Arifah yang masih duduk dibangku Sekolah Dasar seringkali mendapatkan kenakalan teman-temannya bahkan gurunya sendiri pernah sesekali mempermalukannya.
Puncaknya, Aska sebagai saudara kandung Arifah tidak memberitahunya bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal karena kecelakaan sebuah pesawat. Tidak sampai disitu, Aska sebagai keluarga satu-satunya yang ia punya pun juga pergi meninggalkannya. Belum lagi menghadapi anak angkat Mami yang ternyata seseorang yang datang hanya untuk mengambil keuntungan dari keluarganya.
Lalu mampukah Arifah berdamai dengan takdir yang telah digariskan? Dan apakah dengan hadirnya malaikat pelindung disisinya mampu membuatnya menjadi pribadi kuat dan tangguh?
Saksikan kisah selengkapnya ya, jangan lupa like dan vote juga. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sariyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 14 Malaikat Pelindung
"Dimana adikmu? Dia pasti sudah besar bukan?" Tanya Daniel.
"Ah ya, dia sedang menonton tv. Tunggu sebentar akan saya panggilkan."
Daniel mengangguk.
Aska beranjak dari duduknya menuju keruang keluarga.
"Hei, ayo ikut Mas keruang tamu. Pengacara Papi sudah sampai." Ucap Aska sembari menyentil bahu adiknya.
Arifah yang merasa ada yang menyentil langsung melihat kebelakang. "Ada apa Mas?"
"Ya ampun, kamu tidak mendengar?"
"Aku sedang fokus dengan tv."
Aska yang tidak sabar dan malas berdebat langsung menarik tangan Arifah pelan.
"Kita mau kemana Mas?" Tanya Arifah yang membuat langkah Aska berhenti dan melihat adik kecilnya yang lemot.
Dengan sabar Aska mengulang, "Pengacara Papi sudah datang, beliau sedang menunggu kita diruang tamu. Sudah ya jangan banyak tanya, ayo!"
Arifah masih mencerna kata-kata Aska, ia masih belum memahami apa yang baru saja diucapkan Mas nya.
"Ini Pak Daniel, pengacara Papi." Ucap Aska setelah sampai diruang tamu sembari memperkenalkan Daniel pada Arifah.
Arifah langsung menyambutnya dengan mencium punggung tangan Daniel.
Daniel tersenyum simpul, "Ternyata Arifah sudah tumbuh besar ya." Ucapnya memperhatikan Arifah dari rambut hingga ujung kakinya.
Arifah merasa risih diperhatikan seperti itu, ia hanya tersenyum kecut.
"Mari silahkan duduk!" Aska mempersilahkan Daniel kembali untuk duduk.
"Ah yaa!" Ucap Daniel lalu duduk disofa. Diikuti Arifah dan Aska yang juga duduk tepat didepan Daniel.
Jadi ini orang yang dimaksud Mas Aska, apakah orang ini orang penting? Batin Arifah.
Daniel mengambil map berisi surat warisan dari Wijaya untuk Aska dan Arifah. Daniel membacakan isi surat itu dengan sangat jelas dan terperinci. Didalam surat itu Aska menguasai aset Wijaya Coorporation yang bergerak dibidang keuangan dan memiliki cabang diseluruh wilayah di Indonesia serta serifikat rumah yang Aska tinggali saat ini. Sedangkan Arifah menguasai bisnis butik milik Mami yang memiliki cabang dibeberapa kota di Indonesia dan diluar negeri, serta sertifikat apartemen mewah dikota Jakarta. Namun, Arifah akan memegang bisnis Mami ketika usianya sudah menginjak 19 tahun. Selama ia belum genap diusia itu maka bisnis itu akan dikelola oleh Melati, anak angkat Mami.
Setelah selesai membacakan maklumat warisan, Daniel menyerahkan beberapa lembar surat kepada Aska. Yang dilihat Aska pertama kali disurat itu tertulis nama Kusuwa Wijaya selaku Ayah dan Aska Kiswana Wijaya selaku anak kandung. Setelah membacanya ia menandatangani berkas itu.
Daniel pun memberikan berkas kepada Arifah untuk ditandatangani, sebenarnya Arifah masih ragu untuk menandatanganinya, karena ia belum mengerti maksud itu semua.
Arifah melihat Aska minta persetujuan, dan Aska mengangguk. Ia pun menandatangani beberapa lembar berkasnya.
"Baiklah simpan surat ini untukmu!' Ucap Daniel sembari memberikan map kepada Aska dan Arifah. "Baiklah tugas saya selesai, saya pamit permisi." Lanjutnya dengan menjabat tangan Aska dan Arifah bergantian.
Aska dan Arifah mengantar Daniel didepan pintu dan melihatnya berlalu.
