Cinta Tapi Menyakitkan, adalah kisah sebuah rumah tangga Anindita Putri dan Elnino Karisma.
El menikahi Anin karena ingin melupakan istrinya yang meninggalkan dirinya begitu saja. Sementara Anin karena sudah jatuh cinta pada El, akhirnya mau dinikahi.
Saling menyakiti bermula ketika Anin tahu bahwa El sudah pernah menikah, dan belum menceraikan istri pertamanya. Pernikahan untuk El adalah sebuah cara untuk melupakan istri pertamanya, dan belum memiliki perasaan cinta pada sosok Anin yang membuat Anin sangat tersakiti.
Anin berusaha untuk bangkit sendiri, dalam sakit hatinya, tiba-tiba banyak sosok pria dengan tulus mencintai Anin dan membuat Anin merasa di cintai, tapi dalam kondisi Anin tidak bisa bercerai dengan El.
Penasarankan bagaimana akhirnya kisah cinta Anin dan El? Akankah El kembali pada istri pertamanya, atau akan tetap bertahan dengan Anin, dan mencintainya?
Yuuuk baca Novel ini sampai akhir 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Felicialetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gundah
Elvira dan El sudah kembali pulang ke Resort, sementara waktu sudah semakin sore.
El memutuskan untuk membawa amplop putih itu bersama dirinya, El kembali ke kamar Resortnya, sementara Elvira kembali mengurus pekerjaannya di Resort yang tertunda itu.
El memasang wajah frustasinya, ia sungguh tak mengerti dengan jalan takdir ini. Kenapa harus sekarang ketika Anin sudah menjadi istrinya, dan ia sudah mulai melupakan sosok Elvira. Kenapa ada sosok putri kecil, yang baru hadir dalam permasalahannya.
El masuk dengan langkah gontainya, Reno melihat kepulangan sahabatnya itu.
"El gimana?" tanya Reno penasaran
"Lo tahu.. Sekarang anak gadis itu di akuin anak gue! Gimana bisa" ucap El dengan nada kesal penuh stres itu
"Jadi benar Elvira itu tidak menikah lagi.. Gue juga tadi dapet informasi seputar Elvira.. Gimana Lo percaya gak itu anak Lo?" tanya Reno memastikan
"Enggak! Gue gak mau langsung percaya. Elvira udah mempermainkan Gue dulu, sekarang Gue gak akan mudah percaya dia lagi. Gue udah Test DNA ke rumah sakit, hasilnya keluar 3 hari lagi" ucap El menjelasakan panjang lebar
"Iya Lo bener.. Eh 3 hari lagi, bukannya besok kita harus balik?" tanya Reno dengan kaget
"Lo balik duluan, Gue masih penasaran" ucap El tanpa pikir panjang
Reno hanya mengangguk-anggukan kepalanya, sembari terlihat sedikit berpikir itu.
"Oh iya Lo dapet informasi apa? Dari siapa?" tanya El penasaran
"Dari karyawan disini, juga client kita.." jawab Reno dengan pasti
"Karyawan disini bilang kalau Elvira adalah pemilik resort ini, dia membesarkannya sendirian, walau sama bayi yaitu Erina.. Terus Client kita juga bilang kalau Elvira adalah orang yang hebat, dia bermain sangat cantik untuk bisnisnya, juga dia seorang Ibu yang hebat untuk putri kecilnya. Gitu katanya" lanjut ucap Reno panjang lebar
El hanya terdiam, ia memang mengagumi kecerdasan Elvira yang memang pandai dalam bisnisnya. Tapi ia tak habis pikir dengan teganya Elvira meninggalkan dirinya, bahkan tak memberitahu kelahiran anak mereka.
El terus larut dalam lamunannya, pikirannya pun melayang-layan.
"Lo gak tanya gimana pekerjaan kita?" tanya Reno yang melihat sahabatnya diam saja
"Eh iya, gimana hasilnya?" tanya El walau sebenarnya pikirannya kemana-mana dan tidak mungkin membahas pekerjaannya
"Ini hasilnya.." Reno mengeluarkan Tab kerjanya lalu memberikan pada El dengan segudang penjelasannya.
El masih saja terdiam ia tak bergeming sedikitpun mendengar penjelasan materi pekerjaannya dari Reno. Reno tahu bahwa sahabatnya ini sedang banyak pikiran, ia sangat mengenal sahabatnya itu. Reno menyudahi penjelasannya karena ia tahu tak di dengar oleh sahabatnya sekaligus bosnya itu.
"Udah ya El, Gue bakal jelasin ini semua ketika Lo sudah mulai siap. Lo harus tenang, proyek kita ini berhasil, semua ide Lo kepake.. Gue tinggal mandi dulu" ucap Reno sembari menepuk pundak El dengan pelan lalu melangkah pergi meninggalkan El yang masih saja terdiam tak bergeming.
