NovelToon NovelToon
Suddenly Became A Prince #2

Suddenly Became A Prince #2

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi Urban-Percintaan Modern / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 5
Nama Author: Alana Kanaya

Spin off I don't want to be Cinderella.

Asoka Danubrata selama ini hidup dalam kesederhanaan bersama ibu dan kakaknya, sehingga suatu hari ayah kandung yang selama ini tidak tahu keberadaannya muncul. Tanpa diduga sang ayah adalah salah seorang pengusaha sukses properti negri ini, hingga menjadikannya bak seorang Pangeran dalam semalam.

Di sisi lain Bentari Sagita, kakak Asoka, harus merasakan patah hati untuk kesekian kalinya ketika Birendra Abhimana, pria yang dia cintai lebih memilih perempuan lain dan meninggalkannya.

Apakah benar Birendra meninggalkan Bentari demi perempuan lain, atau ada kisah masa lalu kelam di balik keputusannya itu?

Apakah Asoka akan dengan mudahnya menerima kehadiran sang ayah hanya demi status sebagai salah seorang pangeran properti negri ini? Atau dia lebih memilih hidup sederhana seperti selama ini bersama dengan ibu dan kakaknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alana Kanaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Happiness Indicator (Indikator Kebahagiaan)

“Ini apa?” Bu Mega terlihat bingung ketika mereka bertiga membongkar isi koper di ruang keluarga.

“Oleh-oleh dari tante Mayang, buat Mamah sama teteh.”

“Banyak banget ini.”

Oka hanya mengedikan bahu sambil mengambil satu kotak almond crispy rasa coklat yang berada di antara oleh-oleh yang ada di dalam koper yang awalnya berisi pakaian dan perlengkapan Oka dan Bentari selama di Surabaya kini telah beralih fungsi menjadi tempat oleh-oleh, sedangkan baju dan semua perlengkapan mereka tinggalkan di Surabaya.

“Baju-baju kalian ditinggal di Surabaya?”

“Ini adalah ide hebat Bi, Mah.” Bentari dengan bangga berkata sambil mengambil keripik buah.

“Tapi gara-gara ide hebat kakak, aku harus niggalin baju kesayanganku di sana.”

“Kan tadi di sana sudah setuju nanti bajunya kakak ganti, mana minta ditambah sepatu lagi.”

“Jangan lupa tas buat kuliah, ingat itu!”

“Dasar matre.”

“Bukan matre, tapi realistis, cerdas.” Oka mengangkat alis sombong sambil kembali memakan almond crispy.

“Ckkk!” Bentari hanya bisa berdecak kalah.

Sebetulnya tak jadi masalah sih pakaian mereka di tinggal di Surabaya daripada harus pulang dengan membawa banyak barang kan ribet, tapi kalau Bentari mau ganti barang-barang Oka, ya … si matre tak akan menolaklah.

Tadi pagi sebelum Oka dan Mayang pergi ke bank, orang suruhan Mayang datang dengan berkantong-kantong pesanan Mayang yang berisi oleh-oleh khas Surabaya.

Oka dan Bentari hanya bisa menatap kantong-kantong itu sambil menghela napas bingung bagaimana harus membawa semuanya pulang, sebelum akhirnya Bentari memiliki ide mengosongkan koper mereka setelah negosiasi yang alot dengan Oka sebelum akhirnya Bentari setuju akan membelikan baju baru untuk Oka ditambah sepatu juga tas.

“Kapan Mayang beli ini semua?” bu Mega mengeluarkan oleh-oleh dari mulai kerupuk udang, sambal, abon sapi, paru goreng, bebek djangkep, siropen telasih, belinjo udang, sampai dengan spikoe resep kuno, dan cemilan-cemilan seperti yang Oka dan Bentari makan saat ini. Dan itu bukan hanya satu-dua pack saja tapi sampai empat pack permacamnya.

“Waktu masih di Mojokerto sedang memersiapkan tahlilan eyang, bude Ani nanya kapan kami pulang ke Jakarta? Aku bilang besok karena Oka harus kuliah, terus mamah Mayang langsung menghubungi mas Wito buat beli ini semua.”

