Mohon maaf, karya sedang dalam revisi agar semakin lebih baik.
--------------------
SINOPSIS :
Hanssel Adamson merupakan pria casanovo yang awalnya tidak menyukai sekertaris kunonya yang menyebalkan. Siapa sangka dia justru mendadak bucin pada Karennina yang ternyata sudah memiliki putra dari pernikahan sebelumnya yang telah gagal.
Siapa yang tahu ternyata Karennina merupakan wanita yang berasal dari keluarga ternama negeri tetangga. Demi menyelesaikan misinya dia menyamar sedemikian rupa untuk menutupi status sosial serta keterlibatannya dalam jaringan hitam.
Yuks kepoin kisah mereka!!!
---------
Please give me some appreciation, don't forget to smash Like, comment, vote, gift and love! Saranghae ♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayang aku ga?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15 - Maukah jadi Pacarku?
"Per hari ini, Mentari Abadi resmi berada di bawah naungan Adamson Group." Suara Hanssel menggema di dalam ruangan rapat, dingin dan tajam.
"Nina, tolong catat! Seluruh jajaran manajemen lama diganti. Lakukan assessment ulang untuk semua pegawai. Bentuk satu departemen khusus di bawah divisi Human Capital kita."
"Yang tidak kompeten, singkirkan. Yang berpotensi, pertahankan." Keputusan final itu menutup rapat tanpa celah bantahan. Semua yang hadir hanya bisa mengangguk, tunduk pada dominasi Hanssel.
Sementara itu, Nina dengan ekspresi datarnya mengetik cepat di laptop kesayangan. Sorot matanya tajam, penuh konsentrasi, tak terganggu oleh tatapan kagum atau meremehkan dari sebagian peserta rapat yang masih tak percaya wanita dingin di samping Hanssel adalah sekretaris pribadinya.
"Selalu tentang paras, bukan otak," gumam Nina dalam hati, kesal.
Waktu bergulir cepat. Senja menjingga mulai merayap di balik jendela kaca gedung megah itu. Nina meregangkan lengannya sambil menguap kecil. Hanssel memandangi gerakan spontan itu cukup lama hingga Nina menyadarinya.
"Apa liat-liat?!" tegur Nina sinis.
"Dasar nenek lampir!" balas Hanssel enteng.
"Aku ada yang ingin dibahas. Antara kita, berdua saja." Hanssel mendekat, serius.
"Ngomong aja sekarang, orang-orang juga udah bubar semua!" Nina menyilangkan tangan di dada, siap beradu argumen lagi.
"Biar sekalian langsung balik Jakarta!" tambahnya cepat.
Tapi Hanssel hanya tersenyum miring. "Kita nginap di sini malam ini. Farell sudah siapkan kamarnya."
"APA?!" Nina sontak berdiri dari kursinya.
"Tidak bisa begitu saja! Aku punya urusan pribadi! Aku mau pulang!"
Hanssel tetap tenang, sementara Nina gelisah. Di sela emosinya, dia mengecek ponsel. Tidak ada kabar dari Rangga. Tidak ada kabar soal anaknya. Itu membuat emosinya semakin tak terkontrol.
"Aku bisa pulang sendiri! Naik travel juga bisa! Atau... sekalian aja aku beli mobil sekarang juga!!"
Nina bergegas meninggalkan ruangan, namun baru melangkah beberapa meter ketika Hanssel melontarkan satu kalimat yang membuat dunia seolah berhenti berputar.
"Apa kamu tidak ingin mengambil kembali Suho milikmu?"
Langkah Nina membeku. Jantungnya seolah terjatuh dari tempatnya.
Hanssel tertawa lirih melihat reaksi wanita itu. "Ternyata benar. Kelemahanmu adalah ambisi. Keinginanmu menguasai kembali perusahaan yang dirampas paksa. Dan itu... ada di tanganku sekarang."
"Kau menyelidikiku?" Nina berbalik badan, menatap Hanssel tajam.
"Tentu saja... Aku menginginkan dirimu..."
Hanssel mendekat, menatap wajah Nina dalam-dalam. "Tidak ada yang bisa tidak aku dapatkan," lanjutnya, jemarinya menyusuri lembut pipi Nina.
Bibirnya sungguh membuatku candu!! Tahaaan... Tahaaan... Sebentar lagi aku mendapatkannya... Tidak hanya bibirnya, seluruh tubuhnya akan menjadi milikku seutuhnya!!
Nina menelan salivanya, bibirnya bergetar. "Apa yang kamu ketahui?"
"Aku bisa membantumu mendapatkannya..."
"Tanpa bantuanmu aku bisa mendapatkan yang menjadi milikku sedari awal," jawab Nina menantang.
Hanssel tersenyum miring. "Oh ya? Hanya saja... apa kamu bisa mengambilnya dalam waktu singkat seperti yang akan aku janjikan?"
DEG!!
Benar... Aku benci Hanssel mengetahui semua ini...
