NovelToon NovelToon
Bukan Menantu Sampah

Bukan Menantu Sampah

Status: tamat
Genre:Menantu Pria/matrilokal / Tamat
Popularitas:413k
Nilai: 4.6
Nama Author: tompealla kriweall

Dianggap sebagai seorang sampah karena tidak memiliki pekerjaan dan bodoh, membuat Abiyasa harus berpikir ulang.

Abiyasa—selepas dari kecelakaan akibat orang lain mengincar nyawanya, siapa sangka dia mendapatkan sebuah kemampuan. Semacam kekuatan Forecast yang berguna untuk memperkirakan informasi yang bersifat prediktif dalam menentukan arah di masa depan.

Dengan kemampuannya itu, Abiyasa membuktikan diri bahwa dia tidak bisa dikatakan sebagai seorang sampah lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melawan

Ketika Abiyasa mendengar suara berisik di kamarnya, ia merasa tidak nyaman dan segera keluar untuk mengecek keadaan. Setelah keluar, Abiyasa kaget melihat bahwa Ajeng telah disekap oleh Yayan.

"Siapa kamu? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Abiyasa dengan geram.

"Hahaha... Aku akan membunuhnya, setelah itu giliranmu!" Yayan berkata dengan sombongnya, mengarahkan pisau ke arah leher Ajeng.

"Aku tidak akan membiarkanmu melukainya!" Abiyasa merasa geram melihat Ajeng disekap dengan diancam pisau yang ada di lehernya.

Cepat Abiyasa teringat dengan penglihatannya tentang Ajeng yang meninggal dunia dalam keadaan tragis. Dan setelah diperhatikan pakaian yang dikenakan oleh Ajeng, Abiyasa semakin yakin bahwa apa yang dilihatnya tentang situasi ini akan terjadi hari ini.

Untuk bisa mengubah keadaan Ajeng, Abiyasa harus bertindak melawan Yayan dengan melupakan perannya yang biasanya sebagai orang yang bodoh dan idiot. Kali ini dia harus menunjukkan keberanian dan kekuatan yang luar biasa, keluar dari peran yang selama ini dilakukannya.

"Cuihhh! Ternyata dugaanku benar. Hahaha... dasar pembohong!"

Yayan akhirnya tahu kebenaran tentang Abiyasa yang memang tidak idiot. Ini sama seperti kekhawatiran Aji dan laporan yang dia berikan atas tugasnya.

"Tidak usah banyak bicara!"

Hup bug dag bug

Saat Abiyasa menyerang Yayan untuk menyelamatkan Ajeng dengan tangan kosong, Yayan membawa pisau yang tadi digunakan untuk mengancam Ajeng. Sedangkan Ajeng meringkuk dalam keadaan terikat dengan tali di sudut ruangan.

Abiyasa marah melihat Ajeng dalam keadaan seperti itu. Dia merasa bahwa dia harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Ajeng, dan dengan cepat melompat ke depan untuk menyerang Yayan.

Abiyasa menyerang Yayan dengan pukulan tangan kanannya yang keras dan tajam ke arah mata Yayan yang separuhnya telah buta. Ini diketahui Abiyasa dari penglihatannya saat memegang tempat duduknya Yayan di halte yang berada di dekat kantor polisi.

Pukulan Abiyasa terarah lagi ke arah dada Yayan dengan kuat, membuat Yayan tersungkur ke lantai dan kehilangan pegangan pada pisau. Abiyasa kemudian mengambil pisau dari tangan Yayan dan melemparnya ke tempat yang jauh, sehingga Yayan tidak bisa menggunakannya lagi.

Sementara itu, Ajeng terus menangis dan berteriak ketakutan di sudut ruangan. Abiyasa mengambil tali yang digunakan untuk mengikat Ajeng dan dengan cepat membebaskannya. Setelah Ajeng dibebaskan, dia langsung berlari ke arah Abiyasa dan memeluknya dengan erat, merasa sangat lega dan berterima kasih karena Abiyasa telah menyelamatkannya dari bahaya.

"Terima kasih, Mas Abi. Hiks hiks hiks..."

"Kamu tunggu di sana, ya!"

