COVER FROM PINTEREST
"Perjanjian? Perjanjian apa?” tanya Jasmine tak menyangka kalau pernikahan yang sangat ingin dia lakukan seumur hidup sekali ini harus serumit ini.
“Aku sudah membuat semua keinginanku. Jadi, giliranmu untuk membuatnya. Kalau sudah selesai, segera berikan padaku. Kau boleh menulis apapun yang kau mau dalam 5 poin saja dan itu pun tidak boleh bertentangan dengan poin yang sudah aku buat untuk dirimu. Silakan pikirkan dulu baik-baik. Jika sudah, mari kita sepakati bersama dan tanda tangani. Jika salah satu dari kita melanggar, maka ada hukumannya.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzieraHill, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Tak Sengaja Sekamar
Jordan memasuki apartemennya dengan hati-hati. Sepanjang jalan dia memikirkan kata-kata Roy. Selain itu, Jordan juga memikirkan bagaimana harus berhadapan dengan Jasmine yang tadi pagi sudah berani membuatnya tegang. Memang awalnya Jordan masuk ke dalam kamarnya lagi, tapi dia memikirkan banyak kemungkinan jika dia menghabiskan waktu untuk menidurkan adiknya. Akhirnya mau tak mau dia langsung berangkat ke kantornya.
Jordan membuka sepatunya dan memperhatikan apartemennya yang nampak sepi. Kemana pergi istrinya itu, pikirnya. Padahal kemarin Jasmine menyambut kedatangannya, tapi kenapa sekarang tidak. Ah, Jordan merutuki dirinya sendiri. Apakah dia sedang berharap Jasmine menyambut kedatangannya? Jordan pun melangkah masuk ke dalam apartemennya, tapi dia mendapatkan wajah seseorang di atas sofa.
“Jasmine,” bisiknya pada diri sendiri, berjalan perlahan ke arah sofa. Lalu Jordan duduk perlahan di pinggir sofa seraya menatap perempuan yang tengah memejamkan matanya itu.
Entah kenapa Jordan malah mengembangkan senyumannya. Dia mengingat pertama kali mereka bertemu. Saat itu Jasmine masih sekolah dan Jasmine harus menerima pahitnya hidup yaitu kehilangan ke dua orangtuanya. Hampir selama seminggu Jasmine selalu saja menangis dan murung di dalam kamarnya hingga akhirnya Endra membawa Jordan ke rumahnya.
Endra meminta tolong pada Jordan agar Jordan mau membantunya menghibur adiknya. Akhirnya Jordan sungguh melakukannya. Jordan juga membawa Jasmine ke rumahnya hingga Jasmine dan Greta semakin dekat. Jasmine banyak belajar memasak dari Greta dan Jasmine mulai melupakan rasa sedihnya.
“Mas,” suara Jasmine membuat Jordan mengalihkan pandangannya pada wajah istrinya yang baru dia sadar nampak pucat sekali.
Jordan pun buru-buru memegang kening istrinya dan betapa kagetnya Jordan ketika suhu badan Jasmine panas.
“Kau demam!” ucap Jordan dengan wajah paniknya, tapi Jasmine langsung menangkap tangan Jordan yang sedang menyentuh keningnya.
“Maaf, Mas. Aku belum masak apa-apa untuk makan malam,” ungkap Jasmine dengan senyumannya sungguh melukai perasaan Jordan. Jordan merasa bodoh sebagai suami dan betapa egoisnya Jordan beberapa hari ini.
“Aku akan mengompresmu. Tunggu!” bukannya membalas perkataan Jasmine. Jordan malah nampak ingin mencari sesuatu yang bisa membuat demam istrinya turun. Namun Jasmine menahan tangan Jordan sehingga Jordan kembali memperhatikan wajah istrinya yang pucat.
“Aku gak apa-apa, Mas. Aku hanya kelelahan karena kemarin di luar seharian.”
Jordan tahu kalau Jasmine berbohong padanya. Itu bukan alasan kalau Jasmine memang di luar seharian karena setahunya Endra sudah menyuruh Jasmine keluar dari pekerjaannya di café Mike. Tentu Jasmine tak memiliki kegiatan di luar.
