"Rain, ini aku Bintang suamimu, kamu boleh menghukumku dengan cara apapun tapi tolong jangan pura-pura melupakan aku, aku sudah sangat menyesali perbuatanku dulu sama kamu."
"Bukan aku yang pura-pura tidak mengenalmu tapi aku memang tak kenal siapa kamu bahkan bertemu kamu saja baru dua kali ini."
Penyesalan itu memang terkadang datang terlambat tapi apa jadinya jika sosoknya kembali datang setelah 4 bulan Bintang kehilangannya, akankah Bintang masih bisa menerima kenyataan jika orang didepannya ini bukan orang yang selama ini dia rindukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amak Mpis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyuman.
EMBUN PAGI
Pagi ini suasana resto sangat ceria, rasa senang dari Black sangat terlihat dan itu menular pada semua karyawan bahkan pengunjung. Apa lagi kalau bukan karena berita heboh pagi ini, berita yang sudah Black siapkan, berita yang sangat Black inginkan dari lama karena dia memang sudah memegang kartu As dari semua orang yang pagi ini sedang terpuruk hanya dia tak punya alasan untuk mengeluarkannya, kejadian kemarin selain menyulut emosinya juga membuat dia bisa mengeluarkan semua bukti yang sudah dia kumpulkan karena keisengannya mengutak-atik laptop Alvin.
“Kak Black, lagi bahagia banget kayaknya ya?” Tanya seorang pengunjung sambil ikut tersenyum.
“Iya bu, lagi bahagia.”
“Jika memang kebahagiaan kamu bisa menular pada banyak orang bolehkah ibu meminta tolong untuk menularkan kebahagiaan kamu pada anak ibu,” Pinta ibu itu membuat senyum Black sedikit menghilang dan berputar melihat seorang cewek yang duduk tak jauh dari tempat Black berdiri sambil mengaduk makanannya.
“Kalau boleh tahu anak ibu kenapa? Kenapa juga dia tidak duduk sama kalian?”
“Kita sudah memintanya bergabung tapi keadaannya membuat dia malu untuk dekat dengan kita, dia takut kita akan malu juga, padahal kita menerima apapun keadaannya.”
“Keadaan?”
“Anak saya hamil diluar nikah,” Bisik ibu itu.
“Oh ok saya paham, kalau saya berhasil bikin anak ibu percaya kalau kalian gak akan malu dengan keadaannya dan mau kembali tersenyum bisakah kalian kabulkan apapun permintaan saya?”
“Bisa, apapun yang kamu minta akan saya turuti.”
Senyum mengembang Black tunjukkan sambil menghampiri anak ibu itu, tanpa Black sadari jika Bintang dan ketiga temannya datang dan duduk tak jauh dari tempat Black berada, reservasi kali ini atas nama Jems dan nama itu belum Black ketahui makanya dia tidak kabur.
“Halo kakak cantik, boleh saya duduk disini?” Tanya Black sambil tersenyum dan hanya dijawab anggukan sama wanita itu.
Black duduk dan mulai mengamati wanita itu yang sekarang masih sibuk ngalamun sambil mengaduk makanannya.
Black mengusap perut wanita itu dan wanita itu menoleh. “Dia gak salah kak, dia juga bukan alasan untuk kakak kehilangan diri kakak, keluarga kakak dan masa depan kakak, dia akan menjadi teman kakak, teman yang sangat setia buat kakak.”
“Gue gak menginginkan anak ini, gue benci.” Wanita itu hendak memukul perutnya tapi dihalangi Black.
“Jangan, kenapa kakak malu jika berfikir bodo amat juga cukup, keluarga kakak mau menerima kehadirannya kenapa kakak sebagai ibunya tidak bisa? Dia tidak bisa memilih dari mana dia lahir dan dengan cara apa dia hadir, dia hanya butuh kasih sayang kakak.”
“Lo gak tahu, gue slalu menjadi bahan perbincangan banyak orang karena anak ini, gue dijauhin teman-teman gue juga gara-gara dia, gue dikeluarkan dari kampus juga gara-gara dia.”
“Biarkan semua orang bergunjing, kita pikir bodo amat saja, biarkan teman kakak pergi yang penting kakak masih punya sahabat yang slalu ingin kakak kembali,” Ucap Black sambil melihat kearah meja orang tua wanita itu yang disana juga duduk dua orang wanita yang sudah berkaca-kaca matanya.
“Bilang sama saya, kampus mana yang mengeluarkan kakak? Lupakan kampus itu, besok kakak daftar di Universitas Temaram, disana gak ada yang namanya mengeluarkan kakak gara-gara keadaan kakak, mereka akan menerima kakak.”
“Lo gila, universitas Temaram bukan universitas yang mudah untuk dimasuki, prestasi rendah gak akan bisa masuk kesana.”
“Coba aja dulu, kalau gak diterima disana kakak bisa coba di Universitas sebelahnya.”
“Lo semakin gila, universitas Detik persyaratannya jauh lebih sulit dibanding Temaram. Sudahlah kalau lo mau menghibur gue mending gak usah, gak ada gunanya.”