"Kau pikir aku tidak tahu apa yang tengah kamu rencanakan untuk Adamson Group?" Hanssel membalikkan tubuh, berjalan tenang menuju jendela besar yang menampilkan hiruk pikuk kota.
"Awalnya aku tidak menyangka kamu bisa menyusupkan nama Adamson ke dalam daftar rekomendasi Lee Hi..."
"Kemudian aku membaca berkas lanjutan proyek Lee Hi—kamu mencoba memasukkan Suho sebagai supplier utama untuk Adamson?"
Dia menoleh tajam. "Adamson tidak pernah sembarangan menerima perusahaan baru, apalagi perusahaan yang sedang kesulitan keuangan seperti Suho!"
"Apa kamu mau bunuh diri?! Adamson tidak segabah itu, Nina."
Nina terpaku. Kata-katanya habis. Dia benar-benar tidak menyangka Hanssel telah mengetahui sejauh itu.
"Tanpa persetujuanku, kamu tidak akan pernah bisa memasukkan Suho dalam tender gabungan Lee Hi!" Suaranya meninggi. "Tender Lee Hi adalah proyek utama Adamson tahun ini. Aku tidak ingin ada kesalahan sedikit pun!"
Hanssel menghela napas tajam. "Walau Tuan Ron teman akrabmu, tetap saja keputusanmu akan mempengaruhi performa perusahaan. Apa kamu rela mempertaruhkan Adamson demi Suho-mu?!"
"Atau, bisa jelaskan padaku bagaimana kamu akan mendapatkan kembali Suho tanpa kekuasaan lebih tinggi?"
Dia menatap Nina penuh tekanan. "Kau hanya seorang sekretaris AG, Nina."
Nina menunduk, suaranya lirih. "Apa yang kamu inginkan? Mengenai Suho... itu urusan pribadiku."
Gotcha!! Kau masuk perangkap, rubah betina!! Aku sangat senang!!
Hanssel benar-benar tengah gembira, usahanya menjerat sekretarisnya akhirnya membuahkan hasil. Ia mendekati Nina, menatap wanita itu dengan pandangan yang tak bisa disembunyikan lagi intensitasnya. Dengan jari telunjuknya, ia mengangkat dagu Nina perlahan.
"Aku sudah bilang... aku menginginkanmu."
Tatapannya tajam, penuh keinginan. "Jadilah pacarku, Nina. Aku akan membantumu mendapatkan Suho-mu kembali."
Tanpa menunggu respons, Hanssel kembali mereguk bibir Nina yang masih dibalut warna lipstik tipis. Ciumannya panas, berani, dan tak memberi celah bagi Nina untuk berpikir. Nina mendorong dada pria itu, tapi tak cukup kuat untuk membuatnya mundur.
"Jika kamu mengetahui tentang Suho... berarti kamu juga sudah tahu status pernikahanku, bukan?" ucap Nina pelan, matanya menghindar.
"Aku tidak masalah," balas Hanssel cepat.
"Aku sudah memiliki anak..."
"No problem," ulangnya mantap.
"Aku sudah..."
Belum sempat Nina menyelesaikan kalimatnya, Hanssel kembali membungkam dengan ciuman yang lebih dalam dan mesra. Nina hanya bisa terengah saat mereka akhirnya saling menjauh.
"Hah... hah..."
Hanssel menatap bibir Nina dengan lapar, tangannya mencengkeram lembut pinggang wanita itu. Hasratnya jelas belum usai.
"Kita akan bermalam di sini malam ini."
"Tapi aku..."
"Ssst!"
Hanssel menaruh jari telunjuknya di bibir Nina. Tapi Nina justru menggigitnya keras-keras.
"AAAAARGHH!! KARENNINA!!" pekik Hanssel sambil menarik tangannya dan memegangi jarinya yang memerah.
"Rasakan!" balas Nina ketus, lalu berbalik dan melangkah keluar ruangan dengan cepat.
"Hei! Tunggu! Nenek lampir!!"
Si babi terkutuk itu! Haisyyh!! Apa yang harus aku lakukan pada Rangga selanjutnya?
Nina berjalan cepat menyusuri lorong hotel, gelisah tak karuan. Ia berharap Rangga tidak salah paham dan masih bersedia menjaga Jimmy malam ini.
[Rangga aku sungguh minta maaf, aku harus lembur. Aku bahkan tengah di Bandung selesaikan akuisisi di sini. Boleh kan minta tolong menjaga Jimmy semalaman?]
Nina telah mengirimkan pesan singkat, lalu segera memasukkan kembali ponselnya.
"Kamu mau makan apa?" tanya Hanssel kemudian.
"Kita ke PVJ, ya. Aku juga mau beli baju!"
"Oke, sayang..."
"HOEEEKK!!"
"HAHAHAHAHA."
Aku nggak menyangka kalau bersama nenek lampir ini bisa semenyenangkan ini!
