Hawa Hasnawi gadis penjual kripik singkong, yang dipaksa menikah dengan pemuda sombong, dingin dan angkuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon harsupi fakihudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya, Fariz Mengantarkan Hawa
"Mas ini uangnya, aku makan ini" Tunjuknya pada tusuk yang belum dibuang "Sama dua jus" tunjuk Fariz pada gelas didepannya
Hawa mengambil tas rangselnya, yang berada dikursi belakang Hawa
"Sudah?" Tanya Fariz, yang berdiri memberi jalan pada Hawa
Hawa memutar matanya jengah "Aku mau kuliah"
"Hawa please, mami menunggu kita untuk datang kesana" Ucapnya berjalan mengikuti langkah Hawa
"Sudah kubilang, aku tidak mau" Ucapan Hawa ditekan agar tidak didengar oleh orang lain
"Lalu, kamu maunya kapan?"
"Aku tidak janji. Sudah jangan ganggu aku"
Hawa berjalan meninggalkan Fariz, tapi Fariz langsung menghadang Hawa dari depan
"Baik, aku tidak akan mengganggu. Aku cuma ingin tanya. Kamu kuliah, pulangnya jam berapa? ayo, kita masuk dulu. Kita bicarakan didalam" Rayu Fariz terus, agar Hawa mau masuk kedalam mobil
"Aku tidak mau, masuk kemobil musuhku !"
"Hawa, masuk, duduklah. Kuantar kau sampai kekampus" Fariz membuka pintu untuk Hawa "Ayo" Fariz mengangguk kecil, bertanda memohon agar Hawa mau masuk kemobil
Hawa sedikit tidak enak hati, karena Fariz sudah menunggunya sangat lama
Mereka sudah duduk didalam mobil, Fariz menoleh kearah Hawa "Hawa, kamu masuk kuliah jam berapa?" Tanyanya halus, karena dia sedang merayu
"Habis maghrib" Jawabnya, membuat Fariz terkejut, karena baru tau
"Habis maghrib?" Ulang Fariz " Terus, kamu pulangnya jam berapa?"
"Jam 21:00"
"Apa!! malam sekali"
Hawa menoleh kearah Fariz "Kenapa? takut karena terlalu malam"
"Bukan begitu. Kenapa kamu pilihnya jamnya segitu?"
"Hadeeew, aku kerja. Tidak lihat kalau tadi aku itu kerja !!" Tangan Hawa terbuka, memperlihatkan upah yang Barudin kasih
Fariz menoleh "Itu upah untukmu?"
"Iya kenapa?"
"Lalu, kalau bayar kuliah, pakai uang itu juga?" Fariz sedikit iba, yang diangguki oleh Hawa tanpa sadar
Setelah Hawa sadar "Jika aku tidak diusir kamu waktu jualan kripik didepan pabrikmu, aku lebih baik jualan itu. Aku masih punya motor, masih punya rumah, masih..."
"Cukup... Ia, aku yang bersalah. Aku yang mengusirmu, aku yang membakar rumahmu, apalagi" Fariz mengakui kesalahannya. Meskipun bukan dia yang salah seratus persen
Hawa bingung, semua keburukan sudah diborong oleh Fariz. Walaupun Hawa tau, perbuatan itu tidak disengaja
Fariz memiringkan badan, dia ingin nego dengan Hawa "Berapa tahun lagi kamu wisuda?"
Hawa menyipitkan matanya "kenapa tanya tanya wisuda! Gara gara kamu, motor dan semua yang kupunya, lenyap terbakar. Kau ingin balas dendam kan?" Lagi lagi Hawa mengungkit masalah kebakar
"Hawa... Semua itu murni kecelakaan. Aku sama sekali tidak ada niatan dendam denganmu"
"Bohong!! kalau tidak ada niatan dendam. Kenapa kau tinggalkan aku sendirian diapartemen itu.
Fariz terdiam
"Betulkan? menjawabpun, kau tak mampu. Kalau bukan dendam, apa!!"
Hawa mendekati Fariz
"Kau juga sudah punya niatan untuk menceraikanku kan? silahkan" Tantang Hawa
Fariz langsung menoleh kaget
"Aku sudah siap menyandang status janda dari tuan Alfarizi" Hawa masih mengungkapkan kekesalan
"Hawa, kenapa kamu bicara seperti itu" Fariz berkata dengan hati hati dan lembut
"Karena kita tak ada rasa, tidak ada kecocokan. Kau membuatku sulit, buat apa dipertahankan. Aku ingin menikah dengan lelaki yang mau menafkahiku, mencintaiku. Men men men men men. Sedang kamu apa !!!"
Ucapan Hawa monohok menembus dada Fariz
"Maaf , beberapa hari ini pabrik sibuk"
"Apa kau harus mengurusi sampai 24 jam !!"