"Mas!"
"Apa." Ucap Aska melirik Arifah.
"Apa maksud semua ini?" Tanyanya polos.
"Ayo masuk, Mas akan jelaskan didalam." Aska merangkul adik kecilnya masuk kedalam, mereka menuju ruang keluarga. Karena tv yang masih menyala Aska berinisiatif mengambil remot dan menekan tombol off.
Arifah meruncingkan bibirnya, "Mengapa mematikannya, Mas tahu tidak kalau itu acara kesukaanku!" Arifah menatap Aska dengan sikap cemberutnya.
"Mas mau kamu konsentrasi dengan apa yang akan Mas sampaikan!" Ucap Aska yang malas melihat adik kecilnya merajuk.
Aska menarik tangan Arifah untuk duduk disampingnya.
Arifah yang merasakan tangannya ditarik, menatap Aska sebentar, aku perlu tahu semua ini, batinnya. Tanpa pikir panjang lagi ia duduk disamping Aska.
Kenapa lama sekali, gerutu Arifah mengeluh karena Aska belum juga membuka suaranya.
"Jadi itu tadi maksudnya apa?" Tanya Arifah yang sudah kepalang penasaran dengan menghadap Aska.
"Apa kamu tahu warisan itu apa?" Dijawab gelengan kepala Arifah. Aska mengambil nafas dan membuangnya kasar. Kemudian menghadap adik kecilnya, ia menatap lekat sembari menimbang-nimbang bagaimana menjelaskannya secara sederhana. "Jadi begini, Papi adalah pimpinan perusahaan keuangan, nama perusahaannya Wijaya Coorporation. Nah sekarang kan Papi sudah tiada, jadi Papi menyerahkan pimpinan Wijaya Coorporation kepada Mas untuk meneruskan."
"Sedangkan kamu mengolah bisnis almarhumah Mami, tapi karena kamu belum cukup umur jadi butik milik Mami akan dikelola sementara oleh Melati anak angkat Mami." Ucap Aska melanjutkan.
Arifah berusaha memahami kata demi kata yang diucapkan Aska. "Jadi sungguh Mami dan Papi sudah meninggal?" Tanyanya menatap mata Aska berusaha menemukan kebenaran.
"Ya." Ucap Aska dengan suara paraunya, menunduk.
Mendengar apa yang diucapkan Aska, jadi ini bukan mimpi? Ini sungguh kenyataan, tapi bagaimana ia bisa ada dirumah, bukankah aku ditepi danau waktu itu? Arifah membatin.
"Apa Mas menemukan ku didanau? Mas yang membawa ku pulang?" Tanya Arifah menatap Aska tanpa berkedip.
Mendengar pertanyaan Arifah, Aska mengernyitkan keningnya. Ia mencoba mengingat-ingat, namun Aska tidak merasa menemukan Arifah didanau, justru ia menemukan Arifah dikamarnya. Lalu kenapa dia berpikir aku yang menemukannya didanau?, membatin.
"Mas memang mencari kamu. Tapi karena sudah menjelang subuh Mas memutuskan pulang dan berencana melanjutkannya besok. Sesampainya Mas dirumah, Mas lihat kamu sudah tertidur dikamar dan Mas merasa lega kamu sudah pulang". Aska menjelaskan panjang lebar.
"Padahal Mas sudah mencari kamu mengelilingi rumah ini dan tidak ada satu sudut pun yang tidak Mas lewati. Kamu sembunyi dimana adik kecil?" Tanya Aska sembari menyenggol kening Arifah pelan dengan jari telunjuknya.
Karena Arifah tidak merespon perkataan Aska. Ia memegang lengan adik kecilnya dan menatapnya penuh kasih, "Maafkan Mas, seharusnya Mas segera memberitahumu saat itu juga. Ini salah Mas, Mas memang bodoh. Mas sungguh-sungguh minta maaf. Mas janji tidak akan melakukan satu kesalahan lagi, Mas mohon jangan pergi tinggalkan Mas." Ucap Aska tengah menahan tangisnya.
Arifah belum bisa menerima kenyataan bahwa kedua orang tuanya telah tiada. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan berlalu pergi meninggalkan Aska diruang keluarga, ia berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Sampainya dikamar ia menuju balkon kamarnya. Arifah duduk menatap langit yang penuh dengan awan putih.
"Apa kamu ingin tahu siapa yang membawa mu kerumah?" Tanya seseorang.
Arifah yang masih menangis tersentak dengan suara itu. Ia melihat kesana kemari tak ada seorangpun.
"Kamu belum menyadari keberadaan ku ya?" Ucap suara itu lagi.
"Si-Siapa kamu.. Tunjukkan dirimu!" Tanya Arifah yang mulai memberanikan diri karena ketakutan.