Bu Mega mengangguk-anggukan kepala sambil terus mengeluarkan oleh-oleh itu.

“Nanti kita bagi-bagiin ini ke tetangga. Tidak bakalan habis kalau kita makan semua ini.”

“Oka boleh minta abon nya tidak, Mah? Buat si bang Ke dan yang lainnya. Kasian mereka anak-anak kos yang lebih sering puasanya daripada makannya.”

“Boleh, nanti mamah gorengin bebeknya sekalian.”

“Bangke?”

“Namanya Kemal … bang Ke,” ucap Oka santai sambil kembali menyuap almond crispy membuat Bentari tertawa mengetahui kalau panggilan itu hasil karya adiknya yang iseng.

“Sekali-sekali kamu traktir makan enaklah teman-temanmu itu, kan sudah jadi pangeran property sekarang.” Bentari tersenyum sambil menaik turunkan alisnya menggoda Oka yang mendelik padanya, sebelum terdiam kemudian mengeluarkan sebuah amplop yang dia serahkan kepada bu Mega.

“Apa ini?” Bu Mega mengambil amplop itu, membukanya. Sejurus kemudian matanya terbelalak terkejut.

“Dari tante Mayang,” jawab Oka dengan wajah serius.

Melihat Oka yang tiba-tiba serius membuat Bentari penasaran, dan ikut melihat dokumen yang tadi dibaca bu Mega.

“Wow!” Bentari tak kalah terkejut dengan mata terbelalak membaca isi dokumen deposito milik Oka.

“Selama ini, tante Mayang menyisihkan uang untuk teteh …” secara singkat Oka menjelaskan mengenai pengalih nama deposito menjadi atas namanya itu.

Bu Mega dan Bentari mendengarkan dengan serius. Terlihat sangat jelas ada perasaan berat ketika Oka harus menerima deposito dalam jumlah fantastis itu.

“Ini hak kamu, Ka.”

“Tapi ini … berat, Mah.” Bu Mega mengangguk paham maksud putra bungsunya. “Mamah saja yang simpan, kalau mamah perlu pakai saja. Saat ini uang yang diberikan ayah setiap bulan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan Oka.”

Bu Mega terdiam sesaat kemudian mengangguk setuju untuk menyimpan dokumen deposito itu.

“Sekarang Mamah akan menyimpan ini untuk kamu. Suatu hari nanti mungkin kamu bisa gunakan uang ini untuk modal usahamu sendiri seperti yang kamu impikan selama ini.”

Oka memang ingin membuat usaha sendiri terlepas dari bayang-bayang nama besar ayahnya.

Ayah … Oka mengingat sesuatu dari pembicaraannya dengan Mayang mengenai ayahnya. Dari cerita Mayang, sedikit banyak Oka menjadi lebih mengenal sosok ayahnya yang keras kepala seperti dirinya, namun pekerja keras juga ulet hingga bisa sampai seperti sekarang.

“Mah … tante Mayang cerita kalau dia sempat berbicara kepada mamah untuk memikirkan kembali kepada ayah. Apa itu benar?”

“Apa? Mamah Mayang meminta Mamah untuk kembali bersama ayah?”

Bu Mega terdiam menatap kedua anaknya sebelum akhirnya mengangguk.

“Iya, setelah pernikahan teteh, Mayang memang sempat berbicara dengan mamah dan meminta mamah kembali kepada ayah … demi kalian.”

Oka sudah mengetahui ini dari Mayang, tapi mendengarnya kembali dari ibunya membuat Oka tetap terkejut seperti halnya Bentari yang matanya kini membulat tak percaya.

“Mayang bilang mungkin dengan kembalinya mamah dan ayah akan membuat kalian bertiga bahagia karena memiliki keluarga yang utuh.”

“Mamah … setuju?” Bentari bertanya masih dengan keterkejutannya.

“Tentu saja tidak. Dulu mungkin mamah dan ayah saling mencintai, tapi itu dulu … hampir 30 tahun yang lalu. Sekarang … mamah hanya menganggap ayah kalian seperti teman, atau saudara. Yang menghubungkan kami berdua saat ini hanya kalian bertiga, tidak lebih. Tidak ada perasaan kami yang tersimpan atau kalau bahasa anak-anak sekarang cinta yang belum usai atau cinta lama yang bersemi kembali. Tidak, kami tidak memiliki lagi rasa itu.”

