Namanya Sinta Anjani, janda satu anak yang mempunyai ambisi untuk mencari suami dan ayah baru untuk anaknya, James. Kegagalan rumah tangga disebabkan oleh mantan suami yang dengan tega menyelingkuhi dirinya bahkan ketika janda itu dalam keadaan hamil. Tentu saja banyak rintangan dalam masa pencarian jodohnya, beberapa konflik keluarga bahkan sahabat baru dalam hidupnya menjadi kendala besar bagi janda itu. Akankah Sinta melabuhkan lagi cintanya? atau dia memutuskan untuk hidup tanpa ikatan pernikahan dan memilih menjadi seorang janda seumur hidup? entahlah kita ikuti saja takdir sang kuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Nurlaeli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENCARIAN 2
"Tidak mbak aku tidak mau pindah lagi ke Jogja."
"Semoga saja tidak akan ada yang menemukan kita bu."
"Iya mbak, semoga saja."
Kalau sinta kembali lagi ke Jogja sama saja dia menyerah dan pasti dia akan bertemu lagi dengan orang-orang yang dia hindari.
drtt drtt
Mama send one message
12.23 WIB
Kamu pulang ya nak.
Mata cantik itu terus menatap jengah kearah ponselnya, dia tidak membalas pesan singkat itu, kalaupun dia menurut toh mamanya juga pasti akan tetap memaksa menikah dengan firman. Besok adalah hari senin, sinta akan mencari pekerjaan. Menyandang sebagai lulusan UGM dengan nilai diatas rata-rata mungkin akan memudahkan sinta mencari pekerjaan, dia mencari lowongan di internet ada satu yang seperti pas pada kriteria kemampuannya. Dia mencatat alamat kantor itu, besok adalah semangat baru untuk sinta, semoga saja itu menjadi jalan hidupnya mulai sekarang.
***
tin tin
Bram tiba di Jogja dan benar saja dia langsung menghampiri rumah kelvin, pria itu melambaikan tangannya. Dari dalam rumah tiara datang dengan beberapa temannya, mereka berbondong-bondong membawa tas bermerk. Seperti sebuah ajang pamer biasalah namanya juga perempuan, istri kelvin itu sempat menyapa bram ketika mereka melewati laki-laki itu.
"Istrimu mau kemana itu?" bram menolehkan kepalanya melihat istri centil kelvin yang sudah berada dalam mobil bersama teman-teman rempongnya.
"Biasalah dia selalu memintaku uang, lalu menghabiskan bersama teman-temannya."
Bram terkekeh sejenak, kelvin seperti tidak tahu kelakuan istrinya sedari dulu saat kuliah.
"Yang begitu juga mati-matian kamu kejar kan sob."
Kelvin mendengus, memang benar bukan sindiran halus dari bram kelvin yang dibutakan oleh cinta.
"Ku kira dirimu akan mati luntang-lantung dikota orang," kelvin mengejek benar sahabat lamanya itu, bram tidak menanggapi. Dia mengambil sebatang rokok yang tergeletak didepan meja tempatnya duduk, merogoh korek dalam saku celana jeansnya, mereka berdua berbincang ditemani asap rokok yang saling mengepul.
"Dia sudah dilamar pria lain."
Kelvin tersedak asap rokoknya sendiri terkejut dengan penuturan lesu bram, ternyata laki-laki dihadapannya itu sedang patah hati sekarang.
"Lupakan saja janda ku itu cari yang masih segar, lagipula sinta sudah akan menikah dengan orang lain."
"Sayangnya tidak semudah itu vin."
"Aku tahu itu pasti cukup sulit bagimu, ngomong-ngomong aku cukup terkejut kamu bisa dekat dengan sinta."
"kenapa, kamu cemburu?" bram mengangkat sebelah bibir atasnya, dia sedikit mengejek kelvin.
"Mana mungkin kalau aku cemburu aku tidak akan memberikan alamat rumahnya di Bandung, lagi pula itu sudah masalalu."
"Hm akan aku pegang ucapanmu."
Kelvin tertawa dengan keras, tangan kanannya memukul meja dihadapan keduanya. Seperti ucapan bram sangat menghibur, bram hanya menatap kearah lain kembali menyemburkan asap rokoknya.
"Apa natasya mengetahui kedekatan kalian?"
"Itu bukan urusanku."
"Wah seperti ada bau-bau perselingkuhan ya."
"Kamu fikir aku dirimu dan tiara, ck!"
"Ha ha ha baiklah jangan lagi ungkit masalah itu, aku meninggalkan pujaan hatimu itu karena aku merasa sudah tidak lagi mencintainya. Mungkin sebagian dari masalalu perempuan akan tidak rela jika mantan istrinya didekati seorang pria, tapi kamu lihat sendiri kan bram aku bahkan berusaha membantumu."