"Aku ada disampingmu sejak tadi."
Mendengar ucapannya, Arifah melihat kesamping kanan dan kirinya. Tak seorang pun yang ia temui kecuali seekor kucing. Reflek tubuh Arifah langsung menjauhi kucing itu.
"Si-Siapa kamu.. Pergi kamu dari sini!" Ucap Arifah sekali lagi mencoba memberanikan diri.
"Tidak, aku tidak akan pergi meninggalkan mu sebelum tugasku berakhir!" Ucap kucing itu sembari menjilat kakinya.
"Apa maksudmu?" Tanya Arifah yang mulai penasaran.
"Aku ini malaikat pelindungmu. Dan akulah yang membawamu kesini saat tertidur didanau." Kucing itu menjelaskan masih dengan menjilati kakinya kali ini kaki yang sebelah kanan.
"Apa? Bagaimana bisa? Dan mengapa kamu bisa berbicara?" Arifah masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia alami.
"Aku ini hanya menjelma saja menyerupai seekor kucing. Aku diutus kemari untuk melindungimu menghadapi masalah-masalah getir yang akan kamu hadapi kedepannya. Karena jika kamu sendirian menghadapinya kamu tidak akan sanggup dan akan mati menggenaskan." Ucap kucing itu memperjelas.
"Jika tugasku sudah selesai, aku akan pergi." Lanjutnya.
Arifah berusaha mencerna penjelasan dari si kucing. Matanya berbinar-binar mendengar jikalau ia akan didampingi seorang malaikat pelindung disampingnya. Dengan begitu ia tidak perlu khawatir ataupun takut menghadapi setiap masalahnya nanti. Aku akan memanfaatkan dia, batinnya.
"Siapa yang mengutusmu?" Tanya Arifah yang sudah tidak ketakutan lagi.
"Seseorang.." Ucapnya sembari tersenyum menunjukkan gigi-gigi runcingnya dan membulatkan matanya.
Baru kali ini Arifah melihat seekor kucing tersenyum kepadanya. Ia bergidik ngeri melihatnya.
"Siapa?" Tanya Arifah lagi.
"Seseorang." Jawabnya lagi masih menunjukkan gigi runcingnya.
Kucing ini terlihat imut dan manis ketika diam, tapi terlihat menyeramkan ketika tersenyum. "Baiklah siapa namamu?"
"Aku belum memiliki nama, maukah kamu memberiku nama?" Kali ini kucing itu memegang kaki Arifah dengan tangan mungilnya dengan wajah yang penuh harap.
Ya ampun, dia imut sekali, batin Arifah.
"Bagaimana aku bisa memberikanmu nama, sementara aku tidak bisa membedakan suaramu yang tidak menunjukkan suara laki-laki maupun suara perempuan" Arifah menggigit bibirnya dengan berpikir.
"Baiklah, aku akan memberikanmu nama. Aku akan memberi kamu nama Putri saja, karena kamu adalah malaikat pelindungku dan aku seorang perempuan maka aku memberi kamu nama Putri. Apa kamu setuju?" Lanjut Arifah setelah mendapatkan ide.
Kucing itu melepas tangannya dari kaki Arifah dan menunjukkan gigi-giginya yang runcing kembali. "Aku setuju, dan aku menyukainya."
Arifah tersenyum mendengar persetujuannya. "Sekarang aku akan memanggilmu Putri. Hai Putri.."
"Hai.." Balas Putri makin memperlebar senyumnya.
Arifah yang melihat semua gigi itu pun berkata. "Sudah, jangan tersenyum seperti itu. Aku sangat takut dengan senyummu!"
"Baiklah.." Jawabnya menunduk.
Arifah tertawa mendengarnya, "Kamu ini lucu sekali." Mereka pun berbincang-bincang seputar kehidupan Putri di Nirwana. Nirwana adalah tempat tinggal Putri. Ia sangat tertarik dengan kehidupan Putri disana yang selalu bahagia tanpa ada penderitaan. "Bisakah kamu mengajakku kesana?" Tanya Arifah penuh harap.
"Tidak bisa." Jawab Putri, "Maksudku belum waktunya."
"Jadi kapan waktunya?" Tanya Arifah dengan senyum mengembang diwajahnya.
"Tunggu saja!" Ucapnya. Jawaban ini membuat Arifah kecewa.
.
.
.
TBC...
Jangan Lupa Like 👍
Like Kalian itu Berarti Banget Buat Aku, Bikin Aku Makin Semangat!!
jangan lupa jaga kesehatan jugaa
like nya sudah mendarat
lanjut dan semangat selalu💪😍💜
Semangat tuk karyanya ya kak 🤗❤️