Terkadang Tuhan mematahkan hatimu untuk menjauhkanmu dari jodoh yang salah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quemeela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman
Aku sudah tidak tahan ingin menghubungi Arsan, otakku mengatakan aku harus menjauhi Arsan, namun hatiku berkata sebaliknya, “baiklah hati, aku akan menurutimu sekarang, aku tidak akan menurutimu lain kali” gumamku
Aku akhirnya menghubungi Arsan “teman, main yuk” aku mengirim pesan pada Arsan, aku sengaja memanggilkan dengan sebutan teman “ayuk” balas Arsan
Beberapa menit kemudian dia sudah ada di depan rumahku, aku memintanya menungguku bersiap-siap, dia agak tenang menungguku, tidak seperti dulu, dia selalu emosi jika aku berdandan terlalu lama.
Kami jalan-jalan ke Mall, kemudian kami pergi ke sebuah cafe, cafe ini adalah cafe khusus yang menjual berbagai olahan Es, sangat cocok sekali dengan hatiku yang panas
Interior cafe sangat unik, banyak pengunjung yang mengambil selfie disana, Arsan memintaku berdiri disana dia memotretku.
Kemudian kami duduk dimeja, aku duduk di depan Arsan, biasanya dia melarangku duduk di depannya, karena dia selalu bilang, pasangan itu berdampingan, bukan di depan ataupun dibelakang, jadi dia selalu memintaku untuk duduk disamping bersebelahan dengannya.
Kami memilih menu Es petani, dulu dia memang sering mengajakku minum Es petani, di cafe dekat kampus, tapi dia mengatakan di cafe ini Es petaninya berbeda dengan yang di kampus.
Sambil minum Es, aku melihat-lihat fotoku tadi,
-“nggak di upload di sosmed” tanya Arsan
-“nggak” jawabku
-“kenapa” Arsan bertanya lagi
-“ponselku lagi nggak bisa connect internet, nggak tau kenapa” jawabku
-“gimana kalau kita tukaran ponsel, kamu pake punyaku, aku pake punya kamu” kata Arsan
-“tapi ponselku lagi nggak bisa connect internet, nggak apa-apa?” tanyaku untuk memastikan pada Arsan
-“nggak apa-apa, aku bakalan ngelakuin apa pun agar kamu bahagia” jawab Arsan
Kami akhirnya pulang, ditengah perjalan aku bertanya pada Arsan,
-“kamu mau nggak temenan sama aku?” tanyaku
-“emang kamu mau temenan sama aku” balas Arsan bertanya padaku
-“aku mau, ya udah mulai sekarang kita berteman ya, aku teman yang menyenangkan” aku memaksakan senyum pada Arsan,
aku berfikir dengan berteman dengan Arsan aku bisa menata perasaanku, karena aku tidak bisa tiba-tiba jauh dari Arsan, dengan berteman aku masih bisa bertemu dengannya, hanya statusnya saja yang berbeda.
Aku sekarang mengerti kenapa ada orang yang masih mau berteman, orang bilang berteman setelah berpisah itu kedewasaan, namun sekarang aku mengerti, berteman setelah berpisah bisa memberikan waktu bagi mantan untuk terbiasa, karena sangat sulit untuk tidak melihat orang yang biasa kita temui
***
Aku baru ingat aku menyimpan tugas kuliahku di ponselku yang di bawa Arsan, karena ponsel itu tidak terconnect internet dan aku juga lupa nama filenya jadi aku meminta Arsan mengantarnya ke rumahku agar bisa ku cari sendiri.
Aku terkejut melihat ada foto gadis itu di ponselku, aku sangat marah dan hampir melempar ponsel tersebut,
bagaimana dia tega menyimpan foto gadis itu di ponselku, “ini ponsel aku, kita hanya bertukar untuk sementara, kamu tahu aku sangat membencinya bisa-bisanya kamu simpan foto dia di ponselku” aku benar-benar marah pada Arsan, “ini ponselmu, kembalikan ponselku, aku nggak mau tukaran lagi” aku mengembalikan ponsel Arsan dengan kasar dan membawa pergi ponselku, aku meninggalkan Arsan di teras rumah, dia tidak berkata apapun saat aku marah padanya.
Malamnya aku menyadari “apa aku terlalu kasar pada Arsan hari ini?” gumamku, aku tidak pernah seemosional itu, aku tidak pernah kasar dengannya sebelumnya, aku menyesali sikapku hari ini, “apa Arsan marah padaku, apa dia akan membenciku” aku diselimuti rasa bersalah, aku benar-benar takut Arsan membenciku, aku tidak bisa tidur semalaman
Paginya aku menghubungi Arsan “aku minta maaf mengenai kemarin, apa kita bisa bertemu?” aku mengirimkan pesan ini pada Arsan, aku menunggu dia membalas tapi sampai siang dia tetap tidak membalasnya, “dia benar-benar marah padaku”
Aku bersiap untuk mengerjakan tugas, tiba-tiba ponselku berbunyi ternyata dari Arsan, “aku sudah di depan rumah kamu” balas Arsan, aku melompat kegirangan, aku meninggalkan tugasku dan menemuinya
Aku membuka pintu, ternyata benar dia sudah ada di depanku, aku mengajaknya duduk di sofa teras, “aku minta maaf soal kemaren” ujarku membuka pembicaraan, “iya nggak apa-apa” jawab Arsan
“kamu kenapa bisa suka sama dia?” tanyaku pada Arsan, sebenarnya aku tidak ingin membicarakan hal ini, tapi aku tidak tahan, aku ingin tau kenapa dia bisa menduakanku dan memilih gadis ini
“nanti kamu bakalan sakit hati kalau aku cerita tentang dia” kata Arsan,
“nggak kok” jawabku
“awalnya aku kira dia gadis yang baik, tapi ternyata tidak” tambahku lagi
“nggak kok dia baik, dulu dia selalu bilang untuk nggak usah telpon setelah magrib, katanya dia mau tadarus dulu”
balas Arsan membela gadis itu
“tapi kamu sendirikan yang bilang” jawabku
“setiap orang bisa berubah Ra” balas Arsan membela gadis itu lagi
“cih,, bela aja terus, tapi bakalan susah ninggalin sifat buruk 100%” aku mengernyit karena tidak suka dia selalu membela gadis itu
“kamu tau nggak, gara-gara kamu aku jadi makin kurus, tapi pipiku nggak hilang chubbynya, padahal aku pengen
tirus” ujarku sambil memegang pipiku
“dia juga chubby sama kayak kamu” ujar Arsan sambil tersenyum
“dia bukan chubby tapi mukanya memang lebar” aku kesal mendengarnya menyamakan aku dengan dia
Arsan hanya tertawa mendengar perkataanku “iya,, ya” katanya sambil tertawa
“Ra, apapun yang terjadi pada hubungan kita, kamu harus tau aku selalu ada buat kamu, aku akan selalu datang
saat kamu butuh, kamu panggil aku, aku pasti akan datang” ujar Arsan serius
aku terharu mendengarkan perkataan Arsan,aku merasa bahagia mendengar dia akan selalu ada untukku,tapi aku juga sedih menyadari kenyataan bahwa dia bukan milikku lagi, haruskah kami benar-benar berakhir sebagai teman