Sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, akan tercium juga. Begitulah kata pepatah.
Meira Andana, gadis cantik yang baru menginjak kelas 3 SMA. Harus menikahi CEO tampan yang sifatnya random sekali.
Karena unsur persahabatan Papanya dengan Papi CEO, ia pun setuju untuk menikah. Ekonomi keluarga menurun karena sang Papa meninggal dalam kecelakaan tabrak lari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siska febrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Hari sudah malam. Meira keluar dari kamar mandi dengan piyama tidurnya. Melihat jam di dinding sudah pukul 8 malam dan Reyhan belum pulang lagi.
Keadaan di kantor mereka lembur. Masih banyak karyawan yang berada di kantor saat ini.
Meira turun ke lantai bawah, untuk mencari makanan. Hari ini ia tidak masak. Saat akan menuju ke dapur, bel rumah berbunyi.
Segera membuka pintu. Ternyata itu Mami yang datang. Meira pun menyambut dengan hangat.
"Reyhan kasi tau kalo kamu sendirian dirumah. Jadi, Mami bawa makan malam untuk kamu."
"Mami, maaf ngerepotin. Meira kebetulan memang enggak masak." gadis itu mengerucutkan bibirnya, tak enak merepotkan Mami di malam hari begini.
"Ah sudahlah, Mei. Mami sama sekali nggak di repotin kamu kok. Ini Mami masak untuk menantu kesayangan Mami. Ayo makan dulu," ajak Mami.
Meira pun menyiapkan piring dan sendok juga. Masakan Mami kali ini terlihat enak sekali.
Daging sapi rendang, kentang balado, dan capcay tentunya. Capcay tak pernah ketinggalan, karena Mami sangat menyukai capcay.
Ia menyendok kan nasi ke dalam piring Mami.
"Sudah cukup, Mei."
Kembali menyendok kan nasi ke dalam piringnya. Mengambil beberapa lauk pauk malam ini.
"Papi nggak ikut, Mi?" tanya Meira di sela makannya.
"Papi kamu juga lembur. Entah kenapa Bapak dan anak itu kompak lembur." Mami menggeleng pelan.
Meira tertawa pelan mendengar nada kesal Mami. Ia sangat bersyukur mendapatkan mertua yang baik seperti Mami Hana ini.
Setelah selesai makan. Mereka berdua duduk di ruang televisi dengan berbagai macam camilan. Meira duduk di karpet bulu itu sembari memakan eskrim wadahnya itu.
"Gimana sekolah kamu, baik?"
"Baik, Mi. Nggak lama lagi Mei ujian."
"Kenapa nggak ambil asisten aja, Mei? Mengurangi beban kamu dan juga biar ada teman," saran Mami.
"Selagi Meira bisa ngurus rumah, ya gapapa lah Mi."
"Kamu sekolah juga, kadang harus masak buat Reyhan. Itu semua pasti bikin kamu capek."
Meira menyendok kan eskrim nya dan memakannya dengan tenang. Menonton sinetron yang lagi boming.
"Mei kurang percaya sama asisten, Mi."
Mami hanya bisa menghela napasnya pelan. Meira sangat mandiri sekali. Di sela kewajibannya bersekolah. Ia mengurus Reyhan sangat baik.
Buktinya pria yang dulunya kurus dan tak terurus itu setelah berumah tangga menjadi sedikit berisi dan tampak lebih segar juga.
Ponsel Meira berdering. Ada panggilan vidcall masuk dari Reyhan. Ia segera mengangkatnya dan meletakkan di atas meja, bersandar pada kotak tisu.
"Udah makan malam?"
"Udah, ada Mami juga yang temanin aku disini."
"Oh iya, aku sendiri yang minta Mami kerumah."
"Belum punya anak lho, Rey. Udah pelupa aja."
Reyhan tertawa pelan. Pria itu masih sibuk dengan berkasnya, apa berkas itu tak akan habis-habisnya? Sesibuk itu bekerja di kantor.
"Nanti bikin."
"Hm, bikin apa?" celetuk Mami menggoda Reyhan yang kini menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Bikin kue lagi, Mi."
"Halah! Emang Mami anak kecil yang bisa kamu bohongi!"
Meira tertawa mendengar perdebatan ibu dan anak ini.
"Ya kalo Mami udah tau. Kenapa tanya ke Reyhan lagi. Jangan suka goda anak sendiri, Mi. Papi dirumah nunggu Mami lumutan."
"Papi kamu lembur."
Mami kembali pada tayangan televisi lagi. Reyhan menarik napasnya panjang dan menghembuskan pelan. Meletakkan berkas dan memperhatikan wajah istrinya. Melihat wajah Meira seketika rasa capek nya menghilang.
"Kenapa?" tanya Meira.
"Lagi natap bidadari."
"Gombal!"
Reyhan tersenyum.
"Sama istri sendiri juga."
"Pulang jam berapa?"
"Agak malam. Tidur aja duluan ya. Jangan nungguin aku pulang."
"Iya suamiku."
Mami mendengar percakapan keduanya. Setelah lama berada di rumah Reyhan, Mami pun berpamitan pulang pada Meira.
Setelah kepergian Mami. Meira pun naik ke lantai atas. Ia dan Reyhan masih vidcall-an.
Sambil mengerjakan berkasnya. Ia menemani Meira tidur melalui ponsel saja.