NovelToon NovelToon
Diantara Dua Bayangan

Diantara Dua Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:883
Nilai: 5
Nama Author: Fazry Fazriyah

Nara menatap Zaid dengan perasaan campur aduk. Pria berhati dingin ini baru saja melemparkan skenario paling menakutkan dalam hidupnya, memaksa Nara untuk memilih. "terus bersembunyi dalam ketakutan, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang selama ini ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Sakral

Atmosfer khidmat merayapi seluruh sudut rumah keluarga Rahardja Widodo pagi itu. Kediaman luas berarsitektur kolonial itu disulap dengan sangat anggun.

Bunga-bunga segar bernuansa putih, sage green, dan sentuhan emas menghiasi area pelaminan hingga area taman belakang yang disulap menjadi area akad nikah.

Suara lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an mengalun merdu melalui pengeras suara, menambah kesan sakral dan syahdu.

Kendati acara digelar dengan jumlah tamu terbatas sesuai kesepakatan awal, deretan karangan bunga dari para relasi bisnis ayah Nara dan paman Zaid sudah terpajang rapi di sepanjang jalan masuk.

Pernikahan yang seharunya di gelar di gedung mewah. Namun akhirnya di putuskan di rumah saja sesuai permintaan Nara. Yang tak mau acara pernikahan itu di gelar mewah dan mengundang banyak orang.

.

Di dalam kamar utamanya di lantai dua, Nara duduk membisu di depan cermin rias yang tinggi. Jemarinya yang dingin saling bertaut di atas pangkuan.

Balutan kebaya ivory yang beberapa hari lalu dicobanya di butik kini melengkapi penampilannya secara sempurna, dipadu dengan riasan wajah yang natural namun memancarkan keanggunan seorang pengantin.

Rika dan Siska yang datang lebih awal sibuk merapikan melati penutup melapisi jilbabnya. Sebagai teman dekat di lingkungan kerja plus tim kerja mereka menyempatkan diri untuk jadi menamani Nara

"Ra, napas dulu... kamu tegang banget dari tadi," bisik Rika lembut sembari memegang bahu Nara dari belakang.

Nara hanya mengulas senyum tipis. Dadanya bergemuruh hebat. Di bawah sana, prosesi penyerahan dan penyambutan keluarga pengantin pria baru saja dimulai.

Keluarga besar Zaid diwakili oleh pamannya, Firman Abimanyu, beserta sang istri, Dessy Kumalasari, serta kedua putri mereka Zahra dan Adel yang melangkah masuk memimpin rombongan.

Tiba-tiba, pintu kamar terketuk pelan sebelum terbuka. Seorang wanita muda dengan gaun pesta berwarna pastel masuk dengan wajah berseri-seri.

"Nara!"

Nara menoleh, dan matanya seketika membelalak kaget. "Adel?"

Adel, putri kedua dari Pak Firman Abimanyu, yang tak lain adalah sepupu Zaid. Terlihat sama terkejutnya saat pandangan mereka beradu secara utuh.

Adel adalah teman Nara satu fakultas semasa kuliah dulu, namun karena kesibukan masing-masing setelah kelulusan, komunikasi mereka sempat merenggang.

"Ya ampun, Nara... jadi calon istrinya bang Zaid itu kamu?" Adel melangkah cepat mendatangi Nara dan langsung memeluk sahabatnya itu dengan hati-hati agar tidak merusak riasan.

"Waktu papah sama mamah bilang Mas Zaid mau nikah sama anak Om Rahardja, aku sama sekali nggak menyangka kalau itu kamu!"

"Aku juga kaget, Del... aku nggak tahu kalau kamu keponakannya Mas Zaid," sahut Nara jujur.

Adel menarik napas pelan, tatapannya mendadak berubah intens. Ia memberi isyarat halus pada Rika dan Siska untuk memberi mereka waktu sebentar, yang diangguki paham oleh kedua rekan kerja Nara.

Setelah pintu tertutup rapat, Adel menggenggam tangan Nara yang terasa sedingin es. "l

"Ra... aku jujur bingung banget. Setahuku kamu kan sama Devino..." Adel menggantung kalimatnya, mengingat betapa bertahun-tahun Nara begitu setia mendampingi Devino.

"Gimana bis—"

"Adel," potong Nara halus namun tegas, menatap mata sepupu calon suaminya itu.

"Ada banyak hal yang berubah. Aku dan Devino sudah selesai. Dan jalan hidupku sekarang ada di sini, bersama Zaid, kakak sepupumu."

Melihat keteguhan sekaligus gurat takdir yang rumit di mata Nara, Adel paham ia tidak boleh menggali luka atau merusak momen sakral ini.

Sebagai teman sekaligus keluarga baru, Adel mengangguk dan mengelus jemari Nara.

