Karena menghindari sebuah kejaran kelompok preman, Bulan bersembunyi di kamar milik Awan. Sahabat yang baik dan lembut kepadanya. Namun, Awan berubah begitu memasuki pintu suite room itu, menjadi Awan yang buas, kasar, bahkan merenggut kegadisan Bulan. Hingga Gadis malang itu menjadi tawanan dalam pelukan sang iblis...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15
Beberapa hari berlalu, Awan sibuk dengan pekerjaan nya. Sedangkan Bulan pun begitu, sibuk dengan butik nya. Mereka bahkan tidak bertemu selama beberapa hari.
Setiap bulan terbangun di pagi hari, Awan sudah pergi. Dan saat ia kembali dari bekerja Awan belum pulang. Awan pulang saat Bulan sudah terlelap di kamarnya.
Malaam ini, Bulan tak bisa tidur. Hanya berbaring di kamarnya, ia sangat rindu dengan Awan walau pria itu begitu menyebalkan dan sangat mendominasi dirinya. Tapi tak bisa di pungkiri, ia merindukan sentuhan Awan.
Malam semakin pekat, Bulan memilih berjalan-jalan di mansion milik Awan. Hingga ia terhenti di depan sebuah pintu. Pintu yang dulu pernah dia lihat, Awan masuki. Saat ia hendak menyusul, Gisel menghentikannya.
Rasa penasaran bulan tiba-tiba datang. Ada apakah gerangan di ruangan itu?
Tangan bulan terangkat dan menyentuh handel. Dengan hati berdebar ia mulai mendorong pintu itu hingga terbuka. Hanya tampak lorong yang panjang. Tanpa menutupnya lagi, Bulan melangkahkan kaki Masuk, menyusuri lorong sejauh sepuluh langkah kakinya mungkin.
Lorong itu semakin melebar dan terang. Dan bulan berdiri di ujung lorong. Memindai setiap sudut ruangan. Di sana ada banyak sekali selang, monitor dan peralatan kesehatan.
Di sisi tengah yang memepet pada tembok yang kanan kirinya terdapat monitor, terbaring seseorang. Bulan berjalan mendekat hingga ia berdiri di sisi kiri pasien yang terbaring itu.
Mata nya melebar, mulut nya ternganga yang dengan cepat ia tutup dengan tangan.
"Awan!"
Tubuh Bulan terasa sangat lemas dan tiba-tiba saja ia kehilangan tenaganya. Tubuhnya kesulitan untuk menopang diri hingga ia hampir jatuh. Darah nya mengalir dengan cepat. Netra nya terus berair dan bulir bening melolos begitu saja.
"Awan..." Isak nya.
Dengan sisa tenaganya bulan mendekat dan menyentuh tangan pria yang ia panggil Awan itu, ia adalah Angkasa. Awan Angkasa Leander. Adik kembar Awan Samudra Leander yang selama ini menjadi partner ranjang nya. Hanya, Bulan tak tau. Baginya mereka sama, dengan wajah yang sangat mirip.
"Awan... Pantas saja aku tak pernah melihatnya beberapa hari ini, ternyata ia terbujur di sini. Kenapa tidak ada yang memberi tahu ku?" Isak Bulan semakin pilu.
"Awan... Sadarlah, ada apa denganmu? Kenapa kamu meninggalkan aku seperti ini? Aku mencintai mu walau kau sangat menyebalkan." Tangis bulan dengan pipi yang semakin basah oleh air matanya.
Bulan meraih tangan Ang dan menempelkannya ke wajah. Terus terisak pilu.
"Sadarlah Awan, kenapa kamu jadi seperti ini?"
Bulan terus terisak menatap wajah pria yang terbaring dan tak bergerak sedikitpun itu.
Tubuh Bulan serasa semakin lemas, kepalanya tiba-tiba saja berputar. Ia seperti tak bisa menerima kenyataan bahwa Awan sedang terbaring di sana dengan semua penunjang hidup nya.
Bulan mengusap pipi nya sendiri. Lalu ia kehilangan kesadaran dirinya.
.
.
.
Bulan membuka matanya, menatap langit-langit kamar.
"Aku di mana?" Bergumam lirih, dengan lemah menyisir ruangan dengan netranya.
"Kau baik-baik saja?"
Wajah tampan Awan yang sangat cemas dan khawatir membuat Bulan merasa lega. Ia menangis dengan tawa lega.
"Hei, kenapa malah menangis? Aku di sini." Ucap Awan lembut mengusap kepala bulan.
"Gisel!" Sebut Awan dengan suara keras.
Gisel memasuki kamar Bulan.
"Dia sudah sadar. Periksa dia."
Awan berdiri dari sisi bulan dan menyingkirkan, hingga tautan tangan mereka hampir terlepas. Tangan lemah bulan menahan.
"Jangan pergi." Lirih bulan meminta.
Dengan rasa iba Awan mengangguk pelan.
"Dia baik-baik saja. Kamu tak perlu khawatir." Ucap Gisel seusai memeriksa bulan lagi.
