NovelToon NovelToon
NADIR

NADIR

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Tamat
Popularitas:214.5k
Nilai: 4.8
Nama Author: Juanda Afipasari Silaen

"Nyatanya, semua tak seindah kelihatannya"
Binar Latisha Orzia

"Kamu rapuh, aku tahu itu. Aku akan menjadi perekat hidupmu"
Awan Buana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juanda Afipasari Silaen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nadir ~ Gengsian

Cahaya bulan yang sangat terang kini menyinari Binar tak tanggung tanggung. Senyuman Binar yang indah tak kunjung lepas dari bibirnya ketika melihat seorang anak perempuan sedang bermain dengan kedua orang tuanya.

Binar memiringkan kepalanya sambil tersenyum, Binar membayangkan anak kecil itu adalah dirinya, senang sekali.

"Heii, ni buat lo," Arkan datang membuyarkan lamunan Binar dengan dua jagung bakar di tangannya.

Binar meraih jagung bakar itu dan tersenyum manis, "Makasih."

"Iya sama sama," Arkan duduk disebelah Binar "Lo suka suasananya?" tanya Arkan sambil memakan jagung bakarnya.

Binar menagangguk, "Iya suka."

Arkan mangut mangut lalu kembali memakan jagung bakarnya. Sekarang mereka berdua sama sama sedang terhanyut dalam dunia mereka sediri. Binar menatap kearah samping dengan tatapan kosong sedangkan Arkan menatap Binar dengan senyuman.

Arkan langsung memalingkan wajahnya ketika melihat Binar bergerak menoleh kearahnya.

"Ar, lo gak belajar?" tanya Binar tiba tiba, Arkan menaikan satu alisnya.

"Emang kenapa Nar?"

"Gak papa, lo kan anak kelas unggulan, biasanyakan anak kelas unggulan belajar tiap malam."

Arkan tertawa mendengarnya, sebuah teori seperti apa itu.

"Anak unggulan gak kaku kaku juga kali Nar,"

Binar menatap Arkan, "Tapi kata Juni anak Unggulan selera humornya gak ada,"

"Tergantung orangnya kali, buktinya gue, gue gak kaku kaku banget kayak yang Juni bilang, gue juga bisa humoris, sama romantis." ucap Arkan sambil berbisik di akhir kalimatnya.

Binar tertegun mendengar bisikan dari Arkan, nafasnya beraroma mint tercium ke hidung Binar.

"Ar," panggil Binar.

"Hmm."

"Odol lo rasa mint yah?" tanya Binar membuat Arkan menatapnya terpelongo, gadis ini.

"Nafasmu bau mint," Ucap Binar jujur.

Arkan terdiam sejenak lalu tertawa terbahak bahak, apa wanita di hadapannya ini benar benar sepolos ini?

"Kenapa?" tanya Binar ketika melihat Arkan tertawa.

"Lo lucu yah," ucap Arkan masih tertawa. Binar hanya meresponnya dengan kata 'Ha' lalu tersenyum kecil, tersipu.

Arkan meredahkan tawanya lalu menatap Binar tersenyum "Nar kal-"

"Lo disini?" Suasana yang begitu pas bagi Arkan tiba tiba menjadi terganggu dengan kehadiran orang yang tak diinginkan. Tanpa di duga seorang pria sudah berdiri tegap di belakang Binar dan Arkan.

Arkan menoleh kearah sumber suara itu begitu pula dengan Binar, Awan.

Binar mendapati Awan tengah berdiri di belakangnya dengan tangan dimasukan kedalam kantungnya.

Binar menelan ludahnya dalam dalam, '******, kenapa Awan bisa ada disini.'

"Hai." sapa Binar gelegepan.

Awan tak menjawab di hanya menatap kearah Binar lalu kearah Arkan dengan tatapan tajam.

Arkan juga menatap kearah Awan, "Dia ngapain disini?" bisik Arkan pada Binar.

Binar menggeleng pelan.

Arkan kemudian melihat Awan dengan seksama kemudian berjalan mendekatinya, "Lo ngapain kesini? " tanya Arkan.

