KISAH SANTRI PESANTREN MANBAUS SALAM. NO PROMO!
✍️ NASKAH DALAM PROSES REVISI. Please jika ada kesalahan tulisan, mohon tulis di kolom komentar, ya. Atau, apa pun segala yang berhubungan dengan cerita.
Kesedihan, tawa, romantisme hubungan pernikahan, kemarahan, mawas diri, muhasabah, cinta dan akhlak seorang santri.
⚠️⚠️ Plagiat? Langsung sy serahkan urusan itu antara Anda dg Tuhan.🙏 Cerita ini tidak terinspirasi dr satu pun novel di platform ini.
Novel pembangun jiwa yang dilatarbelakangi pesantren salaf milik seorang Yai Makrus dan Bu Nyai Hindun.
Kisah kasih perjuangan santri yang ingin menggapai surga dengan jalan menghafalkan Alquran. Penuh tirakat, ujian, berlomba-lomba ngalap berkah.
Ranaa ialah putri kesayangan aba yg bercita-cita menjadi hafizah mutqin. Sayangnya, harapan tak semanis dengan realitanya.
Melalui ujian dan seluruh keluh kesah yang dialaminya, bagaimana caranya dia memperjuangkan Alquran? Caranya menjaga hati sahabat-sahabatnya? Teguh di atas kaki sendiri hingga dia dipertemukan dengan kekasih hati yang sebenarnya.
Wahai Merpati Putihku, jika suatu saat kamu terbang jauh, ingatlah bahwa Tuanmu ada di sini yang setia menunggu." Begitu kata sang kekasih di suatu malam penuh bintang gemintang, tapi disertai ratapan tak biasa.
Bagaimana kelanjutannya? Check it out.
👉 Tempat dan nama tidak berhubungan dengan siapa pun.
Selamat membaca. Semoga dapat diambil manfaat dan ibrahnya. 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuni Umdatun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekuatan Doa
“Anakku, doakan Uma, Nak, ya,” kata aba. Aba menatap Anda dan Indi yang sedang tidur.
Aba baru saja selesai menunaikan dua rakaat salat hajat. Uma terpaksa harus dilarikan lagi ke rumah sakit setelah tiga hari yang lalu sambang ke pondok. Waktu itu pakde sangat terburu-buru menyetir mobil. Tidak tega mendengar rintihan uma walau uma tidak mengatakan sesakit apa perutnya.
Perjalanan yang harusnya ditempuh selama satu jam menuju rumah sakit hanya ditempuh empat puluh menit. Uma masuk UGD. Setelah dokter memeriksa, dokter mengatakan uma harus di-rontgen lagi. Apakah tumor di perutnya tumbuh lagi atau tidak. Aba pasrah mengiyakan.
Hasil keluar keesokan harinya. Aba berbicara serius berdua di ruang dokter. Dua lembaran foto rontgen diperlihatkan pada aba bahwa benar dugaan dokter. Tumor itu tumbuh lagi sudah seukuran telur gemak.
“Kenapa bisa tumbuh lagi, Pak Dokter?”
“Kejadian seperti memang bisa saja terjadi, Pak. Tumor yang sekarang tempatnya ada di tuba falopi sebelah kanan. Beda tempat dengan yang sudah kami operasi kemarin.”
“Astagfirullah.” Aba mengusap wajahnya.
“Dok, apa harus dioperasi lagi?”
“Iya, Pak. Kami akan meminta izin operasi lagi.”
“Seberapa cepat tumor itu bisa tumbuh?”
“Menurut perkiraan kami, tumor ini tidak terlalu cepat pertumbuhannya. Dua bulan ukurannya mencapai diameter enam senti.”
“Kami belum punya uang sama sekali untuk operasi lagi, Dokter. Jika operasi dilakukan dua minggu lagi dan selama itu dokter memberikan obat, apakah itu tidak akan memperlembat pertumbuhan tumornya?”
“Kemungkinan besar kecil. Obat hanya akan penetral rasa sakitnya.”
Maka, selama dua minggu uma kembali dirawat di rumah sakit. Seluruh keluarga besar bergantian merawat uma dan bocil-bocil. Sementara, aba terus mencari pinjaman uang lagi. Setidaknya lapak bakso tidak tutup karena waktu pertama uma sakit dulu ada laki-laki yang butuh pekerjaan. Di situlah aba mempekerjakannya sampai sekarang. Uang hasil penjualan bakso tetap standart. Aba setiap hari menanyakan berapa jumlah uangnya. Lalu, jatah gaji diberikan kepada seorang karyawannya itu. Dan, sisanya aba kumpulkan untuk operasi uma.
Sebetulnya uang penjualan bakso jelas tidak akan menutup banyak. Aba juga tetap menggaji dengan jumlah yang sama setiap harinya meski hasil penjualan berbeda-beda. Lelaki itu pernah sempat menolak. Kasihan juga sungkan pada aba yang dia rasa sudah begitu baik padanya. Tapi, aba jauh lebih kasihan dan merasa tidak bisa berbuat adil jika menyalahi kesepakatan di awal aba mempekerjakan. Itulah hebatnya aba.
Setiap hari uma harus menahan rasa sakit. Saat rasa sakitnya sangat nyeri dan tidak tertahankan obat dari dokterlah yang menjadi peredanya. Wajah Anda dan Indi yang menjadi penyemangatnya. Tenaga dan waktu keluar terdekat yang menjadi alasan kesabarannya. Dan, aba yang terus menjadi kekuatan dirinya.
“Duh, Gusti Pengeran kula. Mudahkanlah, lancarkanlah hafalan anakku Ranaa. Berikan dia kesabaran, kekuatan, dan hati yang lapang.”
Uma berkali-kali mengucapkan itu lirih saat perutnya sangat nyeri. Uma tidak mengeluhkan rasa sakit yang dia tahan. Justru uma memikirkan putrinya. Uma mengakhiri doa itu dengan tujuh kali surat al-fatihah dan seratus kali surat al-insyirah.
Doa itu melesat ke langit. Tembus ke arsy’. Malaikat yang menjadi saksi doa tulus tak berbanding harga dengan apa pun itu. Malaikat turut mengamini.
Pukul tujuh tepat. Dentingannya berbunyi pelan. Dan, pada saat yang sama ada orang lain, seseorang, yang turut mendoakan. Karenanyalah arsy’ bergetar. Tuhan Yang Maha Pemurah akhirnya mengabulkan, kun fayakun. []
dengan datangnya mantan☺️
akan kucoba
menjodohkan Rana dan Asyam sejak kecil ya....
penuh dengan pelajaran
dan sisi religi kita memang sekali2. kadang merindukan ketenangan dalam hidup , novel yg pas untuk selalu ingat akan Sang Maha Pencipta
meskipun disela2 waktu kita harus tetap lihat Akhirat ya😊😊
Fastabiqul Khoirot
terimakasih sudah membuat novel sebagus dan bermanfaat
maturswn sanget thor..
karya nya begitu luar biasa..
di bab bab tertentu cmn bs komen MashaAllah sambil berderai,meresapi karya panjenengan..