"Single itu pilihan"
Usia 26 tahun, masih sendiri? Disaat semua sahabatmu sudah berstatus istri seseorang. Parahnya lagi adik sepupumu yang paling bungsu bahkan akan segera melangsungkan pernikahannya bulan depan. Nah kamunya kapan?
Lavanya pusing dengan berbagai pertanyaan yang silih berganti datang kepadanya. Kenapa semua orang meributkan masalah asmaranya? Lavanya sih santai. Iya santai (dulu). Orangtuanya tuh, apalagi para ibu-ibu keluarga Ayahnya yang selalu menyindirnya gak laku. Kan kesal. Ditambah perilaku atasannya yang mendadak berubah menjadi seorang stalker. Bayangkan kemanapun Lavanya pergi pasti dan pasti ketemu si singa itu lagi.
Demi Tuhan Lavanya tidak mau menjadi pelakor. Pak Bosnya itu sudah punya istri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KHskyLine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Sang Singa
Tring.
From: +62812-xxxx-xxxx
Kita harus bicara, Vanya. Malam ini, aku tunggu di tempat kita bertemu tadi.
Nafsu makan Lavanya menguap seketika. Pesan dari nomor tak dikenal itu memicu memori kelam dari enam tahun silam. Meski nomornya baru, Lavanya bukan anak kecil yang bisa dibodohi. Ia tahu persis siapa pemilik gaya bahasa sok penting itu.
Dulu, mungkin ia akan melonjak kegirangan. Tapi sekarang? Maaf saja, Lavanya sudah resmi menjadi penganut Anti-Baper-Baper Club. Cukup sekali ia dilambungkan ke Pluto hanya untuk dijatuhkan ke kerak bumi.
Blokir. Bombayah, hus hus! Lavanya tersenyum sinis sambil memasukkan ponsel ke saku.
Ia berdiri, berniat mencari "Bu Cita". Manajer resort kepo itu biasanya muncul tanpa diundang, tapi kenapa sekarang batang hidungnya tak terlihat?
Lavanya melangkah ke meja resepsionis dan menghampiri petugas berkacamata di sana. "Permisi, Mbak. Saya mau tanya, Bu Cita ke mana, ya?"
Resepsionis itu tersenyum sopan. "Maaf, Mbak, Bu Cita itu siapa, ya?"
Lavanya mematung. "Lho, Bu Cita manajer resort ini, Mbak. Masa Mbak nggak tahu atasan sendiri?"
Petugas itu membetulkan letak kacamata yang melorot, lalu menggeleng pasti. "Maaf sekali, Mbak. Selama tiga tahun saya bekerja di sini, tidak ada manajer yang bernama Cita."
Gotcha! Lavanya mendidih. Ternyata gue dikadalin cewek Arab itu!
"Tolong jujur ya, Mbak," Lavanya menatap tajam petugas itu. "Jadi, siapa sebenarnya manajer resort ini?"
"Bapak— Selamat siang, Pak Leo!" Tiba-tiba petugas itu membungkuk dalam, menyapa sosok yang muncul di belakang Lavanya.
"Pak Leo?" Lavanya bergumam heran, lalu berputar.
Duar! Bagai tersambar petir di siang bolong, nyawa Lavanya serasa melompat dari raga. Di depannya berdiri seorang pria gagah dengan jaket hitam dan koper limited edition di tangan kiri. Sosok otoriter yang seharusnya berada di Jakarta.
"Bapak... kok di sini?"
Mata bernetra cokelat gelap itu menatapnya tajam, sedingin es. "Saya mendapat laporan tentang kelalaian kamu dalam menjalankan tugas."
Suara berat dan penuh ancaman itu sukses membuat nyali Lavanya menciut 100%.
"Bukankah sudah saya bilang, ikuti kemauan manajer resort ini, Lavanya!"
Sip. Lavanya kehilangan seluruh kata-kata untuk membela diri.
"Sekarang, tunjukkan kamar kamu. Saya butuh tempat untuk istirahat," perintahnya mutlak.
"Eh?" Lavanya berjengkit kaget. "Numpang istirahat di kamar saya, Pak?"
Leo maju satu langkah, memangkas jarak hingga Lavanya bisa mencium aroma maskulin yang mengintimidasi. "Kamu lupa saran saya? Jernihkan isi kepalamu selama di sini. Saya hanya butuh tempat tidur sementara. Bukan mau tidur dengan kamu," tandasnya dengan senyum mengejek yang membuat harga diri Lavanya amblas.
Lavanya menahan napas, berjalan mengekor di belakang pria yang telah menjadi bosnya selama satu tahun lebih itu. Ia sengaja menjaga jarak aman.
Gila, bau parfumnya bikin gue mabok!
"Berjalan di samping saya. Kamu kira saya tahu di mana kamarmu?" Suara berat Leo terdengar penuh kesal.
Lavanya buru-buru menyusul, meski tetap menjaga jarak sekitar satu meter. Leo mengerutkan kening. "Kamu sedang menyindir saya?"
"Gak di Jakarta, gak di Lombok, sensian mulu," gumam Lavanya pelan sebelum menjawab keras, "Hmm, maaf sebelumnya Pak, hidung saya sedikit sensitif sama bau parfum Bapak."
Leo menoleh, alisnya bertaut. "Kamu mau bohongi saya? Jelas-jelas kemarin kamu bilang suka."
Lavanya melongo. "Suka, Pak. Tapi kalau baunya semenyengat ini, hidung saya jadi gatal," jawab Lavanya serius. Ia curiga bosnya ini menumpahkan satu botol parfum ke badannya. "Jadi saya jalan di belakang saja ya, Pak. Nanti saya arahkan beloknya."
Leo mendengus. "Terserah."
Lavanya tersenyum menang. Setidaknya ia terbebas dari "pelet" visual dan aroma si Singa Jantan ini. Namun, senyumnya sirna saat mereka sampai di depan pintu kamar.
"Buka." Satu kata perintah yang membuat bulu kuduk Lavanya berdiri.
"Bapak... yakin mau numpang tidur di kamar saya?" tanya Lavanya dengan suara bergetar saat merogoh saku mencari kartu akses.
"Perlu berapa kali saya ulangi supaya pesan itu masuk ke otakmu?"
Lavanya meringis. Tinggal jawab yes or no aja kok ngengas. "Sabar, Pak. Saya kan cuma bertanya, siapa tahu Bapak berubah pikiran mau pindah ke kamar mewah yang lain."
Lavanya menempelkan kartu. Bunyi klik pintu terbuka terdengar seperti lonceng kematian bagi ketenangannya. Selamat datang di babak baru: Terjebak bersama Pak Singa di kamar sendiri.
🦁🦁🦁
love you author....
ditunggu kelanjutannya ya author yg cantik dan baik hati.jgn kelman ya?
semangat...
semangat...
semangat....