"Ya kurasa kamu berbeda."
Ringisan kecil keluar dari mulut kelvin, tapi biarlah bram berfikir bagaimana tentang dirinya yang dia ucapkan memang benar adanya.
"Aku akan sedikit jujur kepadamu bram."
"Katakan saja."
"Sinta memang perempuan yang baik, meskipun aku sudah menyakiti hatinya tetapi dia masih mau menerima kehadiranku disekitarnya," bram mengangguk mengiyakan.
"Contohnya saja ketika aku dan tiara sengaja memesan gaun pernikahan di butiknya, dia meladeni tiara dengan telaten. Aku sedikit menyadari istriku itu sengaja membuat sinta kesal, tetapi sinta masih saja menyanggupi kemauan tiara."
huft
kelvin menghelas nafas sejenak, menyesap sedikit kopi buatan ajudan rumahnya.
"Meskipun sampai sekarang aku masih belum bisa menggendong james, ya aku memaklumi sinta kalau aku tidak pernah diperbolehkan menyentuh anakku sendiri, aku menyadari semua kesalahanku waktu itu. Bagaimana dulu aku malah berkencan dengan tiara dan mengabaikan sinta yang tengah mengandung james, aku masih ingat ketika sinta sedang tidak enak badan, mungkin itu seminggu sebelum kelahiran james. Aku dengan teganya meninggalkan dia di saat suhu tubuhnya sangat panas, dia hamil dan juga harus merasakan demam yang tinggi."
"Kamu menyesalinya?" bram menatap ke dalam mata hitam kelvin, disana terlihat sekali ada banyak penyesalan.
"Aku mulai merasa menyesal dihari pernikahanku dan tiara."
"kenapa?"
"Ternyata sinta masih sudi datang di acara pernikahanku, dia bahkan membawa james. Aku tahu itu pasti sulit untuknya, tiara juga berlaku sangat kasar kepada sinta dan anakku."
"Menyesali dalam hal apa eh?" bram menaruh putung rokoknya, dia menyamankan kembali posisi duduknya agar lebih intens menghadap ke arah kelvin, pembicaraan itu sudah mulai berat baginya.
"Kamu jangan salah sangka dulu, bukan berarti aku menyesal telah meninggalkan sinta. Aku hanya menyesali semua perbuatan buruk yang pernah ku goreskan dihatinya, kalau memang untuk menyesal dan ingin kembali lagi bersamanya aku sudah tidak memiliki pikiran itu lagi, sinta terlalu baik untuk aku orang yang tidak bisa bertanggung jawab."
"Dia memang begitu kuat."
"Ya begitulah bram, ini alasan kenapa aku ingin sekali membantumu untuk bersama sinta. Aku sudah mengenalmu dari lama semua baik dan burukmu aku tahu, dan ya aku merasa kamu bisa menjaga sinta dan anak aku, james."
"Sayang sekali harapan mu itu sudah jatuh pada orang lain."
"Apa kamu yakin sinta benar sudah menerima laki-laki itu?"
"Aku tidak tahu dengan jelas, tetapi mamanya sempat menolakku."
"Jadi kau sudah melamarnya?"
"Aku hanya mengatakan kalau aku sebagai calon suaminya."
Bram dan kelvin sama-sama terkekeh, bram ternyata punya nyali yang tinggi juga, tidak disangka pengakuan palsu itu masih saja ditolak.
"Aku tidak bisa membantu lebih jauh lagi bram, setahu ku sinta hanya memiliki mama nya di Bandung, kalau untuk teman ataupun saudara aku tidak begitu tahu."
"Lalu untuk apa kamu menyuruhku pulang, seharusnya aku sekarang mungkin sudah menemukannya!"
"Bukan begitu maksutku aku hanya terlalu khawatir kalau sahabatku ini tersesat."
"Yang benar saja!"
"Ku beri tahu sesuatu bram."
"Apa?" alis tebal bram memicing sebelah, penasaran dengan apa yang akan kelvin ucapkan.
"Saat di hari pernikahanku apa sinta sudah menghindarimu?"
"Dia menghindariku Sehari sebelum pernikahanmu, aku tidak tahu apa yang telah terjadi selama aku berada di Solo sebelumnya kami sempat saling bertukar kabar seperti biasa, tapi setelah aku sampai di Jogja dan menghampiri apartemen nya dia sudah mulai menjauhiku."
"Apa mungkin natasya sudah mengetahui hal ini?"
"Tidak ada hubungannya dengan natasya."
"Jangan salah bram sinta pasti akan sangat merasa bersalah jika natasya mengetahui kedekatan kalian, ah aku jadi ingat apa yang tadi mau ku beri tahu."
"katakan saja."
"Aku dan tiara sempat mempergoki interaksi antara kalian bertiga."
"Bertiga?"
