Abhi Athaillah. Seorang lelaki yang sedari kecil merawat ibu nya yang mengalami gangguan jiwa harus menikah dengan wanita yang juga mengalami gangguan jiwa. Siapakah wanita itu? Akankah Abhi mencintai wanita gila itu? Dan akankah wanita itu menerima Abhi sebagai suami nya setelah kembali sehat? Mohon like, and koment nya. Serta dukungannya ya 🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sebutir Debu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 Abhi Mengalahkan Dirinya Sendiri.
Tania tampak mengenakan hotpants berwarna mocca dipadukan dengan kaos yang berkerah bulat berwarna putih polos. Kaki jenjang dan indah nya membuat wanita yang melihatnya iri bahkan pak Bambang pun cukup terpesona melihat Tania pertama kalinya.
"Pak."
Suara Tina pelan membuyarkan lamunan pak Bambang yang tak sadar diperhatikan oleh putrinya.
Pak Bambang mengalihkan pandangan nya pada Abhi yang terlihat sedang tersenyum karena menyadari tingkah pakde nya yang merasa terpana akan kecantikan dan keseksian istrinya.
"Diminum dulu Tin teh nya. Sudah keburu dingin."
Abhi mempersilahkan Tina untuk menikmati teh yang beraroma bunga melati itu yang sedari tadi ia siapkan untuk tamunya.
"Terima kasih bang. Mbak Tania ga ngeteh?"
Tina mengambil teh yang ada di meja namun secara tiba-tiba Tania mengambil teh yang sudah ada hampir dibibir Tina.
"Glek. Glek. Glek."
Dalam beberapa kali tegukan teh yang tak terlalu panas itu habis dinikmati oleh Tania. Abhi hanya melongo melihat tingkah istrinya dan Tina hanya tersenyum karena sadar bahwa wanita yang duduk disebelahnya sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Abhi baru mau beranjak ke dapur untuk membuat teh lagi namun dicegah oleh Tina.
"Mau kemana bang?"
"Aku buatin yang baru ya?"
"Tidak usah, lagian aku tidak haus kok. Aku mau langsung pamit saja, khawatir kalau ibu tahu kami kemari pasti ibu bakal ngomel sampai beduk magrib bang. Hehehe."
Senyum manis di wajah Tina membuat hati Abhi hangat. Senyum yang selalu dinanti oleh Abhi. Senyum yang selalu memberikan rasa hangat di dalam hatinya.
Abhi mengantar tamu nya sampai ke teras. Abhi duduk di kursi kayu yang berada diteras dan merenungi apa yang disampaikan oleh pak Bambang tadi. Pesan yang panjang lebar yang di ungkapkan tadi.
Abhi mendesah pelan seolah ada rasa bersalah dalam dirinya. Sedari SMA pak Bambang adalah sosok lelaki yang ia anggap perkataan nya harus di guguh dan ditiru.
"Saya akan coba jalankan pesan pakde."
Satu hari tanpa bik Siti dan pak Darman membuat Abhi sedikit kelelahan karena melakukan pekerjaan rumah dengan mengurus Villa yang begitu besar belum lagi Tania yang sangat suka mewarnai dan membuat pesawat dari kertas akan membuat ruangan yang ia tempati dipenuhi kertas yang berserakan.
Memasuki musim hujan, sore hari ini hujan cukup lebat kembali mengguyur perkebunan teh dan wilayah sekitarnya. Abhi yang melihat ke arah jam berpikir keras untuk sore ini bagaimana mengganti pembalut sang istri. Tidak mungkin meminta Tina kembali kemari dengan cuaca hujan deras begini, belum lagi rasa khawatir akan dapat ceramah panjang dari pak Bambang membuat lelaki yang bertubuh tinggi dan putih ini kembali memikirkan alternatif untuk memasang pembalut istrinya.
"Aku tidak mungkin merepotkan Tina selama satu Minggu. Mau tidak mau sekarang Tania adalah istri ku. Aku harus melakukan kewajiban ku. Aku harus merawatnya sama seperti aku merawat ibu. Jika selama merawat ibu aku bisa tidak tergerak berpikir aneh-aneh. Maka aku akan berusaha memperlakukan Tania sama seperti saat aku merawat ibu."
Abhi bergegas ke kamar Tania yang biasanya masih asik mencoret-coret kertas A3 yang dibelikan khusus untuk kegiatan menggambar nya. Namun ketika Abhi masuk kekamar itu Lelaki yang baru saja satu bulan menikah itu kaget karena melihat Tania bersembunyi dipojok kamar.
