Hardi, seorang ayah tunggal yang tidak lagi percaya akan cinta. Dia bertekad untuk merawat putri semata wayangnya yang masih berusia 3 tahun.
Dia berusaha sekuat tenaga untuk menjaga putri nya tersebut dia yakin dia tidak akan membutuhkan pendamping untuk dirinya bahkan dia sangat khawatir akan kasih sayangnya yang nanti bisa terbagi. Akankah Hardi tetap dengan prinsipnya? Ataukah dia akan goyah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Achdia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan
Hardi masih saja sibuk dengan pekerjaannya walalu waktu menunjukan jam 9 malam, di temani Rio dan Rama seorang karyawan yang ahli di bidangnya. Mereka membahas masalah proyek yang akan mereka lakukan di luar kota, mempresentasikan kepada Kliennya. Mereka berusaha menyiapkan konsep yang terbaik agar Kliennya puas dan berjalan lancar.
Tiba-tiba ponsel Hardi bergetar, Hardi meraihnya dan terlihat 1 pesan di sana. "Hai Hardi, aku Larisa putri pak Rahmat di DMT company, ada berkas yang perlu saya berikan kepada anda. Datanglah ke Cafe xxx di jalan xxx, saya tunggu paling lambat jam 9.30."
Karena memang jika menyangkut pekerjaan pasti Hardi akan bergerak cepat. Ia menghentikan meetingnya lalu segera berangkat menuju tempat yang di maksud.
Setelah tiba, Hardi mencari keberadaan Larisa dan akhirnya dia melihatnya di meja paling sudut Cafe tersebut. Larisa pun melambaikan tangannya kepada Hardi dan Hardi pun menghampiri nya.
"Hai... Kamu pesan apa?" tanya Larisa ketika Hardi telah duduk.
"Saya pesan kopi saja" jawab Hardi, Larisa pun memanggil pelayan Cafe tersebut.
Larisa menyerahkan berkas yang di maksud untuk Hardi pelajari sementara Larisa permisi untuk pergi ke toilet. Namun sebenarnya Larisa menuju ke arah pelayan yang tadi menulis pesanannya, menyerahkan bungkusan kecil dari kertas berwarna putih dan menyuruh pelayan itu memasukannya ke dalam kopi pesanannya tadi. Pelayan itu oun mengerti setelah Larisa memberinya beberapa lembar uang pecahan 100 ribuan. Setelah itu Larisa pun kembali ke mejanya.
" Maaf lama, Bagaimana apakah sudah anda baca semuanya?" tanya Larisa kembali duduk di depan Hardi.
"Ehm... Saya setuju dengan ini, apakah perusahaan anda benar akan menambahkan beberapa item ini?" tanya Hardi untuk meyakinkan.
Tak berapa lama pesanan pun datang.
"Silahkan diminum dulu pak Hardi" usul Larisa.
Hardi pun meminum kopinya perlahan, Larisa menatapnya dengan senyuman liciknya.
"Saya sudah rundaingkan semua dengan papah saya dan dia setuju, untuk lebih banyak Benefit dan keuntungan kedua belah pihak" jawab Larisa.
Terlihat Sarah sedang berada di Cafe yang sama dengan Hardi, Sarah sedang berbincang dengan teman-temannya, mungkin karena besok hari sabtu dan sekolah libur, jadi ia menyempatkan waktu untuk berkumpul dengan teman-temannya.
Hardi menandatangani berkas-berkas tersebut, mereka saling berjabat tangan. Tiba-tiba Hardi merasa pusing di kepalanya tapi ia tahan. Larisa yang melihatnya pun tersenyum senang bahwa obatnya sudah mulai bereaksi. Larisa permisi lagi ke Hardi untuk pergi ke toilet, disana ia merapikan riasannya, merapikan bajunya dan menyemprotkan parfum di tubuhnya.
Hardi mencoba bangkit dari duduknya namun malah hendak terjatuh karena pandangannya mulai kabur. Dari jauh terlihat Sarah dan beberapa orang memperhatikan orang yang di depannya karena mendengar suara kursi yang jatuh.
"Pak Hardi?" Sarah tersentak ternyata Hardi yang terlihat pusing.
Sarah menghampiri Hardi yang sempoyongan tak bisa menyeimbangkan dirinya, Sarah pun mencoba memapah Hardi. Sebelumnya Sarah berpamitan dulu kepada teman-temannya untuk pulang terlebih dahulu. Sarah memapah Hardi keluar dari cafe tersebut, dia memeriksa saku jas Hardi untuk mencari adalah kunci mobil di sakunya dan ternyata memang Sarah menemukannya.
"Kenapa kepaku pusing sekali?" gumam Hardi.
"Tenang pak, masuk saja kemobil bapak yah" ucap Sarah
Sarah memasukan pak Hardi yang setengah sadar ke Kursi belakang, lalu ia duduk di kursi depan untuk mengendarai mobil Hardi.
Setelah cukup lama, Larisa keluar dari toilet dengan senyuman liciknya menuju ke arah meja di mana ia duduk sebelumnya. Dia sangat terkejut melihat mejanya kosong tanpa adanya Hardi, ia sangat yakin seharusnya Hardi sekarang ini tak sadarkan diri karena pengaruh obat tersebut.
"Sial... Kemana perginya Hardi? Rencanaku gagal total, gak mungkin jika ia pergi sendiri, jelas-jelas ia sudah tak sadarkan diri. Pasti ada seseorang yang membawanya... Akkkhhhzzz Brengsek" geram Larisa karena tak menemukan Hardi dimanapun.
Sementara di dalam mobil, Sarah bingung kemana ia harus mengantarkan Hardi karena memang ia tidak mengetahui almat rumah Hardi.
"Pak, pak Hardi. Boleh saya tahu alamat rumah bapak?" tanya Sarah namun tak ada jawaban. Di liriknya kebelakang ternyata Hardi sudah tak sadarkan diri.
Sarah jadi semakin bingung harus membawa Hardi kemana. Setelah cukup lama berpikir akhirnya ia memutuskan untuk membawa Hardi ke rumahnya saja, karena memang tidak ada tujuan lain terpaksa Hardi di bawa kesana.
****
Bagaimana kelanjutannya??
Silahkan tunggu up Author berikutnya 😁
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa
black care perhatian lgi, sabar sarah sabar bntar lgi bucin akut kynya