Black merasa jika semua caranya tidak akan berhasil sampai dia memikirkan cara terakhir yang mungkin ini akan sedikit membuka sesuatu yang sudah dia tutupi.
Black memegang tangan wanita itu lalu meletakkan di perutnya. “Kita sama, hanya bedanya suami saya sudah meninggal saat dia baru satu bulan di perut saya, saya harus berjuang sendiri tanpa sosok suami, tapi saya tak pernah sedih dan tak pernah membenci kehadirannya, saya masih punya keluarga dan sahabat yang menerima saya, mau menerima keadaan saya juga.” Black memang sudah menganggap ayah dari anak yang dia kandung sudah meninggal meskipun kenyataannya dia masih hidup karena perannya yang sudah meninggal.
“Meski sudah meninggal kamu punya suami, tidak seperti saya yang hamil tanpa suami.”
“Kota ini adalah tempat baru yang saya tinggali, banyak orang yang tidak saya kenal dan pastinya banyak juga orang yang menggunjing saya, mereka tidak tahu kalau suami saya sudah meninggal dan saya malas untuk menjelaskannya, buang-buang waktu saja, mending saya mikirin hal positif lain dari pada mikirin omongan orang. Saya masih punya keluarga dan sahabat yang selalu ada buat saya juga, seperti kamu.”
Ketiga teman Bintang melotot, mereka kaget dengan apa yang Black katakan karena sebelumnya mereka bertiga tak ada yang merasa jika Black ini sedang hamil, perutnya tak terlihat buncit padahal jika Black sedang tidak memakai baju hitam perutnya terlihat sudah sangat besar, tapi mereka lebih kaget lagi melihat expresi Bintang yang malah tampak senang.
“Jangan sedih, ini bukan sepenuhnya salah kamu.” Tak disangka cara ini berhasil, wanita itu berdiri dan menghampiri ibunya lalu memeluk ibunya sangat erat.
“Maafin aku, bu.”
“Ibu sudah memaafkan kamu, jangan benci dia, kita semua menerima dia.” Tangis kebahagiaan menetes dari mata mereka dan setelah semua selesai wanita itu kembali pada Black dan memeluknya sangat erat.
“Terima kasih.”
“Iya sama-sama, sayangi dia ya.” Jawab Black sambil melepas pelukannya dengan wanita itu.
“Sayang, kamu pasti akan jadi anak yang hebat karena kamu punya ibu yang sangat hebat,” Ucap wanita itu sambil mengelus perut Black.
“Kak, kamu sudah kembalikan anak saya, kalau boleh saya tahu apa yang kamu minta?” tanya ibu itu mengingat janjinya pada Black.
“Saya tidak minta hal yang berat, saya cuma minta kalian selalu sayangi anak kalian apapun keadaannya, jika suatu hari nanti anak kalian mengadu pada saya jika kalian tidak menerimanya maka kalian akan berurusan dengan saya.”
“Pasti, saya pasti akan melakukannya.”
“Saya permisi dulu, ya.” Keluarga itu mengangguk, mereka merasa sangat bahagia, mereka juga tak menyangka jika kebahagiaan Black memang bisa menular bahkan ke orang yang tidak dia kenal.
“BLACK, SEMANGAT.” Teriakan itu sahut menyahut dari beberapa pengunjung resto membuat senyum Black semakin merekah.
“Tang, lo kok gak kaget denger Black hamil?” Tanya Resta setelah Black menjauh.
“Ngak, gue udah tahu dari kemarin, kemarin gue hampir seharian sama Black, gue malah seneng kalau suami Black sudah meninggal, jadi kalau gue mau deketin dia gak akan ada yang marah, ” Jawab Bintang dengan santai dan senyum yang merekah membuat ketiga sahabatnya semakin bingung.
“Kalau lo mendekati Black karena muka dia yang sama dengan Rain dan lo deketin dia karena penyesalan lo sama Rain, gue adalah orang pertama yang akan menentang hal itu semua.” Sekarang pandangan mereka semua beralih menatap Andra yang tampak menatap Bintang dengan tatapan dinginnya.
“Lo suka sama Black juga?” Tanya Bintang dengan tatapan serius.
“Gue gak suka sama Black, gue juga gak suka sama Rain, tapi gue juga gak mau apa yang Rain rasakan dulu akan terjadi sama Black, lo perbaiki diri lo dulu jangan buru-buru mau deketin cewek lain, Rain baru meninggal empat bulan bukan empat tahun, segitu gak cintanya kah lo sama Rain sampai bisa secepat itu mencintai orang lain?”
“Maksud lo apa?” Bintang hendak berdiri tapi ditahan Jems.
“Apa gue salah? Kalau lo memang menyesal gak akan semudah ini lo bisa mencintai orang lain, lo gak ingat berapa kali Rain menangis karena lo? Lo gak ingat penyiksaan apa saja yang lo lakukan sama dia, bisa-bisanya lo mau deketin cewek lain, kuburan Rain saja masih basah.”
BRAK
BERSAMBUNG.