Kehidupan Alex anak seorang pengusaha ternama dan tekemuka yang hidup bebas dan tidak terarah.
Kehidupan Filece, yang merubah nama nya sendiri menjadi Zahra setelah menghadapi gelombang hidup di tengah keluarganya.
akan kah Alex dan Zahra bisa hidup bersama dengan bahagia atau malah sebaliknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ima alyanadira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab-15
Pov Zahra
Semakin banyak hari yang aku lalui bersama Alex, semakin aku menaruh rasa ini. Entah bila semua bermula aku sendiri pun tak menyadari datangnya, aku berharap jauh dari lubuk hatiku yang terdalam, rasa ini tak bertepuk sebelah tangan.
Jujur, tak pernah terlintas dalam benakku untuk mengharapkannya. Namun kini bukanlah salahku bila aku ingin berharap lebih.
Bagaimana tidak, sejak aku hamil dan kembali lagi padanya, Alex selalu memberikan aku perhatian lebih. Kadang satu perhatian kecil saja dari nya sudah mampu membuat hati ku ini berbunga-bunga.
Apa lagi kalau dia berusaha menggodaku, seperti malam itu.
"Hmmm, mengapa kamu belum tidur?" Tanya Alex, ketika ia melihat ku masih duduk membelakanginya.
"Aku belum mengantuk." Jawabku singkat.
"Tidurlah lebih awal, tidak baik untuk mu tidur larut malam." Nasehat nya terdengar tulus.
Aku pun merebahkan tubuhku di sampingnya dengan posisi masih membelakanginya.
"Zahra." Panggil Alex padaku lembut
"Ya." Jawabku tanpa menoleh padanya.
"Zahra." Panggilnya lagi, dan karena itu aku membalikkan tubuhku mengarah padanya.
"Katakan lah, jangan bertele-tele." Ketus ku kesal, entah mengapa aku selalu merasa kesal bahkan dengan hal yang sekecil ini, mungkin karena perubahan hormon hamil padaku.
"Zahra, apa kamu tidak risih, tidur dengan menggunakan baju lebarmu ini." Tanya Alex
"Apa maksudmu." Jawabku curiga.
"Maksud aku tu, apa kamu tidak merasa risih tidur dengan baju lebar ini." Ulang nya
Emang benar sih, akhir-akhir ini aku selalu merasa gerah, bahkan di ruangan ac seperti ini. Tapi aku merasa segan bila harus memakai baju tidur. Karena baju tidur ku pendek semua.
"Ga kok, biasa aja." Jawabku
Terlihat Alex mendekat padaku, sontak saja aku duduk.
"Mau apa kamu." Ketus ku
"Zahra." Panggilnya dengan tatapan mata sayu.
"Apa kamu sedang mabuk Alex." Tanya ku heran, karena sebelumnya dia belum pernah memperlakukan aku seperti ini kecuali disaat kondisinya mabuk berat pada malam itu.
"Enak saja sembarang menuduh." Gerutu nya kesal, dan kini aku pun yakin ia sedang tidak dalam keadaan mabuk karena ia sudah kembali ke mode awal,jutek.
"Ya udah dong jangan marah." Gerutuku padanya.
"Zahra, boleh tidak aku bertanya."
"Tanya saja."
"Mmm, begini mengapa kamu meninggalkan aku setelah kejadian malam itu? Apa kamu marah padaku." Tanyanya serius.
Mendengar pertanyaan Alex itu, membuat aku teringat lagi akan peristiwa di malam itu, sebongkah perasaan malu pun kini menyelimuti hatiku.
"Aku tidak tahu harus jawab apa, tapi kalau boleh aku yang bertanya, apa arti diriku dalam hidupmu." Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya
"Kamu istriku." Jawabnya
"Tanpa kamu katakan pun aku tau kalau aku ini istrimu, tapi bukan itu maksudku." Kesalku pada nya.
"Sebenarnya aku juga sama denganmu aku tidak tau harus jawab apa, kamu sendiri taukan pernikahan macam apa yang kita jalani. Namun yang jelas kita jalani saja dulu, aku akan berusaha untuk berubah, aku akan meninggalkan semua kebiasaan buruk ku." Janji nya tulus.
Mendengar itu, entah mengapa membuat aku merasa kecewa karena bukan itu jawaban yang aku inginkan.
"Baiklah, ayo kita tidur." Ucap ku menarik selimut dan mematikan lampu. Namun aku gelisah tidak bisa memejamkan mata, lalu aku berbalik arah pada Alex, ku lihat matanya di dalam sayup nya cahaya yang remang, karena hanya diterangi lampu tidur. Matanya masih terbuka.. Mata kami saling beradu untuk sesaat.