Awan hanya diam tak menjawab, Awan langsung berjalan melewati Arkan begitu saja menuju kearah Binar, "Kita pulang." Awan menarik tangan Binar.

Binar terdiam sambil menahan tarikan Awan.

"Jangan maksa lo, " ucap Arkan berbalik menghampiri mereka berdua lalu melepaskan pegangan Awan di tangan Binar.

"Binar disini sama gue, jadi jangan jadi penganggu yang tiba tiba datang." peringatkan Arkan.

Awan menaikan satu alisnya, ada nyali juga ni anak.

"Jangan ikut campur. " ucap Awan santai.

"Lo yang jangan ikut campur." tunjuk Arkan kewajah Awan.

Binar yang melihat Arkan dan Awan yang tengah ribut berusaha melerainya.

"Udah udah, stop bisa gak, Ar udah jangan di ladeni," henti Binar.

"Tapi cowok gini gak bisa di diemin Nar, datang tiba tiba narik narik lo, gak ada akhlak banget."

Buggggg

Satu hantaman mendarat di pipi Arkan membuat Arkan langsung tumbang. Orang orang yang ada disana berlari kearah mereka ingin melihat kejadiannya.

"Awan stop, lo apa apaan ha! " Binar berlari menghampiri Arkan yang tengah tersungkur di tanah.

"Lo gak papakan kan?" tanya Binar sambil mencoba membantu Arkan berdiri. Arkan menggeleng.

Arkan menatap kearah Awan dengan tatapan tidak suka, "Urusan kita belum selesai." ucap Arkan lalu pergi dari sana meninggalkan kerumunan itu dan Binar.

Binar yang sekarang di tinggal oleh Arkan berlari mengejar Arkan. "Ar tunggu," ucap Binar memberhentikan Arkan.

"Lo kok pergi? "

"Suasananya udah berubah, gue balik dulu, mending lo balik juga." Arkan kemudian berjalan pergi meninggalkan Binar sendirian disana.

Binar terdiam termenung menatap punggung Arkan yang kian menjauh, sorotan mata orang banyak juga terarah kepada Binar.

"Udah liatinnya" celetuk Awan tiba tiba di samping Binar. Binar memalingkan wajahnya menatap Awan dengan tatapan tak paham, apa mau Awan sebenarnya.

"Awas naksir" ucap Awan.

Binar mendesis mendengarnya, "Gak akan!."

"Jangan bilang gitu, gue gak mau lo kemakan omongan lo sendiri," Awan menatap Binar masih dengan wajah datar, mungkin Awan selalu mengunakan wajahnya itu dalam kondisi apapun itu.

"Mau lo apa sih!?"

"Gak papa, gue laper, makan." ucap Awan lalu berjalan meninggalkan Binar membuat Binar terpelongo melihatnya, cowok gak waras.

Awan yang sudah berjalan lima langkah dari Binar menoleh kebelakang, "Mau tinggal disitu? "

"Gue gak mau." tolak Binar

"Mau gue gendong? "tanya Awan membuat Binar membulatkan matanya. Binar terdiam sejenak lalu berjalan menuju Awan, Binar terpaksa ikut dengannya karena Binar tak ingin cowok aneh ini menggendongnya hingga membuat dirinya menjadi sorotan mata mata orang yang iri dan dengki.

Awan duduk di salah satu kursi disana, di tempat penjualan sate.

"Pak, satenya dua porsi," pesan Awan kepada bapak penjual sate itu, panggil saja Pak Amri.

Pak Amri mengangguk sambil mengacungkan dua jempolnya.

"Ngapain lo mesan dua, gue kan gak ada nyuruh." ucap Binar yang tengah duduk didepan Awan.

"Pede banget." Ucap Awan.

Dua kata penuh makna, Binar paham. Binar langsung mendengus kesal kepada Awan. 'Dasar cowok aneh'.

Setelah beberapa menit menunggu sate yang Awan pesan, akhirnya Pak Amri datang membawa dua porsi sate di tangannya.

"Ini dia dua porsi sate full dengan cinta," ucap Pak Amri menbuat Awan tertawa. Awan tertawa dengan kalimat itu? Dasar jokes bapak bapak.

"Gak pake micinkan pak?" tanya Awan.