Oka dan Bentari sama-sama terdiam.

“Apa kalian mau ayah dan mamah kembali?” Bu Mega bertanya setelah melihat reaksi diam kedua anaknya yang kini saling tatap sebelum menatap ke arahnya. “Kalian mau kami rujuk?”

Oka dan Bentari terdiam tak tahu harus menjawab apa. Tak pernah terbayangkan dalam benak mereka orangtuanya yang telah terpisah puluhan tahun akan kembali rujuk. Itu mungkin akan menjadi gambaran keluarga utuh, tapi … apa akan bahagia? Bukankah itu pertanyaan yang lebih tepatnya apa kedua orangtuanya akan bahagia kalau mereka rujuk? Bukankah selama ini mereka telah bahagia dengan kehidupan masing-masing?

Andi Santoso sudah bahagia dengan Mayang, begitupun dengan Mega yang bahagia dengan pilihannya sendiri. Andi Santoso, Mega dan Mayang pun kini memiliki hubungan baik, mereka saling menghubungi satu sama lain, saling menanyakan kabar, saling peduli layaknya keluarga. Kirana, Bentari dan Oka pun memiliki hubungan baik dengan ayah dan ibu sambungnya. Walau Oka masih sedikit canggung dengan ayahnya, tapi bukan berarti mereka memiliki hubungan yang buruk.

Jadi kenapa harus menghancurkan kebahagian yang sudah ada demi sesuatu yang belum pasti?

“Kalau boleh jujur, Oka tidak pernah berpikir mamah dan ayah untuk kembali rujuk, tapi kalau dengan rujuk mamah dan ayah bahagia … Oka tidak akan melarang.”

“Bi pun sama, tapi … bagaimana dengan mamah Mayang? Apa ayah akan berpoligami?”

“Hahaha.” Bu Mega tertawa mendengar ucapan kedua anak-anaknya yang mengharapkan kebahagian untuk orangtua mereka. “Poligami itu tidak mudah … kalian tahu salah satu syarat untuk poligami?”

“Harus adil.”

“Nah itu tahu. Adil menurut kita belum tentu adil bagi orang lain. Secara materi bisa saja ayahmu adil, tapi bagaimana dengan perasaan? Perasaan tak bisa adil, pasti akan ada yang merasa diabaikan, dinomer duakan. Kami hanyalah manusia akhir zaman yang terkadang masih penuh dengan naf*su dunia, kesalehan kami belum sampai sana. Sudah terlalu banyak dosa kami selama ini, jangan sampai niatnya ingin beribadah malah berakhir dengan menambah dosa karena naf*su dunia.”

Oka dan Bentari terdiam, sangat paham dengan maksud ucapan ibunya.

“Lagian baik mamah maupun ayahmu saat ini tak ada keinginan untuk kembali. Cukuplah saat ini kami berhubungan baik layaknya saudara, dan mamah memiliki saudara baru lagi … ibu sambung kalian. Mayang. Bukankah dia wanita hebat?”

Oka menganggukkan kepala setuju.

“Sangat jarang perempuan yang akan dengan setia menemani dalam keterpurukan seperti yang dilakukan Mayang kepada ayah kalian. Yang menyayangi anak sambungnya layaknya anak kandung. Kalian harus bersyukur untuk itu. Ibu kandung menyayangi dan rela berkorban untuk anaknya itu hal wajar yang dilakukan semua ibu di dunia, tapi ibu sambung yang seperti itu … itu luar biasa.”

Bentari dan Oka kembali mengangguk setuju.

“Tapi mamah juga hebat. Membesarkan teteh dan Oka seorang diri.”

“Itu sudah kewajiban semua ibu di muka bumi itu, membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Mamah tidak sendiri, mamah dibantu keluarga mamah … dan sempat ada seseorang di masa lalu mamah.”

Oka dan Bentari saling tatap sebelum kembali menatap bu Mega.

