15 tahun Saint dan Ae mengarungi biduk rumah tangga yang awalnya bahagia dan di penuhi dengan kehangatan kini justru berubah 130° di karenakan sang suami menemukan cinta baru dari wanita muda dengan paras menawan, bahkan suaminya dengan santai membawa wanita itu tinggal bersama sama tanpa adanya ikatan di antara mereka. Saint ingin menolak dan berontak, tapi Ae suaminya selalu mengancam dan akan memisahkan dirinya dengan sang anak jika tetap bersikeras, akhirnya Saint terperangkap dalam situasi yang benar-benar mengguncang dirinya di mana ia harus tetap bertahan mengingat ia hidup sebatang kara selama ini. Hingga kejadian yang tidak pernah di bayangkan menimpa mereka saat liburan, kegaduhan dan mencekam membawa hidup Saint ke lembah kesakitan berkepanjangan. Apakah Saint akan tetap bertahan demi anak-anaknya atau pergi mencari kebahagiaan lain di luar sana.
Silakan baca selengkapnya kakak😅🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nenet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keadaan yang sebenarnya
Chommpo dengan cemburu menghalau Ae yang tengah menggendong Saint di iringi Pasiri, Nana dan Perth berjalan dengan tergesa-gesa menuju pintu.
"Aku harus membawa Saint ke rumah sakit. "
Mendengar semua itu dengan ringkas Chommpo berjalan lebih dulu ke arah pintu lalu menghalangi langkah Ae.
"Tidak perlu, biarkan saja dia mati, untuk apa kau membawanya ke rumah sakit segala."
Ae benar-benar tidak bisa berfikir karena di sana tangisan Nana dan Perth membuat dirinya semakin panik melihat kondisi Saint.
"Minggir Chommpo! Saint bisa kehabisan darah jika kau seperti ini."
Chommpo menggeleng sambil menghalangi muara pintu hingga Ae tidak bisa keluar.
"Aku tidak akan membiarkannya, "tukas Chommpo tidak peduli, karena baginya keadaan ini sangat menguntungkan dan dirinya tidak perlu terlalu lama menunggu Perth mendaftarkan gugatan ke pengadilan jika Saint meninggal kehabisan darah.
"Tuhan nona, tolonglah beri jalan untuk tuan, kasian nyonya Saint, "mohon Pasiri agar Chommpo mau memberi jalan untuk mereka, karena keadaan Saint semakin pucat dan pendarahannya semakin parah.
Chommpo hanya tersenyum sinis sambil memandangi wajah pucat Saint serta darah yang terus mengalir deras dari luka di lehernya.
"Apa peduliku, justru aku senang jika dia mati di sini, agar aku dan Ae segera menikah tanpa harus menunggu mereka bercerai."
Seketika kekesalan Ae muncul karena Chommpo berbicara tidak sewajarnya bahkan Chommpo begitu egois dan hanya memikirkan dirinya sendiri sambil tetap menghalangi muara pintu.
"BERHENTILAH BERSIKAP SEPERTI ANAK-ANAK CHOMMPO! BISAKAH KAU TIDAK EGOIS SEPERTI INI! SAINT HARUS SEGERA DI BAWA KE RUMAH SAKIT. APA KAU MAU BERURUSAN DENGAN POLISI DAN DI TAHAN ATAS DASAR KELALAIAN, HAH...!"bentak Ae marah hingga Chommpo membulatkan mata, karena setelah berucap Ae menabrak bahunya dan berlalu begitu saja dan masuk ke dalam mobil lalu meninggalkan rumah itu.
"Oiiiih... satt! Kenapa wanita itu selalu membuat ku kesulitan mendapatkan apa yang aku mau! "histeris Chommpo kesal karena ia tidak bisa menahan Ae lebih lama di sana.
"Bibi tidak mengerti apa yang ada di dalam fikiran nona Chommpo hingga melakukan semua ini pada nyonya Saint, "ucap Pasiri sambil menuntun Nana dan Perth hingga Chommpo menganga karena ia tidak bisa membalas saat mereka meninggalkan dirinya seorang diri di sana.
...__________________________________...
Ae bergegas menghampiri Saint yang tengah berbaring di kursi belakang lalu menggendongnya dan berlari menuju ruang tindakan agar Saint segera di tangani oleh beberapa perawat dan dokter yang ada di sana.
" Tenanglah, operasi kecil yang kami lakukan pada Saint sudah usai, saat ini Saint tengah menjalani pemeriksaan lanjutan untuk lukanya. Meski luka itu tidak terlalu dalam dan tidak mengenai organ vitalnya. Tapi tetap saja, luka itu biasa saja membawa petaka jika terlambat atau tidak di tangani. "
Ae tertunduk dalam gelisah saat Push menjelaskan perihal kondisi Saint setelah menyambangi dirinya di ruang tunggu.
