Rein Xia telah menjalin kasih dengan seorang CEO muda yang bernama Davin Demian.
Bertahun-tahun hidup bersama Rein tidak pernah berharap akan dikaruniai seorang anak karena dirinya yang tidak lahir sempurna. Akan tetapi siapa yang mengira jika Tuhan akan berkehendak. Di malam menjelang 3 tahun hubungannya dengan Davin, dia tiba-tiba menerima kabar bahwa sedang hamil. Ini jelas adalah sebuah kabar yang baik, akan tetapi Tuhan sejati-Nya sangat adil. Di samping kabar baik, Dia juga mengirimkan kabar buruk pula untuk Rein.
Di malam itu juga Tuhan menunjukkan kepada Rein bahwa Davin Demian selama ini telah diam-diam mengkhianatinya. Bercumbu dengan wanita seksi di depan hotel, Rein tidak kuasa menahan sakit hatinya. Namun dia tetap mencoba untuk berpikir positif bahwa semua itu adalah pelampiasan rasa bosan Davin. Akan tetapi sekali lagi dia harus mendapatkan kenyataan pahit karena paginya Davin pulang dengan beberapa cek bernilai ratusan juta di tangan. Davin mengatakan jika Rein sudah tidak berguna lagi untuknya, dengan cek itu dia meminta putus kepada Rein.
Ini adalah akhirnya pikir Rein. Dia lalu pergi keluar kota untuk menjalani kehidupan baru dan diam-diam membesarkan anaknya. Akan tetapi putaran takdir tidak bisa ditebak karena 5 tahun kemudian Rein kembali di pertemukan dengan Davin Demian di sebuah perusahaan properti terkemuka tempatnya bekerja.
Rein sungguh tidak menyangka bila CEO yang memegang perusahaan besar tempatnya bekerja adalah Davin Demian, Ayah dari anaknya. Lalu, bagaimana kisah selanjutnya yang terjadi di antara mereka?
Akankah mereka kembali bersama karena jejak masa lalu, atau justru sebaliknya, mereka akan saling membenci karena pengkhianatan di masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Hernawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Terimakasih
Besoknya, Rein bangun subuh-subuh satu jam lebih pagi dari biasanya. Dia membersihkan diri terlebih dahulu di dalam kamar mandi untuk beberapa menit. Setelah itu dia menyiapkan keperluan sekolah Tio, memasukkan beberapa mainan usang nan murah ke dalam tas Tio agar anaknya tidak kesepian saat dititipkan di tempat penitipan anak di samping sekolah.
Ai akan pergi bekerja setelah Tio pulang sekolah.
Setelah membereskan keperluan Tio, dia masuk ke dalam dapur untuk membuat sarapan. Makanan yang dia buat jauh lebih baik dari yang kemarin karena kulkas sudah dipenuhi banyak bahan makanan. Jadi dia bisa bebas berkreasi.
Dia membuat bubur suwir ayam yang sangat disukai oleh Tio dan Dimas. Mereka berdua pasti selalu meminta tambah setiap kali makan bubur ayam ini.
Tidak terasa satu jam telah berlalu di dalam dapur. Begitu keluar dari sana dia melihat Tio dan Dimas yang sedang duduk anteng di lantai menonton kartun Spongebob.
"Sarapan sudah siap, Mommy masak bubur suwir ayam kesukaan Tio dan uncle Dimas, lho."
Tio langsung menoleh dengan semangat tinggi tapi Dimas terlihat cukup tidak tertarik di sampingnya. Reaksi ini sangat berbeda dengan Dimas biasanya, Rein tahu bila Dimas masih marah karena pembicaraan mereka semalam dan karena itulah dia termotivasi untuk memasak bubur ayam suwir. Dia ingin meluluhkan kembali hati sahabatnya.
"Bubul ayam.. Mommy Tio suka banget sama bubul ayam." Tio tertawa nyaring, volume suara miliknya mengalahkan suara Spongebob di tv. Tio sama sekali tidak bisa menahan perasaan antusiasnya.
"Mommy tahu, sayang." Rein mencubit gemas hidung tinggi Tio.
Lalu, matanya melirik Dimas yang masih cemberut dan belum bicara. Dia masih kesal dengan pembicaraan semalam mereka dan itu tergambar jelas diwajahnya.
"Dim, makan buburnya sebelum dingin."
"Hem." Dimas membawa satu suap bubur hangat ke dalam mulutnya tanpa perlu meniupnya terlebih dahulu.
"Huah..phuanashh.." Mulutnya terbakar.
"Pft...Dimas..lo kok langsung main suap aja sih!" Rein berusaha menahan tawanya.
Jika dia kelepasan Dimas pasti akan semakin marah kepadanya.
"Nih, minum dulu."
Dimas langsung mengambil gelas yang Rein berikan tanpa mengatakan apa-apa tapi kedua matanya sudah memerah karena mulutnya terbakar.
"Dim, setelah dipikir-pikir gue gak mau cari kerja tambahan lagi biar Tio gak terlalu kesepian gue tinggalin." Ucap Rein tiba-tiba membuka kembali topik pembicaraan semalam.
"Lo serius?" Dimas bertanya ragu.
"Kenapa? Lo gak senang?"
"Enggak-enggak, gue senang kok. Gua senang banget lo akhirnya berubah pikiran." Ujar Dimas mengakui.
Rein mengangguk ringan,"Gue cukup tahu diri terlahir cacat makanya-"
"Lo bisa gak sih jangan bilang cacat?" Potong Dimas tidak senang.
"Okay..okay, gue ralat. Maksud gue seharusnya lo tahu sendiri kan kondisi gue...yah, cukup rumit makanya gue putusin untuk gak cari kerjaan lagi." Rein segera memperbaiki ucapannya.
"Fokus aja sama Tio dan kerja yang benar di kantor. Ini lebih baik daripada lo harus luntang luntung cari pekerjaan diluar sana." Kata Dimas sambil menyiapkan bubur yang sudah ditiup ke dalam mulutnya.
"Gue juga mikirnya gitu, Dim." Untuk itu dia akan berusaha hidup sehemat mungkin.
"Gue juga bakal bantuin lo kok dari desa. Setiap panen di sawah sebagian uangnya bakal gue kasih ke-"
"Dim, please! Gue gak mau lo menderita lagi karena gue. Daripada kasih gue mending uangnya lo simpan aja buat hidup lo ke depannya." Potong Rein tidak senang.
Dimas menghela nafas panjang,"Terserah lo, deh."
Rein jadi sedikit lega.
"Dimas..makasih-"
"Makan Rein, gak usah banyak bicara. Bubur lo lama-lama dingin kalo lo diemin terus." Potong Dimas tidak mau mendengarkan.
Rein tersenyum kecil, lagi-lagi dibuat tidak berdaya dengan sikap cemberut Dimas. Sikap ini terakhir kali Rein lihat saat mereka di jaman sekolah dulu.
Saat-saat dimana ego lebih menguasai.
Bersambung...
Yang dirugikan akhirnya pihak perempuan juga.
Apalagi saat melihat kenyataan kekasih pergi dengan wanita lain.
shamponya beli dimana?
🤣