“Kamu masih terlalu kecil untuk mengingat tentang sosok ini, Ka, tapi teteh sudah sangat mengenal dan mengingatnya sampai sekarang. Dan mungkin ini menjadi salah satu alasan kenapa teteh bersikap realistis dalam mencari pasangan.”

Mata bu Mega menerawang mengingat kenangan masa lalunya.

“Setelah kembali ke Indonesia dan bercerai dengan ayah kalian. Mamah sempat dekat dengan … seseorang. Dia yang memberi semangat untuk kembali bangkit setelah perceraian mamah, dia cukup dekat dengan teteh dan Oka. Melihat bagaimana dia memerlakukan kalian membuat mamah akhirnya membuka diri kembali dan memutuskan untuk memulai hubungan baru dengannya.”

Bu Mega tersenyum sedikit meringis ketika harus kembali menceritakan kisah kasihnya dulu kepada kedua anaknya.

“Bekerja sebagai guru, sudah menjadi PNS, masa depannya cukup cerah dan latar belakang keluarganya yang memang keluarga PNS dengan golongan cukup tinggi, jadi ya wajar saja kalau orangtuanya tidak menyukai mamah yang janda beranak tiga. Walaupun pekerjaan mamah saat itu sebagai guru di sekolah internasional cukup bergengsi, tapi status janda anak tiga seolah menjadi aib bagi mereka. Namun suatu hari mamah dipanggil kedua orangtuanya, dan kalian tahu apa yang orantuanya katakan kepada mamah saat itu?”

“Mereka menghina mamah?” tanya Oka membuat bu Mega tersenyum.

“Tidak.”

“Mereka meminta mamah meninggalkan anaknya?”

“Itu sudah pasti … tapi itu kurang tepat.” Bu Mega menatap kedua anaknya sebelum kembali melanjutkan ceritanya. “Hari itu mereka bilang akan merestui hubungan kami, asal mamah meninggalkan anak-anak mamah, kalau tidak mamah harus meninggalkan anaknya.”

“Apa?”

“Waaah, gila tuh orang! Kurang ajar banget!”

“Dan yang lebih kurang ajar adalah … orang itu. Dia gembira ketika orangtuanya berkata seperti itu seolah itu adalah hal yang benar untuk dikatakan dan dilakukan. Dia ikut membujuk mamah untuk memberikan teteh dan Oka kepada ayah kalian. Saat itulah mamah menyadari kalau cintanya dia ke mamah itu tidak tulus. Dia hanya menginginkan mamah saja, tapi tidak dengan anak-anak yang menjadi bagian dari hidup mamah. Karena itulah saat itu juga mamah putuskan meninggalkannya.”

Oka dan Bentari kembali terdiam mendengar kelanjutan cerita bu Mega.

“Seperti halnya ayah kalian yang menikah lagi dengan pertimbangan agar Bi tidak kekurangan kasih sayang seorang ibu, begitu juga dengan mamah yang memutuskan untuk tetap sendiri, pertimbangannya adalah … takut lelaki itu tidak akan menerima dan menyayangi anak-anak mamah.”

Semua terdiam sesaat sebelum Bentari kembali bertanya.

“Apa sekarang mamah ada keinginan untuk menikah lagi? Maksud Bi, dengan pria selain ayah. Kalau itu membuat mamah bahagia … lakukan saja, Mah. Tak perlu memikirkan kami lagi, kami sudah dewasa sudah bisa menjaga diri kami.”

Mendengar itu bu Mega tersenyum.

“Saat ini mamah sudah sangat bahagia. Apa lagi yang mamah cari?”

“Siapa tahu mamah ingin melengkapi kebahagian mamah dengan menikah lagi.”

“Hahaha … menikah lagi belum tentu membuat mamah akan jauh lebih bahagia, siapa tahu mamah malah jadi pusing karena suami baru mamah. Lagian … memiliki suami, memiliki istri, memiliki anak, memiliki rumah, mobil, pesawat, bahkan memiliki seisi dunia sekalipun itu hanya sebuah status, bukanlah indikator sebuah kebahagiaan … kebahagian bukan berasal dari status itu, tapi dari hati. Bersyukur. Dengan bersyukur kita akan jauh lebih bahagia.”