Reno menggeleng-gelengkan kepalanya ketika bangkit dan melihat El tak juga bergeming, tak ada sepatah katapun yang terucap dari mulut El.
Reno sangat merasa prihatin sekali dengas nasib El yang harus mengetahui ini semua dengan keterlambatannya.
El keluar balkon kamarnya, ia menatap kosong keluar jendela sembari menghirup udara segar.
El lupa dengan perutnya sendiri, sedari siang ia belum sempat makan, bahkan kini sudah larut sore. Matahari pun sudah tenggelam ke upuk barat.
El juga melupakan mengabari Anin, pikirannya seakan terus menari-nari membuatnya bingung sendiri.
Tiba-tiba ponselnya berdering, El langsung menoleh kearah ponsel yang ia taruh di meja balkon itu. Panggilan masuk dari "Anin"
El tersadar bahwa ia sehari ini sampai melupakan Anin. El berusaha mengatur wajahnya agar tak terlihat seperti orang yang banyak pikiran, baru ia menerima panggilan video call itu.
"Haloo Assalamu'alaikum suamiku.." ucap Anin dengan senyum mengembang, penuh kebahagiaan
"Walaikumsalam sayang..'" jawab El dengan senyum tersungging tipis terlihat dipaksakan
"Kamu sudah makan belum? Sehari ini sibuk sekali ya?" tanya Anin begitu perhatian
"Iya nih aku hari ini sibuk sekali, aku lelah.. Besok aku hubungi kembali yaaa.. Bye" ucap El langsung mematikan sambungan telepon itu
Anin merasa ada yang aneh dengan suaminya itu, tak ada kata sayang yang ia dengar dari mulut suaminya. Anin sangat perasa, membuatnya jadi bad mood, dan memilih langsung untuk membaringkan tubuhnya dan menonton televisi di kamarnya itu.
El terkaget ketika mendengar ketukan pintu dari luar. Siapa yang datang, sore-sore begini pikir El tak mampu menebak siapa yang datang.
El langsung melangkah berjalan untuk membukakan pintu kamarnya itu, karena Reno memang masih di dalam toilet.
"Halooo" sapa Elvira dan Erina bersamaan ketika pintu itu mulai terbuka dan terlihat El yang membukakan pintu
"Kalian.. Ada apa datang kemari?" tanya El dengan merasa terkejut atas kedatangan 2 wanita dihadapannya itu
"Aku tahu kamu pasti belum makan kan?" ucap Elvira dengan senyum mengembangnya
El terdiam tak menjawab apapun pada Elvira yang tersenyum ramah itu.
"Ini aku bawakan makanan untuk Om" ucap Erina dengan lembutnya sembari menyodorkan tas bekal ke arah El
"Terimakasih.." jawab El dengan cepat sembari menerima tas bekal itu
"Sama-sama Om, di makan ya itu enak sekali.. Itu masakan Mami" ucap Erina dengan bersemangat
"Ya sudah kami pulang dulu.." ucap Elvira langsung untuk mengakhiri pembicaraannya dengan El yang masih terlihat terpukul itu
Erina melambaikan tangannya ke arah El ketika hendak pergi, dan El membalas lambaian tangan putri kecil itu dengan senyum tipisnya.
El kembali masuk kedala dan duduk di sofa, setelah menaruh tas bekal itu di atas meja.
"Siapa El?" tanya Reno penasaran
"Erina dan Vira" jawab El singkat sesingkat-singkatnya
Reno tersenyum ke arah El yang merasa gundah seperti itu.
"Tenangin diri lo dulu sana.." ucap Reno merasa khawatir dengan sahabatnya itu
"Gue keluar dulu ya, Lo makan itu terus mandi terus istirahat sana. Gue jadi khawatir Lo stres disini hahah" lanjut ucap Reno dengan tawa kerasnya
El hanya terdiam mendengar tawa Reno pun, biasanya ia marah jika sahabatnya itu meledek.
El menatap ke arah tas bekal itu, lalu memberanikan dirinya untuk membuka isi di dalamnya.
"Selamat makan El.. Semoga ini masih makanan kesukaan kamu -Elvira" sebuah tulisan yang ditulis Elvira dan di simpan di atas kotak makan itu
El langsung membuka isi kotak bekalnya itu, di lihatnya sekotak nasi, dengan potongan ikan crispy saus asam manis, dan capcay. Memang itu makanan kesukaan El sedari dulu, dan Elvira selalu membuatkan untuk dirinya.
El langsung melahapnya, dan mencicipi.
"Rasanya tetap sama" ucap El pelan setelah menelan suapan pertamanya itu
El terus melahapnya sampai benar-benar tak tersisa. Ingatan akan masa lalu bersama Elvira tiba-tiba kembali terbersit dalam ingatannya, El sampai melupakan bahwa kini ada Anin yang sedang menunggunya pulang.