Perjuangan seorang wanita sederhana, yang bersuamikan seorang direktur sebuah perusahaan besar, penampilannya yang sangat sederhana dan termasuk ketinggalan jaman, membuat sang suami menjauhinya, sang suami yang selalu menghina dan membanding-bandingkan fisik istrinya dengan pacar-pacar nya yang dulu.
akankan perjuangan seorang Berliantina Febrianti berhasil merebut hati sang suami untuk mencintainya?
kisah yang penuh lika liku dan perjuangan seorang istri yang dianggap hina oleh sang suami.
HAPPY READING💖💖💖
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LichaLika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
butuh waktu
Zain membukakan pintu mobil untuk Lian, sesekali Zain menundukkan wajahnya, ia malu bercampur canggung saat istrinya berubah menjadi seorang Cinderella, Zain lantas melajukan mobilnya menuju gedung resepsi pernikahan Anita dan Bima, dimana akan banyak rekan-rekan bisnisnya yang hadir di tempat itu.
disisi lain Terry melihat jam dengan penuh cemas, seharusnya Zain sudah menjemputnya, tapi entah kenapa Zain belum juga menampakkan batang hidungnya, Terry mencoba menghubungi Zain lewat ponsel.
Rosa mendapati ponsel Zain yang berdering, lantas ia mendekati dan mengambil ponsel Zain.
"Zain tidak membawa ponselnya, kebiasaan nih anak, selalu lupa" seru Rosa sembari melihat layar ponsel milik Zain.
"Terry" gumam Rosa
lantas Rosa mengangkat telepon dari Terry
"halo...ini maminya Zain, dengan siapa saya bicara?" seru Rosa.
"maminya Zain?" gumam Terry
"halo tante, saya temannya Zain, apa Zain ada dirumah?" tanya Terry
"oh ..Zain, dia sudah berangkat ke resepsi pernikahan temannya, ada yang perlu saya sampaikan pada Zain?" jawab Rosa
"oh sudah berangkat!, kalau boleh tahu Zain berangkat sama siapa ya tante?" tanya Terry penasaran.
"Zain pergi dengan istrinya" jawab Rosa, dan tiba-tiba ponsel itu terputus
"halo...halo....ih dasar aneh, main tutup telepon saja" ucap Rosa kesal.
Terry menggenggam ponselnya erat-erat, ia tak menyangka Zain akan meninggalkannya, justru ia lebih memilih pergi bersama Lian.
"Zain...kau sudah tega membuatku menunggu, kenapa kau malah pergi dengan istrimu yang buruk itu, ini tidak bisa dibiarkan, aku harus buat perhitungan" umpat Terry kesal, ia meraih tasnya, dan segera pergi ke acara resepsi pernikahan Anita.
setelah beberapa menit, Zain tiba di gedung di mana resepsi berlangsung, Zain turun dari mobilnya lantas ia membukakan pintu untuk Lian.
Zain menawarkan tangannya, Lian membalas uluran tangan Zain dengan lembut, Zain tampak masih malu-malu menatap wajah Lian, sesekali ia menegapkan badannya untuk menghilangkan rasa canggung saat berdekatan dengan Lian.
banyak mata yang memperhatikan sosok Direktur Zain berjalan dengan seorang wanita.
"lihat...siapa yang bersama pak Zain, dia cantik sekali"
"iya betul...aku belum pernah melihat dia sebelumnya"
"dia seperti seorang model, kau lihat anggun sekali dia"
semua orang menatap takjub kepada seorang Lian.
beberapa klien menghampiri Zain dan berbincang-bincang dengan Zain
"selamat malam pak Zain, senang sekali bisa bertemu dengan anda disini!" seru pak Heru beserta istrinya.
"selamat malam juga pak Heru, saya juga senang melihat anda disini!" jawab Zain sembari tersenyum ramah.
"pak Zain, saya dengar anda sudah menikah, apakah ini istri anda?" tanya pak Heru
Zain tersenyum, ia melihat Lian begitu mempesona, dengan memegang tangannya Zain memperkenalkan kepada seluruh tamu undangan yang sebagian besar adalah kliennya tentang siapa sosok istrinya.
"Lian...ikutlah denganku" seru Zain sembari menggandeng tangan Lian.
"kita kemana mas?" tanya Lian sembari menatap wajah Zain yang tampan.
"jangan banyak tanya, ikut saja" ucap Zain yang tanpa melepaskan genggaman tangannya sedikitpun.
