Dia membagi kehangatan Ranjangnya bersamaku dengan Ranjang lainnya, tapi ia tak bisa membagi hatinya meski hanya sedikit untuk ku.
Aku adalah Istri sahnya menurut hukum agama dan negara, namun baginya, aku tidak lah lebih dari sekedar Istri Partner Ranjangnya.
Mana lagi yang lebih menyakitkan? Dari pada Hidup bersama dengan orang yang tidak mencintai kita, dan merelakan pergi orang yang kita cintai.
Bagaiman dengan kehidupan Ayla esok jika ia terus menjalani hidupnya dalam ikatan rumit seperti ini? Akankah Ayla mampu bertahan? Atau kah ia harus menyerah.?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Min Ziy. Minfiatin FauZiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERSIKAP ADIL
Hari berganti hari, Nesa semakin merasakan perubahan Aryan.
Dalam sehari, jarang sekali Aryan memberi kabar padanya meski hanya sebuah pesan singkat, apalagi telfon, sering kali telfonya harus menunggu lama, baru setelah itu mendapat balasan telfon balik dari Aryan, yah, meski pun setiap Nesa meminta ketemu, Aryan selalu datang menemuinya. Tapi ia merasa Aryan nya kini tidak lagi seperti Aryan nya yang dulu.
Siang ini nesa menemui Aryan di kantor, dia mengajak Aryan untuk makan siang bersama di restoran favorit mereka, awalnya Aryan ragu, apalagi ketika melihat wajah pias Ayla yang ia palingkan ketika Nesa datang, tapi lagi lagi Aryan tidak akan tega dengan rengekan Nesa, yang memang selalu manja padanya. Akhirnya Aryan setuju untuk pergi makan siang bareng Nesa. Mereka melajukan mobil membelah keramaian jalanan kota.
..."Kamu sibuk terus bie, kamu nggak lagi merhatiin aku, kamu udah nggak sayang sama aku bie?"...
..."Ngomong apa sih kamu bie, jangan berfikir macam-macam ah, aku memang sedikit sibuk sekarang, semenjak papah meninggal, semua perusahaan aku yang mengatur,."...
..."Bukan kah ada Ayla yang membantumu disana bie?"...
..."Ayla juga masih baru belajar bie"...
..."Kalau begitu rekrut seseorang yang ahli dalam hal ini bie"...
..."Tidak bisa bie, itu justru akan memperumit, karna keputusan yang aku limpahkan justru akan butuh tanda tangan ku bolak balik. dan untuk klaim kekuasaan aku tidak mungkin bisa memberikan kepercayaan itu pada sembarang orang, lagi pula, kesibukan ku ini masih di batas wajar bie."...
..."Apa kamu telah membagi hati mu bie?...
..."Aku hanya membagi ranjang padanya, tidak dengan hati, dan kita sudah pernah membicarakan ini sebelumnya, so please, jangan membuatku tambah pusing, aku sudah cukup lelah karna pekerjaan."...
Nesa dengan jelas bahwa apa yang di katakan Aryan itu tidak lah sama dengan isi hatinya, Nesa yakin dan bisa merasakannya, karna Aryan sama sekali tidak melihat matanya saat bicara, dan wanita memang luar biasa jika soal perasaan, tidak akan bisa di bohongi. Tapi Nesa memilih diam tidak meneruskan topik obrolan itu, ia tidak mau jika Aryan semakin lama merasa semakin tidak nyaman bersama dengan nya.
...'aku tidak akan membiarkan hubungan antara kamu dengan Ayla semakin dalam bie, akan ku rebut kembali kamu seutuhnya, tidak ada lagi penghalang diantara kita saat ini. Kau hanya milik Ki bie, HANYA MILIK KU'....
Nesa menatap Aryan yang tengah lahap menyantap makan siang nya.
Aryan kembali ke kantor sedikit terlambat, ia sampai di ruangan nya hampir pukul 03 sore. Saat karyawan lain sebentar lagi memasuki waktunya pulang.
Aryan hendak memasuki ruangannya dengan perasaan gamang, sejujurnya ia merasa tidak enak dengan Ayla
...'Hah, ternyata berpoligami tidak lah seindah itu. Dan tidak semudah itu.'...
Ada tanggung jawab dan beban yang besar yang harus di rasakan, belum lagi tekanan batin satu sama lain.
..."Ya Allah,"...
Aryan mengusap wajahnya dengan kedua tangan nya gusar.
...'Bismillah,'...
Aryan mulai memutar gagang pintu, membuka dan melangkah memasuki ruangan nya.
Ia masuk dan pandanganya langsung mengedar ke arah meja Ayla. Di lihatnya istri Partner ranjang nya itu tengah sibuk menyusun setumpuk map.
..."Ay,"...
..."Wa'alaikum salam,"...
Aryan merasa malu dengan jawaban yang Ayla berikan.
Aryan menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.
..."Emmm, Assalamu'alaikum Ayla,,"...
..."Wa'alaikum salam Mas."...
Ayla lantas berdiri dari kursinya menghampiri Aryan, meraih tangan kanan Aryan dan menciumnya, seperti aktifitasnya sebelumnya semenjak hubungan mereka mulai dekat,.
