Semenjak kematian kedua orang tuanya. Sri yang memiliki nama lengkap Sri Wahyuni harus rmengorbankan untuk tidak bersekolah dan berjualan jamu untuk membiayai kehidupan sehari harinya bersama Cipto adik kandungnya.
Kehidupanya yang terbilang miskin dan kekurangan. Membuat tekadnya semakin kuat untuk meneruskan perjuangan almarhum ibunya berjualan jamu keliling.
David adalah seorang lelaki yang terlahir dari sebuah keluarga kaya raya. Namun kekayaaan yang melimpah tak seindah ekspektasinya.
David harus menelan pahitnya kehidupan ketika kedua orang tuanya resmi bercerai dan meninggalkanya bersama Sang Kakek yang selau menyayangi dan merawatnya hingga dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arby yingjun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAIN HAKIM SENDIRI
"Hati ... Hati mba dalam berucap. Belum tentu Sri seperti itu. Iya saja kalau misalnya Sri menjual diri, lah kalau tidak, bukankah itu namanya memfitnah." ucap Rihana yang selalu menepis anggapan buruk yang selalu di ciptakan si Ratu rumpi Rohana.
"Bagaimana kalau kita bertaruh?" tantang Rohana pada Rihana yang selalu kontra dan menentang anggapanya.
"Bertaruh opo toh mba?" tanya Rihana yang masih bingung.
Rohana tersenyum licik sambil menoleh ke arah Sri dan Cipto yang sebentar lagi akan melintas di hadapanya.
"Saya akan tanya langsung orangnya. Jika memang benar seperti itu. Kita arak saja langsung keliling kampung gadis gatel itu! bagaimana ibu ibu?" Rohana meminta dukungan kejahatanya.
"Iya ...iya betul. Kita arak saja Si Sri." ucap salah satu emak emak yang pro mendukung Rohana.
Rihana menggeleng dan tak mampu menahan keinginan Rohana yang selalu saja iri pada Sri.
Rohana merentangkan kedua tanganya berniat menjadikan dirinya sebagai penghalang untuk menghentikan laju motor Sri.
Namun nahas. Sri yang masih belum lihai dan piawai dalam mengendarai motornya. Kini semakin gugup dan malah menambah volume gasnya daripada mengeremnya.
"Mba ... mba ... awas!" teriak Cipto yang malah membuat Sri semakin gugup.
JEGERRRR ...
Kecelakaan pun tak bisa di elakan lagi. Tubuh Rohana terpental dan tubuhnya yang gempal membuatnya menggelinding ke tanah.
Cipto turun dari motor dan berlari ke arah Rohana yang sudah tak sadarkan diri.
"Pye iki, mba?( bagaimana ini,mba?)?" tanya Cipto yang kini terlihat ketakutan.
Beberapa warga yang tak sengaja lewat dan mengetahui peristiwa itu kini berhamburan dan mulai mengangkat tubuh Rohana yang gempal seperti kebo dan membaringkanya di pos ronda.
Sri yang gugup dan ketakutan langsung menghubungi pihak ambulance dengan handphonenya.
Namun malang ... emak emak yang pro dengan Rohana. Seketika berteriak dan menunjuk wajah Sri dan mengatakan bahwa Sri melakukan tabrakan itu dengan sengaja.
Beberapa warga yang terhasud langsung mengarak Sri dan membawanya dengan paksa ke rumah Pak Agus selaku RW setempat di kampung Suka mulya.
"Sabar ... sabar ... Bapak bapak, ada apa ini?" Pak agus mengangkat kedua tanganya berharap agar bisa membuat tenang suasana memanas warganya.
"Pak Rw. Sri telah menabrak salah satu warga disini yang bernama Ibu Rohana dengan sengaja." tuduhnya salah satu warga kepada Sri.
"Bohong! itu tidak benar, Pak. Saya bersumpah saya benar benar tidak sengaja melakukanya." Sri menangis ketakutan.
Salah satu pendukung Rohana yang bernama Ibu Rahwana. Seketika maju dan menjambak rambut Sri sekuat tenaga.
"Dimana ada maling ngaku maling!" bentak Ibu Rahwana dengan tangan mencengkram menjambak rambut Sri.
Cipto yang tidak terima Kakaknya di perlakukan kasar. Dirinya langsung menggigit tangan Ibu Rahwana hingga berdarah.
"Awwww ... sakit." pekik Ibu Rahwana.
Ibu Rahwana murka dan langsung menendang perut Cipto hingga jatuh tersungkur ke tanah.
"Saya mohon, Bu. Jangan sakiti Adik saya." Sri memeluk kaki Ibu Rahwana memohon belas kasihan.
Sementara Cipto. Dirinya tak pantang menyerah, dia bangkit dari jatuh dan berdiri sambil mengusap darah di ujung bibirnya.
"Mba ... tunggu disini. Cipto akan meminta bantuan." Cipto berlari sambil menangis menerobos keluar dari warga yang sedang berkerumun.
Cipto terus berlari. Rasa lelah di kaki kecilnya tak pernah ia rasa. Karena di dalam hatinya keselamatan Sri adalah prioritasnya.
"Dimana aku bisa menemukan Tuan David?" gumam Cipto di dalam hatinya.
Bodyguard David kini bertambah 2 menjadi 4 orang. Semua di lakukan David untuk lebih menjaga keamana Sri selama ia menyelesaikan tugasnya di Inggris.
Mereka berempat terlihat sedang asyik menikmati kopi hitamnya di sebuah warteg di pinggiran jalan raya luar dari kampung Suka mulya.
"Ayo cepat! Kita harus bergegas kembali memantau Nona Sri dari kejauhan." titah salah satu kepala Bodyguard suruhan David.