Meskipun dalam keadaan masih sangat ketakutan, Ajeng yang terkejut dengan keadaan Abiyasa hanya bisa menurut. Sementara Yayan sendiri sudah kembali bangun dan bersiap untuk menyerang Abiyasa lagi.

Saat pertarungan antara Abiyasa dengan Yayan, Ajeng terus menangis dan menjerit ketakutan. "Awas, Mas Abi!"

Dug bug bug

Srett

"Agrhhh..."

Abiyasa memukul dengan keras tepat pada rahang Yayan, membuatnya merasa sangat pusing dan sakit di kepalanya. Sayangnya Yayan terhuyung-huyung ke tempat pisaunya tadi terlempar, membuatnya tersenyum penuh kemenangan karena mendapatkan senjata untuk melawan Abiyasa.

"Kau berani melawan aku? Kau tahu siapa aku?" tanya Wawan dengan seringai meremehkan.

"Aku tidak peduli siapa kau! Aku hanya melindungi orang yang memang seharusnya aku lindungi, karena dia adalah istriku!" Abiyasa tidak merasa gentar.

"Kau bodoh dan lemah! Kau tidak bisa mengalahkan ku! Hahaha..."

Yayan tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Abiyasa yang menurutnya membual saja. Dia adalah mantan atlet bela diri, jadi tidak mungkin kalah dengan Abiyasa yang biasanya bodoh.

"Kau salah besar, Yayan. Aku bisa mengalahkan mu jika aku mau, dan sekarang mari kita buktikan!"

Sepersekian detik Yayan merasa terkejut karena Abiyasa mengetahui namanya. Tapi secepat mungkin dia tetap tersenyum sinis mengejek dan meremehkan Abiyasa.

"Kau akan menyesal telah mencampuri urusanku dan berani melawanku!" teriak Yayan dengan tatapan mata yang tajam.

"Aku tidak akan menyesal melindungi Ajeng dari orang seperti kamu!"

Setalah itu keduanya kembali berkelahi, mengunakan tendangan demi tendangan serta pukulan yang mematikan lawan.

Abiyasa menangkap tangan Yayan yang memegang pisau, kemudian mengarahkan ke dalam saat dia berada di samping sehingga pisau tersebut menusuk perutnya Yayan sendiri.

"Arghhh... F*ck!"

Suasana semakin panas, apalagi Yayan terus mengeluarkan makian, teriakan, dan ancaman. Namun, Abiyasa tetap mempertahankan tekadnya untuk melindungi Ajeng dan juga dirinya sendiri, sementara Yayan merasa terancam dan marah karena Abiyasa berhasil melukai dirinya dengan senjata yang dia pegang sendiri.

Setelah perutnya terluka, gerakan Yayan saat menyerang Abiyasa tidak terarah. Dia sudah dikuasai emosi untuk segera mengalahkan Abiyasa, sehingga membuatnya tidak fokus saat melakukan gerakan menendang maupun saat memukul, sehingga Abiyasa bisa mengambil kesempatan.

Hal ini membuat Abiyasa mendapatkan angin segar untuk menyerang dan kembali melukai Yayan, dengan pukulan keras yang mengenai luka pada perutnya Yayan.

Bug

"Agrhhh..."

Brakkk

Tubuh Yayan terpental dan menebak meja, membuatnya jatuh dengan memegangi perutnya yang bertambah lebar pada lukanya. Darah terus keluar dari luka perutnya.

Ajeng menutup mata saat melihatnya. Dia tidak sanggup untuk melihat banyak darah yang berceceran, membuat bau anyir menyengat indra penciumannya. Tapi dia tidak bergerak dari tempatnya jongkok, menunggu Abiyasa yang masih berurusan dengan Yayan.

"Terpaksa aku menghabisimu, br3ngs3k!"

Srett srett srett

Currr...

Pisau milik Yayan, kini digunakan Abiyasa untuk menghabisi nyawa Yayan sendiri. Darah mengalir dari leher, dada dan perut Yayan, hingga ruang tamu tampak seperti rumah jagal hewan ternak.

Abiyasa berhasil mengalahkan Yayan.