Wajah lemah Bulan tak urung membuat Gisel bertanya.
"Apa yang kamu lakukan di ruangan itu?"
Bulan menatap dokter pribadi Awan dengan mimik sendu.
"Aku tidak tau. Aku hanya memasuki ruangan itu karena penasaran."
"Aku sudah melarang mu untuk masuk ke sana."
"Maaf, tapi..." Bulan berganti menatap Awan. "Aku sangat bersyukur kamu baik-baik saja."
Awan dan Gisel saling berpandangan.
"Selama ini aku sudah tak melihat mu sama sekali, saat aku masuk ke sana melihat mu tebaring dengan banyak selang dan monitor membuat ku lemas dan tak ada gairah hidup. Syukurlah itu semua hanya mimpi."
Mimik bersalah timbul di wajah Awan. Dan Gisel hanya menghela nafas panjang.
"Sam! Katakan saja, toh dia sudah tau." Ucap Gisel lalu melangkah keluar kamar.
Bulan merasa sangat bingung dengan ucapan Gisel. Apa maksudnya? Apa yang sudah ia ketahui?
Bukan menatap manik mata Awan yang kini sudah berada di sisi kirinya lagi. Menatap wajahnya dengan sangat cemas dan rasa bersalah.
Wajah awan mendekat dan mengecup sayang kening bulan.
"Ada apa? Apa yang kalian sembunyikan dari ku?" Selidik Bulan.
"Aku katakan pada mu setelah mendapat satu kecupan dari mu, baby."
Awan menautkan bibir nya pada benda kenyal milik bulan. Saling membelit lidah dalam waktu yang cukup lama.
Hingga nafas hangat keduanya terhembus. Awan mengatur nafasnya yang tersengal, begitu pun dengan bulan.
"Apa kamu kuat untuk bangun?"
Bulan mengangguk. Ia bangun dari pembaringan, namun saat kaki nya menyentuh lantai yang dingin Awan menahannya.
"Biar ku gendong saja. Sepertinya kaki mu cukup lemah."
Awan menggendong bulan menyusuri lorong mansion nya.
"Kita mau kemana?" Menatap wajah Awan dengan sangat lembut.
Awan tersenyum tipis. Mengecup dan melummat bibir Bulan. Tangan bulan yang mengalung di leher Awan, memeluk semakin erat.
"Kita akan ke ruangan tempat kamu pingsan tadi. Dan, setiap kamu bertanya akan kulummat bibirmu. Mengerti?"
"Aku ingin lagi. Kamu keberatan?"
Awan tersenyum lagi lalu melummat bibir mungil bulan.
"Sesuai keinginan mu, baby."
Awan menurunkan bulan saat merek sudah memasuki ruangan Ang di rawat. Bulan menatap Awan, dan pria yang terbaring di atas brangkar bergantian.
"Ada apa ini Awan? Kenapa....."
"Dia Angkasa, adik kembar."
Mata Bulan melebar, dan mulutnya membulat yang dengan segera ia tutup dengan tangan.
Bulan menatap awan meminta penjelasan.
"Kamu ingat saat dulu pertama kalinya bercinta?"
Bulan tak menjawab, ia masih sangat terkejut.
"Saat itu kami di kejar oleh musuh-musuh kami. Ang memintaku untuk lari ke kamar tempat mu menunggu. Dan dia mengorbankan diri menjadi penghalang."
"Jadi, saat kita sedang bercinta, Ang sedang berjuang melawan musuh sendirian?" Lirih bulan masih tak percaya
Gurat sesal timbul di wajah Awan. Wajah tampan nya berubah menjadi sangat sendu.
"Tapi, saat itu mereka memberimu obat dengan dosis tinggi. Kamu juga sedang berjuang, meski dengan cara yang berbeda." Ucap Bulan lagi mencoba mengerti keadaan Awan.
"Salah seorang kepercayaan ku mengabari jika Ang sempat tertembak. Dan menghabisi musuh kami."
Bulan masih menatap Awan, "Siapa kalian sebenarnya? Kenapa ada orang yang begitu jahat menjadi musuh?"
tpi untuk yg lnjut d lnjut dan lnjut.keren keren💪💪💪💪
like
komen
give
sub
star
tersemat k D, thx nt ke-8 mu, ini yg bikin u. tidak menyia yiakan hidup
thx k D, nt ke-8 mu yg q baca inilah.. yg bikin hati nyesek sekalipun indah walupun tak seperti yg kt mau i.. thx alot sak kebun bunga🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌹🌹🌷🌹🌹🌹🌷🌹🌹🌷🌹🌷🌷🌷🌹🌷🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌹🌷🌹🌹🌹🌹🌷
samudra mendengar..
jk q diposisi sam.. q akn spt dia, menyalahkannya ats kematian saudara kembar, tp q sakit hati dia bercumbu dg mu.
semangat Thor
kutunggu episode selanjutnya😘😘😘😁😁