Tiba-tiba Jordan mengingat kejadian kemarin malam. Jordan pun segera mengalihkan pandangannya pada kaki Jasmine. Dia mengangkat dress milik Jasmine sebatas lutut lalu menemukan sebuah memar keunguan. Jordan segera menyentuhnya dan Jasmine meringis kesakitan.
“Kau tidak mengobatinya? Apa ini sangat sakit? Apa jangan-jangan kau juga tidak kuat berdiri dan belum makan?”
Mendengar rentetan pertanyaan dari Jordan rasanya membuat Jasmine merasa diperhatikan sekali. Jasmine merasa bahagia melihat kekhawatiran Jordan terhadapnya.
“Mas benar,” ucap Jasmine dan membuat mata Jordan melotot. Jordan pun mengeluarkan ponselnya segera memesan makanan. Setelah memesan makanan, pria itu segera masuk ke dalam kamar untuk mengambil kotak obat dan berusaha untuk mengobati luka istrinya.
“Apa kita ke dokter saja besok?” tanya Jordan seraya mengeluarkan salah satu yang menurutnya ampuh untuk menyembuhkan memar Jasmine.
“Aku gak apa-apa, Mas. Ini hanya sedikit terasa ngilu, tapi besok aku yakin. Aku akan baikan.”
Jordan melirik ke arah Jasmine. “Kau yakin?” tanya Jordan yang justru dirinyalah yang tak yakin kalau besok istrinya akan baik-baik saja. Bagaimana kalau sebaliknya? pikirnya.
Jasmine menganggukkan kepalanya. Tak lupa dengan senyuman lebarnya yang menunjukkan bahwa dirinya sangat bahagia melihat Jordan kembali menjadi Jordan yang dulu dia kenal. Sangat penyayang dan juga baik padanya. “Melihat Mas di sampingku saja sudah membuat sakitnya tidak terasa,” ungkap Jasmine membuat gerakan Jordan yang sedang mengoleskan sebuah obat di kaki Jasmine terhenti.
Jordan mengangkat kepalanya untuk melihat wajah istrinya. Sejenak mereka saling tatap dan Jordan mencoba mencari tahu apa Jasmine sungguh mencintainya dengan tulus.
“Mas, aku tahu, perasaan memang tidak bisa dipaksakan, tapi orang bilang, cinta itu datang karena terbiasa. Aku akan menunggumu, Mas. Tidak peduli berapa lama aku harus menunggu, tidak peduli seberapa lelahnya aku harus bersabar waktu itu datang. Aku hanya ingin Mas memberikanku kesempatan.”
Perasaan apa ini? Jordan tidak tahu kenapa dia merasa seperti orang jahat yang tidak bisa membuka hatinya untuk istrinya sendiri. Apakah dia sungguh tidak bisa melupakan Laura? Atau apakah ini saatnya dia memang harus melupakan Laura?
“Mas, aku mencintaimu bukan karena aku ingin. Perasaan ini sungguh tumbuh begitu saja sejak lama,” ucap Jasmine lagi kali ini membuat Jordan merasa luluh dengan wajah istrinya yang menteskan air mata.
Ting nong, Ting nong, Ting nong.
Namun sebuah bel memisahkan tatapan mereka. “Pesanannya sudah datang,” ucap Jordan lalu meninggalkan Jasmine yang berada di atas sofa.
Jasmine pun sekali lagi tersenyum melihat punggung suaminya yang berjalan ke arah pintu. Kalau saja sakit membuat Jordan sangat perhatian padanya. Dia mau sakit setiap hari, asalkan Jordan mencurahkan semua perhatiannya padanya.
“Ini uangnya,” suara Jordan terdengar di telinga Jasmine. Bahkan suaminya sangat peduli ketika Jasmine mengatakan bahwa tebakan Jordan memang benar. Dia sakit dan badannya seharian terasa lemah sehingga dia tak mampu melakukan apapun seharian ini. Tak makan seharian pun mungkin pemicu demam Jasmine.
Jasmine bohong kalau tadi pagi dia merasa baikan. Nyatanya ketika Jordan membuka kamarnya. Jasmine tak kuasa menopang tubuhnya dan malah kembali ke atas ranjang. Begitu dia menguatkan dirinya ingin keluar menyiapkan makan untuk Jordan. Dia malah tak menemukan Jordan, tapi dia senang karena makanannya yang semalam tidak ada. Jasmine menebak-nebak apakah makanannya Jordan makan, tapi dia sangat yakin kalau Jordan tak mungkin membuangnya karena di tempat sampah, dia tak menemukan apapun.
