Embun tidak pernah menyangka, jika dia akan berhubungan dengan seorang Bos Mafia yang kejam.
Menjadi pemuas dan juga pelampiasan amarah, Embun berusaha bertahan demi keamanan keluarganya.
Joshua Bram, membalas dendam pada cinta pertamanya yang sudah membuatnya terluka. Namun dia malah terjebak pada cinta yang kembali membara.
Penasaran...
Yuk, lanjut baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gusti Sekar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTOLONGAN!
Semakin jauh ia melangkah, entah sudah sampai mana ia sendiri tidak tau sedang berada dimana. Karena yang didepannya hanya gelap yang bisa ia lihat, bahkan cahaya rembulan pun tak mampu menembus lebatnya hutan tersebut. Sesekali ia mengawasi daerah belakang, takut jika pengawal Joshua berhasil menyusulnya.
Sunyi, tidak ada pergerakan yang terlihat atau suara yang terdengar. Kesempatan ini ia gunakan untuk coba menghubungi seseorang, Embun tak memiliki waktu banyak untuk berfikir. Ia segera menghubungi Nando yang berada didaftar panggilan teratas.
“Ayo dong, Nando angkat. Please Ndo, kali ini aja. Aku butuh kamu” tetap nihil, Nando tidak bisa dihubungi.
Alhasil Embun hanya mengirimkan Voice Note jika ia membutuhkan bantuan Nando sekarang, semoga saja cepat ada sinyal dan Nando bisa menerima pesannya.
Dengan kaki yang sudah dipenuhi darah karena luka sayatan dimana-dimana, Embun terus berjalan hingga akhirnya ia mendengar suara klakson mobil dan kendaraan lainnya yang lalu Lalang. Embun berjalan sedikit cepat, akhirnya ia menemukan jalan raya.
Jalanan tampak ramai dengan mobil yang lalu lalang, beberapa dari mereka bahkan melajukan mobilnya dengan kecepatan lebih dari 80 km/jam. Angin malam yang dingin membuat tubuh kecilnya yang hanya memakai kemeja tipis semakin kedinginan, karena hembusan yang dibawa oleh mobil-mobil besar.
Setelah berhasil melarikan diri dari rumah Joshua. Embun berlari tanpa arah, ia tidak tau berada dimana sekarang. Jalanan yang gelap membuat ia bingung harus berjalan kemana, apalagi kendaraan tidak ada satu pun yang mau berhenti untuk memberinya tumpangan.
Sebelah kirinya hanya ada hutan pinus yang menjulang tinggi, ia kembali memeriksa ponselnya. Tetap saja nihil, tidak ada sinyal yang muncul di layarnya. Ia semakin yakin jika ia berada di area perbukitan, tapi bagian Jakarta mana yang ada perbukitan di sana.
"Nando— kali ini aja dong, ayo berdering, aku beneran butuh kamu." Embun berharap bisa menghubungi Nando.
Sekarang ia menyesali karena tidak membalas pesan ataupun panggilan masuk dari Nando, padahal Nando sendang mengkhawatirkannya. Dan saat ini, ia sangat membutuhkannya untuk datang. Ia harap Nando sadar akan kepergiannya yang tanpa kabar.
"Nando please, temuin aku disini. Aku takut banget Ndo" lirih Embun mulai menangis.
"Aku takut sama mereka, mereka mau bunuh aku. Aku gak mau mati, mereka terus ngejar aku" ia kembali mengirim pesan suara ke Nando, walau ia tau itu adalah hal yang percuma.
Embun kembali menoleh kebelakang, dengan rasa was-was karena takut para pengawal Joshua berhasil menemukannya. Karena kemungkinan ia tidak bisa berlari lagi jika sampai bertemu mereka lagi, kakinya semakin perih karena dipaksa berlari terus menerus.
Dari kain kasa yang melilit beberapa lukanya, tampak noda merah yang merengsak keluar dari dalam. Ia yakin lukanya semakin melebar, darahnya semakin banyak.
"Kenapa sih, aku sial banget hari ini! Kenapa aku harus ketemu cowok berengs*k kayak dia!" Embun berteriak karena kesal.
Ia marah pada nasib dirinya sendiri, kenapa ia harus mengalami semua ini. Kenapa ia harus pergi ke pesta topeng itu, kenap ia harus bertemu dengan Joshua.
Akhirnya gadis malang itu menangis karena merasa sakit pada kakinya yang ternyata juga terkilir. Dengan tenaga yang masih ia punya, ia berjalan menghampiri sebuah halte yang masih cukup jauh dari tempatnya berdiri.
