari Karen. "Saya tuan," ucap nya.
"Ada apa?" tanya Karen singkat.
"Tuan besar menunggu di ruang kerja nya," jelas sang pelayan lagi.
"Sudah selarut ini, papa masih belum tidur?" ucap Karen sambil mengerutkan keningnya.
"Beliau meminta tuan muda turun dan menemui nya," ucap sang pelayan sambil menunduk.
"Baik," jawab Karen tanpa penolakan.
Sepuluh menit kemudian.
Karen dengan kursi roda nya kini tiba di depan pintu ruang kerja sang papa, seseorang yang ada di sana membuka pintu dan mempersilahkan Karen masuk dan kemudian kembali menutup nya.
Bersambung...
rasa rasa enakan kan ketika ada Lilian,,,uang lancar dapur ngebul rumah bersih,,,tapi kalian jahat lupa semua itu sumbernya dari mana dan merdeka' Lilian kalian kelaparan kapokkk Modarrrr,,,Karin tinggal di mana kalau di Jawa Surabaya ,,,naik saja kereta exekutif gubeng gambir,,,jawa tengah naik argo lawu ,,,
👍👍👍👍