"Kamu sinta dan juga natasya."
"Lalu?"
"Apa kamu tidak menyadari sesuatu yang aneh pada sinta waktu itu?"
"Tidak ada, wajahnya bahkan tidak pernah menatapku sekalipun."
"Ha ha ha kamu salah bram sinta terus saja menatap dirimu."
"Benarkah?"
"Aku dan tiara jadi geli sendiri ketika melihat raut cemburu diwajah sinta, dia seperti tidak rela melihat natasya yang berusaha mendekatimu, kamu ingat bukan ketika mantan mu itu menabrak dari belakang dan jas mu jadi basah?"
"Iya aku ingat, cih natasya benar-benar menguji kesabaranku waktu itu."
"Bukan tentang natasya sob tetapi disana sinta menatap kalian dengan mata yang berkaca-kaca," bram terdiam mencerna omongan kelvin.
"Aku rasa kepergian sinta ada hubungan nya dengan natasya."
"Apa aku perlu menanyakan nya pada natasya?"
"Jangan gegabah itu hanya perkiraanku."
Kelvin meminum kembali kopi pahit itu, bram menatap kosong meja bundar dihadapannya, mungkin omongan kelvin ada benarnya juga. Sinta terus saja membahas tentang natasya ketika mereka sedang berdebat.
"Ketahuilah bram wanita akan sok jual mahal pada awalnya, jangan berhenti untuk terus mengejarnya jika hatimu mantap. Bisa saja dia memang sudah mencintaimu, kalau tidak kenapa dia harus repot-repot pindah agar tidak bisa bertemu denganmu lagi?"
"Kamu benar juga vin."
"Kejar dia seperti aku berani mengejar tiara dulu, ya memang harus ada yang sedikit terluka. Kalau sinta dulu pasti sangat terpukul karena status kita masih suami istri waktu itu, tetapi kalau natasya dia hanya mantan tunanganmu. Menurutku itu malah tidak ada hubungannya dengan gadis itu, sinta pasti hanya merasa tidak enak, aku tahu bagaimana sifatnya."
"Semoga saja ucapanmu itu benar."
***
Rok span selutut dia padu padankan dengan kemeja putih, flatshoes hitam terpakai dengan indah di kaki putihnya. Sinta sudah berdiri didepan gedung kantor Fashion ternama di Bandung, dia akan melamar menjadi salah satu desainer disana.
Tubuh sintal itu terus berjalan masuk menghampiri lobby.
"Permisi mbak!" sinta menyapa dengan sopan pegawai disana.
"Saya mau melamar pekerjaan disini apa masih ada lowongan?"
"Kebetulan bos kita sedang mencari sekretaris disini mbak, kalau begitu mari ikut saya."
"Baik mbak."
Sinta berjalan dengan anggun dibelakang wanita muda didepannya, mereka sampai didepan ruangan boss perusahaan itu.
tok tok tok
"Iya masuk!"
Sinta mengikuti terus langkah kecil dihadapannya, setelah wanita tadi memberitahukan niat sinta datang kemari karyawati itu meninggalkan ruangan tersebut.
"Silahkan duduk."
"Baik pak."
Sinta memberikan berkas-berkas lamaran kerjanya, pria dihadapan sinta yang menjabat sebagai boss itu mengamati dengan teliti surat lamaran kerja sinta.
"Disini tidak tertulis satu pun pengalaman kerja, kalau dilihat dari nilai-nilai kamu di akademik dulu cukup bagus. Apa ini kali pertamanya kamu bekerja?"
"Saya memang belum pernah bekerja disalah satu perusahaan manapun, tetapi saya membuka sendiri butik kecil-kecilan di Jogja."
"Apa sekarang masih beroperasi?"
"Selama saya pindah ke Bandung saya sudah menutupnya."
"Apa ada masalah dengan bisnis kamu?"
"Ah bukan pak saya pindah kesini karena ada masalah pribadi."
Boss itu mengangguk, pria itu tidak bisa dibilang masih muda mungkin kalau dijejerkan usia nya sepantaran dengan firman. Di meja kerja pria itu juga ada foto dirinya bersama satu anak laki-laki dan istrinya mungkin.
"Keahlian mu merancang busana ya?"
"Iya pak, saya menggambar sendiri semua pakaian dan gaun yang ada di butik saya."
"Sayang sekali jika niat kamu untuk melamar menjadi perancang busana diperusahaan saya, Kebetulan saya sedang tidak membutuhkan posisi itu. kalau kamu bersedia, karena nilai-nilai kamu juga baik bagaimana kalau kamu menjadi sekretaris saya saja?"
Sinta menimbang-nimbang tawaran calon bossnya, mungkin menjadi seorang sekretaris tidak masalah, sinta akan banyak belajar dari pengalamannya ini.
"Baik pak saya bersedia."