"Maaf ya, Ra. Apapun alasannya, aku tahu kamu mengambil keputusan yang paling tepat. Bang Zaid itu pria yang sangat bertanggung jawab, meski kelihatan dingin. ... Aku doakan kamu bahagia, Ra."

"Terima kasih banyak, Del," bisik Nara lega.

Dugh... dugh...

Tiba-tiba, gema suara mikrofon dari lantai bawah membendung perbincangan mereka. Keheningan total seketika melingkupi seluruh rumah Rahardja Widodo.

Suara pembawa acara menandakan bahwa momen paling inti telah tiba 'Ijab Kabul'.

Nara meremas kain kebayanya kuat-kuat. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga ia bisa mendengarnya di dalam telinganya sendiri.

Dari pengeras suara di sudut kamar, terdengar suara bernada tegas dan berwibawa dari sang ayah, Rahardja Widodo, yang menjabat tangan Zaid Albani Mahendra.

"Saudara Zaid Albani Mahendra bin Ahmad Mahendra, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Kaynara Rahardja, dengan mas kawin berupa satu set perhiasan seberat dua puluh delapan gram emas dibayar tunai."

Suasana mendadak hening sejenak. Nara memejamkan mata erat-erat, menahan napas. Air matanya jatuh, bukan karena air mata bahagia karena menikah dengan pria yang ia cintai.

Tapi air mata itu adalah langkah awal dirinya memulai hidup dengn laki-laki yang belum ia kenal seperti apa hidup yang akan ia lewati dengan Zaid.

Lalu, suara berat, mantap, dan tanpa keraguan sedikit pun bergema memenuhi seluruh penjuru rumah, mengangkasa dengan sangat lantang.

"Saya terima nikahnya dan kawinnya Kaynara Rahardja binti Rahardja Widodo dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai!"

"Bagaimana para saksi? Sah?"

"Sah! Alhamdulillah..."

Seruan kata "Sah" dan seruan doa dari para tamu di bawah terdengar samar di telinga Nara. Seketika itu pula, pertahanan dirinya runtuh.

Setetes air mata keharuan menetes pelan menembus riasan tipis di pipinya. Rasa cemas, takut, dan keiklasan bercampur menjadi satu emosi yang tak tertahankan.

Pernikahan ini resmi terjadi. Ikatan takdir yang mendadak itu kini telah mengikatnya secara sah di mata hukum dan agama.

"Selamat ya, Ra... kamu sudah resmi jadi kaka ipar aku," bisik Adel haru seraya mengusap air mata di sudut mata Nara dengan tisu secara perlahan.

Pintu kamar kembali terbuka. Bunda Mayang masuk bersama tantenya Zaid dengan wajah bersinar penuh kebahagiaan.

"Nara, ayo Nak... suamimu sudah menunggu di bawah untuk penyerahan mas kawin dan pembatalan wudhu," panggil Bunda Mayang dengan suara bergetar haru.

Nara mengangguk pelan. Dengan didampingi sang bunda, Tante Zaid (Dessy) dan Adel, Nara melangkah keluar dari kamar.

Setiap pijakan kakinya di anak tangga menuju lantai bawah terasa begitu berat namun mantap.

Di ujung tangga, berdiri Zaid Albani Mahendra dalam balutan beskap pengantin warna putih gading yang senada, tampak begitu gagah dan berwibawa.

Saat Nara melangkah mendekatinya, Zaid mendongak. Tatapan mata pria itu menembus lurus ke dalam manik mata Nara.

Bukan lagi dengan pandangan pria asing, melainkan pandangan seorang suami yang siap menjadi pelindung bagi seluruh sisa hidupnya.

Kehidupan Zain bukan lagi sola dirinya dan pekerjaan yang harus ia pertanggung jawaban kan. Tapi mulai hari ini dan kedepannya, ia harus menjadi suami yang bisa menunjukan jalan untuk sang istri, baik dalam keadaan susah apapun senang.

1
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
knp kamu gak jujur SM Zaid nar
Apriyanti
semoga butir² cinta muncul di hati mereka berdua
Apriyanti: siaap thor🥰🙏
total 2 replies
Apriyanti
thor jgn lama² ya bikin mereka bersatu nya,, lanjut thor 🙏
Apriyanti
semoga lama² mereka bisa bersatu🙏💪🥰
Apriyanti
udalah Zaid buang ego mu Ayuk dekat kan dirimu ke nara🤣
Apriyanti
semoga kalian berdua secepat nya timbul perasaan cinta
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
Alhamdulillah dah jg akhirnya
selamat ya Nara dan Zaid semoga samawa ya🙏
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
nah gitu dong Nara ,,mending jamu pilih Zaid drpd devino
Apriyanti
di situbkanu harus SDH bisa melihat Nara kesengguhan Zaid sm kamu di banding kan devino yg pengecut itu
Apriyanti
bodoh kamu Nara KLO sampe menolak Zaid,, lanjut thor 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!