Akhirnya Zain dan Lian berada ditengah tengah ruangan, Zain dengan bangganya memperkenalkan sang istri dihadapan semua orang, banyak kolega bisnisnya yang kagum akan kecantikan dari Direktur Zain Abimanyu.
momen itu tak lepas dari sorot kamera paparazi yang mengabadikan saat-saat Zain memperkenalkan istrinya.
disaat yang bersamaan, Terry tiba di lokasi resepsi, matanya terbelalak saat ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, Zain menggandeng mesra Lian, Zain tidak mempedulikannya sama sekali, tangan Terry mengepal, rasanya ingin sekali ia menjambak rambut Lian.
Terry dengan amarahnya langsung datang menghampiri Zain dan Lian, namun kedatangannya diketahui oleh Zain.
"dasar perempuan tidak tahu diri" seru Terry yang mencoba meraih Lian, namun usahanya digagalkan oleh Zain yang dengan cepat menarik tangan Terry untuk menjauhi Lian.
"Terry, hentikan...apa-apaan kamu ini!"seru Zain yang marah terhadap Terry yang sudah membuat malu dirinya, semua orang menatap Terry penuh tanya.
Zain menyuruh Terry keluar dan tidak membuat masalah di dalam lagi.
"Zain ..lepaskan" seru Terry saat Zain mencengkeram tangan Terry agar ia pergi menjauh dari Lian.
"kau sudah membuat malu diriku, lebih baik kau pergi dari sini!" ucap Zain kesal.
"Zain, harusnya aku yang marah sama kamu, aku sudah menunggumu lama sekali, kau bilang akan menjemputku, tapi nyatanya kau malah pergi dengan istrimu itu" ucap Terry kesal
Zain menatap Terry penuh emosi, apa yang dilakukan Terry membuatnya sangat malu.
"dengar Terry, mulai hari ini kita putus" seru Zain serius, lantas Zain meninggalkan Terry diluar.
Terry benar-benar sangat marah, ia pergi dari tempat pesta itu dengan keadaan kacau.
Zain melangkahkan kakinya menghampiri Lian yang sedari tadi menunggunya, Lian menatap wajah Zain yang gelisah, ini adalah keputusan tepat untuk memutuskan Terry, bagaimanapun juga Terry adalah orang lain, meskipun ia pernah mengisi hati Zain untuk pertama kali.
"mas Zain, ada apa?" tanya Lian saat melihat wajah suaminya tampak gelisah.
"tidak ada, maafkan aku Lian" ucap Zain sembari menundukkan wajahnya.
"mas Zain, aku senang, kau memang mulai berubah, namun tidak semudah itu aku akan memaafkanmu, luka yang kau berikan cukup parah, aku butuh waktu untuk menyembuhkannya" gumam Lian yang masih terluka hati akan perlakuan Zain terhadapnya.
******
Terry berjalan disepanjang jalan, ia duduk disebuah kursi taman di pinggir jalan, kehadirannya tak luput dari pandangan seseorang yang tak sengaja melihatnya.
"bukankah itu mbak Terry!" seru Zoya yang berada didalam taksi yang melintas melewati Terry.
"berhenti pak"
taksi yang ditumpangi Zoya berhenti, Zoya menghampiri Terry yang sedang sendirian, Terry dikejutkan oleh kedatangan seseorang yang tengah memanggil namanya.
"mbak Terry!"
Terry mendongak, ia melihat Zoya sedang berdiri disampingnya.
"Zoya" seru Terry terkejut
Lantas Zoya duduk disebelah Terry dan mencoba mencari tahu, kenapa Terry bisa berada disini.
"Zoya seneng banget bisa ketemu mbak Terry, mbak Terry ngapain disini?" tanya Zoya penasaran melihat penampilan Terry yang nampak memakai gaun pesta.
Terry masih terdiam, ia masih teringat akan ucapan Zain yang telah memutuskan hubungan dengannya.
"mbak Terry darimana?" seru Zoya.
"Zoya...maaf, mbak lagi pusing" jawab Terry
"mbak Terry, ada apa?" Zoya mengernyitkan dahinya.
"tidak ada apa-apa " seru Terry menutupi.
"kamu sendiri darimana malam-malam begini?" tanya balik Terry kepada Zoya.
"ya...biasalah mbak, ngedugem bersama teman-teman" ucap Zoya santai.
"emangnya mamimu nggak marah!" seru Terry
"ya kadang ngomel juga sih, tapi aku nggak perduli, daripada di rumah, bosan...setiap hari lihatin istri mas Zain yang norak itu, sakit mata tau nggak sih mbak" ucap Zoya sinis.
"Zoya sepertinya tidak menyukai gadis itu, ini kesempatanku untuk mendekati Zain lagi" gumam Terry senang.
BERSAMBUNG
🌻🌻🌻🌻🌻🌻