Fariz terdiam
"Buka mobilnya, aku ingin keluar !! nanti aku terlambat" Ucap Hawa meronta
"Baiklah, aku akan mengantarmu. Sekarang, kita akan kemana dulu?"
"Aku bilang, buka pintunya. turunkan aku"
"Heh, kau sungguh keras kepala"
"Sama sepertimu" Hawa
Fariz menoleh, hingga pandangan mereka tabrakan lagi
"Kampusmu daerah mana?"
Hawa tidak menjawab, tapi inginnya berontak melawan Fariz "Kalau kau tidak melepasku, aku akan ketinggalan !!"
"Akan kuantar Hawa.. Ayo kita kemana dulu? keapartemen? agar kau bisa membersihkan diri?" Tanya Fariz, dan tetap menjaga hatinya agar tidak sama sama keras
"Hmm"
"Baik" Fariz bergerak mendekati Hawa, untuk memasang seltbelt
"Sini. Aku bisa sendiri" Rebut Hawa
-
Diapartemen
Mereka berdua masuk kekamar masing masing.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah cantik dan tampan
Brak
Brak
Pintu Fariz ditutup dengan keras, begitupun pintu Hawa.
Mereka berdua tabrakan karena sama sama diburu waktu
"Mulai besok, kau tidak usah bekerja lagi" Ucap Fariz
"Kalau tidak bekerja, aku dapat duit darimana? Aku belum menemukan suami incaranku"
Deg
Jantung Fariz berdenyut "Maksudmu? Siapa suami incaranmu?"
"Adam"
"Adam? kau mempunyai kekasih? padahal kau sendiri masih berstatus istri orang"
"Kalau suami tidak ngurusin, buat apa aku menunggu yang tidak jelas"
"Adam orang mana?" Fariz menoleh geram
"Orang incaranku"
"Aku tau. Terus, dia orang mana?" Tanyanya serius
"Mana aku tau, aku bilang dia incaranku. Siapa tau orang yang bernama Adam, mau menikahi bekas istrimu"
Fariz mengerutkan dahi "Aku tidak pernah menceraikanmu Hawa !! kenapa kamu dari tadi bilang janda janda. Dan akan menikah dengan Adam. Jadi kau tidak tau Adam itu orang mana?" Sambungnya
Hawa geleng geleng "Buruan, nanti aku terlambat. Aku sudah terlambat pelajaran karena bukuku semua ter.."
Cup
Fariz mencium bibir manis milik Hawa. Fariz bingung, menyetop ocehan Hawa harus menggunakan apa, biar tidak diputar puter terus masalah terbakar
Plok plok plok
Hawa memukul dada Fariz "Kenapa kau berani menciumku" Hawa mendorong Fariz
Hawa langsung berlari menuju wastafel. Dan ia mencuci bibirnya yang tadi disosor oleh Fariz
"Sekali lagi kau menciumku, kugunting bibirmu" Ancam Hawa
Fariz menyunggingkan senyuman tipis "Silahkan. Biar kamu puas, memiliki suami yang bibirnya tergunting. Ayo buruan, nanti kamu terlambat" Fariz menggandeng tangan Hawa. Namun Hawa langsung mengibaskan tangan Fariz.
Hawa berjalan duluan dengan cepat
Klok klok klok
Ngek, Hawa kesleo
Sepatu murahan milik hawa, lepas hak nya
Fariz langsung berlari ingin menolongnya, tapi tetap dikibas kibaskan oleh Hawa
"Kamu ingin tambah sakit menggunakan sapatu yang ada haknya dan satunya lepas? apa kamu tidak malu, menjadi sorotan dengan kaki yang pincang gara gara sepatunya tinggi pendek"
Hawa terus terusan tak mau dibantu oleh Fariz
"Sini kulepas hak satunya. Agar kamu berjalan lebih enak"
"Tidak usah, aku juga bisa"
"Mampir ketoko ya?"
"Sudah kubilang tidak ya tidak !!!"
Fariz hanya tepuk jidat. Seminggu tak bertemu, mereka malah berantem lebih hebat
-
Mobil sudah berhenti dikampus Maju Tak Gentar Membela Yang Benar
"Disini kampusmu?" Tanya Fariz
"Bukakan pintu"
"Tunggu sebentar" Tangan Fariz menjulur kebawah "Mana sepatumu"
"Untuk apa?"
"Sini"
Hawa memberinya sepatu yang patah
"Bukan yang itu, yang satunya"
Hawa bingung, tapi dia tetap memberikan sepatu yang Fariz mau
"Nomor 37"
Poklek
Fariz mematahkan hak sepatu Hawa. Agar sepatunya sama sama tidak punya hak
"Loh loh loh, kok dipatahkan semua"
"Jurusanmu apa?" Fariz tidak menggubris omelan Hawa. Ia justru tanya biar jelas
"Cimone Karawaci !!!"
BERSAMBUNG........
trenyuh aku..... banyu moto gak bisa mandek....
trenyuh aku..... banyu moto gak bisa mandek....