Kisah cinta antara Prima dan Wida yang lama terpendam. Namun akhirnya terungkap karena ternyata bukan hanya Prima yang menginginkan Wida. Dan Prima pun harus berjuang untuk mendapatkan cinta Wida.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon idesan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB XIV : Saatnya Untuk Menghindar
Dengan enggan akhirnya Wida mengikuti Prima ke ruang makan. Wida takjub melihat ruang makan Prima yang besar seperti yang ia lihat di drama-drama. Meja yang besar dengan kursi yang mengelilinginya.
"Duduklah.." Prima menarik kursi untuk Wida. Dan Prima menarik kursi disebelahnya untuk dirinya. Dengan canggung Wida duduk. Prima hendak mengambil piring Wida untuk membantunya menyendok nasi. Wida menahan piringnya. "Aku bisa.." katanya. Dan akhirnya Prima membiarkan Wida mengambil apa yang ia suka.
"Sepi sekali rumahmu.." kata Wida disela-sela makannya.
"Ayah ibuku lagi ke Jogja.. nengok nenekku yang tinggal di sana." jawab Prima.
"Sayang ya.. ruang makan yang besar.. meja makan juga besar.. kursi pun juga banyak.. tapi yang makan hanya satu.." Wida berkata sambil matanya melihat-lihat ruangan. "Beda dengan rumahku yang kecil.. tapi kalo kami makan berisiknya bukan main." Wida tersenyum membayangkan suasana saat keluarganya makan bersama.
Prima terdiam menatap Wida. "Lain kali ajak aku makan dirumahmu.." kata Prima melenyapkan bayangan yang ada di pikiran Wida. Wida hanya melirik Prima tanpa menjawab permintaan Prima dan melanjutkan makannya.
Sebenarnya Prima masih ingin mengajak Wida tour keliling rumahnya.. bahkan ke kamarnya. Namun Wida sudah rewel ingin pulang. Dan mau tak mau Prima pun menurutinya, mengingat rumah Wida yang jauh.
" Aku antar ya.." Prima menawarkan diri mengantar Wida. "Tidak usah.. aku bisa naik angkot" tolak Wida.
Dan Prima harus puas dengan hanya mengantar Wida sampai ke depan pagar. Mereka pun berpisah saat angkot yang akan di tumpangi Wida datang. "Hati-hati!" Prima melepas Wida. Dan Wida hanya tersenyum.
Prima lalu masuk setelah angkot sudah menjauh. Ia masuk ke kamarnya lalu merebahkan tubuhnya di kasur. Ia mengingat kejadian yang tadi ia alami disekolah. Saat dilihatnya Wida akan mengambil coklat dari tangan Ryan. Prima tersenyum getir.. untung ia cepat datang tadi, dan mecegah Wida untuk mengambilnya. Walaupun harus berakhir dengan perkelahian.
Senyumnya makin melebar.. karena perkelahian itu ternyata ada hikmahnya juga menurutnya.. karena dengan kejadian itu ia dapat mengajak Wida kerumahnya. Walaupun ia masih ragu dengan hati Wida.
Lain halnya dengan Prima, Wida yang di angkot saat teringat kejadian tadi merasa bersalah baik terhadap Prima maupun Ryan. Terlintas juga dipikirannya tentang Ryan. Bukan ia tidak menyadari maksud kebaikan dan perhatian dari Ryan. Namun baginya Ryan hanya adik kelas yang telah lama tidak bertemu. Hhhh.. desahnya.. Apakah Ryan tidak apa-apa? pikirnya.. Lebamkah pipinya seperti yang di alami Prima..? Mungkin untuk sementara ia harus menghindari mereka berdua disekolah mulai besok.. agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi..
Dan benar saja. Keesokan harinya disekolah Wida sengaja menghindar dari Prima. Saat ia hendak turun dari angkot, dilihatnya Prima berdiri di ujung gang tempat ia biasa lewat untuk menuju kesekolah. Prima sepertinya tidak melihat dirinya. Ia pun tak jadi turun.. dan kemudian lanjut untuk turun di gang lain yang juga bisa di lewatinya untuk menuju kesekolah.
Dan di ujung gang lainnya Prima tampak menunggu dengan cemas. Setiap angkot yang melintas dilihatnya dengan cermat apakah Wida ada disana. Waktu pun berjalan.. setelah lama menunggu.. dan yang di tunggu tak kunjung datang.. akhirnya Prima memutuskan untuk pergi dari sana dan bergegas menuju sekolah. Dengan kesal ia berlari kesekolah.. karena memang sudah waktunya untuk masuk kelas...
aku sllu mnnti lanjutannya...
tetap semangat ya