“Ayo makan dulu,” ucap Jordan membawa dua bungkus paketan ayam goreng dari restoran depan apartemennya. Pantas saja cepat sekali.
“Aku lemas sekali, Mas. Mas saja yang makan,” ucap Jasmine sama sekali tidak memiliki energi. Ingin bangun dia benar-benar tidak ada tenaga, perut tidak terisi saja tidak dia rasa karena saking lemasnya.
Jordan pun nampak terdiam sejenak. Dia menatap Jasmine sekilas lalu menatap makanan yang sudah dia pesan. Tidak mungkin kan kalau dia hanya makan sendiri. Apalagi dia membeli makanan ini memang karena Jasmine belum makan.
“Baiklah,” Jordan menghela nafasnya sendiri. “Aku akan menyuapimu,” ucapnya sungguh di luar dugaan Jasmine.
Jasmine pun tersenyum seraya berusaha menarik tubuhnya agar bisa duduk, tapi ternyata dia memang tak bohong. Tubuhnya memang lemah. Bahkan tangannya sedikit bergetar.
“Setelah ini aku akan mengompresmu supaya demamnya turun,” ucap Jordan semakin membuat Jasmine merasa disayang oleh suaminya ini.
“Terima kasih, Mas. Maaf kalau aku menyusahkanm,” ucap Jasmine, tapi kali ini dia dapat senyuman dari suaminya. Ah, sudah berapa lama dia tak mendapatkan senyuman itu? Rasanya menyejukkan sekali.
“Ayo, kau harus makan yang banyak,” ucap Jordan seraya membuka makanan pesanannya dan bersiap untuk menyuapi istrinya yang sedang merasa bahagia dengan perlakuan manis suaminya.
[…]
Jordan tak sadar kalau dirinya tertidur di samping Jasmine. Bahkan dia tak sadar kalau tangannya melingkar di pinggang istrinya. Cepat-cepat Jordan melepasnya.
“Mas,” suara serak Jasmine khas orang bangun tidur membuat Jordan menolehkan kepalanya ke arah samping. Ya Tuhan! jarak mereka dekat sekali.
“Mas sudah bangun?” Tanya Jasmine. Oh tidak, kenapa mereka seperti suami-istri sungguhan. Bahkan poin ke dua miliknya yang tidak akan tidur dalam satu kamar sudah dia langgar sendiri.
God! Buru-buru Jordan turun dari ranjang Jasmine.
“Aku…, Aku akan bersiap-siap ke kantor,” ucap Jordan nampak seperti orang yang gugup, tapi meratapi kebodohannya.
Pria itu pun segera berjalan menuju pintu, tapi dia melupakan sesuatu. Sejak kapan dia tak memakai kemejanya yang semalam. Dia baru sadar kalau tubuh atletisnya sudah dinikmati keindahannya oleh Jasmine.
Jordan kembali ke ranjang Jasmine dan meraih kemejanya yang semalam tak sengaja dia lepas. Jasmine malah terkekeh melihat tingkah Jordan.
“Mas bilang tidak biasa tidur memakai baju,” jelas Jasmine tak mau dituduh kalau dia yang melepas baju suaminya. Makanya dia kembali mengucapkan apa yang Jordan katakan semalam padanya. Setelah Jordan mengangkat tubuh Jasmine ke dalam kamar dan Jordan ikut berbaring menemani Jasmine.
“Iyah aku tahu!” kata Jordan lalu kembali berjalan ke arah pintu dan keluar dari kamar Jasmine.
Jasmine pun terkekeh kembali. Namun dia senang karena tubuhnya sungguh segar pagi ini. Ternyata obatnya memang hanya satu. Mendapatkan perhatian besar dari suaminya adalah obat yang paling manjur ketika dia sakit. Padahal Jasmine tak pernah sembuh secepat ini ketika dia demam. Jordan memang hebat.
beda banget arti engsel & handle🙏🙏
Kan endra mmg sengaja ngajak Laura utk dioerkenalkan ama Jordan spy dia bisa bebas Dari Laura 🤔
udh lama nunggu nya😭😭