Lonceng di menara yang sudah lama 'tidur' tiba-tiba berdentang di tengah malam. Tepat di hari pertama kedatangan Monica Steward; gadis kota yang baru pindah ke desa tersebut. Ada sebuah legenda yang di percaya penduduk desa mengenai dentang lonceng itu. Legenda yang mengatakan jika lonceng di menara berdentang dua belas kali tepat pukul dua belas tengah malam, menandakan akan adanya hal buruk yang terjadi. Hal buruk seperti apakah itu?
Di waktu lain muncul seorang pemuda asing membantu Monica. Anehnya pemuda yang sama sekali tidak di kenal itu bisa langsung mengetahui nama Monica. Sebuah peristiwa mengerikan perlahan membuka ingatan Monica melalui mimpi-mimpinya. Siapakah pemuda itu? Apa hubungannya dengan Monica?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eriza Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 15
Beberapa hari berlalu. Tidak ada yang berubah kecuali Monica dikelilingi teman-teman di kelasnya. Sera, Isabelle dan Melisa tetap memonopoli Monica di jam istirahat.
Lonceng berakhirnya sekolah berbunyi. Monica merapikan buku-bukunya. Renata dan Leslie memanggil Monica untuk pamit duluan. Beberapa teman sekelasnya sudah ke luar lebih dulu. Monica meraih tas nya beranjak pergi.
"Monica," panggil Nathan.
"Ya?" jawab Monica. Ia menoleh pada Nathan.
"Ayo, turun sama-sama!" ajak Nathan.
Monica dan Nathan ke luar kelas bersama. Tumben hari ini tidak ada ketiga teman 'satu tim' yang menunggu di depan kelas. Jadi ia meninggalkan kelas bersama Nathan.
"Sejak kau kembali ke sekolah banyak yang berubah, ya?" Nathan memulai obrolan.
"Apa yang berubah?" tanya Monica.
"Aku senang melihatmu memiliki banyak teman. Mereka yang dulu membully-mu tidak berani lagi mengganggumu," jawab Nathan.
"Aku juga tak mengira kau berteman baik dengan murid kelas sebelah juga, selain Sera," tambahnya.
"Oh ... aku sudah berteman dengan mereka lebih dulu," ucap Monica.
Nathan dan Monica berjalan pulang bersama. Sampai di persimpangan jalan keduanya baru berpisah.
.........
Malam hari. Monica duduk di atas kasurnya sambil membaca buku.
"Belum tidur?"
Monica menoleh ke arah suara. Arthur sedang berdiri di samping jendela.
"Bagaimana kau masuk?" tanya Monica.
Arthur melirik jendela yang masih terbuka.
"Kau lupa menutup jendelamu! Dan selalu tidak menguncinya," jawabnya.
Monica tersenyum.
"Aku pikir tidak akan ada pencuri yang akan masuk melalui jendela lantai empat."
Arthur lalu berjalan mendekat. Ia duduk di atas kasur.
"Kenapa memilih tinggal di sini sendiri? Bukankah sudah punya bibi?" tanyanya.
"Aku lebih suka tinggal sendiri dan tidak merepotkan orang lain. Lagi pula aku sudah terbiasa hidup mandiri," jawab Monica.
"Gadis pemberani!" puji Arthur sambil menyunggingkan senyum tipis.
Monica menatap wajah Arthur dengan seksama. Entah mengapa ada perasaan familiar yang sulit ia jelaskan saat melihat Arthur.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Arthur.
"Siapa kau sebenarnya?" Monica mengalihkan pertanyaan.
"Bukankah sudah ku beri tahu namaku-"
"Bukan itu," potong Monica.
Arthur mengangkat sebelah alisnya.
"Kenapa rasanya aku mengenalmu?!" ucap Monica.
"Bukankah kita memang sudah kenal?"
"Bukan kenal yang seperti itu. Rasanya seperti sudah kenal sangat lama. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya," tutur Monica.
"Apa kau ingat sesuatu?" tanya Arthur.
"Tidak," jawab Monica. Ia masih tidak yakin Arthur ada hubungannya dengan mimpi anehnya itu.
Arthur tersenyum tipis.
"Tidurlah! Ini sudah larut malam. Jangan lupa tutup jendelanya!" pesannya. Ia berjalan ke arah jendela dan seketika menghilang.
...*****...
Dalam sebuah pesta dansa. Monica sedang berdansa dengan seorang pemuda. Anehnya meski jarak begitu dekat Monica tidak bisa melihat wajah pemuda itu dengan jelas.
Saat dansa selesai, pemuda itu meraih tangan Monica.
Tiba-tiba terjadi serangan dari luar. Suasana seketika menjadi gaduh. Para pria yang merupakan tamu pesta ikut bertarung melawan prajurit yang menyerang. Pemuda itu juga melawan prajurit yang menyerangnya sambil melindungi Monica. Prajurit berhasil di tumbangkan. Pemuda itu menarik tangan Monica membawanya pergi mencari tempat aman. Mereka sampai di ruang utama menara.
"Tenanglah! Aku akan melindungimu!" ucap pemuda itu sambil memeluk Monica.