Setelah berusaha menahan sakit dikakinya, akhirnya Embun bisa sampai di sebuah Halte yang berada ditengah-tengah hutan tersebut. Dengan tenaga yang tersisa, ia coba berbaring. Ia juga sudah tidak menangis, karena hal itu hanya membuat nya semakin lelah.
"To—long, Nan—do tolo—ng aku" lirihnya terbata-bata
Perutnya pun tak luput dari rasa sakit yang seperti menusuk sampai belakang punggungnya. Samar-samar Embun mulai tertidur dengan hembusan angin yang kencang dan dingin.
...***...
Suara sebuah mobil yang terhenti tepat di halte sedikit mengusik tidur Embun, tapi gadis itu tak bisa berbuat banyak karena terlalu kelelahan. Ia hanya mengintip sekilas seseorang yang kini tengah menggendongnya.
Setelahnya, Embun benar-benar kehilangan kesadaran bukan lagi hanya tidur. Nando terlihat khawatir melihat keadaan Embun yang penuh luka dikakinya. Ia juga tidak menemukan sepatunya disebelah Embun.
"Ya ampun Bun, kamu darimana aja sih?" lirih Nando khawatir.
Pemuda itu mendudukkan Embun di kursi sebelah setir, ia melepas jaketnya lalu memakaikannya untuk menutupi tubuh Embun yang kedinginan. Pemuda itu sedikit tertegun melihat luka lebam di pipi kiri Embun dan juga beberapa kulit tubuhnya membiru seperti habis dipukuli, tangan besarnya mengusap lembut dengan mata yang terpaku.
“Embun, kamu harus sadar. Kamu gak boleh kayak gini.” Ia bergegas masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya.
Sembari menyetir, tangannya ia gunakan untuk mengelus dan merapikan rambut Embun yang berantakan. Bahkan ikat rambutnya sudah terlepas entah kemana. Emosi sedikit menyulutnya karena tidak terima.
"Bun, bangun, ayo bangun. Please jangan buat aku khawatir dong." Nando menepuk lalu mengusap pelan pipi Embun, berharap gadis itu membuka matanya, namun Embun sama sekali tak meresponnya.
Secepat mungkin ia memacu mobilnya untuk mencari Rumah Sakit terdekat, ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Embun. Sesekali ia menyeka rambut Embun yang jatuh menutupi wajah cantiknya.
Setelah sampai diarea Rumah Sakit terdekat, Nando segera menggendong Embun agar ia cepat mendapat perawatan. Perawat dan Dokter segera membawa Embun ke UGD untuk diperiksa. Sedangkan Nando tidak bisa ikut masuk kedalam, ia hanya bisa menunggu diluar ruangan dengan rasa khawatir yang semakin besar.
“Sialan, siapa yang berani ngelakuin ini semua ke kamu. Siapa yang berani pukulin kamu?”
Nando terlihat sangat marah, ia memukul dinding Rumah Sakit yang ada disebelahnya. Amarahnya semakin memuncak saat mengingat kondisi Embun Ketika ia menemukannya. Gadis itu sangat mengenaskan, melihat luka dibibir Embun. Pasti ada yang memukulinya dengan sangat tega.
"Kamu harus bangun Bun, kamu harus sadar. Kamu harus ceritain semuanya ke aku" Nando meracau tak jelas.
Nando terduduk lemas di kursi tunggu di depan ruangan Embun dirawat, ia mengambil ponsel dari saku celananya. Nando kembali membaca pesan Embun dan mendengarkan beberapa Voice Note yang gadis itu kirim.
Tepat pukul 2 malam ia menerima pesan suara tersebut, pertama kali mendengarnya ia sedikit meragukan ucapan Embun, jika sesuatu seperti itu terjadi pada Embun. Tapi memang faktanya Embun hampir saja diculik oleh seseorang.
Jam 2 malam Nando langsung mencari Embun lewat GPS Embun yang menyala, ia tidak percaya Embun bisa berada di area perbukitan Jakarta Timur. Semalaman ia mencari Embun sendirian, padahal tugas kuliahnya masih banyak.
"Embun, kalau kamu sadar. Please kasih tau aku siapa yang buat kamu jadi kayak gini, aku gak bakal maafin siapapun itu orangnya"
Selanjutnya, Nando memutuskan untuk menghubungi seseorang yang sudah ia percaya untuk mencari informasi tentang apa yang menimpa Embun.
To Be Continued..
Jangan lupa Klik Favorit.
Tinggalkan Like, Komen dan Subscribe ya. Terima kasih ❤️
Salam dari
- Janji Palsu Tuan Muda -