Bu Mega kembali mengeluarkan oleh-oleh dari Mayang, sebelum terdiam lalu kembali menatap Oka dan Bentari dengan serius.

“Kalian tahu apa yang akan membuat mamah bahagia saat ini?” Oka dan Bentari saling tatap sebelum menggelengkan kepala. “Liburan ke Korea, bertemu dengan lee Min Ho.”

“Hahaha … kita pergi berdua, Mah!” Seru Bentari dengan semangat, tahu ibunya itu tak ingin memperpanjang percakapan mereka tentang sebuah pernikahan yang tak pernah dia harapkan lagi.

“Tenang, Mah, nanti Oka kasih uang buat mamah jalan-jalan ke Korea … Oka sudah jadi orang kaya sekarang. Mamah mau apa tinggal bilang, asal jangan Lee Minho.”

“Hahaha.”

Oka dan Bentari kini telah mengetahui kalau kedua orangtua mereka tak mungkin untuk kembali rujuk, dan ibu mereka tak ingin kembali menikah.

Semua orang punya pilihan hidup dan memiliki indikator kebahagiaan masing-masing. Yang diucapkan bu Mega memang ada benarnya, dengan menikah lagi belum tentu dirinya akan lebih bahagia.

Menikah, janda, duda, orang kaya, orang miskin, hanyalah sebuah status sosial, bukan sebuah indikator kebahagian. Yang memiliki pasangan belum tentu lebih bahagia daripada yang sendiri, si kaya belum tentu lebih bahagia daripada si miskin.

Allah tidak hanya memberikan kebahagian hanya kepada mereka yang memiliki pasangan.

Allah tidak hanya memberikan kebahagian hanya kepada mereka yang memiliki keturunan.

Allah tidak hanya memberikan kebahagian hanya kepada mereka yang kaya.

Allah tidak hanya memberikan kebahagian kepada golongan tertentu saja.

Tapi Allah memberikan kebahagian kepada semua umatnya yang pandai bersyukur.

Dan salah satu bentuk syukur sebagai seorang anak adalah berbakti kepada orangtua. Selagi mereka masih ada, selagi masih diberi kesempatan untuk berbakti, selagi masih diberi umur dan kemampuan untuk melakukannya. Sebelum Allah memanggil, dan hilang sudah kesempatan untuk berbakti itu.

*****

1
meimei
aku kira temen2 nya bakal jahat ke birendra
siska nirmala
seperti biasa kak, keren banget ceritanya
Sri Wulandari
Kegagalan rumahtangganya jg pengalaman pribadi junggkir balik dlm hidupnya yg membuat andi santoso menjadi orangtua yg bijak dlm menasehati putra putrinya
Sri Wulandari
makanya jngn suka merendahkan apalagi smpai menghina seseorang sigit apalagi qm calon pemimpin dlm pilkada....dg menghina orang yg krng mampu blm tentu apa yg kita lihat sm dg yg kita pikirkan ....bs jd dia lebih segala²nya dr kita karena d atas langit masih ada langit
malu sendiri bkn qm,.. siapa skrng yg qm lihat & tdk smua orang sprti qm yg melakukan banyak ke salahan & menghalalkan segala cara demi ambisi utk mencapai tujuan
Sri Wulandari
birendra & doni beruntung sekali mempunyai sahabat sprti fahmi yg sllu berusaha menyadarkan mereka utk bs melupakan masa lalu & saling memaafkan dg tdk terus²an tenggelam dg masa lalu itu & menyalahkan diri sendiri & jg sahabatnya....& akhirnya mereka berdua bs berdamai dg keadaan demi sebuah kebenaran yg selama ini sllu d sangkal oleh mereka berdua hanya karna rasa bersalah
Sri Wulandari
beruntung birendra sdh menceritakan kisah hidupnya yg kelam pd bentari jd ketika akan dtng masalah yg menyudutkan birendra pd masa lalunya bentari sdh tdk kaget lg yg ada dia akan sllu memberi dukungan & kepercayaan penuh pd kekasihnya itu
Sri Wulandari
benar apa kata bebinar bhi...setiap orang mmng punya masa lalu walaupun terkandang itu menyakitkan tp yg paling penting dr semua itu apakah kita akan terus tenggelam dg masa lalu itu atau kita memilih berubah menjadi orang yg lebih baik hingga siapapun itu yg melihat kita skrng tdk akan percaya klu kita pernah berada d titik terendah dr masa lalu itu menyakitkan mmng.....tp itu nyata😔