..."Kamu, sudah selesai dengan pekerjaan mu ay?"...
..."Sebenarnya belum sih mas, akan aku selesaikan nanti saat di rumah, tapi aku harus segera pergi sekarang, aku ada janji ke suatu tempat."...
..."Mau kemana ay?"...
Aryan bertanya karna penasaran.
Alih-alih menjawab Ayla hanya tersenyum, sambil berkata.
..."Boleh ya mas?"...
Ayla meminta izin sambil tersenyum.
..."Biar aku antar ya ay? Biar aku bisa bersikap adil, dalam membagi waktu ku, untuk mu dan Nesa."...
Kalimat Aryan seketika membuat Ayla tertawa cekikikan. Tetapi sesungguhnya jauh di dasar lubuk hati sana ada yang terasa nyeri begitu hebat.
..."Ya udah mas, kita berangkat sekarang, takut kesorean."...
Jawab Nesa sambil berjalan dan Aryan mengekor di belakang nya.
Setelah hampir setengah jam, mereka sampai pada suatu rumah, rumah dengan halaman depan luas yang di depan nya tertera papa
*Panti Asuhan Kasih Bunda*.
..."Ay, ini? Panti asuhan?"...
Kembali dengan senyum manis Ayla menjawab
..."iya mas, aku biasa main kesini."...
Saat memasuki halaman, Ayla di sambut dengan anak-anak yang berlarian berhambur ke arah Ayla sekedar ingin memeluk atau menyalami tangan nya. Aryan hanya bisa kikuk kaku melihat moment-moment itu. Lalu datang seorang Ibu yang juga menyambut kedatangan Ayla.
..."Nak Ayla,"...
Ibu pengasuh memberikan pelukan hangat pada Ayla. sedangkan Aryan hanya menganggukkan kepala sambil senyum.
..."Siapa laki-laki tampan ini nak Ayla?"...
..."Dia adalah suami saya Bu."...
..."Nanti kalau sudah besar, Arini juga mau memiliki suami yang tampan seperti om ganteng ini."...
Celetuk seorang anak perempuan yang usia nya mungkin baru 6 atau 7 tahunan itu, gadis kecil yang terlihat imut dan menggemaskan dengan balutan jilbab pink.
Seketika orang-orang memandang ke arah Arini si gadis kecil yang imut, Ayla tersenyum, begitu juga dengan Aryan. Sedangkan dari raut muka ibu pengasuh panti mereka terlihat kaget dengan penuturan Arini.
..."Kalau kamu mau, aku bisa jadi suamimu."...
Sahut anak pria yang tubuhnya lebih kecil dari Arini, mungkin anak itu baru berusia 4 atau 5 tahun, karna cara bicaranya juga masih terdengar cadel.
Seketika suasana pecah dengan tawa terbahak bahak dari mereka.
Saat jam menunjuk kan pukul 05 sore. Mereka pamit, setelah tadi sudah melaksanakan ibadah shalat ashar dengan berjamaah bersama.
Sebelum Ayla pamit, ia mentransfer sejumlah nominal uang ke rekening panti.
Aryan begitu kagum dengan kepribadian Nesa yang jauh berbeda. Meski begitu, Aryan tak pernah mengungkapkannya pada Ayla.
..."Ay, kita mampir ke cafe Jho ya! Sebentar lagi juga mau masuk Maghrib, kita sekalian shalat disana."...
Semenjak hubungan nya dengan Ayla membaik dan semakin dekat, Aryan jadi rajin shalat, awalnya hanya merasa sungkan karna saat bersamanya, Ayla selalu menunaikan kewajibannya, sedangkan ia adalah imam yang selalu di sebutkan Ayla sebagai pemimpin, karna nya Aryan tiba tiba memiliki rasa ingin melaksanakan kewajibannya juga secara rutin.
Ayla dan Aryan mampir dulu ke cafe Jho. Dan tanpa mereka sadari, jika sepasang mata Nesa telah menatap mereka dengan tatapan tajam seakan ingin membunuh.
INEKE harusnya bahagia
Walaupun kecewa dgn kelaukuan Rain yg selalu menyakiti
Beritahu Rain dia sdg mengandung anaknya, stlh Rain tahu barulah Ineke balas menyakiti Rain agar ga semena2 mentang2 Bos Mafia mau seenaknya.
Misalnya dgn tinggal serumah tp ga sekamar biar Rain merasa tersiksa berdekatan tp hanya bs memandang Calon Anak n Istrinya tp g bs menyentuh atau berbincang
Agar Rain berjuang menggapai cintanya
Walau sebenarnya Ineke hanya pura2 dingin acuh ga mudah disentuh saat berhadapan n berdekatan dgn Rain
Ternyata Ayla nyanyi Aryan n Nesa asyik mojok 2 an untung Ayla ga lihat tp walau gt kasihan Aylanya
Berkorban meninggalkan cintanya demi dijodohkan oleh Ayahnya kpd Aryan anak shbtnya
Tp Aryan mau menang sendiri enak sendiri