"Tania....."
Abhi merasa iba karena Tania sudah terlihat berkeringat dingin dan hanya Isak tangis kecil dari bibir mungil istrinya itu.
"Kamu kenapa?"
Abhi seolah tak sadar jika sang istri tak bisa diajak berkomunikasi layaknya mereka yang normal.
Abhi menggendong Tania dan mendudukkan istri seksi nya itu diatas kasur.
Abhi membuka baju kaos putih sang istri yang terlihat basah karena keringat. Abhi menutupi tubuh istrinya dengan handuk berwarna pink.
"Tania, kita mandi dulu ya."
"Jgeeerrr!
"Huaaaa....."
Suara petir yang begitu kuat membuat Tania memeluk erat dada bidang Abhi. Abhi merasakan jika Tania ada trauma pada petir karena ini kedua kalinya Tania ketakutan dan saat hujan. Abhi mencoba melepaskan pelukan Tania namun mendengar Isak tangis dan wajah yang ketakutan serta wajah cantik istrinya penuh dengan keringat dingin.
Membuat Abhi hanya diam hampir 20 menit lebih mereka berada dalam kondisi berpelukan. Abhi hanya bisa menarik napas dalam ketika melihat Tania ternyata tertidur dalam pelukan nya.
Abhi membenarkan posisi Tania, meletakkan kepala Tania pada bantal yang bergambar hello Kitty itu, mengangkat kaki jenjang istri nya. Handuk yang tadi menutupi punggung Tania itu terbuka di bagian da da nya hingga Abhi menelan saliva nya dengan kasar, karena sesuatu yang tertutup oleh underwear itu membuat otaknya melayang ke sebuah hasrat yang ingin ia rasakan sebagai seorang lelaki, sebagai seorang suami.
Dirapatkan nya sebuah selimut Sampai ke leher Tania. Kemudian Abhi meninggalkan Tania sendirian dikamar.
Abhi melangkah ke kamar mandi. Sesampai nya lelaki itu di kamar mandi dia menempel kan keningnya pada dinding kamar mandi yang ber- marmer batu alam itu.
"Bugh.Bugh."
"Si*l"
Tarikan dan hembusan nafas Abhi terasa begitu berat. Ia ingin menuntaskan hasratnya yang sudah terlanjur ingin dipuaskan dengan cara yang biasa ia tempuh selama satu bulan terkahir ini namun nasihat pak Bambang Kemabli terngiang di ingatannya.
Abhi keluar dari kamar mandi. Lelaki itu menuruni anak tangga dengan cepat lalu mengambil bola kaki yang berada di dapur lalu pergi ke bagian halaman villa yang dikelilingi pagar semen sehingga ia menendang bola itu Berkali-kali ke arah dinding dan kembali ke arah kaki nya.
Hal itu ia lakukan di bawah guyuran hujan yang cukup lebat hingga hampir setengah jam lebih lelaki yang biasa bermain sebagai striker di tim sepak bola desa akhirnya tergeletak di halaman parkir itu dengan menatap langit sambil memejamkan mata dan napas nya tersengal-sengal. Keringatnya pun bercampur dengan air hujan.
Abhi tersenyum menatap langit mendung yang terus menghujani tubuhnya dengan air yang mengandung H2O itu.
"Aku berhasil pakde. Aku berhasil mengalahkan diri ku sendiri."
"Wuuuuuhhhhh...."
Suara teriakan Abhi begitu kuat namun tak dapat mengalahkan suara derasnya hujan sore itu. Namun tanpa Abhi sadari 2 pasang mata sedang mengamati yang sedang Abhi lakukan dari kamar Tania tadi hingga kini tingkahnya yang membuat pemilik dua pasang mata itu harus mengerutkan keningnya.
Namun satu pemilik mata lainnya terlihat tersenyum bahagia. Senyum yang jarang terukir diwajahnya karena ia bukan orang yang sering mengumbar senyum pada orang dan hal-hal yang tak penting atau diperlukan.
kka sebutir debu.. maa syaaAlloh rindu akan ilmumu.. kak /Sob/ gmna kbarnya kka?? sejak tahu novel yg kka belum up sya gak buka noteltoon lagi.. tp sekarng bbrpa hri tiba2 mau buka lagi ternyata kka bkin karya baru..
makasih kak../Rose/
alhamdulillah ibu kinan bener" sdh sembuh