Pria itu berdiri dan juga diikuti sinta, dia menjabat tangan mungil perempuan itu beserta ucapan selamat karena telah bergabung di kantor dia. Sinta berlalu pergi meninggalkan ruangan itu dengan perasaan yang lega, ternyata berkat disiplinnya dulu ketika dia berkuliah membuahkan hasil. Dia langsung diterima bekerja disebuah perusahaan yang gajinya lumayan tinggi.
"Mungkin ini rezekinya james, anak tampan itu membawa banyak keberuntungan untukku."
Sinta sudah memasuki mobil red sportnya, dia melaju dengan gembira tidak sabar rasanya dia memberitahukan berita menggembirakan itu kepada james, anaknya mungkin belum mengerti namun itu tak menjadi masalah bagi sinta.
"Aku pulaaang!" sinta meletakkan tasnya diatas meja ruang tamu, dia menemui siti yang tengah memasak didapur.
"James dimana mbak?"
"Dia baru saja tertidur mbak."
Siti menoleh sebentar kearah sinta, matanya kembali lagi terfokus pada ikan yang tengah dia goreng. Sinta melangkah menuju james berada, bayi itu terbaring dikasur sedikit keras milik siti. Sinta tidak mempermasalahkan james tidur bersama pengasuhnya saat dia tidak ada, toh siti juga menyayangi anak laki-laki itu. James tidak bergerak sama sekali, hanya perutnya yang naik turun pertanda hembusan nafasnya yang juga bisa sinta rasakan ketika dia mendekatkan wajahnya untuk mencium pipi itu, semakin hari sinta merasa james semakin gembul. Pipinya mengembung , bibir pink itu sedikit terbuka. Jangan lupakan rambut kuning keritingnya yang sudah mulai tumbuh, benar saja tidak satupun fisik sinta yang menurun kepada james, rambutnya pun sama persis seperti milik kelvin, sinta geli sendiri membayangkan rupa james ketika besar nanti. Meski dari segi warna kulitnya james lebih terlihat terang seperti milik sinta, ya mungkin itu akan sedikit membedakan james dan kelvin ketika mereka suatu saat bertemu.
"Bagaimana dengan pekerjaan bu sinta?" siti membawa semangkuk sup kehadapan sinta yang memang sedang menyantap nasi dan ikan goreng.
"Aku diterima mbak."
"Syukurlah kalau begitu bu."
"Aku nitip james lagi ya mbak, satu pesan dari aku jangan pernah buka kan pintu kepada orang asing."
"Saya mengerti bu sinta."
"Kalau suatu saat entah firman ataupun mama berhasil mengetahui alamat kita, Biarkan saja tidak usah ditemui."
"Baik bu."
Sinta melanjutkan acara makan siang itu, siti kembali berkutik didapur untuk membereskan pekerjaannya. Rasanya sinta memiliki semangat hidup lagi, sekarang tujuan hidupnya bukanlah mencari suami baru, baginya itu sudah tidak penting lagi. Dia akan mencari uang yang banyak untuk membesarkan james, tidak peduli dia tidak bisa lagi merasakan romansa cinta ataupun hura-hura diluar, james jauh lebih penting dari kebahagiaannya.
Tidak punya harga diri rupanya
Lanjut lagi
Mau lanjut baca nih
Maaf tekat
Lama ya, kita nggak berjumpa.wkwkwk
Btwe sekarang author sudah ada kerjaan lain. Alhamdulillah.
Aku datang membawa info tentang cuan. Hehe.
Apakah di sini ada yang mau menjajal platfrom lain? Kebetulan saya salah satu Editor Akuisisi di sana. Maaf sebelumnya, saya sengaja tulis ini di kolom komentar. Takutnya kalau lewat pengumuman menyinggung pemilik rumah. Buat kalian yang mau dapat fee hingga 400 dollar. Boleh whatsapp ke saya 081413030520.. untuk info lain saya jelaskan di wa ya teman-teman. Terima kasih.
apa dibiarkan menggantung..
up trus Thor sukak banget sma karyamu lope lope
semangat terus jangan sampai DOWN
Contohnya dilapak aku banyak siders yang baca perhari tapi kamu lihatkan yang komen hanya itu2 saja, like cuma seberapa? Tapi itu tak apa? Yang penting Aku sudah memberikan yang terbaik untuk mereka kalau masalah like dan komen itu Bonus bwat aku yang penting mereka BACA.
Sebenarnya aku nulis ini desakkan dari temen2 sesama author padahal aku sibuk banget kerja.Ini aku juga nulis di sela-sela waktu santai kalau gak ada kerjaan.Makanya saat ada yang minta bwat crazy Up itu tidak mungkin terjadi...??!
Semangat jangan sampai menyerah begitu mudah 🤗🤗🤗
main main ke karyaku ya mkasih