Ketiga bodyguard lainya segera menghabiskan sisa kopi hitam dan bergegas menyusul untuk memasuki mobilnya.
"Tunggu sebentar! bukankah itu Tuan muda Cipto." salah satu bodyguar menunjuk ke arah Cipto yang sedang berlari sambil menangis.
"Iya, betul. Ada apa ini?" tanya kepala bodyguard yang takut terjadi sesuatu pada nona majikanya.
Kepala bodyguard segera beringsut turun dari mobil dan mengejar Cipto yang sedang berlari menuju kantor polisi.
"Tunggu, Tuan muda Cipto." seru kepala Bodyguard David menahan lengan Cipto.
"Lepas ... lepaskan aku!" Cipto mencoba memberontak menarik tanganya sekuat tenaga.
Kepala Bodyguard itu semakin penasaran dan langsung memeluk Cipto mencoba untuk menenangkanya.
"Ada apa Tuan muda Cipto, katakan pada saya." ucap kepala Bodyguard sambil mengusap kepala Cipto yang sedang menangis.
"Mba Sri ... " Cipto menangis sesenggukan.
"Ada apa dengan nona Sri, cepat katakan pada saya!" kepala bodyguard makin cemas dan ketakutan.
"Mba Sri di tuduh menabrak salah satu warga dengan sengaja, dan sekarang beliau sedang di hakimi oleh warga." jelas Cipto dan sukses membuat darah si kepala bodyguard mendidih hingga ke ubun ubun.
"Ayo kita selamatkan, nona muda." si kepala bodyguard membopong Cipto dan berlari membawanya masuk ke dalam mobil.
"Ayo, kita harus bergerak cepat! nyawa nona muda Sri sedang terancam." ucap si kepala bodyguard dan bodyguard lainya kini terlihat murka setelahnya.
Si kepala Bodyguard melajukan mobil dengan se edan edanya, layaknya michael Schumacher yang sedang mengemudikan mobil formula F1 nya.
Tak butuh waktu lama untuk para bodyguard David untuk sampai di tempat, dimana Sri sedang di hakimi warganya.
Ke empat Bodyguard itu kini menerobos paksa dengan kasar dan menyingkirkan siapa saja yang menghalangi jalanya.
"Nona ... nona." seru kepala Bodyguard yang mendapati Sri kini telah babak belur dan tak sadarkan diri.
Si kepala Bodyguard langsung mengangkat tubuh Sri dan memasukanya ke dalam mobil.
"Kau bawa nona muda ke rumah sakit cepat! dan kalian berdua ikuti aku, aku butuh bantuan kalian untuk membantai orang yang telah berani menyentuh nona Sri dengan tangan kotornya.
Sri di larikan ke rumah sakit oleh salah satu Bodyguard David. Sedang ketiga Bodyguard lainya terlihat sudah murka berjalan menghampiri Ibu Rahwana yang telah tega menyakiti Sri dengan tangan kotornya.
Tubuh Ibu Rohwana bergetar hebat ketika si kepala Bodyguard menatapnya dengan tatapan tajam menghunus padanya.
"Kau telah mengantar nyawamu sendiri wanita tua!" ucap si kepala Bodyguard dengan nada dingin dan menakutkan setelah melihat noda darah Sri di tanganya.
"Aku tanya pada kalian semua, siapa saja tadi oranya yang telah berani menyentuh Nona muda Sri!" teriak si kepala bodyguard.
Semua warga yang berada di TKP terlihat ketakutan hebat.
Tak ada yang berani bersuara apalagi mengakui kesalahanya. Si kepala bodyguard kini menoleh ke arah Pak Agus selaku RW setempat.
"Benar kau RW disini?" si kepala bodyguard dengan murka menarik mulut pak Agus dan menyeretnya ke tengah tengah kerumunan warga.
"Cepat katakan padaku siapa saja pelakunya, kalau tidak, maka aku tidak akan segan lagi membunuh semua warga yang berada dan berdiri disini!" ancam si kepala Bodyguard tidak main main.
Rihana maju ke tengah tengah kerumunan warga dan memberikan secarik kertas berisikan nama nama pelaku, yang dengan sengaja melakukan kekerasan pada Sri.
Sang Bodyguard kini bisa tersenyum terkekeh setelah membaca satu persatu nama nama orang yang telah sengaja melakukan kekerasan pada nona mudanya.
"Yang namanya aku sebutkan, cepat maju! jika tidak mau, aku akan membakar seluruh kampung ini!" ancam kepala bodyguard.
Si kepala Bodyguard memanggil satu persatu nama yang telah tertera di secarik kertas yang telah di tulis oleh Rihana.
Dan lebih parahnya lagi. Suami dari Ibu Rahwana yang bernama Dorna pun ikut andil dan membatu istrinya menyakiti Sri.
Semua berjumlah 11 orang. Sudah termasuk Ibu Rahwana dan Pak Dorna selaku suaminya. Si kepala bodyguard terlihat menguhubungi seseorang untuk membawakanya sebuah mobil truck untuk membawa 11 orang ini ke tempat paling jauh untuk menikmati hukumanya.
yaelah Thor kok nanggung sehhh....
up dunk.
Rahwana
rohani
Dan terakhir Dorna(sampe salah baca aku Thor bacanya dorra, karena begadang Ampe jam 1 mlm bacanya, mo dlanjutin besok kok sayang😁😁)
motor mionk...🤣🤣🤣🤣
aimakjang, bacanya aja dah bikin pipiku sakit gak bisa brnti ketawa..🤣🤣🤣
penggal aja bg David si rohhalus tu...