Hanssel mengulum senyum. Pikirannya tengah menari-nari bahagia.
Keduanya telah berada di salah satu mal besar di kota itu. Nina menenteng beberapa paper bag belanjaan berisi baju dan aksesori lainnya. Dia melampiaskan kekesalannya dengan menyuruh Hanssel membayar semua belanjaannya. Tentu saja bagi pria kaya seperti Hanssel, itu bukan masalah. Justru sangat menyenangkan saat wanita yang terkenal mandiri itu akhirnya bergantung padanya.
Mereka kini tengah makan malam di sebuah kafe bagian depan mal, dengan nuansa romantis yang kuat. Terlihat jelas seperti sepasang kekasih yang tengah berkencan.
"Kamu tunggu di sini, ya! Jangan ke mana-mana. Ingat itu. Atau mampus kau!"
"HAH?!"
Hanssel segera pergi, meninggalkan Nina yang hanya bisa melongo.
"Si babi itu kerasukan apa sih?!" desis Nina kesal.
"Haaishh... Aku pikir tahun ini adalah tahun terbaikku... Mendapatkan kembali putraku dan karierku berjalan cemerlang..."
"Tapi ternyata malah jadi pacar pria casanova begini?!"
"Kalau Nyonya Adamson tahu, matilah aku! Aku bakal didepak dari AG! Siapa lagi yang mau menggajiku sebesar AG, huhuhu..."
Kesal dan frustrasi, Nina mulai menyantap makanannya dengan agresif. Dia bahkan memesan sampanye. Meski memilih kadar alkohol rendah, tetap saja membuat kepalanya agak pening setelah setengah botol.
"Kau minum?!" rutuk Hanssel saat kembali.
"Kau lama!" balas Nina tak kalah sengit.
"Haisshh..."
Hanssel menyingkirkan botol sampanye dari hadapan Nina dan mulai menyantap makanannya.
"Kamu dari mana?" tanya Nina basa-basi.
"Rahasia..."
"Cih!"
"Udah semua? Puas belanjanya?" tanya Hanssel memastikan.
"Hmm..." Nina hanya berdehem sambil sibuk membalas pesan dari Rangga.
"Karennina Kaviandra..."
Nina masih tak menggubrisnya, hingga beberapa saat kemudian Hanssel menarik kursinya ke belakang, lalu bersimpuh di hadapannya. Tangannya memegang sebuah kotak kecil berwarna biru gelap dengan pita kecil menghias di atasnya.
Mata Nina membelalak. Dia benar-benar tak percaya apa yang tengah dilakukan bosnya kali ini.
Apa ini semacam ritual khusus? Apa semua wanita yang jadi teman kencannya diperlakukan seperti ini juga?!
"Maukah kamu jadi kekasihku?" ucap Hanssel lembut, dengan senyum mautnya yang membuat sekujur tubuh Nina merinding hebat.
Pekikan dari pengunjung sekitar mengiringi proses—apa namanya ini? Bahkan saat ini, live music tengah mengalun lembut, menyanyikan lagu cinta yang terdengar seperti soundtrack lamaran.
"W-h-a-t a-r-e y-o-u d-o-i-n-g?" bisik Nina gelisah, menunduk dengan pipi memanas.
Hanssel hanya memainkan matanya, menatap tajam seolah menyuruh Nina untuk segera menerima. Dengan malas dan penuh gengsi, Nina mendengus kesal lalu mengangguk pelan. Tepuk tangan dan sorakan dari beberapa pengunjung yang tak tahu-menahu latar belakang mereka meledak, seakan baru saja menyaksikan lamaran impian.
Hanssel memakaikan cincin bertatahkan berlian itu di jari manis Nina.
Pas!
Bagaimana bisa? Bahkan ukuran cincin ini seperti sudah diperhitungkan.
Nina menatap tangannya, matanya berkaca-kaca. Masih tidak percaya. Hanssel mencium tangan Nina dengan sangat lembut, lalu berdiri dan mengecup keningnya penuh kasih.
Mati gue!!!
Please, jangan baper hati... Please... Dia ini buaya cobra! Hal-hal semacam ini pasti sudah biasa buat dia... Tapi tidak buatku! Huhu...
Nina terus merutuki dirinya dalam pikiran. Namun, yang tidak ia ketahui adalah—semua ini juga hal pertama yang dilakukan Hanssel untuk seorang wanita.
"Terima kasih..." lirih Nina dengan tulus, hatinya berdebar.
"Ingin sekali rasanya aku menggotongmu ke kamar sekarang," bisik Hanssel dengan suara berat di dekat telinga Nina.
"BANG-KE!!" maki Nina spontan sambil menepis tubuh Hanssel.
Pria itu hanya tertawa terbahak-bahak, puas dengan reaksinya yang seperti biasa—meledak-ledak namun manis.
Bersambung…
pusing,, pusing,, pusing,, pusing,, kepala ini 🤕