Ajeng berlari memeluk Abiyasa dengan erat, merasa bersyukur bahwa dia memiliki seseorang seperti Abiyasa di sisinya.

Setelah pertarungan selesai, Abiyasa dan Ajeng duduk bersama untuk membicarakan apa yang telah terjadi. Ajeng merasa sangat terkejut dan terharu dengan tindakan Abiyasa yang heroik, karena dia selalu menganggap Abiyasa sama seperti orang lain, yang menganggapnya sebagai orang yang bodoh dan tidak bisa diandalkan. Namun, kali ini Abiyasa telah membuktikan bahwa dia bisa menjadi seseorang yang kuat dan tangguh.

"Hiks hiks hiks... terima kasih, Mas Abi."

"Sudah-sudah, Ajeng. Semuanya sudah berakhir sekarang. Kamu aman sekarang." Abiyasa menenangkan istrinya, dengan mengusap-usap pundak Ajeng.

"Terima kasih, Mas Abi. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi tanpamu. Hiksss..."

"Aku akan selalu melindungi mu, Ajeng. Aku tidak akan membiarkan orang lain menyakitimu." Abiyasa belum bisa membicarakan tentang keadaan dirinya yang sebenarnya.

"A-ku tahu. Ta-pi aku masih merasa takut. Aku tidak ini ingin terjadi lagi. Huwaaaa..."

Ajeng justru menangis dengan keras, mengingat kejadian tadi. Dia hampir saja menjadi korban pembunuhan orang yang tidak dia kenal, yang tiba-tiba datang dan masuk kemudian menyerangnya.

"Jangan khawatir. Semuanya akan baik-baik saja sekarang. Aku akan selalu ada untukmu."

Sekarang Ajeng melepaskan pelukannya pada Abiyasa, meneliti suaminya yang seperti orang lain dan jauh dari kata biasanya.

"Bagaimana kau bisa begitu berani, Mas Abi? Kau... biasanya bodoh dan lemah." Ajeng bertanya dengan heran.

1
Mazree Gati
untung baca endingnya dulu,,endingnya ga asik
Omah Tien
cewe nya jg lembek g bisa jg diri
Omah Tien
malas nya ko g tegas ya biar kaka kalu jahat gapain mau lembek gitu
Omah Tien
ko tulisan nya ulang2 sih
roy
Luar biasa
Manusia Biasa: hai kak Jangan lupa mampir di novel
s2 dari Rahmat

sistem analisis nilai bangkitnya sang penguasa bisnis
total 1 replies
Jakaria Hidayat
Lumayan
Edy Sulaiman
no coment, ...!"
Edy Sulaiman
Mc Bloon.
Edy Sulaiman
Abyyasa sebagai Mc nmpknya tetap dungu dan oon sdh dikasih kelebihan dlm melihat masadepan dan sebelumnya masih tidak nengetahui siapa musuhnya saat ini.
Edy Sulaiman
sebenarnya AuThor ingin menggambarkan sedikit situasi Hukum di Negara Konoha
Edy Sulaiman
memang dalam Novel Durasi permainan wkl...wik..wik...sgt panjang, berbanding terbalik di alam nyata...hhh..semangat thor jgn kasih kendor wik...wik... nya..
Edy Sulaiman
mantap dua jam apa gak lecet tuh Goa kenikmatan Ajeng....hhhh
Edy Sulaiman
kok dihilangkan mayatnya, Seharusnya Abi tak langsung membunuh Yayan,Yayan dilumpuhkan dan telepon Polisi.
Edy Sulaiman
Idiot bin Tolol Mcnya.
Deki Marsoni
waduh nih orang gak niat buat cerita ya
Deki Marsoni
lebayyy lu buat nih orang
Deki Marsoni
gak ngeh liat yg kayak gini,
Deki Marsoni
lah dalah tadi bisa diliat dgn CCTV on bukan di dapur, kok masih cari k dapur, aaannneh
Deki Marsoni
eleeeh kamu gak sadis om
Hadimulya Mulya
klo ini crita emang org idiot,bukan nyamar,nyatanya pintu. aja gk di kunci katanya takut ketahuan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!