Dengan membuktikan kita bisa bangkit & menjadi lebih baik itu akan jd pelajaran berharga buat diri kita jg anak cucu kita kelak
Dan bersikaplah terbuka pd kekasihmu bhi karna kejujuran itu akan menyelamatkan mu dr segala keburukan orang² yg ingin menjatuhkanmu
Belajarlah untk saling mengerti, memahami & jg menghargai pasanganmu bhi... karna itu adalah kunci utama dr sebuah hubungan agar bs langgeng 🤗🤗
Sri Wulandari
sigit g pantas jd seorang pemimpin apapun karna dia hanya menilai & memandang seseorang dr status sosialnya sj bkn dr kualitas sesungguhnya yg d miliki setiap orang.....calon pemimpin sprti itu tak akan berhasil menjadi pemimpin yg bijak sbgai pengayom rakyat malah yg ada hanya akan menjadi aib d kemudian hari
Sri Wulandari
ternyata kekuasaan & nama besar membuat seseorang menjadi tak peduli dg orang lain mereka akan mencari & mengkambing hitamkan seseorang demi ambisi agar bs mencapai tujuan mereka....jahat sangat jahat sekali bahkan tak peduli keluargapun bs jg dia korbankan demi tujuan itu yaa... kekuasaan itu hal yg slalu d inginkan orang² yg ingin berada d puncak dg ambisi yg sangat besar

hanya orang yg pandai bersyukur sj yg tak peduli dg apapun itu karna dg bersyukur kita akan sllu merasa cukup & jg kaya bahkan kekuasaanpun tak ada artinya bagi mereka yg pandai bersyukur karna dg pandai bersyukur kita akan hidup tenang & bahagia bersama keluarga,saudara & jg teman kita

" JADI JANGAN LUPA UNTUK SELALU BERSYUKUR SUPAYA KITA BISA LEBIH PEKA & PEDULI DG ORANG LAIN"
Sri Wulandari
belajarlah dr arunika bentari walaupun trus d cuekin sm oka tp semangatnya 45 & akhirnya berhasil membuat oka menerima dirinya sbgai pasangan masa depannya 😍
Sri Wulandari
birendra beruntung msh memiliki teman² yg baik & begitu peduli dg dia smoga teman²nya bs menolong & mengeluarkan dia dr trauma masa lalunya
Sri Wulandari
kita mmng tak bs menilai seseorang hanya dg melihatnya sj tp kita harus melihat mereka dr sisi yg lain d mn setiap orang pasti punya kebaikan dlm dirinya
Sri Wulandari
mayang benar² wanita yg tulus mencintai & menerima ayah oka tanpa memandang kondisinya yg benar-benar terpuruk karna kehilangan smuanya tp demi cinta pertamanya & jg kasih sayangnya kpd bentari yg membuat dia memilih menikah dg seorang randy pria lumpuh yg tdk punya pekerjaan & d tentang keluarganya....

walaupun tau klu pria yg d nikahinya tdk mencintai dirinya tp dia ikhlas menjalani hidupnya dg sabar tp skrng telah berbuah manis hasil dr ketulusannya dlm mencintai suaminya tanpa syarat
Sri Wulandari
benar kata bu mega ka... dg memaafkan hatimu akan jauh lebih tenang & qm jg akan menemukan kebahagiaan bersama keluargamu & orang² yg mencintaimu
Sri Wulandari
sebagai seorang adik laki-laki qm benar² bertanggungjawab menjaga saudara perempuanny meskipun itu tentang postingan yg ada d medsos...,.good oka salut buat qm👍
Sabhi Adyuta
betulll
Nur.sukur. Saimima
MasyaAllah banyak skali ilmu dr cerita ni, sukses kamu thor😊😊
Sabhi Adyuta
keren
bunda n3
potek hatimu bang
bunda n3
Andi Santoso sangat bijak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!