Kematian Sang ayah yang membuat gadis ini takut dengan kehilangan orang-orang yang di cintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syifa Mahaeswari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.15 Kehidupan Lauren di rumah Mbok Sumi
Lauren di antarkan oleh tukang ojek menuju rumah mbok sumi.Rumah yang sederhana,udara yang sangat sejuk tetapi terasa nyaman.Lauren pun tiba di rumah Mbok Sumi,Mbok Sumi nampak berada di depan teras rumah nya sedang menumbuk padi.
"Mbok?"ucap Lauren.
Mbok Sumi menyempitkan mata nya memandang Lauren yang tidak begitu jelas dan tak mengenalinya.
"Siapa yah?"
"Ini Lauren mbok"
"Ya ampun non Lauren?Masya Allah mbok sampe pangling sama kamu,non?Udah tambah tinggi,cantik lagi...Ya ampun non...non Lauren kesini sama siapa?” sambil melihat sekeliling.
"Lauren kesini sendiri mbok.Aku kangen banget sama mbok" sambil memeluk mbok Sumi.
"Non Lauren masih ingat rumah mbok ya?mbok juga kangen banget sama non Lauren"
"Ya masih lah mbok,kan dulu waktu kecil aku sering di ajak Ayah untuk nganterin mbok kalau mau pulang.Apalagi waktu mbok pamitan yang terakhir kali aku inget banget saat aku menangis kejer nggak mau pulang mau nya tinggal disini"ucap Lauren.
"Ya ampun non...udah lama banget ya,mbok enggak ketemu sama non Lauren?Bagaimana kabar ibu sama Ayah non Lauren?”
”Mamah baik-baik saja mbok,tapi Ayah sudah meninggal mbok sudah hampir 1tahun ini mbok"
"Ya ampun maafin mbok ya non.Kamu yang tabah ya non Ayah pasti disana sudah bahagia.Ya udah masuk yuk non...begini nih di rumah enggak ada kerjaan jadi mbok cari kesibukan non..."
Mbok Sumi mempersilahkan Lauren untuk masuk ke dalam rumah nya.Mereka pun melanjutkan obrolan nya di dalam rumah.Tak berapa lama anak mbok Sumi datang lewat pintu belakang rumah.
"Yan... Yanti..ini ada non Laure,tolong buatkan non Lauren minuman,ndo?"
"Iya Mak" jawab Yanti anak mbok Sumi.
"Mbok boleh enggak Lauren sementara tinggal disini?Lauren bayar juga enggak apa-apa kok mbok?Lauren pengin merasakan keindahan di desa ini mbok”
"Ya boleh lah non...mbok malah seneng kalo non Lauren disini.Tapi maaf ya non...rumah mbok seperti ini"sambil tersenyum.
"Enggak apa-apa lah mbok,malah Lauren tuh dari dulu pengin nginep di rumah mbok.Tapi kan dulu Ayah enggak pingin merepot kan mbok.Lauren enggak ngrepotin mbok kan?”
"Ya enggak lah non,kaya sama siapa aja sih si non.Yan...Yan...tolong itu kamar kamu di bersihkan ya ndo,non Lauren pengin nginep disini ndo?”
Yanti pun keluar dan membawakan dua gelas teh untuk Lauren dan Ibu nya.
"Beneran toh non Lauren mau nginep disini?Nanti aku bersihkan kamarku dulu ya non?"
"Iya mba Yanti,,Maaf ya mba Yanti aku pinjem kamarnya dulu?"
"Tenang aja non,nanti aku ajakin non Lauren keliling desa ini yah.Mbok bilang non Lauren suka nglukis ya?Disini tuh pemandangan nya bagus non buat dilukis kalo bisa sih sekalian aja aku modelnya"ucap Yanti.
"Boleh mba Yanti nanti aku lukisin,tenang aja"jawab Lauren.
Mereka bercengkrama dengan sangat asyik nya,tanpa di rasa hari mulai sore.Makan malam yang sederhana sudah di siapkan Yanti.Hanya dengan beralaskan tikar mereka makan bersama-sama.Meski dengan seadanya akan tetapi Lauren menikmati kebersamaan bersama keluarga mbok Sumi.
Yanti juga sudah menyiapkan kamar untuk Lauren beristirahat.Awan sudah mulai menggelap,air hujan turun membasahi.Lauren membuka jendela kamar melihat rintikan air hujan yang turun.Merindukan sosok Mamah nya yang sangat hangat.Udara terasa dingin wajahnya yang lelah membuat nya ingin merebahkan badan nya di atas kasur.