" Ae, aku sudah mencoba menghubungimu kemarin sebelum Saint pulang, tapi sayang ternyata nomor ponselmu tidak aktif. "
Sesaat Ae menatap Push lalu menghela nafas dalam karena memang ia sengaja mengganti semua nomor kontaknya setelah mengenal Chommpo, agar tidak ada orang lain mengganggu ataupun mengetahui apa yang sudah ia lakukan.
" Memangnya ada masalah apa? "
Push mengusap pundak Ae lalu tersenyum kecil, meski saat itu saudara sepupunya itu hanya membalas dengan wajah datar menatapnya, entah apa yang kini Ae pikirkan.
" Inilah tujuanku datang padamu saat itu. Agar kau memperhatikan Saint dengan baik, supaya kejadian yang tidak di inginkan tidak terjadi."
Ae mengingat kedatangan Push beberapa minggu yang lalu ke rumahnya saat dirinya tidak bisa mengelak apa-apa setelah saudara sepupunya itu mengetahui bahwa jika sudah mengkhianati dan menduakan Saint.
"Maksudmu." Ae tidak mengerti kenapa ia harus melakukan itu, meski ia tahu kondisi Saint sangat membutuhkan dukungan darinya.
"Jujur, selama Saint di rawat, dia sudah mengalami depresi Ae, meski masih tahap depresi ringan."
Sesaat suasana hening setelah Ae mendengar penjelasan Push prihal kondisi Saint selama di rawat di sana.
" Dan kini depresi yang ia derita ternyata semakin parah, bahkan bisa di katakan depresi berat karena ia tidak merespon ucapan dari siapapun yang ada di sekitarnya. "
Ae semakin kehilangan suara hingga Push lagi-lagi mengusap pundaknya perlahan lahan.
" Ae, aku tahu seperti apa kondisi keluargamu kini dan seperti apa pandangan Saint terhadap sikapmu padanya."
Ae sesaat menatap Push ingin tahu apa yang Push maksudkan dengan tanggapan Saint terhadap sikapnya selama ini setelah perselingkuhannya terbongkar, karena memang ia sengaja mengacuhkan dan tidak peduli pada Saint, karena ia merasa sudah tidak membutuhkan Saint setelah kehadiran Chommpo kekasihnya.
"Maksudmu apa? " penasaran Ae menunggu saat Push menatapnya dengan serius.
"Dia merasa tidak pantas, bahkan dia merasa memiliki banyak kekurangan hingga kau mengkhianatinya."
Ae lagi-lagi di buat bungkam karena ia pernah mengatakan semua itu beberapa bulan yang lalu pada Saint saat hubungannya dan Chommpo terbongkar.
"Ae, aku tidak tahu apa yang sudah terjadi setelah Saintl sampai di rumah, mengingat kondisi Saint sangat terguncang saat itu akibat mengalami kelumpuhan. Aku yakin pasti ada kejadian dan kata-kata cukup membuatnya semakin drop seperti ini."
Ae semakin membisu saat mengingat kembali ucapannya tadi malam, saat Saint menangis di hadapannya, karena itu tangis pertama Saint yang pernah ia lihat setelah hubungannya dan Chommpo terkuak.
"Kau pasti mengerti Ae, seperti apa perasaan seseorang yang terlahir sempurna tiba-tiba mengalami cacat permanen karena sebuah kecelakaan yang menimpanya. Dan inilah yang Saint alami dan yang terjadi pada Saint. Dia depresi Ae, karena tidak ada satu orang pun yang mendukungnya, terutama dirimu yang dia percaya dan dia cintai."
Ae benar-benar di buat bisu tanpa berani berucap ataupun bertanya, meski saat ini ia sangat ingin tahu kondisi Saint setelah mendengar penjelasan Push perihal keadaan istrinya.
"Baiklah, kau terlihat sangat lelah, lebih baik kau pulang saja," ucap Push menyudahi karena ponsel yang ada di saku celana Ae selalu bergetar menandakan ada panggilan masuk.
"Aku akan menunggunya sebentar lagi," singkat Ae dengan perasaan campur aduk hingga Push menggeleng karena wajah Ae benar-benar terlihat kacau.
"Pulang dan istirahatlah. Aku akan menjaganya, setelah kondisinya lebih baik aku akan menghubungimu. Kau pasti sudah ditunggu di rumahkan?"
Mendengar nasehat Push sesaat Ae kembali mengingat kejadian sebelum ia berangkat ke rumah sakit, karena ia dan Chommpo sempat berdebat .
"Baiklah, Aku titip Saint. "
Push mengangguk saat Ae berdiri lalu dengan langkah gontai menyusuri lorong rumah sakit setelah ia mendapatkan anggukan kecil dari saudara sepupunya itu.