Saat Reyhan menerima jabatan yang sudah ia kejar. Ternyata Mama sudah menyiapkan calon istri untuknya. Lalu bagaimana Rere yang sudah 2 tahun ini bersamanya?
Pernikahan itu pun sangat hambar. Tak ada kehangatan didalamnya. Bahkan jiwa Reyhan rasanya ingin membludak saat Aisyah sudah berani memarahi Rere. Apa salah jika Rere selalu bersamanya? Rere kekasihnya! pertengkaran setiap harinya tak mereka hindari. Hingga keduanya putus asa dan tak kuat dengan pernikahan mereka, mamah malah mengirim sebuah tiket bulan madu.
Saat senja menjadi siluet bagi Aisyah, Reyhan terdiam, desiran halus dihatinya terasa. Keringat dingin dan deru nafasnya tak beraturan menjadi bukti kepanikannya. Ia teringat mimpinya sendiri, Aisyah meninggalkannya, hatinya menjadi hampa dan begitu sakit. Ia tak ingin merasakan itu lagi, ia pun bangkit dan berjalan dengan tergesa kearah balkon. Aisyah tengah menatap senja dengan damai, wajah cantik itu seakan menyentuh hatinya.
"Jangan tinggalkan aku Aisyah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhea Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 : Malam Pertama Sesungguhnya
Seperti biasa, saat Reyhan mandi, Aisyah menyiapkan pakaian yang pas untuk Reyhan gunakan. Setelah Reyhan bersiap dan pergi, Aisyah yang kini mulai membersihkan badannya. Mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur nyaman yang panjang lengkap dengan kerudungnya. Saat suara adzan mulai berkumandang, Aisyah berjalan kemushola yang tadi subuh mereka tempati.
...🦋...
Selesai sholat, Aisyah membuka Al-Qur'an dan mulai membacanya dengan lembut. Hingga suara langkah kaki membuat Aisyah terhenti dan berbalik, masalahnya hanya ia seorang diri yang ada didalam rumah sebesar ini, ia hanya waspada dan tidak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan. "Assalamu’alaikum." Matanya sedikit berbinar melihat Reyhan yang mulai memasuki mushola. Ia duduk bersila dihadapan Aisyah. "Aku ikut ngaji ya Aisyah," ujar Reyhan lembut.
"Wa'alaikumsalam Mas, boleh. Ayo kita ngaji bareng," jawab Aisyah senang.
Reyhan mulai membaca Al-Qur'an seperti yang sering diajarkan Mama. Saat dipertengahan, Aisyah membenarkan apa yang salah dari bacaan Reyhan dengan tegas, membuat Aisyah menutup mulutnya dan sedikit menunduk. Reyhan tersenyum dan menaikan dagu Aisyah. "Udah lama juga aku gak baca Al-Qur'an, makasih ya sudah ngebenerin apa saja yang salah," sahut Reyhan dengan senyum yang membuat Aisyah semakin mencintainya. Mereka menghabiskan waktu menunggu Isya sambil mengaji bersama.
Selesai mengaji dan solat Isya. Mereka kembali ke kamar, Reyhan mengganti pakaiannya dengan kaos hitam. Lalu beranjak kedapur untuk mengambil segelas air. Sedangkan Aisyah, ia memindahkan tumpukan kado yang akan mereka buka keatas karpet berbulu tebal. Saat Aisyah berdiri, ia menatap pantulan dirinya, sedikit memberanikan diri untuk melepas hijab dan mengurai bebaskan rambut panjangnya.
...🦋...
Reyhan memegang segelas susu untuk Aisyah, dia harus mulai terbiasa dan membiasakan diri untuk semakin dekat. Sebelah tangannya Reyhan terulur pada gagang pintu kamar, dia masuk perlahan dan pandangannya terhenti pada sosok perempuan cantik yang tak lain adalah Aisyah.
Aisyah tengah menyisir rambut panjangnya. Rambut hitam itu seakan menambah wajah Aisyah menjadi cerah. Mata itu semakin indah dan mampu membuat Reyhan terpana. Hati Reyhan berdasir. Kecantikan Aisyah tadi pagi bisa ia lihat kembali. "Mas," ucap Aisyah malu. Dia segera berdiri dan tersenyum lembut.
Dengan gugup, Reyhan masuk kedalam kamar, mengunci kembali pintu kamar dan berjalan memberikan gelas yang dia pegang. "Minum dulu Aisyah."
"Makasih Mas." Aisyah meminum sedikit air susu yang ada digelas lalu menyimpan diatas meja rias. "Mau buka kado sekarang?" tanya Aisyah lembut, namun dalam hatinya begitu semangat ingin membuka kado.
Harum rambut Aisyah tercium pada jarak mereka yang begitu dekat, membuat Reyhan dengan yakin dan berani memegang bahu istrinya. "Aisyah, kita buka kado besok pagi ya." Terlihat kerutan samar dikening perempuan itu, lalu matanya beralih pada Reyhan, mata mereka bertemu, "Apa boleh malam ini aku minta hak aku sebagai suami kamu sepenuh nya?"
Semburat merah diwajah Aisyah begitu terlihat, ia mengangguk pelan. Hatinya terasa hangat dengar perlakuan Reyhan yang memintanya begitu lembut. Walau keduanya tengah berdebar kencang, Reyhan menuntun Aisyah menuju ranjang mereka. Membacakan sebuah do'a diatas kepala Aisyah.
Tak perlu dibayangkan, yang jelas malam itu pun menjadi malam yang panjang, malam yang indah bagi kedua manusia yang tengah mempersatukan cinta, berharap dengan sangat bahwa cinta mereka akan tumbuh dan abadi. Malam yang tak akan pernah mereka lupakan.
luuuu kan yg udah manggil reyhan buat nemiun Rere....