"Enggak kok, anti micin micin club," jawab Pak Amri semangat.

"Ooo bagus deh kalau gitu, takut nanti kalau udah makan ni sate full cinta trus pake micin bisa bisa orang yang makannya jadi bucin," ucap Awan sambil tertawa, Awan lagi ngelucu ni? Jokes banget bener dah.

"Enggak kok mas," jawab Pak Amri ikut tertawa.

"Ooo, okelah makasih pak."

Pak Amri mengangguk lalu pergi ke temoat gerobak satenya.

Binar melihat kearah Awan yang tengah memakan sate dihadapannya.

"Ternyata selera humor lo kayak gitu yah," ucap Binar, Awan tak merespon dia tetap memakan sate yang ada dihadapannya, Binar geram melihatnya.

"Awann!!" Panggil Binar geram.

Awan mendorong satu porsi sate yang belum di sentunya "Makan!"

Binar menggeleng "Gak!"

Beberapa detik kemudian perut Binar bunyi, Awan mendengarnya. Binar langsung memegang perutnya sambil mengumpat dalam hati 'Perut gak bisa di ajak kompromi, liat makanan langsung konser lo'

"Makan! " Suruh Awan sambil menatap Binar. Binar terdiam sejenak, jika ia makan berarti ia sama saja membuat dirinya malu dengan caranya sendiri, tapi jika Binar tak memakannya, perutnya akan terus memaki dan merutuki dirinya bahwa badannya ini sangat gengsian sekali.

"Jangan banyak mikir, otak lo gak bisa lawan cara kerja perut lo." ucap Awan menarik air putih di hadapannya.

Binar menelan air ludahnya, perutnya sudah murkah besar. Binar menarik piring yang berisi sate itu dan memakannya perlahan walaupun perut Binar sudah konser didalam sana.

Awan menatap kearah Binar yang tengah makan dihadapannya, bibir Awan terangkat sedikit melihatnya, dasar Binar.

1
Capit
😊😊
Capit
aku suka banget ceritanyaa..... mampi juga ke ceritaku ya thor, CLAUDIA
Ilan Irliana
yah...ko sad end k..huaaa
Ilan Irliana
awan udh kek hantu..d dmn2..
isti soemardi
yaa Tuhan rasanya nyesek bangettt inih, thor 😭😭😭😭😭😭😭😭😭 ceritanya bagus.. makasih yaa, thor ☺☺☺☺☺☺
Dsyy
Semangat kk🙃
Juanafif: terimakasih :))
total 1 replies
Miss GD💞
thor ko kaMu tega knpa Misahin si binar Ma si awan,,seriusan taMat thor,trus nasib si juni gMna d penjara apa gila trus perasaan ibu nyah si binar si friska pas tau si binar Meninggal gMna Merasa kehilangan yg aMat sangat kah😭seMpilin extrapart nyah duong thor😁Makasih thor story bagus seMangat trus ok😊😊😊
Miss GD💞: cerita bgus psty saya baca thor😊
total 2 replies
Agathaa ⟭⟬⟬⟭ ⁷
sumpah sedih banget 😭
Agathaa ⟭⟬⟬⟭ ⁷: ada season 2 nya nggak thor ?
total 2 replies
Miss GD💞
huuuh slah besar deh kyak nyah si binar..sahabat yg kyak giMana dulu yg Mesti dpertahanin...sahabat kyak gto Mh buang aja ke laut,,
Yora
baca sambil ngemil
Dsyy
Semangat kk💪💪aku nitip jempol lgi ya 👍ditunggu up selanjutnya 😊

Salam dari author police lgi hate you🤭
LF
Semangat
LF
Lanjut
Nursari
Lanjut! semangat ya💚

Nextnya ditunggu di karyaku sudah UP,
- Psychopath And Me
- Not Until
Yora
lanjut
Dsyy
Aku bawa jempol lgi kakak 🤭semangat 💪💪

#salam dari police l hate you kk🙏
Yora
😆 uuuupppp
Yora
ih kesel
LF
Semangat lanjut
Agathaa ⟭⟬⟬⟭ ⁷
ih sumpah kesel banget aku bacanya 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!