"Apa yang sedang kau pikirkan." Tanyanya mengejutkan aku, karena aku berpikir dia sudah tertidur.
"Tidak ada."
"Apa kau sedang memikirkan aku." Terkanya
"Ck. Narsis amat sih jadi orang." Gerutuku padanya.
"Hahahaha." Alex tertawa renyah mendengar ocehanku itu. Dan aku menatapnya lekat tak berkedip, ia sungguh terlihat tampan seperti itu.
"Hey, jangan bilang kalau kamu sudah mulai mencintaiku ya." Godanya
Aku duduk lalu meraih bantal dan memukulnya berulang kali, Alex pun duduk membalasku.
Kami tertawa bersama di dalam remang nya cahaya di malam itu.
Perlahan Alex mendekatkan wajahnya padaku di tengah nafas kami yang masih memburu, karena Habis berperang bantal tadi.
Dia memengang pipiku dengan kedua tangannya.
Entah mengapa aku hanya terdiam kaku. Tubuhku tidak bereaksi apa-apa ketika Alex menyatukan bibirku dan bibirnya dengan begitu lembut.
Untuk kemudian dia melepaskannya dan menatapku lekat.
"Ayo kita tidur."
Dan aku pun baru tersadar dari hayutnya aku dalam lena. Aduh betapa malunya aku ketahuan telah membiarkannya mendekatiku,huhuhuhu.
Dia tersenyum mengusap kepalaku.
"Kamu lucu kalau seperti ini." Godanya
Dan entah mengapa, tiba-tiba rasa mualku menyeruak dan aku berlari ke dalam kamar mandi.
"Kamu kenapa."Alex menghidupkan kembali lampu kamar kami,Dan ia mengikutiku.
Selesai muntah, aku kembali berjalan gontai menuju ranjang lagi.
Tapi…
"Rambut kamu kenapa tidak di ikat, lihat tuh, habis terkena muntahan kamu, ayo aku bantu mencucinya." Alex meraih tangan kananku. Aku hanya menurut saja mengikuti langkahnya dari belakang.
Alex duduk di pinggiran bathtub, lalu ia menuntun aku duduk di lantai tepat di samping bathtub. Ia menghidupkan kran air dan menyuruh ku menyandarkan kepalaku di pahanya.
Aku hanya menuruti perintah nya, lalu ia mencuci rambutku dengan hati-hati.
Mendapat perlakuan seperti ini, membuat aku seperti sangat berarti olehnya, sangking bahagianya aku seperti sedang di taman bunga dan di taman itu dipenuhi oleh kupu-kupu yang sedang menari ria.
"Sudah selesai." Ucapnya mematikan air kran.
Lalu ia mengeringkan rambut ku menggunakan hair dryer.
Setelah ini, apakah aku boleh berpikir kalau semua ini adalah cinta. Walaupun Alex sendiri tak pernah mengatakannya bahkan ketika aku memberanikan diri untuk meminta kepastian darinya.
"Jangan buat aku berharap." Batinku lirih.
Alex melihatku dan meletakkan hair dryer nya di atas nakas.
"Sekarang apa lagi yang sedang kamu pikirkan?" Alex bertanya membuyarkan lamunanku.
"Tidak ada."
"Jangan bohong, kalau tidak ada mengapa kamu seperti sedang memikirkan sesuatu."
"Terima kasih ya." Ucapku perlahan.
"Terimakasih untuk apa."
"Pokok nya terimakasih aja." Jawabku sembari rebahan dan menarik selimutku.
"Hei, apa kau akan tidur dengan baju basah begitu."
"Astagfirallah." Sangking terbuainya aku dengan perlakuan Alex, membuat aku tidak menyadari kalau gamisku basah.
Terpaksa aku bangkit lagi, menjengkelkan sekali.
"Jangan pakai gamis lagi ya!, Pakai lah baju tidurmu." Pintanya padaku ketika aku mencari baju dalam lemari.
Dengan terpaksa aku meraih piyama. Karena aku tidak ingin menyinggung perasaannya lagi.
Sesaat kemudian aku keluar dari kamar mandi dengan menggunakan piyama lengan pendek dan celana pendek.
Disana Alex masih setia pada posisi duduk nya semula.
"Kenapa kamu belum tidur sih." Gerutuku menahan malu.
Bukannya kesal, ia malah memujiku."Kamu cantik Zahra." Ucapnya
Yang menciptakan gemuruh, berkecamuk di dalam hatiku ini.