Keesokan harinya,suara ayam berkokok dan udara dingin menusuk tulang.Aroma masakan sudah tercium,Lauren bangun dan keluar dari kamarnya.Melihat Yanti dan Mbok sumi berada di dapur.Mereka sedang memasak,Lauren tidak tinggal diam dia bergegas membantu apa yang di kerjakan Yanti dan Mbok Sumi.
"Non Lauren sudah bangun?Dingin ya non?"ucap Mbok Sumi.
"Iya mbok disini udara nya sejuk banget,jadi enggak perlu pake AC"
"ini non,minum teh anget"
"Makasih mbak Yanti"
Lauren duduk dan hendak membantu Yanti untuk menyiapkan sayuran.Setiap pagi Yanti selalu pergi ke kebun teh.Dia bekerja sebagai pemetik teh di kebun milik Juragan di desa.Hari ini Lauren ingin ikut Yanti ke perkebunan.Yanti pun dengan senang mengajak Lauren pergi ke kebun.
Udara masih sangat sejuk,Yanti membawa keranjang yang terbuat dari anyaman.Lauren ikut membawa keranjang anyaman dan memakai sepatu boot.Mereka menyusuri perkebunan dan Yanti mengajarkan bagaimana cara memetik teh.Lauren sangat menikmati apa yang dilakukan nya.
Keranjang sudah terasa berat Yanti dan Lauren bergegas untuk menimbang hasil yang mereka petik.Hasil petikan teh mereka gabungkan jadi timbangan hari ini sangat berat.Yanti mendapatkan upah dari hasil kerja hari ini.
"Ini non?"
"Apa sih mbak,ini itu hasil mbak Yanti.Aku cuma ngebantuin aja ko"
"Makasih ya non udah bantuin,oh ya non...kita ke kebun apel yuk"ajak Yanti.
"Mbak Yanti,jangan panggil aku non dong.Panggil aku Lauren aja yah,lagian kita itu seumuran tau mba"
"Iya non...eh iya Lauren.Kamu juga enggak usah panggil aku mba ya?panggil Yanti aja"
"Siap Yan!!"Ya udah yuk...besok aku mau bawa alat-alat lukis aku yah"
Mereka menuju kebun apel,dimana apel sedang berbuah lebat.Kebun ini milik mbok Sumi.
"Wah...Yan banyak banget buah nya?boleh diambil kan?"
"Boleh ko Ren ambil yang banyak kita masukan ke keranjang aja.Nanti kita buat keripik apel"ujar nya.
"Keripik apel?memang nya bisa ya Yan?”
"Bisa nanti kita buat di rumah ya"
Melihat pohon apel yang berbuah lebat,Lauren dengan asik nya memetik buah apel tanpa memperdulikan sekitarnya.Dia memanjat untuk mengambil buah apel yang berada di atas menggunakan tangga yang tergeletak.
"Hati-hati Ren?"ucap Yanti.
Dia merasa sudah habis untuk apel yang diatas,Lauren hendak turun dan pindah posisi untuk mencari yang siap untuk di panen.
Prakkkk!!!!
Anak tangga yang Lauren injak patah karena kayu nya sudah keropos.Tubuhnya melayang ,mata nya ia pejamkan seakan dia pasrah jika dia terjatuh.Dengan mata nya yang masih terpejam dia merasa tubuhnya tidak menyentuh rumput di bawahnya dan badannya tidak terasa sakit.
Dengan mata sedikit mengintip,dia melihat tubuh nya dibopong pria yang menurutnya tidak asing.Mata nya melebar,melihat pria itu dengan pakaian doreng dinas militer seperti milik ayahnya.
"A-apa yang kamu lakukan?"dengan nada terbata-bata.
"Ya ampun Ren,kamu enggak apa-apa kan?
Makasih ya mas Yuda udah menyelamatkan saudara saya"
"Tenang aja Yan,untungnya aku dengan cepat menangkap saudara kamu"Yuda menurunkan Lauren.
"Enggak apa-apa kok Yan,aku baik-baik aja"ucapnya dengan gugup.
"Ya enggak apa-apa kan aku tangkap kamu?kalau tadi aku tidak menangkap kamu,yang ada kamu udah jatuh ke bawah dan bisa jadi kamu patah tulang"
"Iya makasih!"
Lauren mengajak Yanti untuk segera pulang.Yuda sedang sekolah lanjutan kemiliteran di Kota Malang yang mana dekat dengan perkampungan mbok Sumi.Sementara itu Yuda sering berkumpul dengan para warga di desa mbok Sumi.
..."Wait the next story"...