Tiba-tiba api yang ditembakkan dengan busur panah mengenai gorden sehingga api pun menyebar. Beberapa prajurit mulai masuk ke dalam ruangan dan menyerang pemuda tersebut. Monica segera bersembunyi. Namun seorang prajurit berhasil menemukan Monica. Prajurit itu mengarahkan anak panah yang langsung mendarat tepat di punggung Monica. Pemuda yang melihat itu langsung berteriak histeris.
"MONICA ...."
Seketika Monica terbangun dari tidurnya. Keringat dingin mengucur dari dahi. Nafasnya terengah-engah.
"Mimpi apa itu?"
Ia melirik jam di samping tempat tidurnya. Ia bergegas turun dari tempat tidur, segera mandi, merapikan diri, bersiap untuk berangkat sekolah. Monica memasang name tag di bajunya dengan terburu-buru. Karena tidak hati-hati jarum peniti pada name tag menusuk jarinya.
"Aduh ...."
Setitik darah keluar dari jarinya. Melihat darah segar di jarinya mata Monica berubah. Ia segera menggelengkan kepalanya kembali bergegas.
........
Di jam istirahat, Monica duduk di bangkunya sambil membenamkan kepala ke meja.
"Monica, apa kau sedang tidak enak badan?" Renata menghampiri Monica. Karena tak biasanya melihat Monica seperti itu.
Monica mengangkat kepalanya.
"Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit pusing," jawab Monica.
"Oh, jika merasa tidak enak badan aku bisa menemanimu berbicara dengan guru agar kau diijinkan pulang," Renata menawarkan bantuan.
"Tidak apa-apa. Tidak perlu cemas." Monica meyakinkan.
"Baiklah, aku dan yang lainnya mau ke kantin. Apa kau mau kubelikan sesuatu?" tanya Renata.
"Tidak perlu. Terima kasih," tolak Monica.
Renata pun pergi bersama temannya.
Monica kembali membenamkan kepalanya.
'Aneh, kenapa tiba-tiba rasanya pusing dan lelah sekali. Tubuhku terasa tak bertenaga,' batinnya.
"Monica, kau baik-baik saja?" Kali ini Nathan yang bertanya. Ia berdiri di samping meja Monica.
"Ya. Aku hanya lelah. Tolong, biarkan aku istirahat sebentar!" kata Monica tanpa mengangkat kepalanya. Nathan pun kembali ke bangkunya.
"Aku mencarimu di kantin ternyata kau masih di sini." Sera tiba-tiba datang menghampiri.
"Monica?"
"Hm ..." gumam Monica.
"Monica bilang dia lelah. Kalau tidak ada perlu lebih baik biarkan dia istirahat saja." Nathan memberitahu Sera.
Sera tak menggubrisnya.
"Monica, kau sakit?" Sera mencoba mendekat.
Monica menatap Sera dengan tatapan mata yang menyala. Raut wajahnya pun nampak tak biasa dengan semburat pucat. Sera terkejut, ia merasakan adanya ancaman. Lalu mundur beberapa langkah. Nathan hanya memperhatikan Sera. Ia tidak heran dengan tingkah Sera yang kadang sulit di mengerti.
"Aku akan memanggil Isabelle. Kau tetap di sini, ya!" kata Sera. Ia bergegas pergi.
Tak sampai lima menit, Sera sudah kembali bersama Isabelle dan Melisa.
"Monica!" panggil Isabelle.
"Hei, kenapa kalian datang ribut di sini? Monica hanya lelah dan butuh istirahat." Nathan berdiri angkat bicara.
"Kau diam saja!" balas Melisa.
Isabelle mengusap kepala Monica. Monica lalu mengangkat kepalanya menatap Isabelle dengan tatapan yang sama saat melihat Sera. Isabelle seakan mengerti dengan apa yang terjadi.
"Kau memang tidak sehat!" ujar Isabelle.
"Kalian berdua bereskan barangnya. Aku akan membawanya ke ruang guru," suruh Isabelle.
"Tunggu! Aku ikut!" ujar Nathan.
"Jangan ikut campur! Monica adalah saudaraku!" tegas Isabelle.
"Monica, ayo!" Isabelle memegang tangan Monica. Monica menurut mengikutinya.
Isabelle menatap Melisa memberi isyarat mata. Ia harus membawa Monica ke luar dari lingkungan sekolah. Melisa mengangguk kecil memahami maksud Isabelle.
Isabelle bergegas membawa Monica pergi. Nathan yang berniat mengikuti mereka dicegah oleh Melisa. Sera yang pandai membaca situasi juga ikut menahan Nathan.
Isabelle membawa Monica ke hutan belakang sekolah. Nafas Monica semakin cepat. Isabelle merasakan tangan Monica yang sedingin es. Monica masih diam tanpa ekspresi. Meskipun setengah vampir juga bisa menjadi buas jika sedang 'lapar'. Tiba-tiba Monica mencengkeram tangan Isabelle dengan tangan satunya. Isabelle lalu melepaskan pegangannya pada Monica.
"Monica!" panggil Isabelle.
bersambung......
bisa lihat apa aja yg udah terjadi, bahkan yg akan terjadi
i'm really really
Like